
Mulutku ternganga lebar setelah mendengar penuturan Mak Anto. Bukankah selama ini uang sewa rumah kontrakan selalu dibayar tepat waktu setiap bulan? Tapi kenapa bisa sampai menunggak seperti ini. Apakah uang yang aku kasi ke bang Diki itu dia habiskan juga untuk main judi? Aku semakin pusing saja memikirkannya.
Ya, uang untuk bayar sewa rumah biasanya dia berikan setiap seminggu sekali untuk aku simpan. Katanya takut habis kalau dia yang pegang. Tapi nyatanya apa? Dasar laki-laki tak berguna.
Setelah pintu dibuka, alangkah terkejutnya aku saat mendapati pakaianku berserak dimana-mana. Sedangkan perabot rumah tangga sudah tak ada lagi yang tersisa. Seperti kulkas, lemari dan tivi entah kemana rimbanya.
"Kapan Bang Diki pergi dari sini, Buk?"
"Nggak tahu aku. Tapi pas tiga atau empat hari yang lalu, ada suara ribut-ribut dari sini kudengar malam-malam. Cuman nggak kami tengok langsung. Biasanya kan hampir tiap hari tiap malam kelen ribut disini. Kupikir kelen juga yang perang kemarin tuh," ucap Mak Anto santai seperti tanpa dosa mengatakannya.
Cepat-cepat aku memunguti pakaian yang berserakan dilantai itu dan memasukkannya dalam karung . Takut kalau yang punya kontrakan tiba-tiba datang memergoki kami disini dan meminta kekurangan uang yang belum disetor Bang Diki itu kepadaku. Pakai apa aku akan membayarnya.
*
"Kok lama Mamak pulang?" tanyaku pada ibu saat dia pulang kerja agak terlambat hari ini. Biasanya pukul dua belas siang dia sudah berada di rumah, tapi kali ini sudah hampir jam dua siang dia baru sampai.
"Tadi disuruh Buk Atin nyetrika pakaian saja sekalian biar sore nanti nggak usah masuk lagi. Soalnya, Buk Atin mau pergi, ada pengajian di tempat Buk Paimah," jawab ibuku.
"Buk Paimah?" Aku seperti nggak asing sama nama itu. Seperti sering juga mendengar namanya . Tapi aku lupa siapa.
__ADS_1
"Iya, Paimah yang pernah tinggal disini dulu. Mamaknya si Melly loh! Masak kau nggak ingat?" Kata ibuku lagi.
Aku mencoba mengingat-ingat.
"Oooohhh, Melly yang cengeng itu ya Mak, yang sering dicagil sama anak laki-laki itu?"
Aku baru ingat. Dia itukan dulu orangnya cengeng sama jorok juga. Makanya dia sering dijadikan bahan bulian sama anak laki-laki kalau lagi bermain. Apa ya, kabarnya sekarang?
"Iya. Tapi cantik kali dia sekarang. Kulitnya putih bersih, rumah mamaknya pun yang besaran dibangunkannya di sana. Tadi aja orang itu datang ngundang, naik mobil baru mamak tengok. Baru beli mobil orang tuh mamak rasa. Ini aja pun ngundang mau sedekah pengajian Mamak sama Ayahnya mau diumrohkannya. Beruntunglah orang itu punya anak seperti itu," ucap ibuku panjang lebar membanggakan anak orang.
Sedih rasanya hatiku saat mendengar dia memuji dan menyanjung-nyanjung anak orang seperti itu. Bukannya merasa iri sama rezeki orang lain, akan tetapi siapa juga anak di dunia ini yang nggak kepengen sukses dan dapat membahagiakan hati orang tuanya. Aku juga manusia normal yang ingin dianggap dan disanjung seperti itu. Tapi apalah dayaku, yang belum bisa membahagiakan hidupnya. Sedangkan saat ini saja pun, aku dan anakku masih jadi tanggungannya.
"Ikutlah kau nanti ke sana, tanya-tanya kerjaan sama dia, mana tau ada. Daripada disini, apalah yang mau kau kerjakan. Nggak terasa nanti anakmu sudah besar, mau masuk sekolah, beli buku, seragam dan macam-macam. Kalo kau kerja' kan, dapat sedikit-sedikit kumpulin untuk anak kau. Anak kau itu saja yang perlu kau pikirkan. Kalo aku tak usah pala kau pikirkan, sebentar lagi matinya aku," ucapnya lagi.
Tak terasa, air mataku lolos begitu saja. Lama aku tepekur merenungi nasib sendiri. Merenungi masa depan yang masih samar-samar terlihat. Aku memegangi dadaku yang semakin sesak sehingga sulit rasanya untuk bernapas.
"Lebih baik kau menangis sekarang, daripada kau menangis dimasa depan," kata ibuku menguatkan.
*
__ADS_1
Kami sampai di depan rumah Melly setelah beberapa kali muter-muter naik becak karena nggak tau alamatnya. Ternyata, apa yang ibu bilang itu benar. Rumahnya besar dan terlihat mewah.
Sebenarnya, aku merasa minder dan deg-degan ingin bertemu dengannya. Apalagi, sekali bertemu langsung mengemis ingin minta pekerjaan. Tapi, rasa gengsi itu segera kubuang jauh-jauh untuk masa depan anakku. Apalagi pagi tadi kata ibu, dia juga menanyakan kabarku. Berarti dia juga masih ingat sama aku walaupun sudah sejak lama kami nggak pernah komunikasi sama sekali.
Sebelum berangkat tadi, aku juga sudah mencoba stalking-stalking akun media sosialnya untuk kepoin pekerjaannya apa. Tapi aku nggak menanyakan apapun, karena kurang enak saja rasanya jika harus komunikasi lewat online perihal seperti itu.
Betewe terlihat dari medsosnya memang kehidupannya bisa dibilang mewah. Dia sering membagikan foto-fotonya di hotel bintang lima dan juga jalan-jalan ke luar negeri. Makan di tempat-tempat elit dan berpakaian modis. Makanya aku sangat grogi dan merasa rendah diri mengingat aku nggak punya apa-apa untuk dibanggakan. Apakah ada lowongan pekerjaan untukku nanti di sana?
"Eh, Yara. Ayok sini masuk!" serunya saat melihat kami yang sedang kebingungan mau duduk dimana. Soalnya acaranya nggak tau di dalam rumah atau di halaman yang ada tendanya.
"Udah lama kalian sampai," tanyanya lagi sambil menyalami kami.
"Baru aja. Tadi sempet nyasar juga."
"Loh, kok bisa. Kan ada google maps!" ucapnya ramah.
Aku hanya cengengesan merasa malu karena nggak punya hape lagi. Tadi saja minjam hapenya_Ambang_Adikku buat ngepoin akunnya dia.
"Ada sih, kalau kamu mau. Tapi beda tempat sama aku. Kalau aku sekarang penempatannya di hotel. Kalo dulu ya, dari kafe juga. Baru ditarik ke hotel," ucapnya menjelaskan setelah kutanya apakah ada lowongan.
__ADS_1
"Tapi kamu jauh banget ya, berubahnya dari dulu. Sampai aku pangling loh tadi melihatnya." Aku mencoba berbasa-basi untuk mencairkan suasana. Karena dari tadi aku merasa tegang saat bicara sama dia. Kalau dia sih terlihat biasa dan santai saja seperti sudah biasa bicara dengan banyak orang. Entah pun karena sekarang dia merasa sudah memiliki segalanya, makanya rasa percaya dirinya meningkat, atau karena akunya saja yang kurang pede dan merasa minder sendiri.
****