
Laki-laki dengan postur tubuh tinggi besar itu keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati kami. Tak lama, temannya seorang lagi ikut menyusul. Ternyata dia bawa teman juga. Mereka mulai melirik kami satu persatu yang hanya tinggal beberapa orang saja. Seperti seorang juri kontes model kecantikan, mereka menyeleksi kami dengan cara yang ketat. Walaupun sudah tak banyak pilihan lagi seperti tadi. Jantungku seakan-akan berhenti berdetak saat pemuda itu berdiri tepat di depanku. Menatapku dengan tatapan yang membuat bulu mataku ikut merinding.
Aku yang merasa gugup, hanya bisa menundukkan wajah agar tidak bertatapan langsung dengannya. Jujur, untuk saat ini aku merasa sangat grogi. Walaupun sudah beberapa bulan di sini, tapi aku belum pernah melayani tamu secara khusus dalam kamar. Ini untuk yang pertama kalinya aku akan melakukannya.
"Kamu, Yara kan?" Suara laki-laki yang ada di hadapanku ini menyebut nama asliku.
Aku mendongak untuk melihat kembali wajahnya yang tadi terlihat samar-samar. Memastikan, kenapa dia sampai mengetahui namaku.
"Bukan. Saya Lia," jawabku gugup. Aku tidak mengenali siapa dirinya.
"Liara, kan? Orang Medan?" ucapnya lagi. Aku kembali mendongak, memberanikan diri untuk menatapnya dengan sungguh-sungguh. Kenapa pria ini mengetahui Identitasku yang asli.
Setelah beberapa lama mengamati wajahnya, orang ini memang tidak begitu asing bagiku. Aku seperti mengenali raut wajahnya. Ya, aku seperti mengenalinya, tapi aku lupa di mana.
"Iya, kamu pasti Liara! Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya lagi, memastikan.
Mami yang juga ikut menyaksikan kami, datang menengahi," kamu kenal, Ra?" tanya Mami. Aku menggeleng.
"Aku Johar, Ra. Anaknya bu Atin. Masa kamu nggak ingat?" Dia memperkenalkan dirinya langsung. Mungkin, merasa terlalu lama menunggu aku mengenalinya.
"Lho, bang Johar. Kok beda dari yang dulu?" ucapku merasa terkejut.
Bu Atin itu majikan ibuku di kampung. Sedangkan Bang Johar ini, anaknya yang kerja di kapal dan sudah bertahun-tahun tidak pernah pulang. Tapi, postur tubuh dan penampilannya sudah banyak berubah. Dulu dia kurus dan kulitnya putih bersih. Sekarang dia terlihat gemuk dan berisi. Kulitnya juga agak hitam dan rambutnya sedikit lebih panjang. Apalagi, sekarang dia brewokan seperti tidak pernah cukuran. Itu yang membuatku sulit mengenalinya.
"Bener teman sekampung, to!" ucap Mami. "Lebih baik masuk aja ke dalam dulu, biar enak ngobrolnya. Bisa sekalian minum-minum biar rileks," ucap Mami lagi menyarankan.
"Boleh...boleh. Sekalian aja reunian. Udah lama juga kan nggak bertemu. Kangen juga sama kampung." Bang Johar tampak antusias.
Sedangkan aku sendiri merasa serba salah. Bagaimana bisa aku bertemu dengan orang ini di tempat seperti ini. Jauh-jauh dari kampung merantau sampai sini, menyeberang pulau pula. Eh, tak taunya dapat tamu orang satu kampung juga. Bagaimana nanti jika dia memberitahukan sama orang kampung bahwa pekerjaanku saat ini sebagai wanita penghibur.
Aku hanya mengikutinya untuk masuk ke dalam. Bagaimanapun, aku harus bersikap profesional. Dia adalah tamu kami, dan tamu itu adalah Raja. Aku harus melayani dan mengikuti semua keinginannya. Apalagi, dia kan bayar di sini. Toh, juga kami bertemu di tempat yang sama.
"Sudah lama kerja di sini?" tanyanya setelah kami masuk ke dalam kamar yang ku pilih. Tadi Mami menawarinya untuk minum-minum di luar dulu. Tapi kata Bang Johar, di luar terlalu berisik. Lebih enak ngobrol di dalam kamar saja. Biar bisa lebih santai.
__ADS_1
"Baru beberapa bulan, Bang," jawabku gugup.
"Kenapa milih kerja di tempat seperti ini?" tanyanya lagi.
"Saya terpaksa, Bang! Karena terdesak kebutuhan ekonomi di kampung," jawabku berbohong. Padahal, aku sendiri yang ngotot untuk ikut datang ke tempat ini. Walaupun awalnya aku memang tidak tau pekerjaan apa yang akan aku kerjakan.
"Hahahahaha." Dia tertawa keras mendengar alasanku. "Itu cuma alasan klasik. Semua wanita sama saja, semuanya munafik. Apa-apa disangkutpautkan dengan kebutuhan ekonomi. Emang sejak kapan wanita itu merasa cukup dengan kebutuhannya?"
Aku hanya tertunduk diam tak menjawab ucapannya. Aku memang tidak tau harus berkata apalagi.
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel yang dia kenakan. Seperti sebuah benda yang mirip botol bening dan pipa. Tangannya juga sangat telaten dalam menggunakan alat itu. Aku benar-benar tidak tau apa yang ingin dia lakukan sekarang.
Tak lama, hapenya berdering. Cepat dia mengangkat benda pipih itu.
"Naik aja ke atas," ucapnya menjawab pertanyaan orang yang menghubungi. "Ini kamar nomor berapa?" tanyanya padaku.
"Nomor lima, Bang!"
"Boleh kan mereka gabung sama kita?" tanyanya padaku.
"Gabung bagaimana?" tanyaku tak mengerti.
"Ya, gabung bareng di sini. Biar rame, biar seru," ucapnya santai.
"Maksudnya, teman abang juga main di sini?" tanyaku masih tidak mengerti, sembari menunjuk ruangan ini.
"Iya, kenapa? Kok kamu seperti nggak ngerti? Sudah lama kan kerja di sini?" Dia terlihat bingung menatap serius padaku.
"Sudah lumayan lama. Tapi baru ini mainnya dalam kamar. Biasanya cuma nemenin tamu di bawah saja," ucapku seperti apa adanya.
"Oh, berarti kamu masih newbie ya! Belum pernah ikut pesta-pesta." Aku menggeleng.
Dia manggut-manggut. "Ya sudah nggak apa-apa. Biar di kasi tau," ucapnya santai dan melanjutkan aktifitasnya kembali. Memantik api ke botol tadi.
__ADS_1
Aku hanya menyaksikan aktifitas yang sedang dia lakukan. Apakah ini yang dinamakan dengan pesta **** itu. Yang sering di lakukan oleh para artis-artis di kamar hotel mewah saat di grebek oleh Aparat Polisi?
Tak lama, Dewi dan teman bang Johar masuk ke ruangan yang sama dengan kami. Dewi tersenyum menatapku yang mungkin terlihat seperti orang bloon. Mereka juga membawa beberapa botol minuman beralkohol.
Dewi menuang minuman itu ke dalam gelas dan menyodorkannya padaku. "Minum dulu Li, biar jangan tegang kali," ucapnya seperti sedang meledek.
Aku menerima minuman itu dan meminumnya sedikit. Padahal tadi aku sudah minum banyak waktu di bawah dan mungkin pun sudah mabuk. Tapi, rasa itu seketika hilang saat bang Johar datang.
"Maklum, Mas. Dia masih anak baru di sini! Masih belum berpengalaman," ucap Dewi pada mereka berdua.
"Nggak apa-apa. Nanti lama-lama juga terbiasa. Semakin banyak jam terbang, semakin berpengalaman. Oh, iya, dulu yang orang dari medan juga, sekarang ada di mana? Kok nggak kelihatan?"
"Oh, Amel. Dia sekarang naik pangkat di hotel, Mas. Dia sekarang udah jadi gundiknya bos besar untuk melobi tamu-tamu penting," ucap Dewi menjelaskan.
"Wah, besar dong tarifnya?"
"Ya jelaslah, wong yang di layani konglomerat semua!"
"Tapi pelayanannya memang bagus itu, memuaskan."
"Sama aja kali," ucap Dewi seperti tidak terima.
"Beda, dia memang sangat memuaskan," ucap teman bang Johar itu membela.
"Bedanya apa, sih?" Dewi terlihat semakin kesal.
"Dia itu kalo lagi nganu, sangat menggairahkan. Dia melayani bisa sampai mengeluarkan air mata, gitu." Teman bang Johar tampak bertambah antusias menjelaskan tanpa memikirkan sedikit pun dengan perasaan Dewi yang terlihat semakin kesal.
"Alah, paling juga air mata buaya," ucapnya sinis.
Baru aku tau, bahwa pekerjaan seperti ini saja pun masih ada rasa iri, dengki dan saling ingin menjatuhkan.
*******
__ADS_1