
"Nantilah ya, Bang. Yara bilangin sama dia. Soalnya, Yara nggak tau Bang Diki punya utang," ucapku berterus terang. Malu rasanya ditagih seseorang seperti ini dihadapan orang banyak pula.
"Tolonglah ya Kak, kakak bilangin sama dia! Kalau dalam minggu ini belum dilunasinya semua hutang-hutangnya, mau nggak mau, motornya itu yang akan kami sita sebagai jaminan," ucap pemuda tegap itu sambil menunjuk motorku yang terparkir di depan warung.
Ya Tuhan, masalah apalagi ini. Jika sampai motor kami ini disita juga olehnya, aku akan ngojol pakai apa ya, Allah....
Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak, baru saja rasanya aku bisa menikmati bagaimana nikmatnya bisa memiliki penghasilan sendiri, akan tetapi langsung diterpa kabar buruk seperti ini. Jika nanti bang Diki nggak sanggup melunasi semua hutang-hutangnya pada orang itu dan orang itu benar-benar menarik motor ini sebagai jaminan, apalagi yang bisa aku kerjakan.
Semangat dan rasa senang yang aku rasakan hari ini tiba-tiba saja menghilang lenyap, menciut seperti strofoam disiram bensin. Nggak habis pikir aku mengingat kelakuan bang Diki diluaran sana seperti apa.
Apakah dia punya selingkuhan seperti dalam cerita-cerita drama rumah tangga yang sering aku baca di komunitas grup fesbuk itu? Apa iya, ada wanita yang mau sama bang Diki? Sedangkan aku sendiri saja sebagai istrinya yang sah sudah merasa sangat-sangat menyesal dan jenuh hidup berumah tangga dengannya.
"Kasihan aku sebenarnya melihat kakak," ucap pria itu lagi mengagetkanku dari lamunan. Mungkin, dia dari tadi mengamati mimik wajahku yang tiba-tiba saja berubah pias. Entahlah....
"Tapi, kek mana mau dibuat, Kak! aku pun orang kerja juganya, Kak. Disuruh atasan seperti itu, seperti itulah kita bertindak tegas di lapangan," katanya lagi menjelaskan. "Sebenarnya, nggak tega kali aku sama Kakak."
Entah kenapa, tiba-tiba saja air mataku jatuh begitu saja. Aku merasa sangat terharu mendengar ucapannya. Baru kali ini rasanya ada seseorang yang mau memperhatikan aku seperti itu.
Walaupun pria itu berwajah garang dan berbadan tegap, tapi dari gaya bicaranya, kelihatannya dia merupakan seorang laki-laki yang berhati lembut, perhatian dan penyayang kepada anak dan istrinya. Beruntung sekali wanita yang bersuamikan pria seperti dirinya.
Driver-driver Ojol lain yang mayoritas kaum adam, hanya melihat kejadian itu begitu saja. Mereka nggak terlalu menghiraukan apa yang sedang terjadi, apalagi sampai ikut campur atau ikut-ikutan kepo tentang masalah yang sedang aku hadapi ini.
__ADS_1
Beda halnya jika kejadian ini terjadi disekitaran kedai sampah milik Buk Siti yang mayoritas ibu-ibu semua. Sudah dapat dipastikan kalau masalah yang sedang menderaku ini akan menjadi top trending selama berhari-hari di sekitaran kompleks tempat tinggalku .
"Kau lagi, Zul! Kau sudahi lah main judi itu, nggak bakalan kaya kau dari main itu," ucap pria itu lagi sembari menepuk-nepuk pundak salah seorang driver Ojol yang lain, yang sedang asyik bermain hape seperti yang sering dilakukan Bang Diki di rumah.
"Selow saja bos, pokoknya setoran untuk orang rumah aman," jawabnya cuek.
"Iya, sekarang masih aman, karena belum ketahuan," ucap pria itu lagi.
Aku jadi penasaran, apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan. Setelah merasa agak tenang, aku mendekati Uni Anik yang sedang berada dibelakang. Aku ingin mencari sumber informasi darinya. Sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan di sini.
"Sebenarnya, nggak enak sama Diki kalo Uni kasih tau," ucap Uni Anik setelah kutanya, apakah dia tau uang yang biasa Bang Diki pinjam itu dia pergunakan untuk apa.
"Sudah. Nggak usah takut, Uni. Toh, bang Diki juga nggak tau kalo Uni yang ngasi tau." Aku memujuknya agar mau bicara.
"Iya, Uni."
"Sebenarnya, Diki itu ikut-ikutan main judi online," ucap Uni Anik setengah berbisik agar tidak terdengar oleh yang lain. "Lihat itu! Orang itu juga pada main semua di sini, makanya jadi malas narik. Maunya main itu saja sampai malam, sampai nggak ingat waktu." Uni Anik memberikan kode dengan dagu dan matanya menunjuk ke arah abang-abang Driver Ojol yang pada santai bermain hape masing-masing.
"Kalo kamu mau tau, pergi duduk saja dekat mereka! Kamu lihat apa saja yang sedang mereka lakukan." Perintah wanita paruh baya itu padaku.
Aku pun menuruti perintahnya dan bergabung kembali dengan para driver yang lain. Sengaja aku duduk di dekat salah seorang dari mereka yang terlihat paling serius menatap layar hape itu. Setelah lama mengamati, akhirnya aku sedikit mengerti dan baru menyadari bahwa aplikasi yang sedang mereka mainkan itu ada juga di layar hape Bang Diki yang aku bawa.
__ADS_1
Ternyata, kepala-kepala dan calon kepala rumah tangga yang sedang berkumpul disini sudah banyak yang kecanduan judi online. Sehingga merusak outak dan pikiran mereka. Sehingga mereka lupa diri dan tidak ingat lagi akan tanggung jawab kepada anak dan istri. Mereka lupa bahwa mereka sudah memiliki keluarga yang butuh untuk dinafkahi.
Pantas saja akhir-akhir ini bang Diki terlihat cuek sama keluarga. Ternyata outak dan pikirannya sudah rusak parah karena pengaruh permainan itu rupanya.
*
Sudah tiga hari aku tidak pulang ke rumah. Malas jika harus bertemu sama laki-laki itu lagi. Untuk apa juga punya suami, kalau kita sendiri yang harus ikut turun tangan banting tulang buat nyari uang. Lebih baik uangnya aku nikmati sendiri saja dengan anak serta ibuku, dari pada harus ikut bayarin hutangnya dia.
"Heh, lont*. Kemana aja kau? Apa nggak ada outak kau mikirin orang kelaparan di rumah, ha?" Bentak Bang Diki saat aku baru saja sampai di basecamp tempat kami biasa nongkrong.
Aku sangat terkejut dengan keberadaannya di sini. Jantungku tiba-tiba saja berdebar kencang dan sekujur tubuhku terasa bergetar hebat. Seluruh persendianku terasa kaku dan sepertinya aku kehilangan banyak tenaga, saking takutnya.
Sejurus kemudian, dia datang mendekatiku dan langsung menempeleng kepalaku dengan sangat keras. Seketika itu juga, aku jatuh tersungkur dari atas motor yang belum sempat aku parkir. Aku menangis histeris saat motor yang kutunggangi tadi ikut jatuh menimpa tubuhku.
"Mamp*s kau, kan! Geram kali aku nengok kau. Kalau di rumah tadi, udah tamat kau kubuat."
Sempat kudengar dia berkata kasar mengumpatku seperti itu sembari mengangkat motor yang menimpaku. Lalu merampas hape miliknya yang aku bawa kemarin beserta dengan ransel yang aku kenakan. Karena hape miliknya memang masih berada dalam ransel itu, serta beberapa lembar uang merah hasil pencarianku selama tiga hari ini ikut dia bawa kabur juga semuanya.
Aku hanya bisa menangis sesenggukan setelah mendapat perlakuan kasar darinya. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga nekat berbuat kasar seperti itu di depan umum. Karena masih pagi, belum banyak Driver Ojol yang datang. Hanya ada beberapa orang saja yang sempat melihat kejadian itu. Tapi, karena kejadiannya sangat cepat berlalu, sehingga mereka hanya menonton dari kejauhan saja.
Aku merasa sedikit kecewa karena tidak ada satu orangpun yang datang menolongku tadi. Akan tetapi, aku lebih sangat kecewa lagi saat melihat sendiri perilaku yang Bang Diki tunjukkan itu, yang sudah tega membegal istrinya sendiri.
__ADS_1
Aku benar-benar sangat kecewa padanya.
*****