
Aku dan Dewi memberanikan diri untuk masuk ke kamar Mami. Hanya sekedar meminta nasehat dan pendapat darinya. Kami sudah merasa buntu dalam mencari jalan keluar tentang masalah yang sedang Dewi hadapi. Tadinya aku tidak mau ikut menemani, tapi yang lain malah memaksa karena mereka beranggapan aku sangat dekat sama Mami. Padahal menurutku, sama saja dengan mereka. Mami tidak pernah membeda-bedakan antara satu sama lain di sini.
"Mami udah makan?" tanyaku begitu masuk.
Mami mengangguk. Tubuhnya agak kurusan sekarang. Wajahnya juga terlihat pucat dan pipinya terlihat cekung. Dia berusaha bangkit untuk duduk saat melihat kedatangan kami tadi.
"Kalau masih lemas, berbaring aja, Mi!" seruku sembari membantu dia untuk duduk.
"Mami tidak apa-apa! Mami cuma agak pusing aja kalau terlalu lama duduk."
"Makanya Mami periksa aja dulu ke dokter! Nanti kalau sakitnya kronis, gimana?"
"Tidak apa-apa! Mami tidak apa-apa," ucapnya dengan tegar. Bukan tegar, tapi di tegar-tegarkan agar terlihat sehat.
"Bagaimana kerjaan tadi malam? Ramai?"
"Lumayan lah, Mi! Seperti biasa juga."
Setelah berbasa-basi terlebih dahulu, akhirnya apa yang menjadi tujuan kami untuk datang ke sini terungkap juga. Padahal, tadi sempat merasa tidak enak untuk mengatakannya. Kelihatannya penyakit Mami agak parah juga, takut mengganggu pikirannya dan membuat dia bertambah ngedrop.
"Sudah berapa bulan?" tanya Mami pada Dewi.
"Sekitar tiga bulan, Mi!" jawab Dewi takut-takut. Entah takut entah malu.
"Kualat, Mi! Bilangin orang Bucin. Nggak taunya malah dia lebih parah." Aku menyambung ucapan Dewi.
Sttttt....Mami melekatkan jari telunjuknya pada bibir. Memberi kode agar aku diam.
__ADS_1
"Kalau masih tiga bulan, itu masih terlalu muda. Bisa saja besok ke luar sendiri seperti biasa. Apa kamu juga sudah pastikan bahwa kamu itu memang benar-benar hamil?"
"Sudah, Mi! Waktu cek kesehatan kemarin, Buk Siska bilang aku sedang mengandung. Memang akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah-muntah juga. Dewi pikir, itu hanya masuk angin biasa atau efek samping minuman keras." Dewi menjelaskan.
"Ya udah, kamu jangan sampai stres. Tunggu saja dulu. Mudah-mudahan dia mau keluar."
"Kalau tidak mau keluar, bagaimana Mi?" tanya Dewi resah.
"Kalau dia tidak mau keluar, dia berhak hidup. Maka, rawat dan urus dia dengan sebaik-baiknya hingga besar nanti. Bagaimanapun juga, dia adalah darah dagingmu sendiri. Kamu wajib mengurusnya," ucap Mami tegas.
Dewi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia benar-benar seperti orang frustasi.
"Jadi, bapaknya siapa?" tanyanya dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
"Yang ngelakuin kamu sendiri, kok nanya sama Mami." Aku yang menjawab dengan cuek, namun dengan nada pelan juga agar dia tidak mendengar.
"Jangan bercanda berlebihan seperti itu, Ra! Jangan terus menyalahkannya. Saat ini dia sangat membutuhkan support dari kalian sebagai teman terdekatnya. Jangan lagi mengungkit suatu kesalahan yang sudah terjadi. Bagaimanapun juga, itu sudah lewat dan tak mungkin bisa di ulang kembali. Jadi, terima saja dengan lapang dada dan di ikhlaskan dalam hati. Sekarang tugas kita adalah bagaimana cara untuk memperbaikinya agar tidak semakin parah." Mami tampak ikut berpikir keras.
"Sudah Mami bilang, Mami tidak apa-apa, Ra! Mami itu sehat. Mami itu tidak boleh sakit. Mami masih di butuhkan banyak orang. Sudah semestinya, Mami harus selalu sehat. Mami kuat. Kalian masih butuh sama Mami 'kan?" Dia terlihat memberi semangat pada dirinya sendiri. Meyakinkan pada dirinya bahwa dia baik-baik saja. Padahal, dilihat dari kondisi fisiknya, tampak jelas bahwa dia tidak sedang dalam keadaan baik.
Susah memang untuk menasehati orang tua satu ini. Sangat keras kepala.
*
Jam kerja baru saja usai, sangat lelah rasanya badan dan pikiranku pagi ini. Selain harus memikirkan keadaan Dewi yang sedang di timpa masalah, aku juga kepikiran terus dengan kondisi Mami yang belum pulih. Untung tadi malam dapat tamu yang agak kocak. Orangnya rame banget, apalagi dalam keadaan mabuk. Dia tidak mau diam. Dia terus saja mengobrol sepanjang malam. Semua hal dia bahas. Mulai masalah nasional hingga masalah internasional dia tau. Entah betul entah tidak apa yang dia katakan.
__ADS_1
Tapi, ada sebuah topik yang menarik perhatianku. Yaitu, dia membahas tentang masalah mafia yang nggak jauh-jauh dari dunia hitam. Apalagi, mafia yang dia bahas itu meliputi penguasa di lautan. Bukan Jack Sparrow atau Kapten Davy Jones seperti yang sering aku tonton di televisi. Melainkan Mafia TRIAD yang beroperasi di wilayah laut china selatan.
"TRIAD itukan nama band tanah air, Om! Masa ada di tengah laut?" tanyaku dengan polosnya.
"Bukan TRIAD yang itu, Bestie. Ini TRIAD yang lain. Kalau TRIAD yang onoh sudah bubar. Pemimpinnya sudah taubat sekarang. Sudah nggak jadi preman lagi. Sudah kapok dia mungkin," jawabnya menjelaskan. Aku tersenyum sambil menutup mulut, merasa malu karena sudah salah menduga. Tapi, kok mesti kali pakai acara menyindir segala. Padahal beliau kan salah satu artis favorit aku.
"Jadi, TRIAD yang mana, dong?"
"TRIAD yang ini merupakan suatu organisasi mafia dari daratan Tiongkok. Sekarang mereka sudah menyebar kemana-mana. Hampir di seluruh negara, ada bagian dari mereka, walaupun belum tentu saling berhubungan langsung."
Aku hanya menyimak cerita dari laki-laki bertubuh besar itu dengan takzim. Sepertinya dia memang tau banyak tentang hal itu. Aku saja baru kali ini tau kalau ada nama TRIAD selain nama Band tanah air.
"Terus, kerjaan mereka apa? Apa merompak juga di sana?" tanyaku semakin penasaran.
Tiba-tiba saja aku kepikiran sama Bang Johar yang setiap hari melalang buana di tengah lautan sana. Kenapa dia tidak pernah cerita kalau pekerjaan itu ternyata memiliki resiko yang besar dan berbahaya juga. Bagaimana kalau kapal mereka di bajak dan di tenggelamkan oleh para perompak itu?
Aku merasa ketakutan sendiri.
"Kalau zaman dulu, iya! Tapi, kalau zaman sekarang sudah jarang. Hampir sudah tidak ada. Karena mereka takut ketahuan dengan negara yang berdekatan dengan tempat mereka beroperasi. Kalau sampai ketahuan, bisa-bisa mereka akan celaka. Mereka akan di kepung di sana dan tidak di perbolehkan untuk berlabuh ke darat."
"Jadi, nggak membahayakan dong, Om?"
"Kalau masalah membahayakan, ya tetap bahaya. Soalnya mereka sekarang ini lebih fokus melakukan sebuah tindakan sabotase yang terencana demi meraup keuntungan. Contohnya, mereka selalu melakukan transaksi ilegal di tengah laut. Sudah tentu perbuatan itu merugikan negara karena terhindar dari biaya pajak dan juga bea cukai. Lebih parahnya lagi, mereka juga melakukan transaksi narkoba, penyelundupan barang-barang ilegal dan melakukan transaksi jual beli manusia. Biasanya, mereka juga melakukan segala hal yang melanggar undang-undang suatu wilayah, seperti menyediakan sebuah tempat perjudian dan tempat prostitusi ilegal."
Mendengar itu, aku merasa sedikit tersinggung. Bukankah aku juga bagian dari itu? Dan bukankah dia juga bagian dari itu pula. Apakah dia tidak sadar kalau saat ini dia sedang berada di tempat itu dan sedang menikmatinya? Sadar gak ya? Orang ini sebelum ngomong?
Oh, iya, aku lupa jika dia sedang mabok.
__ADS_1
Aku menepuk jidatku sendiri.
*****