Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
21. Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Tanpa terasa sudah lima tahun waktu berlalu dan kini Dafa telah memiliki pekerjaan tetap di sebuah pabrik roti.


Empat tahun yang lalu dia bergabung dengan pabrik itu dan satu tahun lalu posisinya diangkat menjadi manajer pabrik, kehidupannya pun mulai berubah sedikit demi sedikit.


Akan tetapi, kesuksesan karir Dafa tidak semulus kehidupan rumah tangganya. Meski memiliki gaji yang lebih besar dari sebelumnya, tetap saja hal itu masih kurang di mata Mega. Tidak ada hari tanpa pertengkaran yang sejatinya hanya membahas itu dan itu saja.


Terkadang Dafa merasa lelah sehingga pikiran untuk bercerai pun beberapa kali muncul di benaknya. Tapi setelah memikirkan putranya yang kini berusia empat setengah tahun, Dafa pun urung melanjutkan niatnya.


Dafa memilih bertahan semata-mata hanya demi buah hatinya yang diberi nama Dion. Dia bahkan tidak pernah lagi menyentuh Mega sejak kepergian Dilara waktu itu. Hasrat dan keinginan shah*watnya seakan ikut hilang bersama Dilara.


"Drrt... Drrt..."


Dafa yang tengah berada di pabrik tiba-tiba mendapat telepon dari wali kelas Dion.


Ya, Dion sekarang sudah bersekolah di TK nol kecil. Dafa sengaja memasukkannya lebih awal karena kurangnya kasih sayang dan perhatian Mega terhadap putranya.


Mega sama sekali tidak berubah setelah memiliki anak. Usai melahirkan, dia kembali lagi pada sifat aslinya yang suka keluyuran kemana-mana dan pulang tengah malam. Itulah yang membuat Dafa semakin menjauh darinya.


Setelah berbicara cukup lama, Dafa bergegas meninggalkan pabrik dan berlarian menuju parkiran. Air mukanya tiba-tiba menggelap dengan pandangan mengabut.


Seperempat jam kemudian, mobil yang dikendarai Dafa tiba di parkiran sebuah rumah sakit umum. Dia pun berlarian memasuki lobby dan menanyakan keberadaan putranya pada seorang suster.


Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Dion, Dafa pun dengan cepat menghampiri ruangan itu.


Dari depan pintu nampak Bu Tati yang merupakan wali kelas Dion, dia tengah mondar-mandir dalam keadaan gelisah. Sudah hampir satu jam Dion ditangani tapi tidak seorang pun suster atau dokter yang keluar dari dalam sana.


"Bu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dafa panik saat tiba di depan pintu ruangan. Di telepon tadi Bu Tati hanya mengatakan bahwa Dion dibawa ke rumah sakit tanpa menjelaskan apa penyebabnya.


"M-maaf Pak, tadi Dion sempat lepas dari pengawasan saya. Dia terjatuh dari tangga sehingga mengalami luka yang cukup serius. Saya benar-benar minta maaf, ini diluar kendali saya. Saya pikir Dion masih di kelas bersama anak-anak yang lain, tapi ternyata dia sudah meninggalkan kelas lebih dulu." jelas Bu Tati dengan wajah ditekuk. Dia merasa bersalah, karena kelalaiannya Dion harus mengalami kejadian naas ini.


Dafa hanya tertegun mendengar penjelasan wanita itu. Dia memang khawatir dan marah, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Bu Tati sepenuhnya. Dia sadar bahwa Dion memang sedikit nakal dan susah diatur, Dafa sendiri terkadang bingung melihat sikap putranya tersebut.


Baru saja Dafa hendak duduk di kursi tunggu, pintu tiba-tiba berderit yang membuat Dafa kembali berdiri tegak dan berjalan menghampiri seorang suster yang baru keluar dari dalam sana.

__ADS_1


"Maaf, apa ada pihak keluarga anak itu di sini?" tanya suster pada Dafa dan Bu Tati yang berdiri bersebelahan.


"Saya Sus, saya Ayahnya. Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Dafa panik, berharap Dion baik-baik saja dan tidak perlu mendapatkan perawatan intensif.


"Syukurlah, kebetulan sekali kalau begitu. Pasien kehilangan cukup banyak darah dan harus mendapatkan transfusi secepatnya." jawab suster itu menjelaskan.


"Ya sudah, ambil darah saya saja Sus. Saya Ayahnya," suruh Dafa.


"Baiklah, kalau begitu Bapak ikut saya dulu." ajak suster itu, lalu keduanya berjalan menuju ruangan lain.


Sebelum mengambil darah Dafa, suster itu pun melakukan beberapa metode pengecekan terlebih dahulu. Dari beberapa tes yang dilakukan, suster itu kemudian berkata. "Maaf Pak, golongan darah Bapak tidak sama dengan pasien. Bapak A sedangkan putra Bapak B, mungkin pasien mengikuti golongan darah sang ibu."


Seketika mata Dafa membulat dengan jantung berdegub kencang mendengar itu. "Tapi golongan darah istri saya O, Sus." ucap Dafa dengan suara parau. Rasanya tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Apa suster itu salah?


Jika golongan darah Dion tidak sama dengan Dafa, otomatis pasti akan sama dengan Mega. Akan tetapi, golongan darah Dion juga tidak sama dengan sang ibu. Apa itu artinya?


Tidak, tidak, Dafa menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mungkin Dion bukan anaknya, tapi...


"Mungkin suster salah, coba periksa lagi!" ucap Dafa.


"Baiklah, terima kasih." ucap Dafa kebingungan, lalu meninggalkan ruangan terburu-buru.


Setelah berbicara serius dengan Bu Tati, akhirnya wanita itulah yang mendonorkan darahnya untuk Dion. Kebetulan dia juga memiliki golongan darah yang sama.


Dengan perasaan kecewa bercampur marah, Dafa merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponsel miliknya. Dia menghubungi Mega dan meminta istrinya itu menunggu di rumah. Dafa pun menitipkan Dion pada Bu Tati dan suster barang sejenak.


Setengah jam berlalu, sampailah mobil yang dikemudikan Dafa di halaman rumah. Dia turun terburu-buru dengan tatapan tajam seperti mata elang, rahang menggeram dan tangan mengepal kuat. Tidak tau apa yang akan dia lakukan terhadap Mega jika sampai mengetahui bahwa Dion bukanlah darah dagingnya.


"Braak..."


Suara hempasan pintu yang sangat keras membuat Mega terperanjat di tempat duduknya. Dia menatap Dafa dengan kening mengerut dan mata menyipit.


"Apa-apaan kamu? Pulang-pulang bikin orang kaget saja," ketus Mega mendongkol sambil menekan dada.

__ADS_1


Tanpa berucap, Dafa lantas mendekat dan mencengkeram leher Mega dengan mata memerah memancarkan percikan api yang menyala.


"Aagh... S-sakit Dafa, lepas!" ucap Mega dengan susah payah. Nafasnya tercekat di tenggorokan dengan mata memerah mengandung air. Dia berusaha keras menyingkirkan tangan Dafa dari lehernya tapi kekuatannya tidak cukup kuat melakukannya.


"Dasar wanita ja*lang! Selama ini aku sudah cukup bersabar melihat kelakuanmu yang sering keluyuran dan pulang di tengah malam. Aku pikir kau hanya butuh hiburan dengan teman-temanmu, tapi kenyataannya kau malah tidur dengan pria lain." geram Dafa memperketat cengkeramannya.


Mendengar itu, sontak mata Mega terbelalak dengan denyut jantung yang tiba-tiba melemah.


"Setelah bersenang-senang dengan pria lain, lalu kembali ke rumahku seakan akulah yang menanam benih itu. Dan bodohnya aku, dengan mudahnya percaya bahwa kau mengandung anakku. Dari awal aku sudah curiga, tapi mulut busukmu terlalu pintar merayu." sergah Dafa dengan nada menekan. Jika yang berada di hadapannya itu merupakan seorang laki-laki, mungkin sudah dia hajar sampai mati.


"T-tidak, itu tidak benar. Dion putramu, dia anakmu." ucap Mega meyakinkan Dafa, dadanya mulai sesak karena Dafa tak kunjung melepaskan cekikannya.


"Benarkah? Apa kau ingat golongan darahku apa?" tanya Dafa tersenyum miring.


"A, iya, golongan darahmu A." jawab Mega terbata.


"Terus golongan darahmu apa?" tanya Dafa lagi.


"O, golongan darahku O." sahut Mega cepat.


"Lalu kenapa anak itu memiliki golongan darah yang berbeda? Bukan A bukan pula O, kau pikir apa itu? Cukup membohongiku selama lima tahun ini, aku bukan orang bodoh yang bisa kau permainan terus menerus." tukas Dafa, dia pun menjauhkan tangannya dari leher Mega. Wanita itu terbatuk dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Tanpa pikir panjang, Dafa lekas meninggalkan ruang tamu dan berjalan memasuki kamar. Dengan amarah yang kian memuncak, dia membuka pintu lemari dan mengeluarkan pakaian Mega serta pakaian Dion yang dia yakini sebagai darah dagingnya, tapi kenyataan membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya.


Setelah memasukkan pakaian itu ke dalam koper, Dafa menyeretnya keluar dan membuangnya ke teras rumah. "Mega Anggraini, aku menalakmu. Mulai hari ini kau bukan istriku lagi!" ucap Dafa menjatuhkan talak pada Mega.


"Tidak Dafa, jangan ceraikan aku! Aku minta maaf, waktu itu aku khilaf. Aku janji tidak akan-"


"Pergilah, sekarang kau bukan istriku lagi. Jemput anakmu di rumah sakit Harapan Kasih dan jangan pernah menampakkan wajah kalian di hadapanku!" potong Dafa, dia pun menyeret Mega keluar dari rumah dan mendorongnya dengan kasar. Tubuh Mega sampai tersungkur di lantai dengan deraian air mata yang jatuh membasahi pipi.


Dia pikir rahasia itu tidak akan terkuak karena sudah menutupnya rapat-rapat. Tapi ternyata Tuhan lebih dulu menunjukkan kekuasaan-NYA dengan cara lain.


Sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan bangkai, lambat laun pasti baunya akan merebak mengganggu indera penciuman.

__ADS_1


Kini semua telah berakhir, Dafa sudah menceraikannya, mau tidak mau dia harus pergi dari rumah itu.


__ADS_2