
Sekitar pukul lima sore, Dilara keluar dari kamar si kembar setelah cukup lama menenangkan diri. Dia kemudian bergegas masuk ke kamarnya dan langsung memasuki kamar mandi.
Ya, matanya sudah terlalu sembab sehabis menangis. Hari ini terlalu banyak air mata yang tercurah sehingga tubuh Dilara terasa lemas kehilangan tenaga.
Setibanya di kamar mandi, Dilara membuka pakaian dan lekas menyalakan shower. Tetesan demi tetesan air mulai berjatuhan membasahi tubuhnya yang terasa begitu rapuh. Ingin sekali dia berteriak sekencangnya agar isi di kepalanya kembali plong untuk sejenak saja.
Usai membersihkan diri dan merasa tubuhnya kembali segar, Dilara keluar dan mendapati Dafa yang sudah duduk di tepi ranjang. Dilara sengaja mengabaikannya dan berjalan menuju lemari.
Saat tengah asik mengambil pakaian yang ingin dia kenakan, tiba-tiba bulu kuduk Dilara berdiri ketika tangan Dafa melingkar erat di perutnya dan bergerak sedikit ke atas.
Dilara mengerjap dan menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu dengan sigap menyingkirkan tangan Dafa dari tubuhnya. Dia pun kembali masuk ke kamar mandi setelah berhasil mengambil pakaian tanpa berucap sepatah katapun.
"Astaga sayang, kenapa jadi seperti ini sih?" keluh Dafa mengacak rambutnya frustasi, dia benar-benar tidak menyangka masalah ini akan melebar dan berlarut-larut seperti ini. Dia rasanya tidak sanggup didiamkan seperti musuh oleh istrinya sendiri.
Tidak berselang lama, Dilara keluar dengan tubuh yang sudah dibalut pakaian. Tanpa merapikan rambut, dia langsung saja meninggalkan kamar, dia sama sekali tidak mempedulikan Dafa yang masih menatapnya dengan sendu.
"Aaah..." Dafa tampak kesal dan meninju udara untuk melampiaskan kemarahan. Bodohnya dia sudah membuat Dilara tiba-tiba berubah dingin seperti kulkas sepuluh pintu, dinginnya benar-benar menusuk hingga tulang.
Tak sanggup menerima reaksi Dilara yang terasa menghujam jantung, Dafa pun dengan cepat menyusulnya ke luar. Kebetulan Dilara tengah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Tidak usah memasak!" sergah Dafa, lalu menggenggam tangan Dilara dan menariknya ke kamar. Dilara hanya diam dan menurut saja seperti boneka yang tidak memiliki perasaan.
Sesampainya di kamar, Dafa membanting pintu dan menguncinya dengan cepat. Dilara sendiri hanya diam tanpa ekspresi.
Bahkan saat Dafa menariknya ke ranjang, dia tetap saja diam seperti patung yang tak bernyawa.
"Plaak..."
__ADS_1
"Plaak..."
Dafa memukul wajahnya sendiri menggunakan tangan Dilara, lagi-lagi Dilara hanya diam dengan tatapan kosong.
"Cukup sayang, tolong jangan siksa Mas seperti ini!" lirih Dafa dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar kehilangan akal melihat Dilara yang tidak meresponnya sama sekali.
"Dila, lihat Mas!" Dafa menangkup tangan di pipi Dilara. Meski tatapan mereka bertemu, Dilara tetap saja diam tanpa bicara apa-apa.
"Maafin Mas, sayang. Tadi Mas benar-benar tidak sengaja, Mas kaget dan tanpa sengaja memukul tangan kamu. Tolong jangan diamkan Mas seperti ini!" Dafa diam sejenak sembari mengelus pipi Dilara dengan lembut.
"Kamu boleh marah, kamu boleh memaki Mas, kamu juga boleh memukul Mas, tapi tolong bicaralah!" desak Dafa menempelkan keningnya di dahi Dilara. "Bicaralah sayang, jangan diamkan Mas terus!" imbuh Dafa menitikkan air mata. Dia tidak sanggup menahan tangisan melihat Dilara seperti itu.
"Hmm... Aku sudah bicara, sekarang biarkan aku pergi!" ucap Dilara mengeluarkan suara. Dafa pun memeluknya erat sesaat setelah mendengar suara serak istrinya itu.
"Maafin Mas ya!" pinta Dafa mempererat pelukannya dan mengecup pundak Dilara lembut.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, akulah yang salah karena sudah menganggu ketenanganmu. Siapa aku? Aku tidak punya hak untuk itu. Kamu adalah kamu dan aku adalah aku, tidak ada kita. Benar begitu kan?" lirih Dilara yang ikut meneteskan air mata.
"Sudahlah, tidak perlu membahas hal yang tidak penting seperti ini! Sekarang tolong lepaskan aku, aku ingin ke dapur menyiapkan makan malam untuk kedua putriku." ketus Dilara, dia berusaha mendorong Dafa agar menjauh darinya.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Mereka juga putri Mas," selang Dafa dengan pandangan menggelap.
"Ya, mereka memang putrimu, tapi akulah yang mengandung mereka dengan susah payah, aku yang melahirkan mereka dan aku juga yang membesarkan mereka dengan caraku sendiri. Dimana kamu saat itu? Apa kamu pernah berpikir untuk mencari ku? Tidak kan, saat itu kamu tengah berbahagia menyambut kehamilan istri pertamamu. Aku dan kedua putriku sama sekali tidak berharga di matamu, bahkan sampai detik ini pun aku tidak ada harganya di matamu."
"Sebenarnya apa yang salah denganku? Aku hanya bertanya baik-baik padamu, aku pikir seorang istri berhak tau bilamana ada masalah yang dihadapi suaminya. Tapi kenapa lagi-lagi kamu menyakitiku? Jika rumah tangga ini begitu menyiksa batinmu, kenapa tidak kamu ceraikan saja aku agar kamu bisa bebas di luar sana?"
Akhirnya tangisan Dilara pecah setelah mengatakan semua itu. Dia sampai sesenggukan menahan isak yang menyesakkan dada.
__ADS_1
Sedangkan Dafa yang mendengar itu tiba-tiba terdiam dan menjauh dari Dilara. Dia tidak menyangka Dilara akan menyebut semuanya dengan gamblang. Sekerat raganya terasa remuk dan hancur seketika itu juga.
Andai saja saat itu dia tau bahwa Dilara tidak keguguran, mana mungkin dia membiarkan Dilara mengandung, melahirkan dan membesarkan kedua putrinya sendirian. Dia juga manusia, dia punya hati dan perasaan, tidak mungkin dia menelantarkan anak istrinya jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Ya, kamu benar. Mereka berdua memang putrimu, aku tidak berhak atas mereka. Begitu kan maksudmu?" tandas Dafa dengan tatapan tajam seperti mata elang, lalu meninggalkan Dilara dan membanting pintu dengan kasar.
Tidak terbilang betapa kecewanya Dafa mendengar penuturan Dilara yang menyakitkan itu, seolah-olah hanya dirinya lah yang bersalah seorang diri.
Dengan pakaian seadanya yang melekat di tubuhnya, Dafa menaiki mobil yang terparkir di halaman dan meninggalkan kontrakan itu. Mungkin akan lebih baik jika mereka berdua tidak perlu bertemu untuk sementara waktu.
"Aku tau kamu pasti akan pergi meninggalkan aku, aku juga tau bahwa kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu di sini hanya demi putrimu saja kan, tidak ada sedikitpun perasaan di hatimu untukku kan?" pekik Dilara dengan tubuh merosot di lantai. Tangisannya pecah seiring kepergian Dafa yang dia sendiri tidak tau entah kemana. Namun hal itu semakin menguatkan kecurigaan Dilara bahwa Dafa sudah memiliki wanita lain di luar sana.
"Sekarang aku sudah kalah, cintaku lagi-lagi kalah." isak Dilara dengan kaki ditekuk, dia meraung sembari memeluk lututnya erat.
"Mommy, Daddy," sorak Divana dan Davina yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi, keduanya berlarian memasuki kamar kedua orang tuanya.
Sesampainya di ambang pintu, kedua bocah itu tiba-tiba terdiam di tempat mereka berdiri. Manik mata keduanya saling melirik karena bingung, Dilara yang terkejut langsung mendongak dan menyeka wajahnya dengan kasar.
"Mommy kenapa?" lirih kedua bocah itu dengan tatapan sendu, mereka tau Dilara tengah bersedih, apalagi tidak ada Dafa di kamar itu.
Apa kedua orang tuanya bertengkar?
"Mommy..." keduanya mendekati Dilara dan memeluknya erat. "Mommy jangan sedih ya, kami tidak suka melihat Mommy seperti ini." imbuh kedua bocah itu.
"Tidak sayang, Mommy tidak sedih." alibi Dilara, dia juga tidak ingin kedua putrinya ikut-ikutan sedih.
"Sebenarnya Mommy kenapa? Lalu dimana Daddy? Apa kalian berdua bertengkar? Apa Daddy meninggalkan kita lagi?" cerca Divana menatap setiap sudut kamar. Karena tidak menemukan Dafa, dia meyakini kalau kedua orang tuanya tengah bertengkar.
__ADS_1
Dilara sendiri hanya diam tanpa tau harus menjawab apa. Dia juga tidak tau apakah Dafa benar-benar pergi meninggalkannya atau tidak. Jika benar, entah apa yang akan Dilara lakukan setelah ini? Dia hanya bisa menahan hati agar kedua putrinya tidak bersedih.
"Kalian jangan mikir macam-macam, Daddy ada keperluan sebentar makanya Daddy pergi. Daddy pasti kembali," hanya itu yang bisa Dilara katakan untuk menjawab pertanyaan kedua putrinya itu.