
Dafa meninggalkan mobil dan berlari kecil menghampiri kedua putrinya yang berdiri di teras, lalu membawa keduanya ke dalam rumah.
"Maafin Daddy ya, kalian pasti gerah berada di rumah sekecil ini." lirih Dafa setelah mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu.
"Tidak kok Dad, Divana suka dengan rumah Daddy."
"Davina juga suka,"
"Hehehe, makasih ya sayang. Daddy pikir-"
"Tidak Daddy, meski rumah Daddy tidak sebesar rumah Mommy tapi kami lebih nyaman berada di sini. Yang penting ada Daddy," potong Divana, keduanya bergelayut di tengkuk Dafa dan berebutan menciumi pipi berbulu tipis milik sang daddy.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Dafa mencari tau.
"Belum Dad, tadi Divana ngeprank Mommy pake acara pura-pura demam. Makanya Mommy mau ngantar kami ke sini. Kami belum sempat makan," ucap Davina.
"Astaga, apa kalian tidak kasihan sama Mommy?" Dafa mengerutkan dahi seraya geleng-geleng kepala.
"Tapi Mommy jahat Daddy, tadi Davina dengar Mommy mau urus surat cerai. Daddy sama Mommy jangan pisah ya, kami tidak mau punya ibu ataupun ayah sambung." lirih Davina.
"Hmm... Kalau kalian bisa bantuin Daddy dekat lagi sama Mommy, Daddy tidak akan berpisah tapi kan-"
"Daddy tenang saja, kami ada dipihak Daddy kok. Pokoknya kami tidak mau kalian berpisah," tegas Divana.
"Hehehe, iya, Daddy percaya. Kalau begitu malam ini kalian nginap di sini ya!" pinta Dafa dengan senyum penuh kemenangan.
"Bukan hanya malam ini, tapi selamanya kami akan tinggal sama Daddy. Biar tau rasa tuh si kakek peot," geram Davina mengumpati Dirgantara.
"Sayang, tidak boleh begitu. Tidak baik bicara seperti itu, anak kecil tidak boleh kasar sama orang dewasa, nanti Tuhan marah." ucap Dafa menasehati putrinya.
"Tapi, Dad-"
"Sayang-"
"Iya, iya, Davina minta maaf." bocah itu tertunduk lesu dengan bibir mencebik.
"Sudah, jangan sedih. Daddy tidak marah, Daddy hanya menasehati biar Davina jadi anak yang baik. Sekarang bantu Daddy masak ya, nanti kita makan sama-sama." bujuk Dafa seraya mencubit pipi gembul Davina.
Setelah berhasil membuat Davina tersenyum, mereka bertiga meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dapur.
Beruntung di dalam kulkas masih ada beberapa potong ayam yang sudah diungkap, jadi Dafa tidak bingung mau masak apa. Dia juga mengeluarkan sayuran yang nantinya mau ditumis, lalu mengeluarkan dua butir telur untuk didadar.
"Oke, chef Dafa siap beraksi." seru pria itu tertawa riang dan segera menyiapkan alat masak, kemudian mendudukkan kedua putrinya diantara wastafel dan kompor. Mereka berdua bertugas menjadi mandor dan juri yang akan menilai masakan Dafa.
Tidak butuh waktu lama, setengah jam saja semua makanan sudah terhidang di atas meja. Telur dadar, ayam goreng, tumis sayur, dan sambel uleg. Semua terlihat menggugah selera, tapi soal rasa tunggu dua kurcaci itu menilainya.
"Panggil Mommy gih!" suruh Dafa setelah selesai menyiapkan semuanya, nasi pun sudah dia keluarkan dari rice cooker.
Kedua bocah gembul itu berlarian menuju halaman rumah setelah mendapat perintah dari Dafa. Dilara yang melihat kedatangan mereka langsung turun dari mobil dan membukakan pintu belakang, dia pikir kedua putrinya sudah mau pulang tapi ternyata keduanya malah menariknya ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Dilara menahan langkah.
"Ikut saja, Mommy!" jawab kedua bocah itu bersamaan lalu menarik Dilara kembali.
"Tapi, sayang-"
"Tidak ada tapi-tapi!" ucap keduanya berbarengan.
Dilara sontak terdiam dan terpaksa mengikuti mereka. Wajahnya seketika berubah pucat saat menginjakkan kaki di ruang tamu, dia yakin Mega akan mengusirnya sebentar lagi.
"Ayo, Mommy duduk di sini biar dekatan sama Daddy!" ucap keduanya, Dafa pun menarik kursi itu untuk Dilara.
Dilara hanya diam menuruti keinginan kedua buah hatinya.
Setelah mereka semua duduk, Dafa meminta Dilara mengisi piring mereka bertiga lalu menyantap makanan itu bersama-sama.
Di tengah kegaduhan yang diciptakan Divana dan Davina, Dilara hanya diam menikmati makanan yang ada di piringnya. Dia sedikit bingung melihat suasana rumah yang sepi, hanya ada mereka berempat saja di sana. Kemana Mega dan anaknya?
"Dad, kami sudah kenyang. Kami ke kamar dulu ya," Divana dan Davina meninggalkan meja makan lebih dulu, mereka memasuki kamar Dafa dan memilih berbaring di tempat tidur.
Dilara yang hendak memanggil mereka langsung terdiam saat Dafa menggenggam tangannya. "Biarkan saja!" ucap Dafa.
Dilara yang merasa canggung dengan cepat menarik tangannya dan bergegas mengumpulkan piring kotor, lalu membawanya ke dapur dan mencucinya.
Usai mencuci piring, Dilara dengan cepat meninggalkan dapur dan berdiri di ambang pintu kamar. "Divana, Davina, sudah malam Nak, kita pulang yuk!" panggil Dilara, tapi tak seorangpun menyahut dari dalam sana.
"Mas, tolong bantu aku memanggil mereka! Kami harus pulang," pinta Dilara memohon.
"Mas, tolong jangan bercanda! Aku-"
Ucapan Dilara seketika terhenti saat tangan Dafa melingkar erat di pinggangnya. Sekujur tubuh Dilara meremang saat bibir Dafa berlabuh di tengkuknya.
"Mas, jangan!" desis Dilara dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ini sudah keterlaluan, mereka tidak boleh seintim ini.
Bukannya berhenti, Dafa malah semakin berani menyerang tengkuk Dilara dengan ciuman ciuman lembut yang membuat Dilara kelimpungan sendiri. Mulutnya berkata tidak tapi hatinya menginginkan, seketika Dilara pun tersadar dan lekas menjauh dari Dafa.
Akan tetapi, Dafa tidak akan menyerah begitu saja. Saat Dilara hendak meninggalkan rumah, Dafa menarik tangannya sedikit kasar hingga dada Dilara tak sengaja membentur tubuhnya.
"Aah..." de*sah Dilara seraya mengerjab. Bibir mereka kembali bertemu sehingga Dafa tidak menyiakan kesempatan itu. Dafa mengesapnya dengan penuh kelembutan, Dilara pun terpana menikmatinya.
"Rujuklah denganku, aku mohon!" pinta Dafa di permukaan bibir Dilara, deru nafasnya kian memburu dan berpacu dengan detak jantung yang tiba-tiba berdetak tak menentu.
Rasanya Dafa ingin gila menahan perasaan ini terlalu lama. Lima tahun dia tidak pernah menyentuh wanita manapun termasuk Mega yang saat itu masih resmi berstatus istrinya.
Semua rasa dan keinginan dia tahan sekuat hati hanya demi Dilara, gadis kecil yang sangat dia cintai.
"Maaf Mas, aku benar-benar tidak bisa." Dilara kembali menjauh dan masuk ke kamar memanggil kedua putrinya untuk pulang, kali ini dia sedikit memaksa, keduanya sontak menangis karena ditarik oleh Dilara.
"Mom, kami mau di sini. Kami tidak mau pulang," rengek Divana dan Davina berderai air mata, tangis keduanya menggelegar, Dafa yang mendengar itu sedikit tersulut emosi.
__ADS_1
"Cukup Dila, kalau kamu marah padaku, jangan melampiaskannya pada mereka!" sergah Dafa dengan tatapan tajam.
"Ini urusanku, mereka anak-anakku." tukas Dilara dengan tatapan tak kalah tajam.
Mendengar itu, tensi Dafa naik hingga dua ratus, darahnya mendidih sampai ubun-ubun.
Dengan rahang menggeram, Dafa memaksa Dilara melepaskan tangan kedua putrinya. "Sssttt... Jangan menangis, kalian tidur saja. Daddy mau bicara sebentar sama Mommy,"
Setelah menenangkan kedua putrinya, Dafa menarik Dilara keluar kamar dan membuka pintu kamar lainnya. Kebetulan beberapa waktu lalu Dafa sempat merenovasi rumah itu dan menambah satu kamar yang tadinya untuk Dion.
"Bug..."
Dilara menggelinjang saat Dafa melayangkan tinju di depan wajahnya, mata Dilara sontak terpejam karena ketakutan. Akan tetapi, bukan wajahnya melainkan dinding lah yang menjadi sasaran Dafa.
Sesaat kemudian, tubuh Dafa merosot di kaki Dilara. Dia memegang lutut ibu dari anaknya itu dan menempelkan ujung kepalanya di sana.
"Bunuh saja aku Dila, aku tidak tahan lagi dengan semua penderitaan ini." lirih Dafa berderai air mata.
"M-Mas..." Dilara mencoba mundur.
Dafa meremas rambutnya kasar dan memukulkan kepalanya ke lutut Dilara.
"Belum cukupkah menghukumku selama ini? Sebesar itukah salahku sehingga tidak ada sedikitpun maaf untukku?"
"Kamu yang datang ke dalam hidupku lebih dulu, kamu membeliku layaknya sebuah permen, tapi aku berusaha menerimanya. Lalu apa salahnya jika aku cemburu melihat istriku bersama pria lain? Pria mana yang tidak akan marah saat tangan istrinya disentuh, pipi istrinya dicubit dan tubuhnya dipeluk."
"Aku marah Dila, aku cemburu, sebab itulah aku minum untuk melampiaskan rasa sakit di hatiku. Aku tau caraku salah, tapi bukankah aku punya hak menyentuhmu?"
"Aku menyesal, aku ingin memperbaiki semuanya tapi kamu malah pergi meninggalkan aku. Kamu bahkan tega menyembunyikan darah dagingku bertahun-tahun lamanya. Dan kini kamu juga ingin memisahkan aku dengan mereka, siapa yang jahat sebenarnya Dila? Aku atau kamu?"
Dafa tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang digoreskan Dilara di hatinya. Tangisannya pecah menangisi semua yang sudah terjadi.
"Bunuh saja aku Dila, aku tidak ingin hidup lagi. Biarkan aku pergi membawa rasa sakit ini!" isak Dafa dipenuhi air mata dan ingus yang sudah membaur jadi satu.
"M-Mas..." Dilara yang melihat itu langsung berjongkok dan menangkup tangan di pipi Dafa.
"Jangan sakiti kedua putriku, aku mohon! Jika aku tidak layak untuk mereka, maka pergilah, bawa mereka bersamamu sejauh mungkin! Aku juga akan pergi dari hidup kalian untuk selama-lamanya."
Setelah mengatakan itu, Dafa menjauh dari Dilara dan masuk ke dapur. Entah apa yang dia ambil, Dilara tidak bisa melihat dengan jelas.
Lalu Dafa berjalan menuju pintu belakang dan duduk di tanah dengan pandangan berkabut, langit hitam mulai menguasai pikirannya sehingga timbullah ide gila untuk mengakhiri hidupnya.
"Mas, jangan!" seru Dilara menghentikan kegilaan yang dilakukan Dafa barusan. Beruntung Dilara datang disaat yang tepat, dia menendang pisau yang ada di tangan Dafa hingga jatuh ke tanah.
"Bodoh kamu, Mas! Apa kamu benar-benar ingin mati?" bentak Dilara dengan suara melengking.
"Bug..."
"Bug..."
__ADS_1
Dilara memukuli Dafa dengan membabi buta, kesal karena pemikiran singkat ayah anaknya itu.
"Ya, pukul terus sampai rasa sakit itu benar-benar hilang dari hatimu. Aku akan pergi dengan tenang setelah ini!" lirih Dafa yang diam saja menerima setiap pukulan yang dilayangkan Dilara.