Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
45. Bocah Nakal


__ADS_3

"Sudah, jangan menangis lagi!" Dafa menyeka pipi Dilara dengan kedua tangan di setiap sisinya, menatapnya dengan rasa sayang dan mendekap lengannya erat lalu memapahnya ke dalam rumah.


Setibanya di ruang tamu, Dafa mendudukkan Dilara di sofa dan meninggalkannya barang sejenak. Dafa berjalan memasuki dapur dan menuang air putih ke dalam gelas lalu membawanya ke ruang tamu.


"Ini minum dulu sedikit!" Dafa menyodorkan mulut gelas ke bibir Dilara sampai istrinya benar-benar meminumnya. Setelah menaruh gelas itu di atas meja, Dafa duduk dan membawa Dilara ke pelukannya.


Dia sendiri tidak tau harus berkata apa, kejadian tadi membuatnya benar-benar syok. Andai dia telat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi dengan Dilara.


"Cukup bermain-main dengan kematian, Mas tidak ingin melihat hal seperti tadi lagi!" lirih Dafa sambil membelai rambut Dilara, hembusan nafasnya terdengar berat.


Dilara yang tengah tenggelam di dada Dafa seketika mendongak menatap wajah tampan suaminya, beberapa detik kemudian dia pun menjauh dan memilih masuk ke kamar.


Ya, Dilara tau tindakannya tadi tidak bisa dibenarkan. Tidak seharusnya dia bertindak seperti itu, apalagi sampai melupakan kedua buah hatinya yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya.


Dengan perasaan bersalah yang menggerogoti hati, Dilara kemudian memilih berbaring di kasur. Dia meringkuk menyelami rasa sakit yang mengiris dada dengan tangisan pilu menyesali kebodohannya.


Bukan sekali ini saja dia bertindak di luar akal sehat, tapi sudah berulang kali dia melakukan hal bodoh tanpa memikirkan sebab dan akibat.


"Aaaa..." Dilara berteriak histeris sambil mengacak rambutnya frustasi, lalu meraih apa saja yang ada di dekatnya dan melemparnya ke sembarang tempat. Setelah itu menjambak rambutnya dengan kasar.


Dafa yang baru tiba di ambang pintu langsung berhamburan kala mendengar teriakan Dilara. Dia mendekat dan memeluk Dilara dengan erat. "Cukup Dila, apa yang kamu lakukan?"


"Lepasin aku, Mas! Aku ini sudah gila, aku hanya akan membuatmu menderita bersamaku, aku tidak pantas menjadi istrimu." raung Dilara dengan suara parau dan nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Tidak sayang, kamu tidak gila. Kamu juga layak menjadi istri Mas." lirih Dafa menenangkan Dilara sambil mengusap kepalanya.


"Tapi aku sudah mengacaukan semuanya, aku egois Mas. Aku terlalu memaksakan diri untuk masuk ke dalam hidupmu, aku juga yang membuatmu bercerai dengan Mbak Mega. Aku jahat Mas, aku tidak punya hati." isak Dilara sesenggukan di dada Dafa.


"Tidak sayang, itu semua bukan salahmu, takdir yang sudah membawamu padaku." ungkap Dafa menggeleng lemah.


"Bukan takdir tapi keserakahan. Aku lah biang kerok dari semua permasalahan ini. Aku manusia bodoh dan paling terhina di dunia. Kenapa Mas? Kenapa aku harus mencintaimu sedalam ini? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri?" pekik Dilara histeris, dia kembali menjambak rambutnya seperti orang kesurupan.


"Dila, cukup!" Dafa berusaha keras menyingkirkan tangan Dilara dari rambutnya, dia tidak ingin Dilara menyakiti dirinya sendiri. Mau tidak mau Dafa terpaksa menekan tubuh Dilara hingga terjatuh di kasur dan manahan kedua tangannya agar tak lagi menjambak rambutnya.


"Lepasin aku Mas, aku-"


Dafa yang sudah kehabisan kata-kata langsung membungkam mulut Dilara agar tak lagi banyak bicara. Dia mengesapnya rakus dan melu*matnya tanpa henti.


Dilara meronta-ronta sampai sesak dan berkali-kali mencuri nafas, namun pada akhirnya dia pun terdiam tanpa perlawanan dan membiarkan Dafa mencumbuinya sesuka hati.


"Mas..." lirih Dilara dengan tatapan sendu, matanya nampak bengkak karena kelamaan menangis.


"Sssttt..." kembali Dafa menempelkan bibirnya di permukaan bibir Dilara, dia tidak ingin mendengar apa-apa.


Dilara yang merasa terenyuh kemudian memeluk Dafa seeratnya seakan tidak ingin melepaskannya lagi, Dafa pun membalas pelukan itu sembari menghujani wajah Dilara dengan kecupan kecupan kecil nan lembut.


"Mas sayang sama kamu, Mas juga cinta sama kamu. Tolong jangan seperti ini lagi! Tidak ada yang salah dengan cinta kita, kamu hanya sedikit terlambat masuk ke dalam hidup Mas. Tapi sekarang Tuhan sudah mempertemukan kita kembali, jangan lagi berpikir kalau semua ini salahmu!" kata Dafa meyakinkan Dilara.

__ADS_1


Di sekolah, Divana dan Davina menghampiri seorang murid laki-laki yang hanya diam di pojokan kelas. Meski sekarang merupakan jam istirahat, tapi anak itu tidak ada niatan untuk bermain bersama teman sekelasnya. Bahkan dia sudah terlihat murung sejak jam pelajaran dimulai tadi.


"Hai, main sama kita yuk!" ajak Davina sambil mengulurkan tangan ke arah anak itu. Sayangnya tangan Davina malah ditepuk olehnya.


"Hei, kamu jangan kasar gitu dong. Davina kan cuma mau ngajakin kamu main," protes Divana yang tidak suka melihat saudara kembarnya dikasari, dia memelototi anak itu sembari berkacak pinggang.


"Aku tidak mau main sama kalian, pergi sana!" berang anak laki-laki itu dengan tatapan tajam.


"Ya sudah, tinggal ngomong apa susahnya sih? Tidak perlu memukul saudara kembarku seperti tadi!" kesal Divana lalu menarik tangan Davina menjauhi anak laki-laki itu.


Keduanya memilih duduk di bangku mereka dan mengeluarkan bekal yang dibuatkan Dilara tadi. Sebelum jam pelajaran selanjutnya dimulai, kedua bocah itu menyantap makanannya sampai tandas. Sedangkan anak laki-laki itu hanya memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.


Sebenarnya Divana dan Davina tau kalau anak itu sedang melihat ke arah mereka, tapi keduanya memilih cuek karena perlakuan kasar anak itu tadi.


"Mmm... Mommy memang tau apa yang kita suka, makanannya enak sekali." sanjung keduanya, lalu menyimpan kotak makan mereka yang sudah kosong ke dalam tas.


Tidak lama, bel tanda pelajaran akan dimulai pun berbunyi. Kedua bocah itu duduk dengan rapi menunggu guru mamasuki kelas. Anak laki-laki tadi juga lekas kembali ke tempat duduknya, wajahnya tampak lesu seperti orang kelaparan.


Saat guru memasuki kelas, anak-anak berseru menyambutnya, tapi tidak dengan bocah laki-laki itu, dia hanya diam tanpa ekspresi. Sepertinya ada yang salah dengan anak itu.


"Dion, kamu kenapa diam saja?" seru Bu Heni yang merupakan wali kelas mereka.


"Tidak apa-apa Bu," sahut bocah bernama Dion itu.

__ADS_1


Dari awal masuk sekolah, Dion memang pendiam dan gampang sekali marah pada siapapun yang tidak dia sukai. Sudah berkali-kali orang tuanya dipanggil ke sekolah tapi tak pernah sekalipun ada yang datang memenuhi panggilan guru. Bu Heni sendiri terkadang dibuat bingung olehnya.


Seperti biasa, pelajaran kembali dilanjutkan meski tidak ada respon dari anak itu. Dia juga tidak mau mengerjakan tugas sesuai yang diperintahkan Bu Heni pada semua murid yang ada di kelas itu.


__ADS_2