Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
48. Kembali


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah tiga minggu saja Dafa pergi dan tidak pernah pulang ke kontrakan yang ditempati istri dan kedua putrinya.


Sejak saat itu Dilara sendirilah yang mengurus kedua buah hatinya dan mengantar jemput mereka ke sekolah. Dilara mulai kelelahan karena tubuhnya tidak terlalu fit akhir-akhir ini.


Divana dan Davina setiap hari selalu menanyakan dimana keberadaan sang daddy, Dilara hanya menjawab bahwa daddy mereka sedang ada tugas di luar kota. Tapi hari ini Dilara sudah tidak sanggup untuk menunggu, dia tidak bisa tinggal di kontrakan itu lagi.


Sebenarnya Dafa tidak pernah meninggalkan mereka. Setiap hari dia selalu datang ke kontrakan itu selepas pulang dari pabrik, hanya saja dia tidak berani menampakkan diri dan memilih menguntit dari kejauhan. Dia masih sangat kecewa setelah mendengar ucapan Dilara tempo hari.


Ya, Dafa merasa sangat tersudutkan seolah-olah dialah yang paling bersalah atas semua yang sudah terjadi. Dia hanya ingin Dilara sadar bahwa mereka berdua sudah terikat kuat karena kehadiran kedua buah hati mereka.


Akan tetapi, Dilara terlalu naif. Dia tidak mau mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat dan melemparkan semuanya kepada Dafa.


"Mom, kita mau kemana?" tanya kedua bocah itu kebingungan. Dilara menggantikan pakaian mereka dan mengemasi barang-barang pribadi miliknya setelah itu.


Dilara juga tidak menyahut, dia terus saja menyibukkan diri agar kedua putrinya tak lagi bertanya. Dilara sendiri tidak tau harus menjawab apa.


"Ayo, sekarang ikut Mommy!" ajak Dilara, dia hanya membawa tas kecil miliknya tanpa membawa apa-apa lagi.


"Tapi Mom, Daddy kan belum pulang? Nanti Daddy sedih kalau kita bertiga tidak ada lagi di rumah ini." ucap Divana menolak ajakan Dilara.


"Daddy kalian tidak akan sedih, dia tidak pernah menginginkan kita." ingin sekali Dilara mengatakan itu kepada kedua putrinya tapi ucapannya tiba-tiba tercekat di tenggorokan, dia tidak bisa menyuarakannya kepada mereka.


"Sekarang tinggal pilih, kalian mau menunggu Daddy di sini atau ikut sama Mommy." tawar Dilara memberikan pilihan kepada keduanya.


Davina dan Divana sontak terdiam dengan wajah ditekuk dan bibir mengerucut. Mau tidak mau mereka terpaksa menurut. Tidak mungkin kedua bocah itu menunggu Dafa tanpa Dilara di samping mereka.


Saat ketiganya keluar dari pintu rumah, saat itu juga kedua bocah itu menangis sesenggukan. Keduanya masih berharap sang daddy akan datang mencegah kepergian mereka.


Dari kejauhan, Dafa terkejut menyaksikan pemandangan itu. Apalagi ketika melihat Dilara menaruh kunci kontrakan di atas ventilasi, seketika jantung Dafa berdegup kencang seperti dikejar binatang buas.


Dafa mulai panik, dia pun lekas berlari menghampiri mereka bertiga. Nafasnya tersengal saat berhadap-hadapan dengan ketiga perempuan yang sangat dia sayangi itu.

__ADS_1


"Daddy..." pekik Divana dan Davina serentak. Keduanya berhamburan ke pelukan Dafa dan memeluknya erat melepas kerinduan yang mendalam.


"Akhirnya Daddy pulang juga, kami pikir Daddy tidak akan pernah kembali dari luar kota. Mommy mau mengajak kami pergi dari sini, kami tidak mau kehilangan Daddy lagi." keduanya menangis tersedu di pelukan Dafa.


Dafa yang mendengar itu tidak sanggup menahan hati, air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi.


Dengan posisi berjongkok, dia mendongak menatap Dilara yang tengah membuang muka ke arah lain. Hatinya mencelos, dia merasa bersalah karena sudah menuruti ego yang hampir saja menghancurkan dirinya sendiri.


"Kalian tidak akan kehilangan Daddy, kita semua akan pulang ke rumah Daddy." ucap Dafa tegas, dia terus saja mematut Dilara tanpa kedip.


Dilara yang mendengar itu sontak memutar leher, seketika manik matanya bertemu dengan Dafa.


Tidak sanggup menatap suaminya terlalu lama, Dilara kembali mengambil kunci yang tadi dia taruh di atas ventilasi. Dia membuka pintu dan memasuki kontrakan terburu-buru.


"Ayo, kita masuk dulu!" ajak Dafa yang ingin menyusul Dilara. Dia menggendong kedua putrinya dan membawa mereka ke kamar. "Sekarang kalian main di kamar dulu, Daddy mau bicara sebentar sama Mommy!" imbuh Dafa setelah menurunkan mereka di atas ranjang.


"Iya Dad," angguk keduanya menurut.


Beruntung pintu tidak dikunci sehingga Dafa bisa dengan mudah menemui Dilara.


Dafa menghela nafas berat dan membuangnya kasar saat menangkap tubuh Dilara yang tengah meringkuk di atas kasur, bahunya berguncang menahan tangisan yang menyesakkan dada.


"Untuk apa kamu kembali? Bukankah kamu sudah bahagia tanpa kami? Pergi dan jalani hidupmu yang baru! Aku dan kedua putriku tidak membutuhkan pria sepertimu," ucap Dilara dengan suara bergetar.


"Tidak sayang, kamu salah. Mas tidak pernah bahagia tanpa kalian," sahut Dafa kemudian menghampiri Dilara dan duduk di sisi ranjang.


"Bohong, aku tau kamu tidak pernah menginginkan kami. Buktinya kamu begitu tega meninggalkan kami selama beberapa minggu ini," isak Dilara dengan nafas tercekat di tenggorokan.


"Tidak Dila, kamu salah. Mas justru sangat tersiksa tanpa kalian, Mas juga tidak pernah meninggalkan kalian. Mas selalu ada di sini, setiap hari Mas tidak pernah berhenti menguntit kalian dari depan sana. Hanya saja Mas tidak berani masuk, Mas takut kamu tidak akan menerima kedatangan Mas." terang Dafa.


"Sama saja, kamu jahat Mas, aku benci sama kamu." tukas Dilara meninggikan suara.

__ADS_1


"Hmm... Kalau begitu lihat Mas dulu, kamu juga boleh memukul Mas sesuka hati, asal jangan pernah pergi dari hidup Mas!" tawar Dafa.


"Tapi aku tidak ingin memukul kamu, aku ingin membunuh kamu dengan tanganku sendiri." sergah Dilara.


"Boleh, kalau begitu lakukan saja!" angguk Dafa.


"Kamu yakin?" Dilara memutar leher ke arah Dafa dan menatapnya dengan intim.


"Hmm... Yakin," angguk Dafa lagi.


"Baiklah kalau begitu," Dilara mengangkat sebelah sudut bibirnya dan lekas bangkit dari pembaringan. "Tunggu di sini!" ucap Dilara dengan tatapan tajam, lalu meninggalkan kamar barang sejenak.


Dilara kemudian mengambil sapu dan kembali ke kamar menghampiri Dafa.


"Untuk apa bawa sapu?" Dafa mengerutkan kening bingung.


"Untuk apa lagi? Jelas untuk membunuhmu," tukas Dilara.


"Astaga sayang, kenapa kamu jadi bodoh begini sih? Kapan matinya kalau pakai sapu? Seharusnya pakai pisau biar langsung mati sekali tusuk." terang Dafa.


"Ya, kamu benar. Kalau begitu tunggu sebentar!" Dilara menaruh sapu itu di dinding, namun saat ingin kembali ke luar, Dafa dengan cepat menangkap tubuh istrinya dan membelitnya dengan erat.


"Cukup sayang, jangan bercanda lagi!" Dafa berjalan pelan hingga tubuh Dilara terdorong ke belakang. Pelan-pelan tangan Dafa mulai turun dan dengan leluasa meremas bokong Dilara.


Seketika mata Dilara membulat dengan sempurna. "Jangan kurang ajar kamu, Dafa!" tukas Dilara menajamkan tatapan.


Kini giliran mata Dafa yang membulat setelah mendengar ucapan Dilara barusan, berani sekali istrinya itu menyebut namanya tanpa sopan santun sedikitpun. "Dafa?" gumamnya dengan gigi bergemeletuk. Ingin sekali dia mengunyah Dilara hidup-hidup dan menelannya mentah-mentah.


"Sudah, jangan lebay! Masih untung aku mau memanggil namamu, sekarang pulanglah ke rumahmu!" Dilara mendorong dada Dafa dengan kasar dan berjalan meninggalkannya sendirian.


Dia pun langsung masuk ke kamar si kembar untuk menyelamatkan diri dari pandangan mesum yang diarahkan Dafa padanya tadi. Dia tidak mungkin berlama-lama dengan Dafa, dia tau Dafa tidak akan melepasnya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2