Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
28. Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Kini Dilara dan Dafa sudah masuk dan duduk di meja makan. Tadi Dilara menyeret paksa Dafa dan mendorongnya ke kamar mandi, Dilara mengguyur tubuh ayah putrinya itu agar otaknya kembali waras.


Setelah Dafa mengenakan pakaian, Dilara membuatkan teh untuk menghangatkan kembali tubuh Dafa yang sempat menggigil kedinginan.


"Aku pulang dulu, besok pagi aku ke sini lagi menjemput Divana dan Davina. Istirahatlah!" ucap Dilara dingin, dia terpaksa meninggalkan kedua putrinya yang sudah tertidur lelap di dalam kamar.


Saat Dilara berjalan menuju pintu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dafa memeluknya erat dari belakang dan mencengkeram setiap sisi lengannya. "Jangan pergi, Dila. Aku mohon!" gumam Dafa seraya menenggelamkan bibirnya di tengkuk Dilara.


Seketika Dilara merasa gamang, sekujur tubuhnya merinding seiring detak jantung yang berdebar-debar tak menentu. "Tapi aku harus pergi Mas, aku bukan istrimu lagi. Tolong mengertilah!"


"Aaaa..." Dilara menjerit saat Dafa mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar.


"Mas, tolong lepaskan aku! Ini tidak benar, aku harus pergi." pinta Dilara memohon dengan air muka memelas, namun Dafa sama sekali tidak peduli.


Setibanya di kamar, Dafa membaringkan Dilara di atas kasur dan bergegas mengunci pintu.


"Mas, jangan gila! Aku-"


"Ya, aku memang sudah gila Dila. Kamu yang membuat aku gila, kamu juga yang harus bertanggung jawab!" potong Dafa seraya merangkak menaiki tubuh Dilara.


"Mas... Mmphh..."


Dafa tak memberi Dilara kesempatan untuk berbicara, dia lantas mengesap bibir merah merekah itu dengan penuh kelembutan. Dilara terdiam sejenak, dia mengerjap menikmati rasa yang menggerogoti dirinya.


"Aku merindukanmu, Dila. Aku sangat rindu. Bertahun-tahun aku memendam rasa ini, bertahun-tahun pula aku menahan diri untuk tidak menyentuh wanita manapun. Aku bahkan tidak pernah menyentuh Mega sejak kepergianmu. Aku sadar wanita yang aku inginkan hanyalah kamu," ucap Dafa dengan deru nafas memburu. Pikirannya seketika kacau, dia tidak bisa mengendalikan gejolak hasrat yang sudah membelenggu di jiwanya. Keinginan untuk memiliki Dilara tidak bisa dia bendung, kepalanya serasa ingin pecah.

__ADS_1


"Sadar Mas, jangan turuti nafsu itu, aku bukan istrimu lagi. Pikirkan perasaan Mbak Mega dan anakmu, mereka akan sangat kecewa jika kamu seperti ini." kata Dilara menolak keinginan Dafa.


"Untuk apa memikirkan mereka? Kami sudah bercerai, semua sudah berakhir." lirih Dafa dengan suara parau.


"Cerai?" seketika kening Dilara mengernyit mengulang kata itu.


Dafa kemudian menjatuhkan diri di samping Dilara dan memeluknya erat, lalu menyembunyikan wajahnya di belahan dada Dilara.


"Dia mengkhianatiku, anak yang dia lahirkan itu bukanlah darah dagingku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Kamu memintaku bertahan dengannya, sudah aku coba tapi kenyataannya rumah tangga kami hancur karena ulahnya sendiri."


"Cukup memikirkan perasaan orang lain, sekarang coba pikirkan perasaanmu sendiri! Apa benar kamu tidak mencintaiku lagi? Apa benar kamu sudah melupakanku? Aku tau kamu berbohong, aku bisa melihat cinta di matamu. Tolong Dila, beri aku kesempatan sekali lagi! Aku tidak sanggup berpisah denganmu, kamu cintaku, kamu gadis kecilku yang nakal." lirih Dafa berderai air mata. Tetesan demi tetesan yang berjatuhan membuat dada Dilara basah seketika.


"Mas..."


"Mas... Augh..." tiba-tiba Dilara mende*sah saat tangan Dafa masuk ke celah bajunya. Entah sejak kapan Dafa melakukannya, Dilara sama sekali tidak menyadarinya.


"Mas, jangan! Kita tidak boleh melakukan ini," Dilara mencoba menutupi dada yang sudah terbuka, namun Dafa tidak menyerah begitu saja. Dia menangkap tangan Dilara dan menekannya di permukaan kasur.


"Lihat aku, katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi!" tegas Dafa dengan tatapan yang sulit diartikan, hembusan nafasnya yang hangat membuat Dilara memicingkan mata seraya menggigit bibir.


Dafa pun tidak menyiakan kesempatan itu, dia melu*mat bibir Dilara lembut dan masuk semakin dalam. Sementara itu, tangannya mulai nakal meremas kedua gunung kembar milik Dilara.


"Mas..." Dilara tersentak dan membuka mata dengan cepat, lalu memeluk tengkuk Dafa erat. "Mmm... Aku masih sangat mencintaimu, perasaanku tidak pernah berubah padamu." lirih Dilara mengakui perasaannya, dia tidak kuat lagi menyembunyikan isi hatinya. Dia masih sangat mencintai Dafa dan juga menginginkannya.


Mendengar itu, hati Dafa luluh lantah seketika itu juga. Tak terbilang betapa bahagianya dia saat ini. Dafa kemudian menangkup tangan di pipi Dilara, dia mendaratkan ciuman ciuman lembut mulai dari kening, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir Dilara. "Aku juga mencintaimu Dila, aku sangat mencintaimu. Maaf karena aku terlambat menyadarinya, tolong maafkan juga segala dosa yang pernah aku lakukan, aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" isak Dafa bercucuran air mata.

__ADS_1


"Janji?" gumam Dilara terisak.


"Hmm... Mas janji, demi kamu dan demi kedua putri kita. Kamu juga boleh mencincang Mas jika berbohong." angguk Dafa sesenggukan.


Melihat ketulusan di mata Dafa, Dilara kembali memeluknya. Tangisannya pecah sembari mencengkeram tengkuk Dafa dan meremas rambutnya.


Dafa bisa merasakan kemelut rasa rindu yang ditahan Dilara selama ini, itulah yang membuatnya yakin bahwa Dilara akan kembali padanya. Buktinya Dilara benar-benar kembali dan bahkan membawa dua malaikat cantik hasil perbuatannya di masa lalu.


"Cukup, jangan menangis lagi!" Dafa melepaskan pelukannya dan menyeka pipi Dilara, lalu mengecup mata Dilara yang sudah sembab.


Tanpa pikir panjang, Dilara pun mengecup bibir Dafa, dia melu*matnya lembut dan menggelitik permukaan bibir Dafa menggunakan lidah. Melihat keberanian Dilara, Dafa pun tak tinggal diam. Dia membelit lidah itu dan memasukinya semakin dalam. Suara decapan keduanya membuat suasana kamar kian memanas.


"Mas..." desis Dilara dengan pandangan mengabut. Dadanya kembang kempis mengatur nafas yang sudah tak beraturan.


"Aughh..." sedikit de*sahan tipis kembali lolos dari mulut Dilara, dia menutup mata sembari menggigit bibir, membiarkan Dafa bermain sesuka hatinya di menara gunung kembar miliknya.


Berkali-kali Dafa menggigit pelan benda bulat kecil itu, berulang kali pula Dilara menggeliat menikmati rasa yang entah. Kali ini kewarasannya hilang seiring sentuhan lembut yang dilayangkan Dafa, sangat berbeda dengan yang dilakukan Dafa lima tahun yang lalu.


"Cukup Mas, jangan dilanjutkan lagi! Kita tidak boleh melakukan ini sekarang," gumam Dilara dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Mendengar itu, Dafa pun terdiam dan menghentikan aksinya. Dia menjauh dan duduk di tepi ranjang memunggungi Dilara.


Dafa kemudian mengusap wajah kasar sambil mematut ke arah bawah. Benar saja, rudal miliknya sudah berdiri dengan maksimal, benda itu sangat siap diajak bertempur tapi Dafa terpaksa menahan diri untuk tidak melakukannya.


Dia sadar, memaksa Dilara sama saja dengan menyakitinya kembali. Dafa tidak akan pernah mengulangi kesalahannya, biar saja dia yang menderita menanggung siksaan ini.

__ADS_1


__ADS_2