
"Tunggu, Mas!" seru Dilara sesaat setelah tiba di luar. Dia berlari menyusul Dafa yang sudah cukup jauh dari pandangannya. Dafa yang mendengar itu sontak terdiam dan menghentikan langkahnya.
Dilara pun berdiri di hadapan Dafa dengan tatapan mengabur, matanya menggenang dengan bibir bergetar. Dia hendak bicara tapi lidahnya mendadak kelu, setetes cairan bening jatuh di pipinya usai mengerjap.
"Jangan menangis, Dila!" lirih Dafa, dia menangkup tangan di pipi Dilara dan menyapu jejak air mata yang baru saja tumpah.
"Jangan pergi, Mas!" gumam Dilara dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ingin sekali dia memeluk Dafa dan mengatakan kalau dia sangat merindukannya, cinta itu masih ada tanpa berkurang sedikit pun. Namun Dilara sadar bahwa Dafa bukan suaminya lagi, rasa itu harus dia tahan meski perih menikam ulu hati.
"Aku tau hubungan kita sudah berakhir, tapi tolong jangan tinggalkan mereka! Davina dan Divana membutuhkan kamu, mereka sudah sejak lama ingin bertemu dengan kamu. Jangan kecewakan mereka, jika kamu pergi mereka pasti akan sangat terluka!" pinta Dilara memohon.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa kamu tidak membutuhkan aku?" tanya Dafa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak, aku sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi padamu. Sekarang hubungan kita cukup sebagai orang tua untuk mereka, aku tidak akan melarangmu bertemu mereka, kamu juga berhak atas mereka. Aku tidak ingin mereka kehilangan sosok Ayah, demi mereka bisakah kita berteman saja?" pinta Dilara lagi.
"Teman?" Dafa mengulangi kata itu seraya tersenyum getir. Dilara sendiri hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi aku tidak ingin dianggap teman, aku mencintaimu Dila, aku ingin kita kembali bersama, aku janji tidak akan menyakitimu lagi." ucap Dafa mengungkapkan isi hatinya.
"Itu tidak mungkin, aku sudah memiliki calon suami. Setelah urusannya selesai, kami akan menikah. Terima kasih untuk cinta yang kamu miliki, meski terlambat tapi aku sangat menghargainya." sahut Dilara.
"Hmm... Baiklah, aku mengerti." meski kecewa tapi Dafa mencoba ikhlas menerima kenyataan yang sudah terjadi. Mungkin inilah karma dari perbuatannya di masa lalu, menyia-nyiakan ketulusan cinta yang Dilara miliki hingga akhirnya menjadi sebuah penyesalan terbesar di dalam hidupnya.
Andai dari awal dia tau siapa Dilara sebenarnya, mungkin hingga detik ini mereka masih bersama membesarkan putri kembar mereka bersama-sama pula.
Akan tetapi, nasi sudah terlanjur jadi bubur. Tidak ada gunanya menyesali semua yang sudah terjadi.
...****************...
"Mom," panggil Divana saat terbangun dari tidurnya. Sontak Dilara dan Dafa menoleh ke arahnya. Dafa mengulas senyum sedangkan Dilara nampak tertegun dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Iya sayang," Dilara pun menghampiri Divana, dia duduk di sisi ranjang dan mendudukkan bocah itu di pangkuannya.
"Tadi katanya mau ketemu Daddy, kenapa Daddy belum datang juga?" tanya Divana dengan mata menyipit, terlihat jelas bahwa dia masih mengantuk. Barusan dia sempat bermimpi bertemu sang ayah, sebab itulah dia terbangun. Dia pikir ayahnya benar-benar sudah datang.
__ADS_1
"Daddy di sini," sahut Dafa dengan tatapan tak biasa. Alat pernafasannya tiba-tiba menyempit, sesak terasa menekan ulu hati. Tenggorokannya terasa penuh menahan air mata yang ingin tumpah, dia pun mencoba menahannya.
Divana yang mendengar itu sontak memutar leher ke arah Dafa. "Paman, dimana Daddy?" tanyanya dengan polos, manik mata bocah itu mengedar menatap setiap sudut kamar, dia tidak melihat siapa-siapa selain Dafa.
"Kemarilah!" panggil Dafa seraya merentangkan kedua tangan, satu persatu bongkahan cairan itu jatuh di sudut matanya.
Bukannya mendekati Dafa, Divana malah mematut Dilara dengan intim seakan tengah bertanya melalui tatapan mereka. Dilara tidak tau harus berkata apa, dia hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
Divana pun tersenyum dengan polos lalu turun dari pangkuan Dilara, kaki kecilnya berlari menghampiri Dafa kemudian memeluknya.
"Paman..."
"Sssttt..."
Ucapan Divana langsung terhenti saat Dafa menaruh telunjuknya di bibir mungil bocah itu.
"Bukan Paman, tapi Daddy." lirih Dafa yang mulai terhanyut terbawa suasana. Jantungnya tidak kuat menahan rasa haru yang terasa menyayat hingga urat nadi, perih dan ngilu. Tangisannya pecah kala merasakan sentuhan tangan mungil putrinya untuk pertama kali.
"Daddy?" Divana menyipitkan mata seakan tak percaya.
"Mom..." Divana menoleh ke arah Dilara yang tengah tertunduk lesu berderai air mata.
Dilara mendongak dan menatap keduanya dengan pandangan mengabut. "Iya, itu Daddy." angguk Dilara membenarkan.
Spontan bocah itu membuang pandangan ke wajah Dafa. "Benar ini Daddy?" tanyanya memastikan dengan mata berbinar mengandung cairan yang menggenang.
"Iya sayang, ini Daddy Divana." angguk Dafa berlinangan air mata.
"Huu... Daddy..." Divana pun memeluk tengkuk Dafa erat, wajahnya tenggelam di pundak sang ayah. "Hiks..."
"Maafkan Daddy sayang," Dafa kehilangan kata-kata untuk berucap, raganya seperti terjebak di tengah dua batu besar yang mengapit, sesak kian terasa saat mendengar tangisan pilu bocah itu.
"Huu... Daddy kemana saja selama ini? Kenapa Daddy tidak pernah mencari kami? Apa Daddy tidak sayang sama kami?" cerca Divana sesenggukan.
__ADS_1
"Maaf sayang, Daddy tidak tau kalau kalian masih ada. Daddy pikir-" Dafa menghentikan ucapannya, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa putrinya malah menyalahkan Dilara atas semua yang terjadi. "Maafkan Daddy, Daddy sayang sama kalian." imbuhnya.
"Kalau begitu, jangan pergi lagi!" pinta Divana mempererat pelukannya.
"Tidak akan, Daddy tidak akan pergi. Daddy di sini, Daddy tidak akan kemana-mana." sahut Dafa seraya mengusap punggung Divana. Setelah pelukan bocah itu terlepas, Dafa menciumi wajah gembul yang sudah memerah itu tanpa henti.
"Hehehe... Sudah Daddy, geli." Divana menggeliat dan terkekeh saat Dafa tak berhenti menciumnya. Dafa pun ikut tertawa, dia sangat gemas melihat pipi bakpao Divana.
"Mom," Davina bergumam dan membuka mata perlahan, tidurnya terusik mendengar tawa Divana dan Dafa yang mengganggu. Matanya tiba-tiba membulat melihat saudara kembarnya yang tengah bergelayut di tengkuk Dafa.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa berisik sekali?" ketus Davina dengan bibir mengerucut.
"Davina sudah bangun, sini sayang!" panggil Dafa menggerakkan tangan di udara.
"Tidak mau, Davina mau sama Mommy saja." tolak bocah itu, lalu memilih duduk di pangkuan Dilara.
"Ya sudah, berarti Daddy milik Divana seorang." tukas bocah itu, kemudian memeluk tengkuk Dafa erat sambil mencium pipi sang ayah. Dafa pun membalasnya tanpa ragu.
"Daddy?" Davina tiba-tiba melengos ke arah mereka berdua, sedetik kemudian mematut Dilara dengan intens.
"Ya, itu Daddy kalian." angguk Dilara.
Tanpa pikir panjang, Davina pun melompat turun dari pangkuan Dilara lalu berhamburan menghampiri Dafa yang tengah duduk di sofa.
"Daddy... Huu..." lirih bocah itu berderai air mata, dia ikut bergelayut memperebutkan Dafa bersama saudara kembarnya.
"Iya sayang, ini Daddy kalian." Dafa pun menciumi Davina seperti yang dia lakukan pada Divana tadi.
Sejenak suasana kamar itu mengharu biru. Dilara menyeka pipinya dan tersenyum melihat kebahagiaan kedua putrinya.
Meski hubungannya dengan Dafa sudah tidak bisa diselamatkan lagi, setidaknya kedua bocah itu masih bisa merasakan kasih sayang ayah mereka. Pria yang sudah sejak lama mereka tanyakan keberadaannya.
Dafa yang masih sibuk bersama kedua putrinya, sesekali melirik ke arah Dilara. Tidak apa-apa seperti ini untuk sementara waktu, suatu hari nanti dia akan merebut hati Dilara kembali. Dilara miliknya, dia tidak akan melepaskan Dilara begitu saja.
__ADS_1
Apalagi perceraian mereka belum jelas dimata hukum, Dafa tidak pernah menceraikan Dilara. Gugatan yang dilakukan pihak Dilara lima tahun yang lalu masih terbengkalai di meja hijau.