
Setelah mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya, Dafa mengajak Dilara dan kedua putrinya makan di restoran hotel itu.
Namun tiba-tiba ponsel Dilara berdering menerima panggilan telepon dari Dirgantara. Sudah dua jam lebih pria paruh baya itu menunggu, tapi Dilara dan cucunya tidak kunjung tiba di rumah, dia pun mulai khawatir.
Kemudian Dilara memilih menjauh dari meja yang mereka tempati, dia mengangkat panggilan itu dan mulai bicara dengan Dirgantara. Mau tidak mau dia terpaksa menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, setelah makan Dilara berjanji akan pulang secepatnya.
"Siapa?" tanya Dafa penasaran sesaat setelah Dilara kembali ke tempat duduknya.
"Papa," jawab Dilara jujur, kemudian melanjutkan makannya.
Mendengar itu, mendadak air muka Dafa berubah sendu. Dia sangat yakin bahwa Dirgantara tidak menyukai kehadirannya di tengah-tengah Dilara dan cucunya.
Tapi apa mau dikata, semua terjadi karena kesalahannya yang sudah menyia-nyiakan Dilara berulang kali. Andai waktu bisa diputar, Dafa tidak akan pernah menyakiti Dilara.
Usai makan, Dafa menghubungi taksi online untuk menjemput mereka. Dia sadar tidak bisa berlama-lama dengan Dilara dan putri kembarnya. Mereka berempat meninggalkan hotel, Dafa pun meminta sang sopir mengantarnya ke kediaman Dirgantara.
Setengah jam kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang. Dafa turun lebih dulu dan menggendong kedua putrinya turun, Dilara pun menyusul belakangan.
"Masuklah!" ucap Dafa setelah seorang penjaga membukakan pintu gerbang untuk mereka.
Davina dan Divana menggenggam tangan Dafa di setiap sisi, keduanya mulai melangkah tapi Dafa menahannya dengan cepat.
"Kenapa berhenti, Dad?" tanya keduanya bersamaan.
"Kalian saja yang masuk, Daddy masih ada urusan." jawab Dafa memberi alasan.
"Urusan apa, Dad? Apa kami tidak lebih penting dari urusan Daddy?" tanya Davina mencebik.
"Ayo Dad, masuklah bersama kami!" desak Divana menarik saku celana Dafa.
"Nanti ya, kalian masuk saja dulu. Kalau urusan Daddy sudah selesai, Daddy pasti menjemput kalian. Apa kalian tidak ingin main ke rumah kecil Daddy?" kembali Dafa memberikan alasan agar kedua putrinya mengerti.
"Rumah Daddy?" kedua bocah itu mengerutkan dahi. "Apa Daddy tidak tinggal sama kita?" tanya keduanya bingung.
__ADS_1
"Tidak sayang, ini rumah Mommy kalian. Rumah Daddy tidak sebagus ini, Daddy kalian bukan orang kaya." Dafa mengusap wajah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Masuklah, besok Daddy ke sini lagi!" imbuhnya.
"Tapi Daddy janji ya, jangan bohong!" lirih Davina.
"Iya sayang, Daddy janji. Besok sekitar pukul lima sore Daddy tunggu di sini." jelas Dafa meyakinkan kedua buah hatinya.
Setelah memeluk dan mencium kedua bocah itu, Dafa pamit pada Dilara lalu memasuki taksi terburu-buru. Dia tidak tahan terlalu lama melihat wajah polos kedua putrinya itu, hati Dafa perih karena tidak bisa tinggal bersama mereka.
Bukankah seharusnya hal ini membahagiakan sekali buat Dafa? Tapi pada kenyataannya, ini terlalu menyakitkan untuknya.
Lima tahun Dafa kehilangan wanita yang dia cintai, lima tahun pula Dilara membohonginya. Andai Dafa tau saat itu Dilara tidak keguguran, mungkin sudah sejak lama dia menikmati perannya sebagai seorang ayah.
Banyak waktu yang terbuang sia-sia, banyak hati yang terluka hanya karena keegoisan semata. Jika ini merupakan hukuman, kenapa harus melibatkan anak-anak yang tidak berdosa?
"Jalan, Pak!" seru Dafa pada sang sopir. Dia hanya bisa meremas dada melihat kedua putrinya yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.
"Hiks... Daddy..." lirih Davina dan Divana berderai air mata. Keduanya berlari mengejar taksi itu tapi Dafa malah menyuruh sang sopir melaju cepat.
"Mommy jahat, kenapa Mommy membiarkan Daddy pergi?" isak Divana sesenggukan.
"Sayang-" Dilara meraih tangan Divana tapi bocah itu malah menepisnya.
"Diva tidak mau sama Mommy, Diva maunya sama Daddy!" bocah itu berlari menyusul taksi yang sudah menghilang entah kemana.
"Daddy, Diva mau ikut Daddy." tangisan Divana pecah saat tak melihat taksi yang ditumpangi Dafa.
Dilara yang melihat itu tak mampu lagi membendung air matanya, dia tidak kuat melihat Divana seperti itu.
"Sayang, cukup Nak. Besok Daddy ke sini lagi, Daddy masih ada urusan." bujuk Dilara berderai air mata.
"Bohong, Daddy tidak ada urusan. Tapi Daddy takut sama Mommy, iya kan? Kenapa Mom? Apa karena Daddy miskin?" cerca bocah yang sudah terhenyak di atas tanah itu.
"Tidak sayang, bukan begitu. Kamu masih kecil, kamu belum mengerti." terang Dilara yang sudah berjongkok di hadapan Divana.
__ADS_1
"Mom, Davina juga mau sama Daddy. Kenapa kebersamaan kami cuma sebentar saja Mom? Apa benar kalian sudah berpisah? Kenapa, Mom? Apa kami tidak boleh memiliki ayah dan ibu sekaligus? Kenapa kalian para orang tua terlalu egois?"
Setelah menanyakan itu, Davina membantu saudara kembarnya bangun dari tanah. Keduanya memasuki gerbang tanpa mempedulikan Dilara yang masih mematung dalam posisi berjongkok.
"Ya, kami para orang tua memang egois. Terlebih Mommy, Mommy yang memaksa untuk masuk ke dalam kehidupan Daddy kalian. Mommy yang salah," lirih Dilara menyesali perbuatannya di masa lalu.
Andai cinta tidak membutakan mata hatinya, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini. Jika ada yang patut disalahkan, maka dialah yang paling bersalah dalam hal ini.
Di rumah besar itu, Dirgantara nampak begitu bahagia menyambut kedatangan cucunya. Akan tetapi, senyumannya tiba-tiba hilang melihat jejak air mata yang masih menempel di pipi kedua bocah itu.
"Divana, Davina, kalian berdua kenapa?" tanya Dirgantara, dia berjongkok dan memeluk keduanya di setiap sisi lengannya.
"Grandpa, kami tidak mau tinggal di sini?" ucap keduanya sesenggukan.
"Loh, kenapa sayang? Bukankah ini rumah kalian?" tanya Dirgantara dengan kening mengkerut, dia tidak mengerti alasan apa yang membuat kedua cucunya tidak mau tinggal di rumah itu.
"Kami mau tinggal sama Daddy saja, Grandpa tolong antar kami ke rumah Daddy ya!" pinta keduanya memohon.
"Deg..."
Seketika mata Dirgantara membulat dengan jantung berdegup kencang. Kenapa kedua cucunya malah ingin tinggal di rumah Dafa?
Dirgantara tidak mungkin mewujudkan keinginan mereka. Meski secara hukum Dilara masih istri sah Dafa, tapi menurut agama keduanya sudah resmi bercerai karena sudah lama Dilara tidak menerima nafkah lahir batin dari Dafa. Ini benar-benar sulit bagi Dirgantara.
"Kenapa Grandpa diam saja? Apa Grandpa juga tidak suka sama Daddy? Kenapa kalian semua membenci Daddy kami? Apa kesalahan yang sudah Daddy lakukan pada kalian?" cerca Divana yang paling kekeh ingin tinggal bersama Dafa.
Divana memang sedikit berbeda dari Davina. Dia lebih cerewet dan sedikit kepo sehingga banyak hal yang dia pelajari diusia sekecil ini. Apalagi dia pernah bercerita dengan sahabatnya Aila yang satu sekolah dengannya di Singapura.
Aila merupakan salah satu korban broken home sehingga diusia sekecil ini dia harus terombang-ambing kesana kemari, kadang ikut sang ibu dan kadang ikut sang ayah yang masing-masing sudah memiliki pasangan baru.
Divana kasihan pada Aila, Divana bisa merasakan bagaimana sedihnya jadi bocah itu. Oleh sebab itu, Divana tidak mau memiliki nasib yang sama. Divana ingin memiliki keluarga yang utuh.
Apalagi selama ini dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, baru juga bertemu tapi mereka harus berpisah lagi. Divana benar-benar sedih dan memilih berlari entah kemana.
__ADS_1