
"Dah Daddy, Mommy." seru Divana dan Davina saat memasuki kelas, keduanya melambaikan tangan ke arah Dafa dan Dilara.
"Dah sayang," sahut Dilara dan Dafa serentak, lalu ikut melambaikan tangan ke arah si kembar.
Setelah kedua bocah itu menghilang memasuki kelas, Dafa menggenggam tangan Dilara dan menggandengnya menuju gerbang lalu keduanya memasuki mobil dan melesat pergi menuju rumah sakit.
Tidak jauh, hanya lima belas menit saja keduanya sudah tiba di parkiran. Dafa turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dilara. Setelah itu menggenggam tangan istrinya dan melangkah memasuki gedung rumah sakit.
Setelah mendudukkan Dilara di kursi tunggu, Dafa mendaftarkan nama Dilara dan mengambil nomor antrian lalu ikut duduk di samping istrinya.
"Mudah-mudahan kembar lagi ya. Kali ini semoga saja cowok biar lengkap," ucap Dafa sembari menggenggam tangan Dilara dan mengecupnya sesekali, dia sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan bayi yang dikandung Dilara saat ini.
Dulu Dafa memang tidak sempat mengikuti perkembangan kehamilan Dilara saat mengandung si kembar, tapi kali ini Dafa tidak akan pernah melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Dia akan menebus semua waktu yang pernah terbuang dan menjadi suami serta ayah yang baik untuk anak-anaknya.
"Apaan sih Mas, Mas pikir hamil anak kembar itu gampang?" keluh Dilara mengerucutkan bibir.
"Jangan marah dong sayang, Mas hanya bercanda." Dafa mencubit pipi Dilara gemas dan menciumnya dengan sayang.
Tidak berselang lama, seorang suster keluar dari ruangan dan memanggil nama Dilara. Dafa pun membantu istrinya berdiri dan melangkah memasuki ruangan itu.
Sesampainya di dalam, keduanya duduk di seberang meja seorang dokter spesialis kandungan. Dafa pun langsung mengatakan maksud kedatangan mereka kepada dokter itu.
Setelah berkonsultasi, dokter pun mengajak Dilara untuk melakukan pemeriksaan. Dafa sendiri ikut menemani dan membantu istrinya berbaring di atas brankar.
Dari pemeriksaan USG yang dilakukan kepada Dilara, nampak sebuah bongkahan kecil melalui layar monitor. Dafa yang melihat itu seketika terharu dengan mata berkaca-kaca, Dilara sendiri tiba-tiba menitikkan air mata melihat itu.
Ya, dokter mengatakan bahwa kandungan Dilara sudah memasuki usia enam minggu. Janin itu juga sehat meski detak jantungnya belum bisa terdeteksi. Setidaknya Dafa dan Dilara cukup lega mendengar itu.
Usai melakukan pemeriksaan, Dafa membantu Dilara turun dari brankar dan duduk kembali di seberang meja dokter. Karena tidak memiliki keluhan apa-apa, dokter itu hanya meresepkan vitamin untuk Dilara. Yang penting harus kontrol rutin untuk melihat perkembangan janinnya.
Selepas mendapatkan resep vitamin untuk kandungan Dilara, sepasang suami istri itu meninggalkan ruangan setelah berpamitan dan bersalaman dengan dokter itu. Dafa langsung membawa Dilara menebus resep di apotik rumah sakit dan kembali ke mobil.
"Mas kirain sudah bisa dilihat jenis kelaminnya," Dafa mengukir senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa bodoh seperti baru pertama kali menjadi calon ayah.
__ADS_1
"Hehehe... Ada-ada saja kamu, Mas. Kan baru enam minggu, belum berbentuk kali Mas." Dilara terkekeh, merasa lucu dengan tingkah bodoh suaminya.
"Hmm... Tidak masalah, yang penting anak Daddy dan Mommy-nya sehat." balas Dafa, dia mengusap perut Dilara lembut dan beralih mengecup kening sang istri.
Setelah keduanya duduk di mobil, Dafa menginjak pedal gas meninggalkan parkiran rumah sakit lalu mengarahkan mobilnya ke sekolah untuk menjemput si kembar.
Ya, hari ini Dafa sengaja tidak ke pabrik. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Dilara dan kedua buah hatinya.
Saat Dafa turun menyusul si kembar yang belum keluar dari gerbang, Dilara memilih menunggu di mobil. Seketika matanya menangkap keberadaan Mega bersama seorang laki-laki, ada Dion juga bersama mereka.
Sepertinya Mega sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru. Setidaknya Dilara bisa bernafas lega, dia tidak perlu merasa bersalah karena perpisahan yang terjadi diantara Dafa dan istri pertamanya itu.
Ya, Dilara memang sempat menjadi wanita yang egois, membeli Dafa dari istri pertamanya dan menjadi orang ketiga diantara mereka.
Akan tetapi, sekarang Mega sudah menemukan kebahagiannya sendiri. Dilara juga ingin membangun kebahagiaannya bersama Dafa dan anak-anaknya.
Tidak lama kemudian, Dafa kembali bersama si kembar yang berjalan di setiap sisi lengannya. Mereka bertiga memasuki mobil dan meninggalkan area sekolah.
"Dad, ngapain kita ke sini? Kami tidak mau bertemu Grandpa, dia itu jahat." ucap Divana dan Davina serentak, raut wajah keduanya menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
"Tidak sayang, Grandpa bukan orang jahat. Grandpa sangat menyayangi kalian, tidak ada yang perlu ditakutkan." jawab Dafa.
"Tapi Mas-" timpal Dilara, akan tetapi langsung dipotong oleh Dafa.
"Sssttt... Percaya sama Mas!".
Setelah pintu gerbang terbuka, Dafa melajukan mobil memasuki pekarangan. Dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dilara dan juga si kembar.
"Mas..."
"Daddy..."
"Tidak apa-apa, Grandpa pasti sangat merindukan kalian. Bagaimanapun Grandpa itu adalah papanya Mommy, tidak mungkin Grandpa menyakiti kalian. Lagian ada Daddy di sini," ucap Dafa meyakinkan ketiganya.
__ADS_1
Dari pintu utama yang ternganga, Dirgantara nampak berdiri di ambang pintu. Dia hanya diam mematut kedatangan anak, menantu dan kedua cucunya dengan tatapan sendu.
Dafa yang melihat itu langsung berjongkok di hadapan kedua putrinya. "Pergilah, peluk Grandpa dan katakan bahwa kalian berdua sangat merindukannya!" titah Dafa.
"Iya Dad," angguk keduanya yang mau tidak mau terpaksa menurut lalu berjalan menuju pintu utama. "Grandpa," sapa kedua bocah itu dengan raut takut dan kepala ditekuk, keduanya tidak berani menatap wajah Dirgantara.
"Kenapa hanya diam di situ? Tidak ada yang mau meluk Grandpa?" sahut Dirgantara dengan pertanyaan, dia merasa sedih karena kedua cucunya seakan menjauh dari dirinya.
Mendengar itu, Divana dan Davina mendongak, menatap Dirgantara sejenak lalu berhamburan ke pelukan pria paruh baya itu.
"Kami sayang sama Grandpa, tapi tolong jangan pisahkan kami dengan Daddy. Kami tidak ingin kehilangan siapa-siapa, kami menyayangi kalian semua." ucap kedua bocah itu.
Dirgantara yang mendengar itu sontak terenyuh dan tertawa sembari memeluk keduanya. "Ya, Grandpa tidak akan pernah memisahkan kalian lagi." tuturnya.
Dilara yang mendengar itu ikut terharu dan berlari mendekati mereka bertiga. "Papa," dia pun berjongkok dan memeluk ketiganya. "Maafin Dila, Pa." imbuhnya menitikkan air mata.
"Hmm... Papa yang seharusnya minta maaf," lirih Dirgantara menyesali keegoisannya selama ini.
"Tidak Pa, Dila yang salah." ungkap Dilara.
Setelah saling meminta maaf dan memaafkan, Dirgantara membantu Dilara berdiri.
Dafa yang sedari tadi diam akhirnya mendekat dan menangkup tangan di depan dada. "Maafkan Dafa juga Pa, Dafa yang paling bersalah atas semua ini. Dafa janji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka, Dafa juga janji tidak akan menyakiti Dila, si kembar dan calon cucu Papa yang ada di kandungan Dila."
Dirgantara sontak terkejut mendengar ucapan Dafa itu, matanya membulat dengan mulut sedikit menganga.
Lalu Dilara mengajak sang papa ke dalam dan memilih duduk di ruang tengah. Setelah mereka semua berkumpul, Dilara membuka suara, dia mengungkapkan bahwa dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Dafa. Dirgantara benar-benar tak kuasa menahan haru, air matanya menetes sambil memeluk Dilara dengan erat.
Kini dia sadar bahwa Dilara dan Dafa tidak bisa dipisahkan lagi. Takdir sudah menyatukan mereka berdua, bahkan Tuhan sudah menitipkan kembali anugerah terindah di rahim putri semata wayangnya.
Ya, tidak ada alasan lagi bagi Dirgantara untuk menentang hubungan mereka. Dia hanya ingin melihat Dilara bahagia, tentu saja kebahagiaan putrinya adalah Dafa dan anak-anaknya.
Setelah permasalahan mereka selesai, Dirgantara mengajak mereka makan bersama untuk merayakan kehamilan Dilara, kebetulan jam makan siang juga sudah tiba. Suasana rumah tiba-tiba menjadi hangat karena kehadiran Dilara, Dafa dan kedua putrinya.
__ADS_1