Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
32. Sama-sama Terluka


__ADS_3

"Grandpa jahat, kami benci sama Grandpa." Divana dan Davina mendorong pria paruh baya itu dengan kasar kemudian berlari memasuki kamar mereka. Begitu juga dengan Dilara yang hanya menangis tanpa bicara sepatah katapun, dia bahkan sangat enggan menatap wajah Dirgantara dan memilih berlalu menyusul kedua putrinya ke kamar.


"Mommy..." rengek keduanya saat menangkap kedatangan Dilara, lalu berhamburan ke pelukan wanita itu.


"Maafin Mommy sayang, Mommy tidak bisa berbuat apa-apa." lirih Dilara memendam rasa kecewa di hatinya, tangisan Dilara pecah sembari berjongkok dan mendekap erat kedua putrinya itu.


Kenapa semuanya jadi seperti ini? Dilara dan putrinya baru saja merasakan kasih sayang seorang suami dan ayah, tapi kenapa kebahagiaan itu harus direnggut dengan cara seperti ini?


Tidak bisakah Dirgantara sedikit melunakkan hati demi kebahagiaan putri dan cucunya? Kenapa dunia ini begitu kejam pada mereka bertiga?


Dulu Dilara sudah sangat menderita menjadi istri kedua yang sama sekali tidak diinginkan oleh Dafa, tapi kenapa saat hubungan mereka membaik justru Dirgantara lah yang menjadi penghalang baru diantara keduanya?


Padahal Dafa sudah mengutarakan niatnya untuk menemui Dirgantara, dia ingin meminta maaf dan memohon restu untuk memulai kembali hubungan mereka.


"Mom, kita pergi saja dari sini. Divana tidak mau tinggal di sini, Divana mau sama Daddy." bocah berambut keriting itu menangkup tangan di pipi Dilara, air matanya terus saja menetes, berharap sang mommy mau mengindahkan permintaannya.


"Davina juga tidak mau tinggal di sini, Davina maunya tinggal sama Daddy saja," sambung bocah berambut lurus itu, dia pun tak hentinya menangis karena marah melihat keegoisan Dirgantara, lalu keduanya mematut Dilara dengan tatapan mengiba dan bibir mencebik.


Mendengar permintaan kedua putrinya yang sangat ingin bersama Dafa, Dilara tidak kuasa menahan rasa perih yang menghujam jantung. Ini benar-benar menyakitkan untuk seorang ibu sepertinya, selama ini dia hanya berjuang sendiri untuk mereka, tapi giliran ada harapan, dia malah terjebak diantara dua pilihan yang begitu sulit. Dia sendiri juga sangat ingin di sisi Dafa, dia mau rujuk dan memulai kehidupan baru bersama pria yang sangat dia cintai itu.


Akan tetapi, Dilara juga tidak berdaya menentang keputusan Dirgantara. Apalagi kesehatan pria itu mulai menurun sejak beberapa bulan ke belakang, Dilara takut sang papa drop jika dia terlalu keras melawannya.


Seperti tengah memakan buah simalakama, Dilara terombang-ambing diantara dilema yang mendera. Dia tidak mungkin meninggalkan salah satu dari mereka, dia ingin tetap bersama Dafa dan dia juga tidak mau berselisih dengan Dirgantara.

__ADS_1


Seketika tangisan Dilara pecah memenuhi seisi kamar, dia terhenyak di lantai bersama kedua putrinya.


Diwaktu bersamaan, Dafa bergegas mengenakan pakaian setelah selesai mengobati luka di tangannya. Dia tidak akan menyerah sampai di sini, apapun caranya dia harus mendapatkan anak dan istrinya kembali.


Beberapa menit kemudian, Dafa meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobil. Dengan tekad yang begitu kuat, dia melajukan mobil itu menuju kediaman Dirgantara.


Dia harus bertemu dengan Dilara, dia akan membawa istri dan putri kembarnya pulang ke kediamannya. Dia bahkan tidak peduli dengan resiko yang harus dia tanggung jika menentang keputusan Dirgantara.


Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih satu jam, mobil yang dikemudikan Dafa pun menepi di pinggir jalan, tepat di samping gerbang setinggi dua meter yang membentengi istana megah itu.


Dafa turun dengan cepat dan meminta penjaga membukakan gerbang tersebut. Akan tetapi, penjaga itu dengan tegas menolak permintaan Dafa. Dia sudah diperintahkan untuk tidak menerima tamu apalagi membukakan pintu gerbang.


Mendengar penolakan itu, tangan Dafa sontak mengepal dengan rahang menggeram. Dia pun meninju gerbang besi itu sekuat tenaga.


"Dila, Divana, Davina..." panggil Dafa dengan suara sangat lantang.


"Mas..." gumam Dilara, manik matanya mengedar seperti orang kebingungan.


"Mom, itu Daddy." Davina dan Divana pun tak kalah terkejut mendengar suara Dafa.


"Hmm... Itu Daddy," angguk Dilara, kemudian berhamburan menuju balkon.


Baru saja Dilara berdiri di tepi pagar pembatas, matanya langsung menangkap keberadaan Dafa yang masih berdiri mencengkeram pagar besi.

__ADS_1


"Mas..." pekik Dilara dengan suara serak dan bergetar, tangannya mencoba menggapai-gapai Dafa tapi jarak terlalu kejam membatasi mereka berdua.


"Sayang..." lirih Dafa dengan tatapan menggelap, awan hitam seketika menutupi pandangannya.


"Daddy..." sorak Davina dan Divana serentak, keduanya berdiri di samping Dilara dan merentangkan tangan mereka. Tangis keduanya pecah karena tak bisa menyentuh Dafa.


"Daddy... Huuu..."


"Sayang, ayo turunlah! Daddy akan membawa kalian pergi dari sini," teriak Dafa menitikkan air mata.


Dia rasanya ingin sekali menjadi penjahat di situasi seperti ini, memanjat gerbang itu dan menghabisi semua orang yang menghalangi langkahnya. Akan tetapi, Dafa tidak mungkin melakukan hal segila itu. Dia sadar tidak akan mampu melawan kekuatan yang dimiliki Dirgantara.


"Mas..." Dilara menggelengkan kepala seiring tetesan air mata yang jatuh membasahi pipi, menandakan bahwa dia dan putrinya tidak bisa keluar dari rumah itu. Dia tidak berdaya melawan kehendak Dirgantara.


Ya, di depan pintu kamar putrinya ternyata sudah dijaga ketat oleh tiga orang bodyguard suruhan Dirgantara. Dilara dan kedua putrinya tidak bisa keluar dari kamar itu, kecuali...


Kecuali kalau Dilara dan kedua putrinya melompat dari balkon, tapi itu jelas mustahil mereka lakukan. Dilara tidak mungkin membahayakan nyawa kedua putrinya.


"Dila, sayang, ayo turunlah! Mas tidak sanggup berpisah lagi dengan kalian, Mas mohon!" Dafa menangkup tangan di depan dada, air matanya tak henti menetes menahan gejolak batin yang menghujam jantung, perih, sakit dan ngilu. Tenggorokannya terasa penuh menahan rasa sesak yang kian menyiksa.


Dafa tau dia pernah bersalah karena telah menyia-nyiakan Dilara sebelumnya, tapi kali ini dia bersungguh-sungguh. Dia tidak akan mungkin menyakiti wanita yang sangat dia cintai itu untuk kedua kali, apalagi sejak mengetahui kebenaran tentang darah dagingnya.


Tidak berselang lama, Dafa menjatuhkan diri di tanah. Dia bersimpuh dengan tangan yang masih menangkup di dada lalu memukulkan kepala ke pagar besi. "Pa... Tolong buka pintunya! Aku minta maaf Pa, tolong beri kesempatan untukku sekali lagi! Aku sangat mencintai Dila, aku juga sangat menyayangi si kembar." racau Dafa yang terus saja memukulkan kepalanya ke pagar.

__ADS_1


Dilara yang melihat itu tidak bisa melakukan apa-apa, hatinya terluka, dia bisa merasakan bagaimana menderitanya Dafa saat ini.


Saat kebahagiaan sudah di depan mata, kenapa jurang pemisah kembali datang mendera kehidupan mereka? Tidak bisakah mereka berdua mengecap manisnya rumah tangga yang bahagia? Kenapa Tuhan seakan tidak adil pada mereka?


__ADS_2