
Sekitar pukul delapan pagi Dilara turun dari kamar bersama Divana dan Davina, ketiganya nampak rapi dengan fashion yang berbeda.
Dilara memakai kemeja polos putih yang sangat serasi dengan jeans hitam, rambut di kuncir seperti ekor kuda dan sedikit riasan tipis di wajah. Sedangkan si kembar sendiri nampak anggun memakai dress motif bunga selutut dengan rambut dikepang dua.
Sesampainya di meja makan, Dilara langsung pamit pada Dirgantara yang tengah duduk menikmati sarapan. Berbeda dengan si kembar yang sama sekali tidak ingin menyapa sang kakek, melihat wajahnya saja keduanya sangat enggan. Dilara dan kedua putrinya juga sengaja tidak mengisi perut dan bergegas meninggalkan rumah.
Meski Dirgantara tidak mencegah, yang pasti dia tidak akan membiarkan Dilara lepas begitu saja. Dia sudah memerintahkan ketiga bodyguard sewaannya untuk mengawal Dilara dan kedua cucunya kemanapun mereka pergi.
"Ayo Nona, silahkan!" salah satu bodyguard itu membukakan pintu mobil untuk Dilara dan si kembar. Mau tidak mau, ketiganya terpaksa menurut.
Ya, pagi ini Dilara akan kembali mengurus pabrik, sebab itulah dia membawa Divana dan Davina bersamanya. Dia sangat paham bahwa kedua putrinya tengah kesal pada Dirgantara, menurut mereka pria paruh baya itu terlalu egois. Mana mungkin dia tega meninggalkan mereka di rumah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, mobil yang mengangkut Dilara dan putrinya tiba di parkiran. Ketiganya bergegas turun dan masuk ke dalam bangunan itu.
Kedatangan Dilara disambut antusias oleh penjaga pabrik dan karyawan lain, terlebih saat menangkap kehadiran si kembar yang membuat gempar seisi pabrik.
Tidak seorangpun dari mereka yang tau bahwa Dilara sudah menikah, apalagi memiliki dua bidadari cantik seperti Divana dan Davina.
"Nona sudah kembali?"
"Ya Tuhan, kami tidak menyangka Nona akan kembali setelah sekian lama menghilang."
"Duh, gemesnya. Apa mereka ini putri Nona?"
"Ya ampun, kok nikahnya gak ngundang-ngundang sih, Nona?"
"Iya nih, tau-tau putri Nona sudah besar saja. Ayahnya tidak dibawa sekalian?"
"He'eh, ayah mereka pasti sangat tampan. Liat saja produk mereka secantik ini, gemesin banget."
Begitulah pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut beberapa orang karyawan pabrik, mereka semua mengerumuni Dilara dan putrinya, ada juga yang berjongkok agar posisi mereka sejajar dengan si kembar lalu mengajak keduanya berkenalan.
Kedua bocah itupun memperkenalkan diri dengan leluasa, bahkan keduanya tidak takut menyalami satu persatu dari mereka.
"Halo semuanya, perkenalkan, aku Divana dan ini kembaran aku Davina." ucap bocah berambut keriting itu sembari mengulas senyum manis, Davina pun ikut tersenyum mengikuti kembarannya.
"Halo juga sayang," sahut para karyawan itu berbarengan.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kami ke dalam dulu. Terima kasih untuk penyambutannya," ucap Dilara tersenyum tipis, dia dan putrinya lekas meninggalkan semua orang dan masuk ke dalam ruangan.
Setibanya di ruangan itu, Dilara mulai gelisah sembari bolak balik di depan meja kerja. Sesekali dia menatap iPhone miliknya yang tak kunjung berdering sedari tadi.
Ya, Dilara mulai tidak tenang menunggu Dafa menghubunginya. Semalam dia sudah meninggalkan nomor teleponnya yang baru di surat yang dia tulis untuk ayah anaknya itu.
"Mom, Mommy kenapa sih? Duduk dulu, Mom! Kami pusing lihatin Mommy mondar mandir seperti ojek online." seru Davina sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Hehehe, bukan ojek online Davina, tapi mobil rusak." Divana ikut menimpali, dia pun terkekeh dengan sendirinya.
"Sssttt... Jangan ganggu Mommy dulu!" Dilara menaruh telunjuk di bibir, bermaksud menyuruh kedua putrinya untuk diam.
Tidak lama setelah mengatakan itu, ponsel Dilara pun berdering. Tangannya ikut bergetar seiring getaran yang ditimbulkan dari gawai itu.
"Halo Mas," ucap Dilara setelah menggeser tombol hijau, seketika matanya berkaca-kaca.
"Sayang, Mas sekarang di belakang, persis dekat pembuangan limbah. Cepat kemari, bawa Davina dan Divana sekalian!" jawab Dafa yang langsung saja pada intinya. Dia tidak ingin bertele-tele, takut keburu ada yang mencurigai kedatangannya.
Beruntung Dafa hafal betul seluk beluk pabrik itu, jadi tidak sulit baginya memasuki area pabrik dengan cara sembunyi-sembunyi.
"Ya," angguk Dilara, lalu memutus sambungan telepon itu secara sepihak. "Divana, Davina, ayo ikut Mommy!" ajak Dilara. Setelah menyimpan ponsel miliknya ke dalam tas, dia kemudian menggenggam tangan kedua putrinya di setiap sisi.
"Sssttt... Diam dan ikuti saja langkah Mommy!" selang Dilara, tidak ada waktu baginya untuk menjelaskan. Dia hanya ingin bertemu Dafa secepatnya.
Setelah membuka pintu, Dilara berusaha terlihat tenang agar para bodyguard yang mengawalnya tidak curiga. Dia pun beralasan ingin mengecek ruang produksi dan menyuruh tiga bodyguard itu menunggu di luar.
Tanpa curiga, ketiga bodyguard itu mengangguk bersamaan. Ketiganya meninggalkan bangunan itu dan memilih menunggu di luar.
Setelah ketiga pria bertubuh tinggi besar itu menghilang, Dilara pun melanjutkan langkahnya menuju pintu belakang. Beruntung pintu itu tidak dikunci sehingga Dilara bisa dengan mudah meninggalkan bangunan itu.
"Mom, untuk apa kita ke sini?" tanya Divana bingung. Mereka melewati area pembuangan limbah produksi yang tentu saja terlihat kotor dan bau, kedua bocah itu tiba-tiba mual serasa ingin muntah.
"Sssttt... Jangan muntah sekarang, tutup saja hidungnya!" bisik Dilara, dia tidak ingin keberadaannya diketahui siapapun. Dia juga tidak ingin kepergiannya menjadi perdebatan diantara para karyawan pabrik.
Setelah bersusah payah melewati area kumuh tersebut, sampailah mereka bertiga di tempat Dafa menyembunyikan diri. Pria itu mengenakan hoodie hitam bertopi dan kacamata berwarna hitam pula, dia tidak ingin ada seorangpun yang mengenalinya. Itu akan mempersulit dirinya jika Dirgantara sadar telah kehilangan putri dan kedua cucunya.
Sebenarnya Dafa tidak ingin bertingkah curang seperti maling begini, tapi apa yang bisa dia lakukan, Dirgantara sendiri yang memaksanya melakukan ini.
__ADS_1
"Mas..." desis Dilara menitikkan air mata, dadanya tiba-tiba sesak saat berada di hadapan Dafa.
"Daddy..." pekik Divana dan Davina bersamaan.
"Sssttt..."
Dafa lekas menutup mulut kedua putrinya itu agar tak seorangpun mendengar suara mereka, lalu menggendong keduanya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Dilara pun mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di mobil, Dafa mendudukkan kedua bocah itu di bangku belakang. Setelah menutup pintu, dia kemudian membukakan pintu depan untuk Dilara.
Namun sebelum Dilara masuk, Dafa masih menyempatkan diri memeluk ibu dari kedua anaknya itu. Dia benar-benar tidak kuat menahan rasa rindu yang sudah menggebu, dunia seakan berhenti berputar saat dia tidak bisa menyentuh Dilara.
"Cukup Mas, ayo pergi sekarang! Nanti keburu ketahuan," desak Dilara, dia tidak ingin pengorbanannya menjadi sia-sia.
"Hehehe... Iya sayang, kita pergi sekarang." Dafa melepaskan pelukannya dan membantu Dilara menaiki mobil.
Setelah Dilara duduk, Dafa menutup pintu dan berlari mengitari mobil. Dia ikut masuk dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, Dilara hanya diam mematut aspal yang mereka lewati. Perasaannya tiba-tiba gelisah tak menentu, dia merasa bersalah karena meninggalkan Dirgantara dengan cara seperti ini.
Akan tetapi, dia akan semakin menderita jika tidak bisa bersama Dafa. Impian hidupnya hanya ingin mengarungi bahtera rumah tangga bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Sayang..." panggil Dafa sembari melirik ke arah Dilara.
"Hmm..." gumam Dilara dengan tatapan mengabur.
"Kamu kenapa?" tanya Dafa dengan kening mengernyit, dia yakin Dilara sedih dengan keadaan ini tapi dia tidak berani bertanya. Dia takut Dilara malah semakin sedih membahas Dirgantara.
"Tidak apa-apa, Mas." alibi Dilara, dia juga tidak ingin membahas Dirgantara sekarang.
"Daddy..." panggil Davina dan Divana serentak.
Dafa yang mendengar itu, sontak melirik dari spion yang ada di atas kepalanya. "Kenapa sayang?"
"Kita akan pulang ke rumah Daddy kan?" tanya Divana seraya berdiri di belakang bangku yang diduduki Dafa.
"Iya Dad, kami tidak mau lagi tinggal di rumah Mommy. Grandpa jahat," sambung Davina dengan pipi menggembung.
__ADS_1
"Iya sayang, tapi bukan ke rumah Daddy. Untuk sementara kita ngontrak dulu ya, rumah Daddy tidak aman untuk kalian. Daddy tidak mau kehilangan kalian lagi, Grandpa pasti mencari kalian ke sana." jawab Dafa lirih dengan tatapan berkabut.
"Terserah Daddy saja, yang penting ada Daddy sama Mommy bersama kami." ucap Divana, Davina pun mengangguk setuju. Berbeda dengan Dilara yang hanya diam menatap kaca samping.