Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
42. Perhatian Seorang Ayah


__ADS_3

"Daddy..." sorak Davina dan Divana dengan lantang menyambut kepulangan Dafa. Keduanya berhamburan ke pelukan sang daddy yang sudah berjongkok di tanah lalu mencium pipinya bergantian. Dafa pun membalas ciuman kedua putrinya bergiliran.


Puas melepas rasa rindu terhadap kedua putrinya, Dafa kemudian bangkit dan membuka pintu belakang. Dia mengambil beberapa paper bag dan meminta si kembar membawanya ke dalam, lalu Dafa menyusul masuk dengan beberapa paper bag yang tersisa.


Ya, sebelum pulang tadi Dafa menyempatkan diri mampir di pusat perbelanjaan. Dia membeli barang kebutuhan si kembar tanpa kurang satupun.


"Mom, Daddy sudah pulang." seru kedua bocah itu memanggil Dilara. Ibu dua anak itu langsung keluar dari kamar dan bergabung bersama kedua putrinya.


"Itu apa sayang?" tanya Dilara saat menangkap beberapa paper bag yang terletak di lantai, lalu duduk di samping keduanya.


"Tidak tau, tadi Daddy yang menyuruh kami membawanya." jawab Divana mengangkat bahu.


"Buka saja, itu untuk kalian!" ucap Dafa yang baru tiba di tengah mereka. Dafa meletakkan paper bag yang dia bawa di lantai dan memilih duduk di samping Dilara. Saat kedua putrinya tengah fokus pada paper bag tersebut, Dafa dengan cepat mengecup bibir Dilara lalu berbaring dan menjadikan paha istrinya sebagai bantalan.


Dilara tiba-tiba membulatkan mata dan menunduk melihat Dafa yang tengah menatapnya dari bawah, ingin marah tapi tidak mungkin. Senyum Dafa mampu melelehkan hatinya, apalagi saat Dafa memajukan bibir sambil mengedipkan mata, membuat Dilara gemas dan mencubit pipi suaminya sembari mengulum senyum.


"Yeay..." pekik Divana dan Davina serentak. Suara lengking keduanya membuat Dafa dan Dilara memutus kontak mata dan memutar pandangan ke arah buah hati mereka.


"Daddy beliin tas, sepatu?" tanya Davina setelah mengeluarkan isi dari dalam paper bag tersebut.


"Ada seragam sekolah dan perlengkapan sekolah juga." sambung Divana setelah mengobrak-abrik semuanya.


Dilara yang melihat itu kembali menunduk menilik wajah Dafa. "Mas..."


"Sssttt..." Dafa menaruh telunjuknya di bibir Dilara lalu menatap kedua putrinya bergiliran. "Kalian mau sekolah kan?" tanya Dafa pada keduanya.


"Iya Dad," angguk kedua bocah itu berjamaah.


"Ya sudah, besok kalian sudah bisa sekolah. Daddy sudah mendaftarkan kalian berdua di sekolah yang bagus. Coba periksa lagi perlengkapannya, kalau ada yang kurang nanti Daddy beliin lagi." jelas Dafa mengulas senyum sumringah.

__ADS_1


Mendengar penuturan sang daddy, kedua bocah itu langsung berteriak kegirangan lalu berhamburan dan menindih perut Dafa sambil memeluknya erat. "Makasih Daddy, Daddy memang yang terbaik." sanjung keduanya dan berebutan mencium pipi Dafa.


"Hahaha... Sama-sama sayang, apapun akan Daddy lakukan untuk kalian berdua asal jangan tinggalkan Daddy lagi!" ucap Dafa terkekeh namun mampu menusuk hati Dilara yang mendengarnya. "Ya sudah, sekarang bawa semuanya ke kamar dan susun dengan rapi! Daddy mau mandi dulu, gerah." imbuh Dafa.


Setelah mengatakan itu, Dafa bangun dari paha Dilara dan berjalan memasuki kamar. Dilara pun bergegas bangkit dan menyusulnya terburu-buru.


"Mas, tunggu!" panggil Dilara saat Dafa baru selesai membuka pakaian dan hendak masuk ke kamar mandi.


Dafa menghentikan langkahnya dan berbalik, lalu berjalan menghampiri Dilara hanya mengenakan boxer. "Kenapa? Mau mandi bareng?" seloroh Dafa sambil memeluk pinggang Dilara.


"Tidak, apaan sih Mas?" keluh Dilara mengerucutkan bibir.


"Hmm... Sayang sekali, Mas pikir mau mandi bareng." ucap Dafa dengan wajah cemberut.


"Tadi pagi kan sudah, masa' mandi bareng terus?" kata Dilara tersipu malu kala teringat dengan kelakuan mereka pagi tadi.


Dilara hanya diam sambil mematut punggung Dafa yang mulai menghilang dari pandangannya lalu memilih duduk di sisi ranjang menunggu Dafa keluar dari kamar mandi.


Tidak lama, hanya lima belas menit saja Dafa sudah kembali muncul di hadapannya. Dilara bergeming mematut tubuh suaminya yang hanya berbalut handuk. Tetesan air yang berjatuhan dari rambut Dafa membuat tenggorokan Dilara mendadak kering lalu meneguk ludah dengan susah payah.


Meski sudah memiliki dua orang anak tapi Dafa masih terlihat begitu muda dan tampan, padahal umur mereka terpaut cukup jauh sekitar sepuluh tahun. Dilara tiba-tiba mematung tanpa kedip.


Sadar akan keanehan istrinya, Dafa lantas mendekat dan berjongkok di kaki Dilara. Wanita cantik itu terperanjat dan mengerjap dengan bibir gemetaran.


"Mikirin apa?" tanya Dafa mengerutkan kening sambil menggenggam erat tangan Dilara.


"T-tidak ada," jawab Dilara cepat sambil mengatur nafas.


"Tidak ada tapi bengong begitu, apa ada yang salah?" tanya Dafa lagi penasaran.

__ADS_1


Dilara menggeleng lemah dan mematut manik mata Dafa dengan intim. "Itu, aku mau nanya masalah sekolah yang Mas bilang tadi. Bagaimana bisa mereka berdua diterima sedangkan dokumen pribadi mereka saja masih di rumah Papa." tanya Dilara mengalihkan pembicaraan.


Dafa sontak tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Untuk apa memikirkan masalah itu? Biar itu menjadi urusan Mas, kamu tidak usah mikir macam-macam!"


"Tapi Mas-"


"Sssttt... Jangan membantah, nurut kalau dibilangin!" geram Dafa dengan gigi bergemeletuk.


Dilara pun langsung diam dan tidak berani bicara lagi. Namun diamnya Dilara malah membuat Dafa merasa bersalah, apalagi melihat wajah manyun istrinya yang menyedihkan.


"Sayang, Mas-"


"Tidak apa-apa, cepat pakai bajunya! Nanti masuk angin," potong Dilara dengan wajah ditekuk.


"Hmm..." gumam Dafa mengangguk lemah.


Setelah mengenakan pakaian santai dan mengeringkan rambut, Dafa pun memilih berbaring di kasur. Dia ingin istirahat barang sejenak untuk melenturkan otot-ototnya yang terasa kaku. Apalagi pikirannya masih saja terganggu karena kelakuan Dirgantara di pabrik tadi, rasanya dia ingin membawa Dilara dan kedua putrinya pergi jauh agar tak lagi bertemu dengan mertuanya itu.


Akan tetapi, setelah dipikir-pikir Dafa tidak mungkin melakukan hal sekonyol itu. Selain tidak ingin membuat Dilara sedih, dia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya.


Tadi siang pemilik pabrik tempatnya bekerja baru saja menitipkan pabrik itu padanya. Dia baru saja mengemban amanah besar yang dipercayakan pria paruh baya itu padanya.


Dia sudah berjanji untuk menjaga dan mengembangkan pabrik itu seperti miliknya sendiri. Dia tidak akan sanggup mengingkari janji yang sudah dia ucapkan.


Lama termenung dalam pemikirannya sendiri, Dafa pun akhirnya terlelap dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala.


Sedangkan di dapur, Dilara tampak berjibaku dengan peralatan masak. Dia mulai sibuk memasak nasi dan menggoreng ayam yang sudah dibumbui, lalu membuat sambal dan menumis sayur kangkung.


Sambil menunggu jam makan malam tiba, dia pun menata masakannya di atas meja makan lalu memanggil si kembar ke kamar mereka. Setelah itu lanjut membangunkan Dafa yang masih mendengkur dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2