Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
50. Pengacau


__ADS_3

Setelah berhasil meyakinkan Dilara, Dafa kemudian menggendong istrinya itu ke kamar mereka dan membaringkannya di kasur.


Baru saja Dafa ingin memulai olahraga yang sudah lama tidak dia geluti, pintu kamar sudah digedor oleh kedua bocil yang tadi bermain di halaman.


"Daddy, Mommy, buka pintunya!" sorak Davina dan Divana serentak. Dilara yang mendengar itu langsung mengulum senyum, tidak dengan Dafa yang tiba-tiba mendengus saking kesalnya.


"Astaga, baru juga mau dimulai." keluh Dafa menepuk jidat lalu menarik celananya kembali. Beruntung kedua bocah itu merupakan darah dagingnya, jika tidak sudah dia tendang keduanya agar pergi dari rumah.


"Buka Mas, kasihan mereka!" ucap Dilara menahan tawa.


"Iya, iya, ini baru mau bergerak." sahut Dafa dengan tampang menggelap lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Daddy, kenapa pintunya dikunci?" tanya kedua bocah itu dengan tatapan mengintimidasi. Dafa tidak menyahut dan lekas kembali ke ranjang, dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar dan memilih tidur untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


"Daddy kenapa, Mom?" tanya kedua bocah itu kebingungan.


"Entahlah, Mommy juga tidak tau. Mungkin Daddy kesambet jin kali ya?" seloroh Dilara terkekeh, tentu saja Dafa sangat kesal mendengar itu.


"Iya, Mommy kalian benar. Daddy memang kesambet jin, sebentar lagi kalian semua akan Daddy makan satu persatu." tukas Dafa dengan suara besar seperti monster yang menakutkan. Hal itu membuat Divana dan Davina bergidik ngeri.


"Mommy, kami takut." kedua bocah itu lantas berhamburan ke pelukan Dilara dan tidak berani menatap Dafa.


"Ayo, siapa yang mau Daddy makan duluan!" imbuh Dafa dengan gigi bergemeletuk. Dia kembali duduk dan menatap keduanya putrinya bergantian seperti harimau kelaparan.


"Jangan Daddy! Bukankah kami anak Daddy, kenapa Daddy mau memakan kami?" Divana menyelinap di balik ketiak sang mommy sedangkan Davina bersembunyi di belakangnya.


Akan tetapi, Dafa sudah terlanjur gemas dan menarik kaki Divana lebih dulu. Bocah itu meronta-ronta ketakutan tapi Dafa sama sekali tidak peduli.


"Dapat kamu," geram Dafa, lalu menggelitik dan menggigiti kaki, perut serta leher Divana seperti orang kesurupan. Divana yang merasakan geli sontak berteriak diiringi tawa yang menggelegar.


"Hahaha... Ampun Daddy, Divana menyerah, geli Dad." pekik bocah berambut keriting itu dengan lantang.


"Tidak ada ampun," sergah Dafa yang terus saja menggelitik Divana dan menggigitnya sampai terbahak-bahak.


"Mommy, Davina, tolongin Divana!" pinta bocah itu pada sang mommy dan saudara kembarnya yang masih bersembunyi di belakang Dilara.


Mendengar permintaan kembarannya, Davina pun merasa tidak tega dan keluar dari persembunyiannya. Dia memanjat punggung sang daddy dan mengaitkan lengannya di leher Dafa.


"Lepaskan Divana Dad, atau Davina gigit pundak Daddy!" gertak bocah berambut lurus itu tanpa gentar sedikitpun.


"Tidak mau," jawab Dafa memberikan perlawanan.


"Baiklah, rasakan ini!" tanpa ragu Davina pun menggigit pundak Dafa sekuat tenaga. Dafa sontak meringis merasakan tajamnya gigi buah hatinya.

__ADS_1


Setelah gigitan Davina terlepas, Dafa menarik putrinya itu ke depan dan bergantian menggelitik dan menggigitnya. Divana yang merasa aman langsung menjauh dan berlari meninggalkan kamar.


Sementara Dilara yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil sesekali tertawa melihat tingkah konyol mereka. Beruntung Davina bisa menghindar dan menyusul Divana ke luar.


Setelah kedua bocah itu menghilang, Dafa menjatuhkan diri di kasur sambil mengusap pundaknya perlahan.


"Enak kan, makanya jangan usil." seloroh Dilara mengulum senyum. Saat dia hendak pergi, Dafa dengan cepat menahan pergelangan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Dafa yang kini sudah duduk, dia mengikis jarak diantara mereka.


"Keluar menyusul si kembar," jawab Dilara enteng.


"Loh, lanjutin dulu yang tadi." desis Dafa dengan tatapan tidak biasa.


"Sudah tidak mood," sahut Dilara.


"Sayang ih, jangan tegaan gini dong. Mas pengen banget loh," tiba-tiba raut wajah Dafa menggelap.


"Tapi Mas-"


"Please!" Dafa menekan dada Dilara hingga punggungnya tersandar di kepala sofa. Tanpa ragu dia pun mengesap bibir istrinya dengan kelembutan.


Dilara yang tadinya kehilangan mood tiba-tiba bersemangat mengimbangi permainan Dafa. Keduanya saling melu*mat hingga membelit lidah. Dafa bahkan tak segan menghisap liur mereka yang sudah membaur jadi satu.


"Ya," angguk Dafa, dia bergegas turun dari ranjang dan lekas mengunci pintu.


Saat berbalik, Dilara sudah polos tanpa sehelai benang pun. Dafa menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang lalu Dilara pun langsung naik di atas perutnya.


"Aaughh... Mas..." de*sah Dilara saat beraksi menggerakkan pinggulnya. Dafa yang menikmati itu ikut bergerak menekan inti Dilara. Keheningan kamar berganti dengan suara rintihan dan jeritan Dilara yang sudah melayang mencapai puncak kepuasan.


Ya, beberapa minggu tak bersama membuat gairah keduanya semakin tak terkendali. Berkali-kali mereka berganti posisi hingga akhirnya Dafa mengerang hebat menabur benihnya di inti Dilara.


Usai melepaskan rasa rindu yang menggebu di jiwa masing-masing, Dafa kemudian menggendong Dilara ke kamar mandi, membantunya membersihkan diri dan kembali ke luar mengenakan pakaian.


"Hari ini tidak usah masak, kita akan makan di luar malam ini. Setelah itu kita akan kembali ke rumah." ucap Dafa setelah merapikan rambut Dilara di depan meja rias.


"Tumben," Dilara menyipitkan mata dan mematut Dafa dari pantulan cermin.


"Pokoknya mulai hari ini kamu tidak boleh lelah, Mas tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan kamu." terang Dafa yang membuat Dilara bergeming sejenak.


"Mas, kamu-"


"Ya, Mas tau di dalam sini ada calon adiknya si kembar. Jangan membodohi Mas lagi!" potong Dafa sambil mengusap perut Dilara lembut.

__ADS_1


"Siapa yang bilang?" Dilara menautkan alis bingung.


"Tidak ada yang bilang, kamunya saja yang bodoh. Bisa-bisanya menyembunyikan hal sebesar ini dari suami sendiri. Kamu mau mengandung sendiri dan melahirkan sendiri lagi? Ujung-ujungnya nyalahin Mas," geram Dafa dengan tatapan tajam.


"Bukan begitu Mas, tapi-"


"Cukup, tidak ada tapi tapi!" potong Dafa, dia kemudian berpindah ke depan Dilara dan berjongkok lalu mengecup perut Dilara yang masih rata.


"Jangan nakal ya sayang, Daddy tidak akan membiarkan Mommy kamu bertindak bodoh lagi. Kamu juga tidak boleh mengikuti sifat Mommy, sangat menjengkelkan." Dafa mengajak bicara calon buah hatinya dengan perasaan tak menentu.


"Udah dong Mas, kok jadi jelek-jelekin aku begini sih." keluh Dilara.


"Memang kenyataannya jelek kok, mau diapain lagi." balas Dafa mengulum senyum.


"Jahat kamu Mas," Dilara mendorong kursi ke belakang, lalu berdiri dan melangkah meninggalkan kamar. Dia tau selama ini sudah terlalu banyak melakukan kesalahan tapi bukan berarti Dafa harus membahasnya terus menerus seakan hanya dialah yang bersalah.


Lalu Dilara memasuki kamar si kembar, memandikan mereka dan mengemasi barang-barang yang perlu mereka bawa.


"Duduk saja, biar Mas yang mengemasi semuanya." ucap Dafa sesaat setelah tiba di kamar si kembar. Dia membantu Dilara duduk di tepi ranjang lalu menyibukkan diri dengan mengemasi pakaian dan perlengkapan sekolah kedua putrinya.


"Kita mau kemana, Dad?" tanya Davina dan Divana yang sudah sangat rapi dan cantik, keduanya ikut duduk di samping Dilara.


"Pulang ke rumah Daddy. Kenapa? Apa kalian tidak mau kembali ke rumah kecil Daddy?" tanya Dafa dengan tatapan mengintimidasi.


"Mau dong Dad, yang penting kami bisa terus sama Daddy dan Mommy." sahut keduanya.


"Bagus, itu baru namanya anak pintar. Sekarang cium Daddy dulu!" pinta Dafa.


Seketika kedua bocah itu terdiam dan saling melirik satu sama lain. "Tidak mau, nanti Daddy gigit lagi." tolak keduanya menggelengkan kepala.


"Hahahaha... Syukurin, emang enak." timpal Dilara terkekeh.


"Ya sudah kalau tidak mau, kalau begitu Daddy pulang sendiri saja." gertak Dafa, lalu melangkah menuju pintu.


"Daddy..." pekik keduanya lantang lalu berhamburan mengejar Dafa.


"Jangan pergi!" kedua bocah itu memeluk masing-masing paha Dafa dengan erat.


"Kalian tidak ada yang menyayangi Daddy, untuk apa lagi Daddy di sini?" keluh Dafa berpura-pura sedih.


"Kami sayang kok sama Daddy, sini biar kami cium!" keduanya menarik lengan Dafa hingga merosot di lantai.


"Muachh... Muachh..."

__ADS_1


Dafa sontak tertawa terbahak-bahak dan memeluk kedua buah hatinya dengan erat. Dilara yang melihat pemandangan itu langsung tersenyum sambil mengelus perutnya.


__ADS_2