
"Apa saja yang kalian lakukan di sana, hah? Menjaga satu perempuan dan dua anak kecil saja tidak becus," berang Dirgantara pada ketiga bodyguard yang dia sewa untuk mengawal Dilara dan kedua putrinya.
Raut wajah pria paruh baya itu memerah dengan kepalan tangan yang siap dilayangkan di wajah ketiga pria itu.
"Maaf Pak, kami tidak tau kalau mereka bertiga akan kabur melewati pintu belakang." jawab salah seorang pria itu sembari membungkukkan punggung.
"Apa permintaan maafmu bisa mengembalikan mereka padaku?" tanya Dirgantara dengan senyum mengejek.
"Tidak Pak, tapi kami janji akan mencari mereka dan membawa mereka kembali secepatnya!" jawab pria itu yakin.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu apa lagi." ketus Dirgantara yang tidak sanggup lagi mengendalikan kemarahan. Dia bisa saja lepas kendali jika terlalu lama melihat ketiga bodyguard yang menurutnya tidak bertanggung jawab itu.
"Baik, kami pergi sekarang." ketiga pria itu langsung pamit dan berbalik, lalu meninggalkan kediaman Dirgantara dan berpencar mencari keberadaan Dilara dan kedua putrinya.
Tidak lama setelah ketiga pria itu menghilang, Dirgantara terhenyak di sofa ruang tamu. Dia mulai khawatir memikirkan keadaan Dilara dan kedua cucunya.
Dirgantara menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan kepala menengadah menghadap langit-langit, sesekali dia mengusap wajah dengan kasar seiring hembusan nafasnya yang berat.
Apa sikapnya terlalu keras pada mereka bertiga? Tapi bukankah memang seharusnya seperti itu? Dirgantara tidak ingin Dilara terluka untuk yang kedua kali, dia melakukan semua ini demi kebaikan putri dan cucunya.
Akan tetapi, apa yang terbaik untuknya belum tentu baik juga untuk mereka. Buktinya Dilara memilih pergi membawa kedua putrinya.
Tapi kemana mereka sebenarnya? Dirgantara benar-benar khawatir, apalagi jika mengingat ucapan Dafa di pabrik tadi. Perkataannya benar-benar meyakinkan, Dirgantara sendiri bingung harus percaya atau tidak pada menantunya itu.
...****************...
"Taraa... Makan malam sudah jadi," seru Dilara setelah menaruh masakan terakhir di meja makan.
__ADS_1
Dafa dan kedua putrinya yang tengah berbaring di depan televisi langsung berhamburan setelah mendengar seruan Dilara itu.
Ya, ketiganya sudah sangat lapar dan berebutan mengambil tempat duduk. Dilara sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan kedua putrinya itu.
Setelah mengisi piring Dafa dan si kembar dengan makanan secukupnya, Dilara kemudian ikut duduk di tengah-tengah mereka. Semuanya mulai menyantap makan malam dengan lahap.
"Mmm... Yummy..." gumam Divana seraya menggoyangkan kepala, pipinya menggembung mengunyah makanan yang memenuhi mulut mungilnya. Dia sangat suka dengan masakan sang mommy yang selalu cocok di lidah.
"Enak, Mom." sambung Davina yang tidak mau kalah memuji masakan sang mommy.
Dilara yang mendengar itu hanya bisa tersenyum menatap kedua buah hatinya bergantian.
"Jelas enak lah, siapa dulu kokinya." timpal Dafa sembari melirik Dilara dengan tatapan nakal. Sebuah cubitan kecil tiba-tiba mendarat di perutnya.
"Aduh, sakit Mom." keluh Dafa merintih kecil. Hal itu membuat kedua bocah itu memelototi sang daddy.
"Itu, ada semut nakal gigit perut Daddy." jawab Dafa asal.
"Mungkin semutnya juga lapar," seloroh Dilara mengulum senyum.
"Bisa jadi, nanti Daddy kasih makan biar semutnya tidak nakal lagi." sahut Dafa dengan seringai tipis yang melengkung di sudut bibirnya.
Dilara yang mengerti itu sontak memelototi Dafa karena kesal, dia tidak ingin ucapan konyol itu mengundang pertanyaan aneh dari mulut kedua putrinya. Dafa pun langsung bungkam dan memilih melanjutkan makannya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Dafa meninggalkan meja makan disusul Divana dan Davina. Mereka bertiga kembali duduk di depan televisi melanjutkan tontonan yang sempat tertunda. Tidak dengan Dilara yang kini tengah sibuk membereskan meja makan dan lanjut mencuci piring kotor.
Setelah semua pekerjaannya beres, Dilara masuk ke kamar dan lekas membersihkan diri di kamar mandi. Badannya terasa lengket setelah berjibaku di dekat kompor tadi, dia tidak akan bisa tidur dalam kondisi seperti itu.
__ADS_1
Usai mandi dan mengenakan pakaian tidur, Dilara kembali ke luar, dia ikut bergabung bersama Dafa dan kedua putrinya. Ketiganya tengah asik menonton film animasi yang menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang ditinggal pergi kedua orang tuanya. Davina dan Divana sendiri ikut terhanyut dalam cerita mengharukan tersebut.
"Daddy jangan pernah tinggalkan kami lagi ya! Kami tidak mau seperti anak itu," lirih Divana dengan tatapan sayu, dia memeluk lengan kanan Dafa dengan erat. Begitu juga dengan Davina yang bergelayut di lengan kiri sang daddy.
"Tidak sayang, Daddy tidak akan pernah meninggalkan kalian. Daddy sayang sama kalian berdua," sahut Dafa dengan perasaan mencelos. Dia sadar sudah terlalu banyak kehilangan momen berharga bersama kedua putrinya, dia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama.
Lima tahun dia kehilangan Dilara, sebab itu hari-harinya terasa hampa. Dia bahkan tidak tau bahwa Dilara masih mengandung benihnya kala itu.
Andai waktu dapat diputar kembali, Dafa tidak akan pernah menjadi orang bodoh seperti saat itu.
Kini dia tidak akan pernah melepaskan mereka bertiga. Apapun akan dia hadapi asal bisa bersama dengan orang-orang yang dia sayangi, termasuk Dilara wanita yang sangat dia cintai.
Ya, Dafa merasa dirinya adalah pria terbodoh di dunia ini. Menyia-nyiakan seorang istri yang bahkan rela mengorbankan harga diri hanya untuk bisa mendapatkan cintanya.
Sayang Dafa terlalu naif, dia menyadari perasaannya saat Dilara sudah tak lagi bersamanya. Terlalu banyak luka yang dia ciptakan sehingga kata-kata maaf saja belum cukup membuatnya puas, sampai detik ini dia masih merasa bersalah atas apa yang sudah dia perbuat di masa lampau.
"Davina, Divana, nontonnya udahan dulu ya Nak. Sudah waktunya tidur," selang Dilara mengingatkan kedua putrinya, dia takut kelamaan menonton film tersebut malah membuat keduanya semakin terbawa suasana. Bagaimanapun kedua bocah itu pernah merasakan kehilangan sosok seorang ayah.
"Iya Mom," angguk keduanya serentak.
"Ya sudah, sekarang gendong sama Daddy ya. Biar Daddy antar ke kamar," timpal Dafa. Kedua bocah itu pun langsung bergelayut di tengkuk Dafa.
Sesaat setelah Dafa membawa kedua putrinya ke kamar, Dilara bergegas mematikan televisi lalu membereskan ruangan yang sudah berantakan ulah mereka bertiga. Selepas itu dia menyusul ke kamar si kembar dan tersenyum mendapati Dafa yang tengah menidurkan keduanya.
Seketika hati Dilara terenyuh melihat Dafa yang benar-benar menunjukkan kasih sayang dan perhatian seorang ayah pada putrinya. Bodohnya dia karena sempat berpikir bahwa Dafa tidak akan pernah menerima dan mengakui darah dagingnya.
Tak kuat menahan rasa haru yang menusuk hingga jantung, Dilara pun urung menghampiri ketiganya. Dia memilih kembali ke kamar depan dan membaringkan diri di kasur.
__ADS_1
Seketika bahu Dilara berguncang menahan tangisan yang menyesakkan dada, ada rasa sesal di hatinya karena sudah begitu tega memisahkan mereka bertiga.