Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
43. Takut Ditinggalkan


__ADS_3

Usai makan malam bersama dan menidurkan si kembar, Dafa duduk di sofa ruang tamu sambil mengotak-atik layar ponsel yang menyala di genggamannya.


Tidak lama, Dilara pun ikut duduk di samping Dafa setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.


"Lagi ngapain, Mas?" tanya Dilara sedikit manja sambil merebahkan kepala di lengan Dafa.


Dafa mengulas senyum sumringah dan mematikan ponselnya segera. Setelah menaruh ponsel itu di atas meja, dia pun merentangkan tangan dan membawa Dilara ke dalam pelukannya lalu mengecup pucuk kepala Dilara dengan sayang.


"Kenapa dimatikan?" Dilara mendongakkan kepala sambil memainkan rahang berbulu tipis milik suaminya. Sementara sebelah pipinya menempel lekat di dada Dafa.


"Tidak apa-apa, tadi lagi chatan sama penanggung jawab pabrik. Ada pembahasan sedikit," jawab Dafa apa adanya.


"Yakin?" Dilara menautkan alis dan menatap lekat pada Dafa untuk memastikan. Dafa pun menjatuhkan pandangannya dan memberikan kecupan lembut di kening Dilara.


"Hehe... Memangnya mau ngapain lagi, sayang?" Dafa pun terkekeh dengan sendirinya dan mencubit hidung Dilara gemas.


"Entahlah, mana aku tau." Dilara mencebik sambil mengangkat bahu lalu membuang pandangannya ke arah lain. "Ya sudah, lanjutkan saja! Aku mau tidur duluan," imbuh Dilara lalu menjauh dari Dafa dan berjalan memasuki kamar.


Setelah membersihkan muka dan menggosok gigi, Dilara mengganti pakaian dengan daster lalu menaiki ranjang dan berbaring dengan posisi miring.


Tidak berselang lama, Dafa menyusul ke kamar dan langsung masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan melepas kaos yang melekat di tubuhnya lalu ikut berbaring di belakang Dilara. Dafa kemudian meraih pinggang ramping istrinya itu dan memeluknya erat.


"Sudah tidur?" gumam Dafa dengan suara serak.


"Belum, kenapa Mas?" desis Dilara dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun tetap setia dengan mata tertutup rapat.


"Tidak apa-apa, cuma nanya doang. Mas kira sudah tidur," balas Dafa sambil mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajah di tengkuk Dilara.


Sesaat suasana kamar tiba-tiba hening setelah keduanya memilih diam, hanya suara helaan nafas yang terdengar mengisi kehampaan kamar itu. Hingga tidak lama kemudian, keduanya akhirnya tertidur dengan pulas.


...****************...


"Mom, Dad, bangun!" seru Divana dan Davina yang kini sudah menyelinap di tengah-tengah keduanya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali kedua bocah itu sudah bangun dan langsung mendatangi kamar kedua orang tuanya.


Hari pertama masuk sekolah nampaknya begitu menyenangkan bagi mereka, keduanya sudah tidak sabar ingin mengenakan seragam sekolah baru.


"Mom, Dad, ayo bangun!" ulang keduanya membangunkan Dilara dan Dafa.


"Hmm..." Dilara dan Dafa menggeliat sambil bergumam. Dilara pun membuka mata perlahan, tidak dengan Dafa yang masih setia memejamkan mata.


"Sayang, kalian sudah bangun." Dilara lekas bangkit dari pembaringan dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang lalu mengucek mata pelan.


"Mom, Daddy kok gak mau dibangunin? Katanya hari ini kami berdua sudah bisa sekolah," keluh Divana mengerucutkan bibir, dia nampak sedikit kecewa melihat Dafa yang tidak merespon ucapannya.


"Iya nih Daddy, apa kita cuma diprank doang?" sambung Davina dengan pipi menggembung, dia tak kalah kecewa dari saudara kembarnya.


Dilara yang mendengar itu sontak tersenyum dan menoleh ke arah jam yang menggantung di dinding. "Baru pukul lima sayang, kalian terlalu cepat bangunnya. Biar Daddy tidur sebentar dulu ya, kasihan Daddy-nya capek." jawab Dilara, dia mengacak rambut kedua putrinya dan mencubit pipi gembul mereka dengan gemas.


"Tapi kami tidak mau telat, Mom." sahut keduanya bersamaan.


"Tidak akan telat sayang, ini masih terlalu pagi. Ayo, kita ke kamar kalian saja dulu, biar Daddy istirahat sebentar!" Dilara pun membawa kedua putrinya ke kamar mereka, dia tidak ingin tidur Dafa terusik karena kelakuan konyol kedua bocah itu.


Seketika air muka Dafa berubah panik, dia pun berlari kecil meraih kenop pintu dan mengitari seisi rumah dengan kepala celingak celinguk kesana kemari. Dia benar-benar takut Dilara meninggalkannya sekali lagi.


Karena tak kunjung menemukan Dilara di mana-mana, Dafa pun mengacak rambutnya kasar sambil berlari menuju pintu kamar si kembar.


Baru saja Dafa hendak menekan kenop, pintu tiba-tiba terbuka lebih dulu. Dilara pun berdiri tegak dengan alis bertautan, bingung melihat ekspresi Dafa yang aneh.


"Kenapa Mas?" tanya Dilara heran.


Bukannya menjawab, Dafa malah memeluk Dilara dengan erat dan memberikan kecupan kecupan kecil di wajah istrinya.


"Mas, apa yang terjadi?" Dilara bertanya lagi.


"Tidak apa-apa," jawab Dafa, lalu menenggelamkan wajahnya di pundak Dilara.

__ADS_1


"Aneh kamu Mas," ucap Dilara geleng-geleng kepala.


"Mas pikir kamu pergi, Mas takut." lirih Dafa dengan suara berat. Dia hampir saja mati berdiri jika tidak menemukan Dilara di rumah itu.


Mendengar pengakuan Dafa, Dilara tiba-tiba terkekeh dengan sendirinya. "Hahaha... Dasar suami aneh," Dilara memeluk kepala Dafa dan mengacak rambutnya gemas.


"Ketawa saja terus! Senang ya menyiksa suami sendiri?" keluh Dafa menjauhkan diri, lalu menatap Dilara dengan intens.


"Habisnya Mas aneh sih, datang-datang seperti melihat hantu begitu." ujar Dilara mengulum senyum.


"Hmm... Kamu memang hantu," ucap Dafa membenarkan. Dilara pun mengerutkan kening bingung. "Hantu cantik yang selalu gentayangan di hati dan pikiran Mas." imbuh Dafa, setelah itu tertawa terbahak-bahak dan menggendong Dilara dengan enteng.


"Mas..." pekik Dilara, dia benar-benar terkejut saat tubuhnya tiba-tiba melayang di gendongan Dafa. Karena takut jatuh, Dilara pun dengan cepat mengalungkan tangan di tengkuk suaminya itu.


"Ikut Mas ke kamar dulu!" desis Dafa dengan seringai nakal yang melengkung di sudut bibirnya.


"Mas, jangan! Aku mau nyiapin sarapan buat si kembar," tolak Dilara secara halus, dia tau Dafa tidak akan melepaskannya kalau sudah seperti ini. Dia hafal betul bagaimana tabiat suaminya.


"Nanti Mas bantuin, sekarang bantu Mas dulu!" ucap Dafa sambil melangkah menuju kamar mereka.


Setibanya di kamar, Dafa langsung merebahkan Dilara di atas kasur dan mengukung tubuh istrinya itu dengan nafas memburu.


"Mas... Nanti malam saja ya, aku mau nyiapin sarapan dan bekal buat si kembar. Nanti mereka telat Mas, tadi saja mereka sudah kesal karena Mas tidak mau dibangunin." terang Dilara yang membuat Dafa urung menyerang bibir istrinya.


"Maksudnya?" Dafa lekas beranjak dan mengerutkan kening bingung.


Dilara pun langsung bangkit dan duduk di samping Dafa. "Tadi pukul lima subuh mereka berdua sudah ke sini bangunin kita, katanya takut telat ke sekolah. Sekarang temui mereka gih, mereka pikir Mas lupa kalau hari ini mereka akan ke sekolah." jelas Dilara.


"Hmm... Ya sudah, Mas pergi. Tapi nanti malam kasih double ya!" tawar Dafa mengulas senyum nakal.


"Iya, jangankan double, triple juga boleh." sahut Dilara menahan tawa.


"Janji loh ini, awas saja kalau ingkar, Mas telan mentah-mentah!" gertak Dafa.

__ADS_1


"Mmm..." angguk Dilara lalu mengecup bibir Dafa dan melengos pergi begitu saja. Dafa sendiri hanya tersenyum dan menggaruk kepala yang tidak gatal. Beruntung Dilara masih terselamatkan karena kedua putri kesayangannya, kalau tidak sudah dia bikin lecet istrinya itu saat ini juga.


__ADS_2