Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
23. Hukuman


__ADS_3

"Mas, tolong lepaskan kami, biarkan kami pergi dari sini!" pinta Dilara memohon sembari menangkup tangan di depan dada, kini mereka berempat sudah tiba di kamar sebuah hotel.


Dilara belum siap mengatakan semuanya sekarang, dia butuh waktu. Apalagi kedua putrinya tengah berada bersama mereka, dia tidak ingin si kembar syok jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Davina, Divana, apa Paman terlihat seperti orang jahat?" tanya Dafa kepada kedua bocah yang kini tengah bergelayut di lengannya.


"Tidak," sahut kedua bocah itu bersamaan, mereka pun menggeleng.


Ya, saat di taksi tadi Dafa berhasil meyakinkan kedua bocah gembul itu bahwa dirinya bukanlah orang jahat. Dia juga berhasil mengulik tentang ayah dari kedua bocah itu.


Dengan entengnya Davina dan Divana berkata bahwa mereka belum pernah bertemu dengan Daddy mereka. Mereka juga mengatakan kalau mereka berdua ingin sekali bertemu Daddy, tapi Dilara belum mau memberi izin.


Lalu Dafa pun berkata bahwa dia tau dimana keberadaan Daddy mereka. Karena itulah Davina dan Divana tiba-tiba menurut pada Dafa. Keduanya bahkan dengan enteng memeluk Dafa yang masih setia menggendong keduanya.


"Hehe... Kalian benar-benar manis," sanjung Dafa mengulas senyum dan mengecup pipi keduanya bergantian.


Dilara yang melihat itu hanya diam tanpa ekspresi. Dalam hati dia sangat senang melihat Dafa memperlakukan kedua putrinya dengan baik. Hati Dilara tiba-tiba mencelos, ingin sekali dia berteriak dan mengatakan kalau Dafa adalah Daddy yang mereka cari. Tapi Dilara belum siap mengungkapkannya sekarang.


"Apa kalian berdua lapar? Mau makan dulu atau istirahat dulu?" tawar Dafa pada keduanya.

__ADS_1


"Istirahat dulu saja Paman, kami mengantuk." jawab Davina dengan mata yang mulai meredup menahan rasa kantuk.


"Ya, kami mau tidur sebentar." kedua bocah itu melompat turun dari gendongan Dafa dan mencari posisi di atas kasur.


Sementara Dilara sendiri masih mematung di tempatnya berdiri. Dia tidak tau bagaimana cara meyakinkan Dafa agar mau melepaskan mereka bertiga.


Setelah kedua bocah itu benar-benar tertidur, Dafa mengukir senyum lebar dan melangkah menghampiri Dilara. Wanita itu mulai takut dan mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding.


Dafa pun semakin mendekat dan menumpukan telapak tangannya di dinding, dia mengunci tubuh Dilara dan semakin mengikis jarak diantara mereka.


Saking dekatnya wajah mereka berdua, Dilara pun menunduk takut. Dia tidak bisa seperti ini, begini saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar tak menentu. Dia tidak boleh luluh, dia bukan pelakor lagi. Dia sudah sadar akan kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalu.


"Kenapa meninggalkan aku sendiri, Dila? Apa cuma sebatas ini rasa cinta yang kamu miliki untukku?" lirih Dafa dengan tatapan menggelap. Cairan bening itu tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.


Meski sudah lima tahun berlalu, tapi rasa cintanya masih tetap sama untuk Dafa. Hanya saja dia tidak bisa menunjukkannya seperti dulu, Dilara tidak ingin dicap sebagai wanita murahan lagi.


"Tapi aku menginginkan kamu Dila, kamu lah wanita yang aku cintai." ungkap Dafa sembari menggerakkan hidungnya di pipi Dilara, hembusan nafasnya yang hangat membuat sekujur tubuh Dilara merinding, dadanya berdenyut ngilu.


"Sekarang keadaannya sudah berbeda, aku bukan lagi Dilara yang dulu. Cintaku sudah musnah ditelan waktu," ucap Dilara gamblang.

__ADS_1


"Bohong, aku bisa melihat cinta yang sama besar di matamu. Jangan mengelak lagi Dila, lima tahun aku menunggumu, siang malam aku memikirkanmu, berharap kamu akan kembali padaku. Tolong jangan hukum aku dengan cara seperti ini!" lirih Dafa menitikkan air mata, dia menangkup tangan di pipi Dilara dan mengangkat dagunya perlahan. Sontak tatapan keduanya bertemu sebelum Dilara membuang muka kembali.


"Apa mereka berdua putriku? Apa mereka darah dagingku? Kamu sengaja membawa mereka pergi untuk membalasku kan? Kamu berhasil Dila, aku sudah mendapatkan hukuman itu. Hidupku sudah hancur, aku hampir mati menanggung dosa yang sudah aku lakukan padamu. Apa belum cukup menghukumku? Kalau begitu bunuh saja aku, aku sudah lelah Dila." isak Dafa berlinangan air mata, tubuhnya tiba-tiba merosot di lantai. Dia bersimpuh di kaki Dilara memohon pengampunan atas segala salah dan dosa yang sudah dia buat.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" Dilara pun ikut berjongkok di hadapan Dafa agar posisi mereka sejajar. Dia tidak ingin Dafa merendahkan diri di kakinya.


Dafa yang sudah hanyut dalam perasaannya, sontak memeluk Dilara dengan erat. Dia menghujani wajah Dilara dengan ciuman beruntun tanpa henti. "Jika hukuman ini belum cukup untuk membalaskan rasa sakit di hatimu, aku akan pergi dari hidupmu selama-lamanya. Aku pastikan kamu tidak akan pernah lagi melihat bajingan ini. Tapi sebelum itu tolong katakan dulu, apa mereka berdua putriku?" pinta Dafa memohon sembari menangkup tangan di depan dada.


Melihat Dafa seperti itu, Dilara pun tidak tega menutup rahasia ini terlalu lama. Dengan air mata yang ikut jatuh di pipinya, dia pun mengangguk lemah. "Iya, mereka berdua putrimu. Divana dan Davina darah dagingmu, aku tidak pernah keguguran. Aku sengaja menyuruh dokter mengatakan bahwa aku kehilangan bayiku." ungkapnya berderai air mata.


Mendengar pengakuan Dilara, Dafa terhenyak sembari meremas rambutnya frustasi. Isaknya semakin menjadi-jadi hingga menyesakkan dada. Dia meremas dadanya yang terasa ngilu bak disayat sembilu lalu memukulinya kasar.


Dia tidak menyangka Dilara begitu tega menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menyalahkan Dilara sepenuhnya. Dia lah yang lebih bersalah atas semua yang sudah terjadi.


"Terima kasih," ucap Dafa lirih, lalu berusaha bangkit dari jongkoknya dengan sekujur tubuh yang sudah kehilangan tenaga. Sebelum pergi, dia menghampiri kedua bocah itu dan menciumnya bergantian.


Sakit, perih, tapi dia tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Inilah buah yang harus dia petik atas apa yang sudah dia tanam. Dia bahkan tidak berani menampakkan wajahnya di hadapan kedua putrinya itu. Jika mereka tau bahwa ayah mereka merupakan seorang bajingan, mereka pasti malu. Lebih baik mereka tidak usah tau siapa ayah mereka.


"Maafkan Ayah sayang, Ayah tidak layak untuk kalian. Ayah ini bukan orang baik, Ayah sudah menyakiti Mommy berulang kali, lebih baik kalian tidak usah tau siapa Ayah." isak Dafa sesenggukan, lalu menjauh dari mereka berdua.

__ADS_1


"Aku tau mereka sangat ingin bertemu denganku dan aku pun sadar bahwa aku tidak layak untuk mereka. Kalau mereka menanyakan aku, katakan saja bahwa Ayahnya sudah mati. Pria sepertiku tidak pantas hidup di dunia ini. Tolong jaga darah dagingku itu dengan baik, aku pergi!"


Setelah mengatakan itu, Dafa menekan kenop pintu dan menghilang begitu saja dari pandangan Dilara. Dia akan pergi sesuai janji yang dia ucapkan.


__ADS_2