Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
31. Grandpa Jahat


__ADS_3

Usai sarapan bersama, Dafa dan kedua putrinya bergegas meninggalkan meja makan. Mereka bertiga kembali ke halaman untuk memanen buah jambu yang diminta Divana dan Davina tadi.


Tak tanggung-tanggung, Dafa pun memanjat pohon jambu itu seperti seekor monyet liar yang tersesat dari hutan. Kedua bocah itu melompat-lompat kegirangan sambil bertepuk tangan melihat aksi lawak sang daddy.


"Yeay, semangat Daddy." sorak kedua bocah itu dengan lantang.


Dilara yang baru selesai membereskan meja makan dan mencuci piring kotor sontak penasaran mendengar keributan yang terjadi di luar sana. Dia menyusul keluar dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Dafa yang seperti anak kecil kurang bahagia.


Tidak hanya memetik buah jambu yang sudah ranum, Dafa bahkan memakannya lebih dulu dan melemparkan bijinya kepada Divana dan Davina.


"Ih, Daddy curang. Kenapa jambunya malah dimakan duluan?" cetus Davina kesal.


"Iya ih, Daddy gimana sih?" sambung Divana jutek.


"Hahaha... Salah sendiri, makanya belajar manjat!" jawab Dafa terkekeh.


"Daddy sudah gila ya? Masa' anak perempuan disuruh manjat?" kedua bocah itu mendengus kesal, kemudian mengambil kerikil kecil dan melemparkannya ke arah Dafa.


"Hahaha... Jangan marah dong sayang, Daddy cuma bercanda." kembali Dafa tertawa terbahak-bahak sambil menghindari serangan kedua buah hatinya.


Saat Dafa hendak turun, kakinya tidak sengaja menginjak sarang kerengga. Seketika binatang kecil itu menjalar mengerubungi seluruh tubuhnya.


"Aww..." Dafa menghentakkan kaki dan melompat turun dari pohon itu, beberapa titik di tubuhnya terasa perih dan panas akibat gigitan serangga merah itu.


"Bug..."


Keseimbangan Dafa goyah sehingga bokongnya terhenyak di tanah.


"Daddy tidak apa-apa?" tanya Divana dan Davina yang tiba-tiba melongo mendengar dentuman keras barusan.


"Tidak apa-apa sayang, jangan mendekat dulu!" ucap Dafa menahan langkah kedua putrinya itu. Dafa tidak ingin kedua bocah itu dihinggapi kerengga yang masih menempel di tubuhnya.


Lalu Dafa membuka baju dan melemparnya jauh, dia berdiri dan melompat-lompat sambil mengusap lengan, perut, punggung, kaki, bahkan area sensitifnya yang ikut dijarah serangga nakal itu.


"Hahaha..." tawa Dilara menggelegar hingga ke telinga Dafa, dia sampai terpingkal-pingkal melihat kebagongan ayah anaknya itu.


"Bukannya dibantuin, malah ketawa cengengesan." kesal Dafa dengan rahang menggeram, dia menilik Dilara yang tengah mendekat ke arahnya.


"Bodo amat," jawab Dilara menahan tawa, lalu berdiri di tengah-tengah Divana dan Davina.

__ADS_1


Mendengar jawaban menjengkelkan yang keluar dari mulut Dilara, gigi Dafa bergemeletuk geram. Tanpa pikir panjang, dia berhamburan menghampiri Dilara dan membelitnya dengan erat.


"Aaaa..." teriak Dilara meronta-ronta, Divana dan Davina pun lekas menjauh dari mereka.


"Lepas Mas, tubuhmu dikerubungi semut!" pekik Dilara melompat-lompat geli, sekujur tubuhnya tiba-tiba merinding. Dilara tidak mau ikut-ikutan digigit, rasanya pasti perih.


"Makanya jangan usil, suami kesulitan bukannya dibantuin malah tertawa kegirangan." bisik Dafa tepat di telinga Dilara. Hembusan nafasnya yang hangat seketika membuat jantung Dilara berdebar-debar tak menentu.


"Maaf Mas, aku-"


Ucapan Dilara tiba-tiba terhenti saat manik matanya menangkap kedatangan dua mobil mewah yang berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Papa, Mas." gumam Dilara, Dafa yang terkejut reflek melepaskan Dilara dari dekapannya.


Divana dan Davina pun sontak berlarian memeluk keduanya.


Benar saja, tidak lama setelah mobil itu berhenti, Dirgantara turun dengan raut muka dingin memendam amarah yang sudah menggebu. Lalu tiga orang pria bertubuh tinggi besar menyusul turun dari mobil lain.


"Bug..."


Tanpa berkata-kata, Dirgantara langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah Dafa. Tubuh ayah dua anak itu sontak termundur ke belakang, Dafa hanya diam tanpa melakukan perlawanan meski sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar.


"Pa, jangan!" pekik Dilara, lalu memeluk Dirgantara agar tak lagi menyakiti Dafa. Sementara kedua bocil itu nampak ketakutan dan memeluk kaki sang daddy dengan kuat.


"Dasar bajingan, berani sekali kamu membawa anak dan cucuku kemari. Apa belum puas menyakiti mereka selama ini, hah?" bentak Dirgantara tersulut emosi, tangannya masih mengepal hendak menghajar Dafa sekali lagi.


"Diam Dila, kamu jangan bodoh! Apa yang kamu harapkan dari pecundang seperti dia?" hardik Dirgantara.


"Tapi Pa-"


"Kalian, bawa putri dan kedua cucuku ke mobil!" titah Dirgantara pada ketiga bodyguard yang dia bawa.


"Baik, Pak." angguk ketiga pria itu bersamaan, lalu menyeret paksa Dilara, Divana dan Davina memasuki mobil.


"Pa, jangan lakukan ini pada kami!" teriak Dilara meronta-ronta, dia tidak mau meninggalkan Dafa dalam kondisi seperti ini. Namun sekuat apapun dia melawan, tenaganya tidak cukup kuat dibanding pria itu. Dia hanya bisa menangis berurai air mata.


"Jangan, aku tidak mau ikut kalian!" pekik Divana sembari menghujani pria yang menggendongnya dengan pukulan bertubi-tubi.


"Lepaskan aku, aku mau sama Daddy!" teriak Davina yang sama halnya dengan Divana, dia bahkan memukuli kepala pria itu dan menggigit bahunya.


Akan tetapi, tangisan ketiga perempuan itu tidak mampu meluluhkan hati Dirgantara yang sudah terlanjur membatu. Dia membenci Dafa dan tidak sudi melihat anak cucunya kembali pada pria itu.

__ADS_1


Melihat ketiga wanita kesayangannya dipaksa seperti itu, Dafa tidak kuasa menahan rasa sakit yang menghujam jantungnya. Dia kemudian bersimpuh di kaki Dirgantara, memohon agar pria paruh baya itu mau memberinya kesempatan untuk kembali merajut rumah tangga bersama Dilara.


"Pa, tolong jangan pisahkan kami! Aku mencintai mereka Pa, aku mohon! Aku tau aku pernah berbuat salah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong beri aku kesempatan sekali saja, aku akan membuktikan bahwa aku sudah berubah. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka," lirih Dafa belinangan air mata, lalu mencium kaki Dirgantara memohon pengampunan.


"Ck... Percuma memohon padaku, aku tidak akan pernah merestui kamu menjadi menantuku. Dilara akan aku nikahkan dengan pria yang tepat, pria baik-baik yang siap mengorbankan hidupnya untuk putriku, bukan pecundang sepertimu."


Setelah mengatakan itu, Dirgantara menyentakkan kaki ke kepala Dafa. Hal itu membuat tubuh Dafa terguling di tanah.


Namun Dafa tidak menyerah begitu saja. Saat Dirgantara hendak masuk ke dalam mobil, Dafa dengan cepat menyusul dan kembali menahan kaki pria itu.


"Pukul saja aku, Pa! Papa boleh menendangku dan melakukan apa saja padaku, aku siap. Tapi tolong jangan bawa Dila dan kedua putriku, aku menyayangi mereka, Pa. Aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka bertiga, tolong beri aku kesempatan sekali ini saja!" pinta Dafa yang kembali mencium kaki Dirgantara.


"Terlambat, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Dirgantara menendang kasar Dafa dan masuk ke dalam mobil.


"Pa..." Dafa segera bangkit dan menggedor-gedor kaca mobil, tapi Dirgantara sama sekali tidak peduli.


"Dila, Divana, Davina, tolong jangan tinggalkan Daddy! Daddy sayang sama kalian," teriak Dafa beralih menggedor kaca mobil bagian tengah, air matanya jatuh berderai tanpa bisa dia tahan.


"Mas..." Dilara mengulurkan tangan tapi percuma, dia tidak bisa menyentuh Dafa.


"Daddy..." pekik Divana dan Davina serentak.


"Grandpa, cepat turunkan kami! Kami mau sama Daddy." isak kedua bocah itu bersamaan. Mereka bertiga tidak bisa melakukan apa-apa karena diapit oleh dua pria yang ada di sisi mereka.


"Daddy kalian sudah mati, jangan pernah panggil dia dengan sebutan itu lagi!" bentak Dirgantara meninggikan volume suara.


"Tidak, Daddy kami masih hidup. Dia itu Daddy kami, dia juga sangat menyayangi kami." teriak Divana dengan suara melengking.


"Grandpa jahat, grandpa saja yang mati bukan Daddy." sambung Davina membalikkan kata-kata Dirgantara barusan.


Kedua bocah itu meraung sejadi-jadinya, namun Dirgantara tak sedikitpun merasa iba. Dia malah menyuruh sopir melajukan mobil itu.


"Tidak Pa, jangan bawa Dila dan putriku!" teriak Dafa mengejar mobil yang sudah melaju meninggalkan halaman rumah.


"Dila, jangan pergi sayang!"


"Divana, Davina, jangan tinggalkan Daddy!"


Seberapun kuatnya Dafa berteriak dan memohon, Dirgantara sama sekali tidak peduli padanya.

__ADS_1


Dafa tersungkur lesu di atas aspal saat dirinya tak berhasil mencegah kepergian mereka. Tangisannya pecah, dia meraung sejadi-jadinya sembari memukuli aspal hingga tangannya mengeluarkan darah segar.


"Aaaaaaah..." teriak Dafa frustasi.


__ADS_2