
Sudah hampir setengah jam Dafa duduk di mobil menunggu Dilara dan kedua putrinya, tapi hingga detik ini ketiga perempuan itu tak kunjung menampakkan batang hidung di hadapannya.
Dafa mulai kesal, berkali-kali dia memukul stir karena geram, rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk, dia tidak habis pikir mengingat sikap Dilara yang benar-benar menguji kesabarannya.
Bagaimana tidak, sejak tadi pagi Dilara terlihat begitu dingin, kaku dan cuek padanya. Apalagi beberapa saat yang lalu Dilara dengan enteng meminta Dafa mengembalikannya pada Dirgantara.
Awalnya Dafa berusaha menerima permintaan Dilara dengan legowo, dia menyadari kekurangannya yang hanya mampu menempatkan mereka bertiga di kontrakan sederhana seperti saat ini.
Akan tetapi, Dafa sebenarnya sedang berusaha mengumpulkan pundi- pundi uang, dia juga ingin memberikan yang terbaik untuk ketiganya.
Karena Dilara dan kedua putrinya tak kunjung keluar, Dafa pun memilih turun dari mobil. Dia kemudian berjalan memasuki rumah, pandangannya mengedar ke segala arah namun hanya kehampaan yang dia temukan di dalam sana.
"Kemana mereka?" batin Dafa mengerutkan dahi, ingin sekali dia marah dan menelan Dilara mentah-mentah saking jengkelnya.
Lalu Dafa melangkah menuju kamar. Baru saja dia mendorong pintu...
"Doooor..." teriakan Davina dan Divana menggelegar memenuhi seisi kamar.
Dafa yang terkejut sontak terperanjat dengan jantung bergemuruh kencang. Dia sampai terlompat dengan mata melotot tajam, air mukanya seketika berubah pucat.
Ya, Dafa terperangah dengan nafas cekat cekot tak beraturan. Kakinya mendadak lemas, dia termundur ke belakang mencari tempat bersandar.
"Selamat ulang tahun, Daddy." seru Davina dan Divana sangat lantang, keduanya lantas berhamburan ke pelukan Dafa.
Dafa sempat tertegun untuk beberapa detik. Tidak lama kemudian, dia pun berjongkok di lantai. Dia memeluk erat kedua putrinya itu dan mencium pipi mereka bergantian. "Bocah nakal," desis Dafa dengan suara bergetar.
Entahlah, Dafa tidak mampu menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Matanya tiba-tiba berkaca, dia tidak tau harus menangis atau tertawa melihat kelakuan jahil kedua bocah itu. Yang Dafa tau dia sangat bahagia berada di tengah keduanya.
"Selamat ulang tahun, Mas." timpal Dilara dengan perasaan tak menentu. Dia yang sedari tadi diam, ikut terhanyut menyaksikan momen mengharukan tersebut. Dengan kue tart yang ada di tangannya, dia pun melangkah menghampiri ketiganya dan berjongkok didekat mereka.
__ADS_1
"Heh, curang kamu." kesal Dafa mengukir senyum miring. Dilara sendiri hanya tersenyum menanggapinya.
"Ayo Daddy, potong kuenya!" ucap Davina dan Divana serentak, lalu menjauhkan diri dari Dafa.
"Hmm... Iya, sayang." gumam Dafa mengangguk lemah.
"Huft..."
"Yeay, i love you, Dad." sorak kedua bocah itu kegirangan, lalu mengecup pipi Dafa bergantian.
Setelah merayakan ulang tahun sang daddy dan memakan kue tersebut, Davina dan Divana meninggalkan Dilara dan Dafa berdua saja. Mereka sudah sangat lelah dan ingin berbaring sembari menonton televisi.
Saat Dilara hendak menyusul putrinya ke luar, Dafa dengan cepat menarik tangannya. Dilara sontak terkejut dan terjatuh di atas pangkuan Dafa. Dafa pun membelit tubuh Dilara dengan erat, dia tidak akan melepaskan Dilara sebelum memberinya hukuman.
"Lepas Mas!" pinta Dilara, dia berusaha keras melepaskan diri.
"Tidak semudah itu, sayang. Apa kamu tau otakku hampir saja pecah memikirkan permintaanmu tadi? Sekarang kamu harus bertanggung jawab!" tegas Dafa penuh penekanan, deru nafasnya kian memburu mematut wajah Dilara yang begitu dekat dengan bibirnya.
"Sama saja, karena kamu Mommy-nya jadi kamu yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka!" tekan Dafa. Dia sedikit beringsut dan meraih pintu untuk menutupnya.
Setelah pintu tertutup rapat, Dafa menyibakkan rambut Dilara ke belakang lalu menempelkan bibirnya di ceruk leher Dilara.
Dafa menghujani leher jenjang Dilara dengan ciuman ciuman lembut yang membuat tubuh wanita itu merinding merasakan sensasi yang sungguh luar biasa.
Tidak berhenti sampai di sana, Dafa bahkan menggigitnya gemas sehingga meninggalkan jejak kepemilikan berwarna merah pekat.
"Aughh... Mas..." lenguh Dilara seraya menggigit bibir, lalu mencengkeram punggung Dafa kuat.
Melihat reaksi Dilara yang seperti itu, Dafa lantas bangkit dari duduknya. Dia menggendong Dilara ke kasur dan memposisikan tubuh istrinya itu di sisi ranjang. Dalam hitungan detik saja tubuh Dilara sudah polos setelah Dafa melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Karena hari ini adalah ulang tahunku, jadi aku ingin kamu memberikan hadiah spesial untukku!" pinta Dafa dengan tatapan tajam dipenuhi nafsu yang kian menggebu, kemudian dia berjongkok dan menekuk kaki Dilara.
"Aughh... Mas Dafa... Mas... Uuhh... Enak Mas..." racau Dilara dengan kaki bergetar hebat. Dafa berhasil membuatnya melayang kala memainkan intinya dengan tangan dan lidah.
Mendengar itu, seketika seringai tipis melengkung di sudut bibir Dafa, dia merasa puas melihat Dilara yang sudah terjebak dalam permainannya. Dafa pun semakin gencar menyesap dan menyedot cairan yang tiba-tiba keluar dari dalam sana.
"Mas... Aakhh..." pekik Dilara dengan mata memicing, dia meremas kasar rambut Dafa dan menekan kepalanya, bahkan mengapitnya di sela kedua pahanya.
"Kenapa, sayang?" tanya Dafa menghentikan aksinya sejenak, lalu mendongak menilik wajah Dilara yang sudah memerah menahan hasrat yang kian bergejolak.
Dilara tidak menyahut, dia malah bangkit dari pembaringan dan meraih tengkuk Dafa lalu melu*mat bibir suaminya itu dengan nafas kian memburu. Decapan demi decapan keduanya mengalun indah memenuhi seisi kamar.
Setelah puas memagut bibir, Dafa kemudian berbaring di kasur dengan posisi setengah duduk. Tanpa pikir, Dilara pun duduk diantara kedua paha Dafa dan menjatuhkan kepalanya di batang milik suaminya itu. Dilara tanpa ragu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Dafa tadi.
"Aakhh..." kini giliran Dafa yang melenguh menikmati permainan Dilara.
Setelah berhasil memanjakan batang milik Dafa, Dilara beranjak dan duduk di atasnya. Pelan-pelan tubuh mereka menyatu seiring gerakan kecil yang dilakukan Dilara sesuka hatinya. Dafa pun dengan senang hati menyambut permainan wanita cantik itu.
"Aakhh... Ayo sayang, lebih cepat!" racau Dafa, sesekali dia melu*mat bibir Dilara dan melahap puncak menara gunung kembar Dilara yang berayun di depannya. Dilara pun mempercepat tempo permainannya dengan nafas tersengal, tubuhnya mulai basah bermandikan keringat.
Merasa kran airnya sudah ingin meluap, Dafa bergegas membalikkan posisi mereka. Dia kemudian mengukung tubuh Dilara dan menggempurnya dengan kecepetan di atas rata-rata.
"Mas... Aughh..." pekik Dilara dengan tubuh menggeliat dan bergetar, dia bahkan tanpa ragu mencengkeram lengan Dafa hingga menimbulkan sedikit goresan. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Dafa, semakin Dilara mencengkeramnya kuat semakin cepat pula pergerakannya.
"Aakhh..." Dafa mengerang seraya menekan batang miliknya sampai dalam, kemudian menjatuhkan kepalanya di leher Dilara dan menciumnya lembut.
Setelah beberapa detik, Dafa pun mencabut diri dan berbaring di samping Dilara. Hembusan nafasnya terdengar berat dengan dada kembang kempis mengambil nafas.
Begitu juga dengan Dilara yang kini tengah memejamkan mata, pinggangnya terasa pegal dengan inti yang terasa sedikit perih.
__ADS_1
Melihat Dilara yang sudah tak berdaya, Dafa lantas tersenyum dan mengikis jarak diantara mereka. Dafa kemudian mengecup kening Dilara dan memeluknya dengan erat. "Terima kasih, sayang." desis Dafa dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Hmm..." gumam Dilara yang sudah tidak sanggup untuk berbicara.