Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
51. Bertemu Mantan


__ADS_3

Dafa sudah selesai mengemasi semua barang-barang yang diperlukan dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Ada beberapa tas juga yang disusun di bangku tengah sehingga memakan separuh tempat duduk.


Untung saja Davina dan Divana masih bisa menyelinap masuk diantara tumpukan tas tersebut.


"Ayo Daddy, Mommy!" panggil kedua bocah itu dari jendela kaca yang terbuka, mereka sudah tidak sabar untuk kembali ke rumah sang daddy.


"Iya, tunggu sebentar!" sahut Dilara dan Dafa bersamaan. Pria itu memeluk pinggang istrinya menuju mobil yang terparkir di halaman.


Setelah membantu Dilara masuk dan duduk di bangku depan, Dafa ikut masuk dan melesat pergi meninggalkan kontrakan itu.


"Mau kemana dulu, langsung pulang atau makan?" tanya Dafa pada kedua putrinya.


"Makan dong Dad, kami sudah lapar." sahut kedua bocah itu.


"Baiklah, kalian maunya makan dimana?" tanya Dafa lagi.


"Terserah Daddy, tapi kalau bisa kita ke mall saja, kami ingin main juga. Boleh kan, Dad?" sahut keduanya.


"Iya, boleh." balas Dafa lalu memutar stir mobil yang dia kemudikan ke arah mall yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.


Tidak lama, sampailah mereka di mall yang dituju. Dafa memarkirkan mobil di basement dan turun lebih dulu. Dia membukakan pintu untuk Dilara dan membantunya turun kemudian membukakan pintu belakang untuk si kembar.


"Yeay... Akhirnya sampai juga," seru keduanya kegirangan, lalu mereka berempat memasuki mall tersebut.


Sesampainya di area bermain anak, Dafa membelikan tiket masuk dan membiarkan kedua bocah itu bermain sepuasnya. Sedangkan dia dan Dilara memilih menunggu di luar dan membeli cemilan untuk dikunyah agar tidak bosan.


Sedang asik bersantai di kursi tunggu bersama sang istri tercinta, mata Dafa tidak sengaja menangkap keberadaan Mega bersama putranya Dion.


Dafa sontak terkejut tapi berusaha terlihat santai agar Dilara tidak salah paham terhadapnya.

__ADS_1


"Istri pertama kamu, Mas." ucap Dilara sesaat setelah melihat mantan madunya itu.


"Hmm... Biarkan saja!" sahut Dafa enteng, dia mencoba bersikap cuek seolah-olah tidak mengenal Mega.


Akan tetapi, sikap acuhnya itu malah membuat Dion memelototinya dan Dilara. Tangan mungil bocah itu mengepal saking marahnya melihat Dafa bersama wanita lain.


Dion merasa bahwa Dafa adalah pria yang buruk. Meninggalkan dia dan sang bunda demi wanita lain dan si kembar yang sangat dia benci.


Bahkan sejak mengetahui bahwa si kembar adalah anak dari ayahnya, dia semakin membenci kedua bocah imut itu. Dia juga selalu meneror mereka saat di sekolah, hanya saja Davina dan Divana tidak pernah menceritakan itu pada Dilara maupun Dafa.


"Uhh... Ada mantan suami sama mantan madu rupanya," sindir Mega setelah menyadari keberadaan mereka.


"Apa kabar, Mbak?" sapa Dilara yang sama sekali tidak peduli dengan sindiran Mega. Dia malah mengulurkan tangan tapi tidak disambut oleh wanita itu. Dafa yang melihat istrinya diabaikan dengan cepat meraih tangan Dilara dan menggenggamnya erat.


"Tidak usah berbasa-basi dengan orang luar, tidak penting!" ucap Dafa sembari merangkul pundak Dilara.


"Heh, romantis sekali kalian. Bagaimana? Apa mantan suamiku memperlakukanmu dengan baik? Aku rasa tidak, pasti di luar sana ada wanita lain di sisinya. Kamu tidak lupa kan bagaimana perlakuannya padamu tempo dulu? Dia sanggup mengkhianati istri pertamanya, bukan tidak mungkin dia melakukan hal yang sama juga padamu, kan?" ucap Mega panjang lebar.


"Mmm... Aku tidak pernah menoleh ke belakang, aku hanya kasihan padamu." balas Mega.


"Terima kasih atas perhatiannya, permisi." Dilara memilih bangkit dari duduknya dan menarik Dafa menjauhi Mega. Dilara rasanya ingin muntah mendengar ocehan mantan istri suaminya itu.


Ya, Dilara tau bahwa mantan madunya itu dengan sengaja ingin memanasi nya agar bertengkar dengan Dafa, tapi sayang Dilara tidak sebodoh itu.


Dia tidak akan mempercayai ucapan siapapun sebelum melihat bukti dengan mata kepalanya sendiri.


"Ayah..." seru Dion saat Dafa sudah menjauh darinya.


Dafa yang mendengar itu menghentikan langkahnya sejenak, Dilara pun melepaskan tangan Dafa dan memilih masuk ke area bermain anak menemani kedua buah hatinya.

__ADS_1


Dilara tidak ingin melihat drama itu, terserah Dafa mau ngapain saja dengan mereka.


"Ayah, apa mereka lebih penting dari kami?" ucap Dion dengan tatapan sendu.


Dafa tiba-tiba terdiam, dia merasa dilema kala mendengar Dion masih memanggilnya dengan sebutan ayah. Tapi dia juga tidak boleh egois, Dion sudah bukan bagian dari hidupnya lagi.


"Ya, mereka sangat penting di hidup Ayah. Kamu akan mengerti saat kamu sudah dewasa nanti." Dafa menyentuh pipi Dion dan mengecupnya, lalu meninggalkan mereka begitu saja.


Meski perasaannya berat berpisah dengan Dion, tapi dia berusaha ikhlas menerimanya. Bagaimanapun tidak mudah melupakan anak yang sudah dia besarkan dengan segenap jiwa raga, namun Dafa tidak mungkin menentang takdir yang sudah digariskan untuknya.


"Mainnya udahan dulu ya, sekarang sudah waktunya makan." ucap Dafa setelah tiba di dekat Dilara dan si kembar.


"Oke Daddy, tapi lain kali kita ke sini lagi ya." sahut kedua bocah itu.


"Iya, nanti Daddy ajak ke tempat bermain yang lebih seru dari ini." balas Dafa.


"Yeay... Daddy memang yang terbaik," sorak keduanya melompat kegirangan. Mereka pun meninggalkan tempat itu dan turun ke bawah untuk mencari makan.


"Kamu lihat kan, Ayahmu itu sudah tidak sayang lagi sama kamu. Sekarang berhenti mengharapkan dia, kamu masih punya ayah yang lain." tegas Mega pada Dion.


Bocah itu mengangguk lemah dan berjalan dengan raut wajah penuh kekecewaan.


Sekarang dia semakin yakin bahwa Dafa tidak menginginkan dia lagi. Dia juga tidak akan mengharapkan Dafa sebagai ayahnya lagi dan mencoba menerima suami kedua Mega sebagai ayahnya yang baru.


Di bawah sana, keluarga kecil Dafa sudah memasuki sebuah tempat makan. Sesuai ucapan Dafa tadi, mereka akan makan dan membebaskan kedua putrinya memilih makanan apa saja yang mereka sukai. Begitu juga dengan Dilara yang menurut Dafa harus makan banyak agar tenaganya kuat dan bayi yang dikandungnya juga sehat.


Setelah memilih menu makanan dan memesannya, mereka mengobrol sejenak sembari menunggu pesanan datang. Namun air muka Dilara tiba-tiba menggelap dan terdiam dalam pemikirannya sendiri. Dia bahkan tidak menyimak apa yang dibicarakan Dafa dan kedua putrinya.


Sadar akan perubahan Dilara yang begitu tiba-tiba, Dafa pun meraih pinggang Dilara dan menariknya ke dekapannya. "Tidak usah dipikirkan, Mas tidak akan pernah mengkhianati kamu." desis Dafa.

__ADS_1


"Hmm..." gumam Dilara, lalu memeluk Dafa erat dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Dafa.


Tidak lama, beberapa orang pelayan datang membawakan pesanan. Dilara menjauhkan diri dari Dafa dan mulai menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja. Mereka berempat makan dengan sangat lahap sembari bergurau sesekali.


__ADS_2