
"Ayo sayang, turun yuk!" ajak Dafa sesaat setelah mobil yang dikendarainya tiba di depan sebuah rumah kontrakan. Meski tidak terlalu besar dan mewah tapi setidaknya cukup nyaman untuk ditempati.
Divana dan Davina melompat turun setelah Dafa membukakan pintu mobil, Dilara pun menyusul kemudian. Lalu Dafa mengambil makanan yang baru saja dia beli di perjalanan tadi.
Setelah membukakan pintu rumah, mereka berempat melangkah masuk ke dalam kontrakan sederhana itu.
Ya, ternyata Dafa sudah mengatur semuanya sejak tadi malam. Sepulang dari kediaman Dirgantara, dia langsung mencari kontrakan dan pulang untuk mengambil barang-barang yang diperlukan.
Dia pun menghias kamar yang akan ditempati kedua putrinya seperti kamar anak-anak pada umumnya. Pakaian untuk mereka juga sudah tersusun rapi di dalam lemari. Begitu juga dengan kamar yang akan dia tempati bersama Dilara, sederhana tapi mampu menciptakan rasa nyaman di hati Dilara dan kedua putrinya.
"Dad, kami lapar." seru Davina dan Divana bersamaan, perut keduanya sudah keroncongan sedari tadi.
Bagaimana tidak, sejak semalam mereka terpaksa menahan lapar demi untuk bertemu dengan sang daddy. Sampai pagi berlalu pun, perut mereka belum sempat terisi makanan.
"Iya sayang, tunggu sebentar ya! Daddy siapkan dulu," Dafa pun dengan cepat memasuki dapur dan menata makanan yang dia beli tadi di dalam piring. Setelah semua siap, mereka berempat langsung duduk di meja makan dan menyantap makanan itu hingga tandas.
"Aaaghk..." Davina bersendawa, hal itu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Jangan begitu sayang, tidak sopan." Dilara mengacak rambut Davina gemas.
"Maaf Mommy," ucap bocah berambut lurus itu.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali mulutnya ditutup, oke!" imbuh Dilara mengukir senyum.
"Iya Mommy," angguk Davina mengerti.
__ADS_1
Setelah perut kedua bocah itu kenyang, mereka meninggalkan meja makan lebih dulu. Kini rasa kantuk pun datang menghinggapi setelah berhasil mengisi kampung tengah sampai penuh.
"Kalau kamu lelah, istirahat saja di kamar. Biar aku yang membereskan semua ini," Dafa lekas bangkit dari duduknya dan membawa piring kotor itu ke dapur, dia pun mencucinya segera. Sementara Dilara masih saja diam dan beranjak dari meja makan.
Setelah semua beres, Dafa menyusul ke kamar. Melihat Dilara yang tengah meringkuk di kasur, Dafa pun merasa ragu menyapa. Dia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu mengenakan pakaian kerja.
Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, Dafa mendekati Dilara dan duduk di sisi ranjang. Sebelah tangannya bergerak menyentuh pucuk kepala Dilara dan sebelahnya lagi menggenggam erat jemari ibu dari putrinya itu.
"Maafkan aku, aku tau kamu sangat tertekan dengan situasi ini. Jika ini terasa berat, aku memberimu kesempatan untuk berpikir. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku, kamu berhak memilih apapun yang kamu inginkan!" lirih Dafa, kemudian mengecup punggung tangan Dilara dan beralih ke pipi. "Aku pergi dulu," imbuhnya, lalu menjauh dari Dilara dan meninggalkan kamar dengan perasaan tak menentu.
Setibanya di luar, Dafa kemudian menghampiri kamar putrinya dan lekas mendorong pintu. Kebetulan kedua bocah itu sudah terlelap di kasur, Dafa pun mencium pipi mereka bergantian dan keluar setelah itu.
Dafa sebenarnya tidak ingin meninggalkan mereka, tapi dia harus melakukannya agar Dirgantara tidak curiga saat mengetahui bahwa putri dan kedua cucunya mendadak hilang dari pabrik. Dafa yakin Dirgantara pasti mengutus orang untuk mencari keberadaannya.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Dafa meninggalkan rumah terburu-buru dan masuk ke mobil, dia mengendarainya menuju pabrik tempatnya bekerja saat ini.
Diwaktu bersamaan, Dirgantara mendapat laporan dari salah satu bodyguard yang dia percayakan untuk mengawal Dilara dan kedua cucunya.
Seketika tangan Dirgantara mengepal dengan rahang menggeram kuat, dia sangat yakin semua ini ulah Dafa. Dia pun meninggalkan rumah dan meminta Wahyu mengantarnya ke pabrik roti tempat Dafa bekerja, dia yakin pria itu tidak ada di sana. Siapa lagi yang berani menculik putrinya kalau bukan pria itu?
Akan tetapi, kecurigaan Dirgantara tiba-tiba luntur saat menangkap keberadaan Dafa di pabrik itu. Dirgantara sendiri nampak bingung memikirkan masalah yang terjadi.
Jika Dafa ada di sini, lalu kemana Dilara dan si kembar? Siapa yang membawa mereka?
Dafa yang melihat kedatangan Dirgantara sontak tersenyum dan berjalan mendekatinya. "Siang Pa, tumben datang ke sini. Ada apa?" tanya Dafa enteng seakan tidak tau apa-apa. Dia bahkan tidak sungkan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Dirgantara mendadak mati langkah dan terdiam sejenak, beberapa detik kemudian menilik Dafa dengan tatapan mengintimidasi. "Dimana Dilara dan kedua cucuku?" tanyanya tanpa basa basi, nada bicaranya terdengar meninggi.
Mendengar itu, Dafa pun mengerutkan kening seperti orang kebingungan. Padahal hatinya tengah tertawa sekencangnya. "Apa maksud, Papa?" tanya Dafa balik.
"Jangan berpura-pura bodoh di depanku, aku tau semua ini ulahmu." sergah Dirgantara yang mulai kehilangan kesabaran, ingin sekali dia menghajar pria tidak tau malu itu sampai babak belur. Akan tetapi, Dirgantara tidak mungkin merusak reputasinya di hadapan segerombolan karyawan yang tengah berdiri menatap mereka.
"Apa maksud, Papa? Aku benar-benar tidak mengerti. Bukankah Dilara dan kedua putriku di rumah Papa? Bagaimana caraku membawa mereka pergi? Aku saja tidak diizinkan bertemu dengan mereka," jawab Dafa gamblang tanpa menimbulkan kecurigaan. Dia bahkan dengan enteng memasang tampang panik di hadapan Dirgantara.
Mendengar jawaban dan ekspresi Dafa yang begitu, Dirgantara pun termundur dan mengusap wajah dengan kasar. "Kalau bukan kamu pelakunya, maka bantu aku mencari mereka secepatnya!" titah Dirgantara dengan penuh penekanan.
"Hah?" Dafa membulatkan mata dengan mulut sedikit menganga. Apa dia tidak salah dengar? "Kenapa harus aku? Bukankah Papa memiliki banyak anak buah? Kenapa tidak menyuruh mereka saja?" jawab Dafa acuh tak acuh seakan tidak peduli pada Dilara dan kedua buah hatinya.
Dirgantara yang mendengar itu sontak menatap Dafa dengan mata nyalang seperti harimau kelaparan lalu meraih kerah kemeja Dafa dan mencengkeramnya dengan kuat. "Suami macam apa kamu ini, hah? Anak istri hilang tapi kamu malah bersikap tenang tanpa khawatir sedikitpun."
Bukannya takut, Dafa malah tertawa kecil seakan mengejek. Dalam hati dia sangat senang melihat ketakutan di wajah Dirgantara. "Suami?" Dafa mengernyit tiba-tiba. "Sejak kapan Papa menganggap ku sebagai suami Dilara? Aku bahkan sudah memohon untuk tidak membawa mereka pergi, tapi apa yang Papa lakukan? Papa yang bersikeras memisahkan kami, lalu kenapa aku yang harus bertanggung jawab untuk masalah ini?"
"Bug..."
Akhirnya kemarahan Dirgantara sampai juga pada puncaknya. Sebuah pukulan keras mendarat bebas di pipi Dafa detik itu juga.
"Bajingan, aku pikir kamu benar-benar menyayangi mereka tapi sepertinya aku salah menilaimu." geram Dirgantara yang masih mengepalkan tangan dengan kuat, dia hendak menghajar Dafa lagi tapi tiba-tiba niatnya terhenti saat beberapa orang karyawan berjalan mendekati mereka.
"Papa tidak perlu tau seberapa besar rasa cinta dan kasih sayang yang aku miliki untuk mereka!" jawab Dafa sembari tersenyum puas.
"Dengar aku baik-baik!" Dafa menatap Dirgantara dengan netra menyala dibakar api kemarahan. "Jika aku berhasil menemukan mereka bertiga, aku pastikan Papa tidak akan pernah melihat mereka lagi. Aku akan membawa anak dan istriku pergi jauh dari kota ini. Bukankah ini yang Papa inginkan?" tukas Dafa dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Dafa pun pergi meninggalkan Dirgantara, seolah-olah dia ingin mencari keberadaan Dilara dan kedua putrinya sesuai apa yang baru saja dia ucapkan.