Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
52. Trauma Sama Daddy


__ADS_3

Tepat pukul sepuluh malam, mobil Dafa sudah tiba di halaman rumah. Setelah membantu Dilara turun dan membukakan pintu rumah, Dafa kembali ke mobil dan menggendong satu persatu putrinya bergantian.


Ya, saat di perjalanan menuju pulang barusan kedua bocah itu tiba-tiba tertidur karena kekenyangan. Malam ini mereka terlalu banyak makan sehingga rasa kantuk tak lagi terelakkan.


Setelah menidurkan kedua buah hatinya di kamar mereka, Dafa mematikan lampu utama dan menutup pintu perlahan kemudian menurunkan barang-barang mereka dari mobil.


Sedangkan Dilara memilih masuk ke kamar dan lekas membersihkan diri, setelah itu mengganti pakaian dan berbaring di tempat tidur. Matanya juga sudah sangat mengantuk sejak di mobil tadi.


Selepas menurunkan semua barang-barang dari mobil, Dafa menyusunnya di dekat meja makan. Hari ini dia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat terlebih dahulu. Dia akan merapikan barang bawaan itu esok hari.


Sesampainya di kamar, Dafa membuka pakaian dan menyisakan boxer saja. Dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu ikut berbaring di samping Dilara yang sudah lebih dulu memasuki alam mimpi.


...****************...


Malam berganti pagi. Pukul enam Dilara sudah bangun dan memilih berolahraga di halaman rumah, menghirup udara segar dan berjalan santai di atas rerumputan tanpa mengenakan alas kaki.


Ya, dulu saat mengandung si kembar Dilara juga rutin berolahraga pagi seperti ini agar bayi yang dikandungnya sehat dan mudah untuk melahirkan. Sayang waktu itu Dilara tidak kuat melahirkan normal karena kedua putrinya yang terlalu besar.


Namun untuk kali ini Dilara berharap bisa melahirkan secara normal. Dia trauma melahirkan secara caesar karena penyembuhan yang terlalu lama, apalagi dia sempat mengalami komplikasi pasca melahirkan.


"Masih pagi, kenapa sudah di luar?" bisik Dafa yang tiba-tiba muncul dan memeluk Dilara dari belakang.


"Justru karena masih pagi, udaranya masih sangat segar." sahut Dilara.


"Ya sudah, Mas temani ya." tawar Dafa.


"Boleh," angguk Dilara tanpa penolakan, lalu keduanya berjalan santai dengan tangan saling menggenggam.


Rasanya pagi ini merupakan nikmat terindah dalam hidup Dafa. Akhirnya dia bisa berkumpul kembali dengan anak istrinya dan calon anak ketiga yang sedang berkembang di rahim Dilara.


Dafa sadar selama ini sudah terlalu banyak melakukan kesalahan dan agak sulit mengendalikan emosi. Karena itulah dia sampai berkali-kali kehilangan Dilara sebab egonya yang terlalu tinggi.

__ADS_1


"Divana, ayo bangun! Kita harus ke sekolah, nanti telat." desak Davina mengguncang tubuh kembarannya yang sulit sekali dibangunkan. Dari sebelum Davina mandi sampai selesai mandi barusan, bocah satu itu tak kunjung bergerak dari tempat tidur.


"Awas ya, aku adukan sama Daddy kamu. Kalau digigit lagi jangan minta bantuan sama aku," gertak Davina kemudian melompat turun dari tempat tidur.


"Iya, iya, aku bangun. Gitu doang masa' ngadu sih," keluh Divana yang mau tidak mau terpaksa membuka mata dan bangkit dari pembaringan. Dia tidak mau digigit lagi oleh sang daddy, hal itu membuatnya geli dan berasa ingin ngompol di celana.


"Ya sudah, cepat mandi!" suruh Davina menahan tawa.


"Iya, ini mau mandi. Tolong siapin buku aku sekalian ya!" sahut Divana lalu turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


Setelah beberapa saat, bocah itu keluar dan lekas mengenakan seragam sekolah kemudian menyisir rambut.


"Kreek..." pintu berderit, Dafa dan Dilara muncul dari balik pintu dan ternganga melihat kedua putrinya yang sudah rapi.


"Wah, putri Daddy sudah bangun?" sapa Dafa sembari melangkah menghampiri keduanya.


"Sudah Dad, Divana yang susah bangunnya tadi. Pas dibilangin manggil Daddy langsung duduk dia." ungkap Davina menahan tawa.


"Hahaha... Kalian ini ada-ada saja, masa' sama Daddy sendiri takut sih?" timpal Dilara terkekeh.


"Siapa yang tidak takut Mom, Daddy itu kayak monster." ucap Divana mematut Dafa dengan tatapan tajam.


"Oh, jadi Daddy seperti monster. Kalau begitu rasakan lagi gigitan monster ini!" baru saja Dafa hendak melangkah, kedua bocah itu langsung berhamburan dan berlari mencari perlindungan di belakang Dilara.


"Mommy..." pekik keduanya lantang.


Dafa yang melihat itu sontak tertawa terbahak-bahak, perutnya bahkan terasa sakit melihat tingkah kedua putrinya yang menggemaskan.


"Dasar bocil, Mommy saja sangat suka Daddy gigit, masa' kalian takut sih?" seloroh Dafa terpingkal-pingkal.


"Mas..." Dilara membulatkan mata dengan tajam, kesal karena Dafa tidak melihat tempat dalam berbicara.

__ADS_1


"Memang kenyataannya kan, kenapa musti malu?" setelah mengatakan itu, Dafa berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Dia masuk ke kamar dan memilih membersihkan diri.


Setelah mengantar si kembar ke sekolah, dia ingin membawa Dilara memeriksakan diri ke dokter. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini seperti lima tahun yang lalu. Sekarang dia akan menjadi suami siaga untuk Dilara dan ayah terbaik untuk kedua putrinya dan calon buah hatinya yang ada di kandungan Dilara.


"Ayo, sarapan dulu!" panggil Dilara sesaat setelah Dafa keluar dari kamar. Dafa pun menghampiri anak istrinya dan menyantap sarapan pagi bersama-sama.


"Ayo, kamu siap-siap juga. Nanti setelah mengantar si kembar ke sekolah, Mas mau membawa kamu ke rumah sakit untuk cek kandungan." ucap Dafa setelah menghabiskan nasi goreng di piringnya lalu menunggu Dilara dan kedua putrinya di ruang tamu.


Setelah merapikan meja makan dan mencuci piring kotor, Dilara masuk ke kamar dan lekas membersihkan diri di kamar mandi. Setelah itu memakai pakaian rapi dan berjalan meninggalkan kamar.


"Sudah Mas," ucap Dilara sesampainya di ruang tamu.


Dafa memutar leher dan mematut Dilara dengan pandangan tak biasa. Kali ini Dilara nampak begitu anggun dengan dress selutut yang dia kenakan. Warna pastel nampak soft di kulitnya yang putih mulus. Hanya saja Dafa tidak suka melihat dada Dilara yang sedikit menonjol dan lengan yang terbuka.


Lalu Dafa bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamar. Dia membuka pintu lemari dan mencari cardigan yang akan dia balutkan ke badan Dilara. Dia tidak suka tubuh Dilara terekspos dan menjadi tontonan publik, hanya dia saja yang boleh menikmati pemandangan indah itu seorang diri.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Dafa kembali ke luar dan membantu Dilara mengenakan cardigan rajut berwarna hitam yang dia bawa lalu menautkan kancing tepat di dada Dilara. "Jangan buat Mas marah ya, dada diumbar-umbar begitu, sudah punya suami juga." desis Dafa berbisik tepat di telinga Dilara dan memberi sedikit gigitan kecil sebagai hukuman.


"Mas..." tukas Dilara terkejut.


"Makanya jangan banyak tingkah!" geram Dafa lalu beralih mengecup kening Dilara dengan sayang. Dilara yang tadinya ingin marah tiba-tiba tersipu malu menerima perlakuan Dafa yang semakin bucin terhadap dirinya.


"Ya sudah, besok-besok beliin gamis saja biar tidak satupun yang terbuka," seloroh Dilara mengulum senyum.


"Hmm... Ide yang bagus, Mas setuju." angguk Dafa tanpa penolakan.


"Mas..." Dilara menghentakkan kaki dengan bibir mencebik. Dia awalnya hanya ingin bercanda tapi Dafa malah mengiyakannya dengan cepat.


Melihat tingkah manja Dilara seperti itu, Dafa menjadi gemas dan mengesap bibir istrinya itu dengan membabi buta. Beruntung si kembar sudah di mobil jadi tak seorangpun yang bisa menangkap basah kelakuan mesumnya.


"Mas, cukup!" Dilara mendorong wajah Dafa dan berlari kecil meninggalkan suaminya. Jika dilayani, ujung-ujungnya si kembar pasti marah karena keduanya bisa telat ke sekolah.

__ADS_1


Setelah Dilara memasuki mobil, Dafa menyusul keluar dan lekas mengunci pintu lalu menyusul mereka ke mobil dan melesat pergi menyusuri jalan raya.


__ADS_2