
"Daddy..." sorak Davina dan Divana serentak. Keduanya berhamburan mengejar Dafa yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
"Sayang..." sahut Dafa melambaikan tangan, lalu berjongkok dan merentangkan kedua tangan menunggu pelukan hangat dari kedua putrinya.
"Aah..." gumam Dafa saat kedua belahan hatinya masuk ke dalam pelukannya. Dafa pun mendekap mereka erat dan mencium pipi gembul keduanya bergantian.
"Mommy mana, Dad?" tanya keduanya bersamaan, manik mata mereka bergerak liar mencari keberadaan Dilara tapi tidak menemukannya sama sekali.
"Mommy di rumah, tadi Mommy sakit perut. Kalau begitu kita pulang sekarang ya biar bisa ketemu sama Mommy!" ajak Dafa, dia melepaskan pelukannya dan bangkit dari jongkoknya.
Kemudian Dafa menggenggam tangan kedua bocah itu di setiap sisi tangannya dan berjalan menuju mobil.
Tanpa Dafa sadari, seorang bocah laki-laki menatapnya tajam dengan tangan mengepal kuat. Ada kebencian yang begitu besar di hatinya saat menyaksikan pemandangan tadi.
Ya, anak itu adalah Dion. Teman sekelas Davina dan Divana yang juga merupakan bocah laki-laki yang pernah Dafa besarkan selama empat tahun lebih lamanya. Anak yang dia sayangi dengan segenap jiwa dan raga namun dihancurkan karena kenyataan pahit yang harus Dafa terima.
Meskipun begitu, Dafa sebenarnya tidak pernah membenci anak itu. Dia masih sangat menyayanginya sampai detik ini. Hanya saja Dafa tidak mungkin membawa anak itu tinggal bersamanya karena masih ada sang ibu yang lebih pantas mengasuhnya.
Akan tetapi, di mata anak itu Dafa hanyalah seorang penjahat yang tidak punya hati. Seorang ayah yang tega membuang anak dan istrinya tanpa sebab yang jelas. Bahkan kini anak itu harus tinggal dengan ayah lain yang tidak pernah menyayangi dirinya. Dia kehilangan kasih sayang Dafa yang benar-benar tulus menyayanginya.
Namun sayang kebencian anak itu sudah terlanjur mendarah daging di hatinya, apalagi setelah melihat Dafa bersama si kembar yang menurutnya juga orang jahat yang telah mengambil kasih sayang dan perhatian sang ayah.
Dion benar-benar berang hingga mengepalkan tinju dengan kuat, matanya merah menyala dibakar api cemburu yang membara.
"Dad, tadi ada anak nakal loh di kelas." adu Divana saat mereka semua tengah berada di perjalanan.
"Nakal bagaimana?" Dafa mengerutkan kening sambil menoleh ke arah si kembar yang duduk di sampingnya.
"Itu, tadi tangan Davina dipukul hanya gara-gara ngajakin main. Divana tidak suka," keluh bocah itu dengan bibir mengerucut.
"Hehehe... Ya sudah, lain kali tidak usah ngajakin dia main lagi! Kalian bisa main berdua saja kan?" ucap Dafa menasehati kedua bocah itu.
"Iya Dad, tapi kan Davina kasian lihat dia diam sendirian di pojokan. Davina pikir dia tidak punya teman, eh taunya dia sendiri yang mengasingkan diri. Bu guru pun tidak dianggap sama dia. Aneh kan, Dad?" terang Davina.
"Hmm... Iya sih, aneh." angguk Dafa dengan bibir mencebik.
"Makanya lain kali tidak usah sok akrab sama si Dion itu, tampangnya saja sudah menjengkelkan." timpal Divana kesal.
Sekilas Dafa terkejut saat mendengar nama itu, dia pun dengan spontan menginjak pedal rem dan menepi di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti, Dad?" tanya kedua bocah itu serentak dengan raut kebingungan.
__ADS_1
"Itu, siapa namanya tadi?" tanya Dafa memastikan, dia pun memutar badan ke arah si kembar.
"Dion Dad, namanya Dion." terang Divana.
"Dion?" Dafa mengulangi nama itu sembari mengerutkan kening.
Apa yang mereka maksud itu Dion putranya? Tapi bagaimana mungkin Dion bisa bersekolah di sana? Bukankah dia sekolah di tempat lain?
Dafa lagi-lagi mengerutkan kening dengan banyaknya pertanyaan yang membelit otaknya.
Jika itu benar putranya, maka akan sangat sulit bagi Dafa untuk melupakannya. Bisa-bisa mereka malah akan sering bertemu saat mengantar jemput si kembar ke sekolah.
Padahal Dafa sudah mewanti-wanti untuk tidak menyekolahkan kedua putrinya di sekolah yang sama dengan Dion, namun sepertinya dunia terlalu sempit jika benar bocah itu adalah Dion putranya.
"Daddy..." sorak si kembar lantang, Dafa pun tersentak dari lamunannya.
"I-iya sayang," jawab Dafa terbata-bata sembari mengerjap.
"Kenapa malah bengong, Dad? Daddy kenal sama anak laki-laki itu?" cerca Davina menautkan alis.
"T-tidak, mana mungkin Daddy kenal? Ketemu saja belum," sahut Dafa menggelengkan kepala.
"Iya, iya, Daddy jalan sekarang."
Dafa melepaskan rem tangan dan kembali menginjak pedal gas, seketika mobil itu melesat pergi menuju kontrakan yang tinggal beberapa km saja dari tempat itu.
Lima menit berselang, mobil yang dikendarai Dafa tiba di depan kontrakan. Setelah mematikan mesin dia turun dan bergegas membukakan pintu untuk si kembar.
"Makasih, Dad." ucap keduanya. Belum sempat Dafa menjawab, kedua bocah itu sudah berlarian memasuki rumah. Dafa yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan lekas menutup pintu mobil.
Akan tetapi, senyum itu begitu cepat memudar saat pikiran Dafa tertuju pada Dion.
Entah kenapa dia merasa sangat yakin kalau anak yang diceritakan si kembar tadi adalah putranya. Dion memang pendiam dari dulu, apalagi sejak Mega memperlakukannya seperti anak tiri. Hanya Dafa lah yang saat itu benar-benar menyayangi Dion dengan sepenuh hati.
Dengan pikiran kacau tak menentu, Dafa menyusul si kembar memasuki rumah. Karena pikirannya sedang tidak berada di tempat, tanpa sadar dia pun mengabaikan Dilara yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Dilara mematut suaminya itu dengan mata menyipit, tapi Dafa malah terlihat cuek dan langsung masuk ke kamar. Reaksi Dafa itu sontak membuat Dilara merasa curiga, tidak biasanya Dafa seperti ini saat bersamanya.
Setelah membantu si kembar menukar pakaian, Dilara menaruh cemilan yang baru saja dia buat di depan televisi. Kedua bocah itu asik menikmati cemilan itu sambil menonton film animasi kesukaan mereka.
Dilara kemudian meninggalkan mereka berdua dan menyusul Dafa ke kamar, dia mengerutkan dahi saat menangkap keberadaan sang suami yang tengah berbaring di atas kasur.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Dilara penasaran dan menekuk kakinya di tepi ranjang.
"Tidak apa-apa," jawab Dafa datar tanpa ekspresi, bahkan matanya masih tertutup rapat saat menjawab pertanyaan Dilara.
"Tidak apa-apa bagaimana? Pulang-pulang mukanya kok jadi manyun begitu?" Dilara bertanya lagi sambil menyentuh pipi Dafa.
Dafa yang terkejut reflek memukul tangan Dilara dengan kasar, Dilara pun tak kalah kaget dan meringis dengan mata yang tiba-tiba berbinar mengandung cairan yang menggenang.
Dafa pun langsung tersadar, dia membuka mata dengan cepat dan menangkap pipi Dilara yang sudah basah. "Sayang..." lirih Dafa merasa bersalah.
"Hmm..." gumam Dilara lalu berlari meninggalkan kamar. Dia tidak menyangka Dafa akan mengasarinya lagi seperti dulu.
"Mom?" panggil si kembar heran saat Dilara berlari kencang di depan mereka.
Dilara sama sekali tidak merespon dan memilih masuk ke kamar kedua putrinya, lalu mengunci pintu dengan cepat.
Dafa yang merasa bersalah langsung mengejarnya dan berdiri di ambang pintu. "Dila, sayang, buka pintunya dulu! Maafin Mas, Mas tidak sengaja." panggil Dafa seraya mengetuk pintu dengan kasar. Dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa kehilangan fokus seperti tadi.
"Dad, Mommy kenapa?" tanya Divana dan Davina serentak, keduanya ikut berdiri di samping Dafa dengan tatapan kebingungan.
"Tidak apa-apa sayang, kalian main di depan dulu ya! Daddy ada urusan sedikit sama Mommy." sahut Dafa yang tidak tau harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada mereka, bisa-bisa kedua putrinya salah paham dan malah membencinya karena sudah menyakiti Dilara.
Kedua bocah itu pun mengangguk pelan dan memilih bermain di halaman rumah.
"Dila, sayang, tolong buka pintunya! Mas benar-benar tidak sengaja, tadi itu Mas kaget dan reflek memukul tangan kamu. Maafin Mas ya, Mas benar-benar tidak sengaja." bujuk Dafa dengan air muka mengeruh.
Dia sadar tidak seharusnya memikirkan hal lain saat di rumah. Karena keteledorannya, kini Dilara yang kena imbasnya. Entah bagaimana cara membujuk Dilara agar mau membukakan pintu untuknya.
Sedangkan di dalam kamar sana, Dilara terduduk lesu berderai air mata. Punggungnya tersandar di daun pintu dan sesekali memukulkan kepalanya ke belakang.
Dia tidak habis pikir dengan sikap Dafa yang tiba-tiba berubah tanpa sebab yang jelas.
Sebelum meninggalkan rumah tadi Dafa masih begitu hangat terhadapnya, tapi kenapa saat pulang barusan raut wajah dan perlakuan Dafa mendadak dingin seperti bengis padanya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya itu?
Tentu saja hal itu menjadi tanda tanya besar di benak Dilara. Tidak mungkin Dafa berubah dengan begitu tiba-tiba.
Dilara yakin ada sesuatu yang tidak dia ketahui. Apa Dafa...?
Tidak, tidak, Dilara menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Dia tidak boleh menuduh Dafa tanpa bukti yang kuat. Kalau pun Dafa benar-benar melakukan sesuatu yang salah di luar sana, mungkin itu sudah menjadi karma yang harus dia tanggung.
Dulu dia sendiri dengan sangat sadar merebut Dafa dari istri pertamanya, siapa yang tau suatu saat nanti wanita lain juga akan merebut Dafa darinya. Bukankah karma itu nyata adanya? Dilara hanya perlu bersiap-siap dan menguatkan diri jika saat itu tiba.
__ADS_1