
"Pagi gadis nakalku yang manis," sapa Dafa dengan senyum merekah di bibirnya. Sudah hampir setengah jam dia bangun, tapi penyakit malasnya tiba-tiba kambuh karena enggan melepaskan Dilara dari dekapannya. Dafa mengencangkan pelukannya sambil memainkan ujung rambut Dilara dan menghirup aromanya sesekali.
Ya, Dilara tidur dengan pulas di belahan ketiak Dafa. Bahkan tubuh keduanya masih polos terbungkus selimut. Dilara bahkan tidak menyadari apa saja yang sudah dilakukan Dafa padanya.
"Mas..." gumam Dilara tersenyum malu. Sekilas kejadian dini hari tadi kembali terlintas di benaknya, dia merasa seperti orang bodoh, bisa-bisanya dia kehilangan kewarasan dalam hangatnya setiap sentuhan yang diciptakan Dafa. Dilara pun menyembunyikan wajahnya di ketiak Dafa, meski sedikit aneh tapi aromanya mampu menenangkan hati Dilara.
Melihat Dilara seperti itu, Dafa spontan terkekeh. Dia benar-benar gemas, dia ingin membawa Dilara berlayar mengarungi samudera sekali lagi. Dafa kemudian mengangkat dagu Dilara dan menyesap bibirnya dengan lembut. Dilara pun tak menolak, dia mulai candu dan suka dengan permainan Dafa, hal yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Mom, Dad, kalian dimana?" pekik Divana dan Davina yang baru saja keluar dari kamar depan. Tangan mungil keduanya menggedor-gedor pintu kamar belakang dengan kuat, sontak Dilara dan Dafa terperanjat hingga pagutan mereka terlepas.
Astaga, saking bahagianya bersama Dafa, Dilara sampai lupa dengan ekornya yang sudah bangun sedari tadi.
"Iya sayang, Mommy di sini, tunggu sebentar ya!" sahut Dilara, dia pun mendorong dada Dafa dan turun dari ranjang. Tangannya dengan cepat memungut pakaian yang berserakan di lantai dan lekas mengenakannya. Dafa pun ikut memasang celana dan membukakan pintu untuk kedua putrinya.
Baru saja pintu terbuka, Divana dan Davina langsung berhamburan ke pelukan Dafa. "Pagi, Dad." sapa keduanya, lalu mencium pipi Dafa di setiap sisinya.
"Pagi sayang, bagaimana tidurnya semalam?" tanya Dafa, dia pun membalas ciuman mereka bergantian.
"Lumayan nyenyak," sahut Davina mengukir senyum.
"Daddy sama Mommy kenapa malah tidur di sini?" tanya Divana dengan bibir mengerucut.
"A-anu..." Dilara tergagap tanpa tau harus menjawab apa.
"Sempit sayang, kalau Daddy sama Mommy tidur di sana, kalian bisa terganggu." alibi Dafa memberi alasan.
"Mmm..." Divana manggut-manggut sambil menilik Dilara yang terlihat sangat gugup.
"Mom," panggil Divana dengan tatapan mengintimidasi, manik matanya mengarah pada leher Dilara yang terlihat aneh menurutnya.
"Iya sayang," sahut Dilara cepat.
"Leher Mommy kenapa? Kok merah begitu?" tanya Divana dengan polos.
"Hah..." Dilara membulatkan mata dengan bibir sedikit menganga. Astaga, bisa-bisanya dia lupa menutupi jejak keberingasan Dafa tadi malam. "I-itu, semalam Mommy digigit nyamuk. I-iya, nyamuk." alibi Dilara dengan pipi merona merah seperti udang goreng. Nyalinya seketika menciut mendengar pertanyaan tak terduga putrinya itu.
"Nyamuk?" Davina ikut menimpali dengan raut kebingungan. "Perasaan tidak ada nyamuk," imbuhnya.
__ADS_1
"Ada sayang, nyamuknya cuma satu. Besar dan nakal, makanya Mommy digigit." ucap Dilara untuk meyakinkan kedua putrinya.
Dafa yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sembari melirik Dilara, dia tidak menyangka ternyata kedua putrinya lebih kejam dari penyidik. Dilara saja bisa mati kutu dibuatnya.
"Ya sudah, kita mandi dulu yuk! Mommy juga mau mandi biar gatal-gatal di lehernya hilang." ajak Dafa mengalihkan pembicaraan, dia mulai kasihan melihat Dilara yang merasa tersudutkan.
"Mandi sama Daddy ya," sahut keduanya serentak.
"Iya, mandi sama Daddy." angguk Dafa kemudian menggendong keduanya.
Dafa membawa kedua putrinya ke kamar depan dan masuk ke kamar mandi yang ada di sana, sedangkan Dilara sendiri bergegas memasuki kamar mandi yang ada di dapur dan lekas membersihkan diri.
Sejenak dia termangu saat mematut tubuhnya dari pantulan cermin. Dia menyentuh beberapa bagian lehernya yang memerah, bahkan kedua gunung miliknya juga mendapatkan jejak yang sama. Segitu gilanya Dafa sehingga membuat tubuhnya seperti macan tutul.
"Dasar gila!" gumam Dilara mengulum senyum. Meski dia sadar tengah berada di posisi yang salah, tapi dia sama sekali tidak menyesal melakukannya, dia memang sudah lama sekali menginginkan hal ini.
Usai membersihkan diri, Dilara keluar hanya menggunakan handuk yang melilit di dada lalu masuk ke kamar depan. Kebetulan Dafa dan kedua bidadarinya juga baru selesai membersihkan diri.
Beruntung siang kemarin Dafa sudah berbelanja beberapa barang kebutuhan putrinya. Keduanya nampak rapi dengan pakaian baru.
"Divana sama Davina tunggu di luar ya, sebentar lagi Daddy dan Mommy menyusul!" ucap Dafa.
Setelah kedua bocah gembul itu menghilang, Dafa dengan cepat menutup pintu. Dilara pun termundur saat menyaksikan tatapan Dafa yang tak biasa.
"Mas..." gumam Dilara saat Dafa menangkap pinggangnya, pipi Dilara mendadak merah dengan sorot mata mengabut.
"Hmm..." gumam Dafa dengan sebelah tangan yang meliuk-liuk meremas bokong Dilara.
"Jangan Mas, ini sudah kesiangan. Aku harus menyiapkan sarapan untuk si kembar." desis Dilara dengan nafas tercekat di tenggorokan.
Mendengar itu, Dafa pun tertawa terbahak-bahak. Ternyata sangat menyenangkan sekali menggoda gadis nakalnya itu, apalagi melihat pipi merah Dilara yang sudah seperti tomat. Setelah menghentikan tawanya, Dafa menyesap bibir basah Dilara dengan rakus.
"M-Mas..." keluh Dilara dengan susah payah.
Dafa pun menghentikan aksinya dan mengecup kening Dilara dengan sayang, kemudian memeluknya erat.
"Usai sarapan nanti kita ke rumah kamu ya. Aku mau minta izin sama Papa, aku ingin kita rujuk secepatnya. Aku tidak bisa menahan ini lebih lama, aku bisa gila Dila." ucap Dafa.
__ADS_1
"Iya, sekarang lepasin aku dulu." angguk Dilara.
Setelah Dafa melepaskan pelukannya, dia membuka pintu lemari dan mengambilkan pakaian untuk Dilara. Meski sudah lima tahun berlalu, dia masih menyimpan rapi pakaian Dilara yang tertinggal waktu itu. Bahkan saat masih bersama Mega, dia tidak mengizinkan wanita itu menyentuh barang-barang milik Dilara.
"Kamu masih menyimpannya?" Dilara mengerutkan kening bingung saat Dafa menyodorkan baju miliknya.
"Tentu saja, itu karena aku sangat yakin bahwa cintaku pasti kembali." Dafa mengulas senyum dan mengacak rambut Dilara gemas. "Ayo, sekarang pakai bajunya! Aku sudah lapar, aku rindu sekali dengan masakan istriku tercinta." imbuh Dafa, kemudian ikut mengenakan pakaiannya.
Setelah mengenakan pakaian dan merapikan penampilan, keduanya meninggalkan kamar dengan senyum merekah di wajah masing-masing.
Dafa kemudian menghampiri kedua putrinya yang tengah bermain di halaman, sedangkan Dilara langsung ke dapur menyiapkan sarapan.
"Dad, Divana mau jambu itu." bocah berambut keriting itu menunjuk pohon jambu yang ada di sudut halaman.
"Davina juga mau, Dad." imbuh kembaran Divana.
"Masih pagi sayang, kalian bisa sakit perut. Tunggu Mommy selesai masak dulu ya, habis sarapan nanti Daddy ambilkan." ucap Dafa.
"Mmm..." kedua kurcaci itu melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut.
"Loh, kok cemberut gitu sih? Jelek tau," seloroh Dafa sambil mencubit pipi bakpao keduanya bersamaan.
"Daddy jahat," seru keduanya serentak.
"Masa' sih? Kapan Daddy jahat sama kalian?" Dafa menyipitkan mata heran.
"Barusan, enak saja bilang kami jelek." ketus Divana membuang muka.
"Yang jelek itu Daddy, bukan kami." timpal Davina menggembungkan pipi.
Mendengar itu, Dafa lantas tertawa terbahak-bahak. Dia sama sekali tidak tau bahwa kedua putrinya tidak suka dibilang jelek.
Terlalu banyak momen berharga yang terlewat begitu saja, sehingga Dafa tidak mengerti apa yang disukai dan apa yang tidak disukai kedua putrinya.
"Maafin Daddy ya, Daddy cuma bercanda." lirih Dafa dengan tatapan sendu, lalu menekuk wajah menghadap tanah.
Divana dan Davina saling melirik satu sama lain, kemudian mengangkat dagu sang daddy. "Tidak, Daddy tidak salah. Daddy jangan sedih ya," ucap keduanya berjamaah, lalu berhamburan ke pelukan Dafa.
__ADS_1
"Tidak sayang, Daddy tidak sedih. Daddy justru sangat bahagia karena kehadiran kalian berdua," tanpa terasa air mata itu jatuh berderai tanpa bisa dia tahan. Dafa mengusap punggung kedua putrinya itu dan mencium pipi mereka bergantian.