
Pukul tiga siang menjelang sore Dafa sudah tiba di depan kontrakan. Setelah turun dari mobil, dia menurunkan dua kantong besar berisi barang belanjaan yang baru saja dia beli di supermarket.
Ya, tadi Dafa sengaja mampir di sebuah pusat perbelanjaan. Dia membeli semua kebutuhan pokok tanpa terkecuali, semua lengkap mulai dari beras, minyak goreng, berbagai makanan cepat saji dan lain sebagainya.
Tidak lupa pula dia membeli perlengkapan mandi dan beberapa barang yang dibutuhkan Dilara dan kedua putrinya.
"Daddy..." pekik Davina dan Divana menyambut kedatangan Dafa.
"Sayang..." sahut Dafa mengulas senyum. Setelah menaruh barang belanjaan di dapur, dia pun menggendong kedua bocah itu lalu mencium pipi gembul keduanya bergantian.
"Daddy bawa apa itu?" tanya Divana manja.
"Itu, bahan makanan untuk kita makan nanti. Daddy tidak mau kedua putri cantik Daddy kelaparan." jawab Dafa.
"Oh ya, tadi Daddy juga beli kue untuk kalian. Ikut Daddy ke mobil yuk, tolong bantuin Daddy bawain ke dalam!" ajak Dafa, lalu membawa mereka ke luar.
Sesampainya di dekat mobil, Dafa menurunkan keduanya dan lekas membuka pintu. Dia kemudian mengambil dua box kue dan menaruhnya di masing-masing tangan si kembar. Lalu dia pun memikul karung beras memasuki rumah.
Setelah Dafa meletakkan karung itu di dapur, dia pun membantu si kembar membuka box kue yang mereka bawa. Kedua bocah itu nampak antusias sekali, mereka penasaran kue apa yang dibelikan Dafa untuknya.
"Yeay, black forest sama tiramisu. Makasih Daddy," seru keduanya kegirangan.
"Sama-sama sayang, makan yang banyak ya. Kalau kalian suka, nanti Daddy belikan lagi." sahut Dafa, kemudian mengacak rambut keduanya gemas.
Sesaat setelah kedua putrinya melahap kue tersebut, Dafa pun meninggalkan mereka barang sejenak. Dia masuk ke kamar dan mendapati Dilara yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mas sudah pulang?" tanya Dilara dengan tatapan tak biasa.
"Hmm..." gumam Dafa, kemudian membuka pakaian dan menggantungnya di belakang pintu.
Kini tubuh Dafa sudah polos dan hanya menyisakan celana pendek yang masih melekat di pinggang. Dia pun memasuki kamar mandi untuk mencuci muka.
Tidak lama kemudian, Dafa keluar dan mendapati kamar yang sudah kosong. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan Dilara sejak pertemuan mereka pagi tadi.
Dafa merasa sikap Dilara jauh berubah, tidak seperti dua hari yang lalu saat mereka masih berada di kediamannya.
Apa Dilara menyesal mengikuti keinginan hatinya? Entahlah, Dafa sendiri tidak tau jawabannya. Bagaimana bisa dia menebak jika Dilara saja begitu dingin terhadapnya. Dafa sendiri merasa serba salah dibuatnya.
Baru saja Dafa hendak berbaring, Divana tiba-tiba muncul dan berteriak memanggilnya. Dia urung merebahkan diri dan memilih mengikuti putrinya ke luar.
"Ayo Daddy, kita makan kuenya sama-sama!" ajak Davina saat menangkap kedatangan Dafa yang tengah ditarik oleh saudara kembarnya.
__ADS_1
"Tidak sayang, kalian saja yang makan bareng Mommy!" sahut Dafa, dia memilih masuk ke dapur dan menata barang belanjaannya tadi di kulkas. Ada juga yang disusun di rak dan meja makan.
"Daddy kenapa?" tanya Davina bingung.
"Aku juga tidak tau," jawab Divana yang ikut-ikutan kebingungan.
Melihat kedua putrinya mempertanyakan keanehan sang daddy, Dilara pun penasaran dan menyusul Dafa ke dapur.
Sadar akan kedatangan Dilara, Dafa lekas beranjak dan memilih masuk ke kamar. Dia tidak ingin berdebat didekat Davina dan Divana, dia juga tidak ingin kedua putrinya itu salah paham.
Sesampainya di kamar, Dafa langsung berbaring di atas kasur. Mungkin dengan istirahat sejenak bisa membuat hatinya tenang seperti sebelumnya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Dilara yang baru saja tiba di kamar. Dia juga tidak tenang melihat sikap dingin yang ditunjukkan Dafa padanya, terlebih di hadapan kedua putrinya.
"Tidak apa-apa, aku hanya lelah. Biarkan aku istirahat sejenak!" jawab Dafa dengan mata yang masih terpejam.
"Lelah kenapa? Apa kami membuatmu tertekan? Apa kehadiran kami-"
"Sssttt... Jangan bicara seperti itu!" Dafa membuka mata dengan cepat, kemudian bangkit dari pembaringan dan duduk di samping Dilara.
"Sepertinya kamu tidak nyaman dengan keberadaan kami, apa-"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak!" lirih Dafa mempererat pelukannya.
"Tapi kamu berubah Mas, kamu-"
"Tidak ada yang berubah, itu hanya perasaan kamu saja." potong Dafa menjelaskan.
"Bohong, Mas sepertinya-"
"Tidak sayang, Mas tidak bohong. Mas benar-benar lelah setelah bertemu Papa tadi," terang Dafa dengan nafas tercekat di tenggorokan.
"Papa?" Dilara mengulangi kata itu dan mendorong pundak Dafa, pelukan mereka terlepas seketika.
"Hmm... Papa curiga dan mencari Mas ke pabrik," ungkap Dafa apa adanya.
"Lalu?" Dilara menautkan alis.
"Seperti biasa," jawab Dafa enteng, kemudian merebahkan diri di kasur. Hembusan nafasnya terdengar berat.
"Papa memukul Mas lagi?" Dilara beringsut dan menatap Dafa dengan intim.
__ADS_1
"Hmm... Tidak apa-apa, cuma sekali doang." Dafa melipat tangan di bawah kepala dan menatap langit-langit kamar dengan sendu.
"Mas..." lirih Dilara sembari memeriksa setiap inci wajah Dafa.
"Sudah Mas bilang tidak apa-apa, jangan lebay gitu ih!" ucap Dafa mengulum senyum.
"Lebay bagaimana? Aku tau Mas hanya berpura-pura, sebenarnya Mas kesakitan kan?" ketus Dilara sambil mencengkeram sudut bibir Dafa.
"Kalau digituin jelas sakit lah, sayang. Gimana sih?" Dafa tidak bisa berbohong, kali ini dia memang merasakan sakit akibat sentuhan kasar Dilara.
"Nah, tuh kan? Tadi katanya tidak sakit," geram Dilara menajamkan tatapan.
"Iya, maksudnya tidak sakit kalau tidak disentuh." jelas Dafa terkekeh.
"Sama saja itu namanya," kesal Dilara, lalu memukul pundak Dafa jengkel.
"Hehehe... Iya, iya, maaf." ucap Dafa menahan tawa, lalu menarik Dilara hingga terbaring di atas dadanya. Dafa pun mendekap Dilara erat sembari memicingkan mata.
Sesaat suasana kamar mendadak hening, keduanya sempat terdiam dalam pemikiran masing-masing. Namun beberapa menit kemudian Dafa kembali membuka suara. "Papa sepertinya marah besar sama Mas."
"Kenapa?" tanya Dilara seraya menopang dagu di dada Dafa.
"Sudah jelas karena kehilangan kalian bertiga, kok masih nanya?" sahut Dafa dengan pandangan menggelap.
"Lalu bagaimana?" tanya Dilara mengernyit.
"Entahlah, semua tergantung kamu." Dafa mengangkat bahu dengan bibir mencebik.
"Ya sudah, kalau begitu pulangkan saja kami bertiga ke rumah Papa." Dilara berkata dengan enteng tanpa rasa bersalah sedikitpun. Hal itu membuat Dafa terkejut, dadanya mendadak ngilu bak ditikam dengan tombak runcing. Dia bahkan tidak sanggup berkata apa-apa selain menjauh dari Dilara.
Entah Dilara serius atau hanya sekedar bercanda, yang pasti ucapannya itu terlalu menyakitkan untuk Dafa.
Jika ujung-ujungnya harus mengembalikan mereka pada Dirgantara, kenapa Dilara begitu tega memberinya harapan sebesar ini? Apa Dilara sengaja ingin membalas rasa sakit yang Dafa ciptakan di masa lalu?
"Ya sudah, kalau begitu bersiaplah. Aku akan mengantar kalian pulang sekarang juga." lirih Dafa menitikkan air mata, lalu mengambil pakaian yang tergantung di belakang pintu.
"Apa Mas yakin?" tanya Dilara memastikan.
"Lalu aku harus bagaimana, Dila? Mungkin sudah saatnya aku sadar, pria sepertiku jelas tidak pantas bersama kalian. Aku bahkan tidak memiliki kesanggupan memberikan kehidupan yang layak untuk kalian bertiga."
Setelah mengatakan itu, Dafa meninggalkan kamar dengan langkah terhuyung. Jika ini yang diinginkan Dilara, lalu apa yang bisa dia lakukan?
__ADS_1