
"Mommy..." sorak Davina dan Divana serentak, keduanya berlarian memasuki dapur dan berebutan memeluk pinggang Dilara.
Wanita cantik itu tiba-tiba terkekeh melihat kelakuan menggemaskan kedua putri kecilnya, kemudian memilih berjongkok mensejajarkan posisi mereka. Tidak lama setelah itu, Dafa pun menyusul kedua bocah itu ke dapur.
"Wah, putri Mommy sudah pada mandi ya. Wangi sekali," sanjung Dilara sembari tersenyum lalu memeluk dan mencium pipi keduanya bergantian.
"Sudah dong Mom, cantik kan? Daddy loh yang mandiin kami barusan, memakaikan baju, menyisir rambut dan membedaki pipi kami berdua hingga cantik." jawab Davina dengan polos, segitu bahagianya dia mengatakan semua itu sambil menunjuk Dafa yang tengah berdiri di dekat kompor.
Dilara yang mendengar itu seketika mendongak ke arah Dafa yang berada tepat di sampingnya. Dia kembali tersenyum melihat Dafa yang tengah menggantikannya mengaduk nasi goreng agar tidak gosong.
Lagi-lagi hati Dilara mencelos mendapati Dafa yang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Dafa begitu sayang dan perhatian terhadap kedua putrinya. Rasanya Dilara ingin menangis sejadi-jadinya mengingat kebodohan yang pernah dia lakukan di masa lalu.
Dafa mungkin pernah bersalah dan menyakitinya berulang kali tapi dalam urusan anak, Dafa mampu menunjukkan bahwa dia merupakan sosok ayah yang sangat bertanggung jawab terhadap kedua darah dagingnya.
Dilara pun terdiam sejenak. Andai saja waktu itu dia tidak mengalah dan menjauh dari kehidupan Dafa, mungkin kedua putrinya tidak akan pernah kehilangan kasih sayang seorang ayah.
Ya, kini Dilara sadar, banyak sekali kekhilafan yang sudah dia perbuat sebelumnya. Tidak hanya menjadikan dirinya sebagai orang ketiga di dalam rumah tangga Dafa dengan Mega, dia bahkan begitu tega memisahkan dua orang anak dari bapaknya.
Entahlah, rasanya Dilara ingin sekali menjerit menyesali perbuatannya yang selalu saja ceroboh dalam bertindak.
Lama termangu dalam pemikirannya, dia pun mengerjap dan menghela nafas dalam-dalam. "Ya sudah, sekarang kalian berdua tunggu Mommy di meja makan dulu ya! Mommy mau menyelesaikan pekerjaan Mommy sebentar,"
Setelah mengatakan itu, Dilara bangkit dari jongkoknya, kemudian menggandeng tangan kedua bocah itu dan membawa mereka ke meja makan, lalu mendudukkan keduanya di kursi.
"Jangan lama-lama ya Mom, Divana sudah lapar." ucap bocah berambut keriting itu.
"Davina juga lapar, Mom." sambung saudara kembar Divana itu.
"Iya sayang, lima menit lagi ya." sahut Dilara mengacungkan lima jari, lalu berbalik dan lekas memasuki dapur.
Baru saja Dilara hendak mengambil alih pekerjaannya yang sempat tertunda, Dafa tiba-tiba menyodorkan sebuah mangkok berisi nasi goreng ke tangannya. "Ini, bawa ke depan dulu!" ucap Dafa, dia pun ikut membawakan piring yang berisikan telur ceplok dan sosis menuju meja.
__ADS_1
Sesaat setelah keduanya menaruh mangkok dan piring itu di atas meja makan, Dafa kembali ke dapur mengambil piring dan sendok lalu balik ke meja untuk mengisi perut.
"Yeay, ada telur ceplok." seru Divana kegirangan.
"Ada sosis juga," sambung Davina tak kalah senang.
"Iya, sekarang waktunya makan." timpal Dafa mengukir senyum ke arah Dilara, dia sedang menunggu istrinya itu mengisikan makanan ke piringnya.
Ya, Dilara langsung paham maksud Dafa. Setelah mengangguk pelan, dia pun dengan cepat mengisi piring Dafa, Divana dan juga Davina dengan nasi goreng buatannya. Masing-masing piring diberi satu telur dan satu sosis yang sudah digoreng. Mereka berempat mulai makan setelah itu.
"Mom..." panggil Divana usai menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya.
"Iya sayang, kenapa? Mau nambah lagi?" terka Dilara menatap lekat pada putrinya itu.
"Tidak Mom, Divana sudah kenyang." bocah itu menggelengkan kepala, lalu mencuil lengan Davina yang juga sudah selesai menghabiskan makanan di piringnya. Davina kemudian mengangkat bahu seolah-olah tidak mengerti maksud isyarat yang ditunjukkan kembarannya.
"Kapan kami berdua bisa sekolah lagi, Mom?" tanya Divana langsung ke intinya. Tadi dia dan Davina sudah membahas ini di kamar mereka. Keduanya rindu suasana sekolah seperti di Singapura sebelumnya, mereka juga ingin kembali bergaul dengan anak-anak seusianya.
Mendengar itu, Dilara tiba-tiba terdiam. Dia sebenarnya juga ingin memasukkan kedua putrinya ke sekolah yang baru, tapi keadaan belum memungkinkan untuk mewujudkannya.
Dia tidak ingin dipisahkan lagi dengan Dafa. Dia sudah sangat nyaman dan bahagia berada di sisi suaminya itu. Dilara tidak akan sanggup berjauhan setelah melewati hari-hari yang begitu indah bersama pria yang sangat dia cintai itu.
"Kalian yakin ingin sekolah?" tanya Dafa memastikan sambil menatap lekat kedua putrinya bergantian.
"Iya Dad," angguk kedua bocah itu bersamaan.
"Baiklah, nanti Daddy urus semuanya." ucap Dafa dengan penuh keyakinan.
Berbeda dengan Dilara, Dafa justru terlihat santai tanpa beban sedikitpun. Dia bahkan tidak gentar jika harus berhadapan dengan Dirgantara seperti sebelumnya.
Menurut Dafa, bersembunyi seperti ini bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Apapun caranya, dia akan berusaha keras memperjuangkan haknya terhadap anak dan istrinya, dia pun akan mencoba mendapatkan restu Dirgantara kembali.
"Yeay... Makasih Dad, Daddy memang yang terbaik." sorak kedua bocah itu kegirangan. Saking bahagianya, mereka langsung berhamburan dari tempat duduk dan memeluk tengkuk Dafa erat lalu mencium setiap sisi pipi sang daddy dengan sayang.
__ADS_1
"Tapi, Mas-"
"Sssttt..."
Dilara ingin bicara tapi ucapannya langsung dipotong oleh Dafa.
Ya, Dafa tidak akan pernah melarang putrinya untuk bersekolah. Dia akan mencari sekolah yang layak untuk keduanya dan mengurus segala sesuatunya sesegera mungkin.
Sebagai seorang ayah, sudah menjadi tanggung jawabnya menyekolahkan mereka berdua. Apalagi ini merupakan permintaan putrinya sendiri, Dafa tidak mungkin mengecewakan mereka berdua.
Usai menandaskan sarapannya, Dafa meninggalkan meja makan dan langsung masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Sebelum ke pabrik dia akan mengunjungi sekolah Dion dulu dan membicarakan ini dengan kepala sekolah. Kebetulan sekolah itu merupakan salah satu yang terbaik di sekitaran sana.
Lima belas menit kemudian, Dafa keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Dia mengenakan kemeja panjang berwarna cream dan celana hitam yang cukup elegan di tubuh proporsional miliknya. Sangat tampan dan terlihat mempesona.
Sebelum meninggalkan rumah, Dafa berjalan menghampiri Dilara yang masih berkutat mencuci piring kotor di dapur.
Tanpa Dilara sadari, ternyata Dafa sudah berdiri di belakangnya dan spontan memeluk perutnya. Saking kagetnya, hampir saja piring yang dia pegang terlepas dari tangannya.
"Aaa..." pekik Dilara dengan jantung berdegup kencang, lalu mengelus dada perlahan.
"Hehe... Maaf, sayang." desis Dafa tepat di telinga istrinya itu, lalu menciumnya lembut.
Setelah sadar bahwa itu kelakuan suaminya, Dilara langsung berbalik dan menilik penampilan Dafa dari ujung rambut hingga ujung kaki, matanya menyipit menyaksikan ketampanan Dafa yang membuatnya terpesona.
Tanpa ragu, Dilara lantas mengalungkan tangannya di tengkuk Dafa. "Tampan sekali, mau kemana?" tanya Dilara dengan tatapan tak biasa, jantungnya berdebar-debar saat bibirnya semakin dekat dengan bibir Dafa.
"Hmm... Kasih tau gak ya?" jawab Dafa enteng, namun mampu membuat air muka Dilara bersungut-sungut seketika itu juga.
"Ya sudah, kalau begitu pergilah! Untuk apa nyempil di sini? Ganggu orang kerja saja," ketus Dilara sembari menarik tangannya dari tengkuk Dafa lalu mendorong dada suaminya itu sedikit kasar.
Setelah berhasil menjauhkan diri dari Dafa, Dilara bergegas meninggalkan dapur dan bergabung dengan kedua putrinya yang tengah bermain di ruang tamu. Dilara seketika mengerucutkan bibir dan membuang muka saking jengkelnya pada Dafa.
Tidak lama, Dafa juga tiba di ruang tamu. Dia mengukir senyum ketika mendapati raut wajah Dilara yang sangat menggemaskan. Ingin sekali dia menggigit bibir basah itu detik ini juga, tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan mengingat ada Divana dan Davina di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
Dafa hanya bisa menghela nafas dan menggaruk kepala yang tidak gatal kemudian memilih pergi setelah berpamitan dan mencium pipi ketiga perempuan kesayangannya itu.