
Sekitar pukul delapan pagi, mobil Dafa tiba di depan sebuah bangunan tempat Dion bersekolah tempo hari. Sedikit perasaan gundah mulai menghantui jiwanya kala teringat dengan bocah laki-laki yang pernah dia besarkan selama empat tahun lebih itu.
Ya, dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya Dafa masih sangat menyayangi bocah itu, dia juga sangat merindukannya. Hanya saja pengkhianatan dan kebohongan yang dilakukan Mega membuatnya sangat kecewa dan marah.
Tidak terbilang betapa bahagianya dia saat pertama kali mengetahui bahwa Mega melahirkan bayi laki-laki yang imut dan tampan, namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa tahun saja setelah mengetahui kenyataan sebenarnya.
Jika Dafa boleh memilih, dia ingin sekali Dion tetap berada di sisinya tapi pada hakikatnya dia tidak punya hak atas anak itu. Dion memang lahir saat dia masih resmi berstatus suami Mega tapi bukan dia yang menanam benih itu di rahim mantan istrinya.
Setelah terdiam cukup lama, Dafa mengerjap sambil mengusap wajah dengan kasar. Sepertinya dia tidak jadi mendaftarkan kedua putrinya di sekolah itu, terlalu banyak kenangan yang nantinya akan menghancurkan dirinya sendiri.
Dia tidak ingin memikirkan sesuatu yang jelas-jelas bukan tanggung jawabnya lagi. Sekarang sudah ada Divana dan Davina yang mampu mengobati kekecewaan dan rasa sepi yang pernah membelenggu hatinya. Dia ingin fokus pada keluarga kecilnya, tidak ada lagi hal yang lebih penting daripada itu.
Kemudian Dafa melanjutkan perjalanannya menuju sekolah lain, dia tidak ingin terikat dengan masa lalu yang begitu pahit. Cukup mengenang masa-masa itu, sekarang kehidupannya sudah berbeda.
Satu jam berlalu, tibalah Dafa di depan gerbang sekolah yang baru saja dia searching melalui mbah google. Sekolah terbaik tempat kalangan atas menyekolahkan putra putri mereka.
Ya, meski terbilang sedikit memaksakan diri tapi Dafa yakin dia mampu mewujudkan keinginan kedua putrinya. Dengan begitu, dia akan semakin bersemangat mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membahagiakan mereka.
Setelah mempertimbangkan niatnya masak-masak, Dafa turun dari mobil dan masuk ke lingkungan sekolah itu. Dia langsung mencari ruangan kepala sekolah untuk menyampaikan niat awalnya yang ingin menyekolahkan si kembar di sana.
Dari ruangan kepala sekolah, dia diarahkan menuju ruangan guru. Di sanalah dia akan mengisi formulir pendaftaran dan harus menyerahkan dokumen pribadi yang diperlukan.
Akan tetapi, Dafa terpaksa berjanji untuk memberikan dokumen itu belakangan. Dia hanya meninggalkan KTP sebagai jaminan. Dia beralasan belum selesai mengurus surat-surat itu karena baru saja pulang dari luar negeri. Dia sedikit memohon agar kedua putrinya diperbolehkan sekolah terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah mempertimbangkan permintaan Dafa, pihak sekolah akhirnya setuju memberikan sedikit keringanan dan memberi waktu satu bulan sampai semua dokumen itu selesai diurus.
Selepas mencapai kesepakatan, Dafa langsung menyerahkan sejumlah uang sebagai tanda bahwa kedua putrinya sudah mendaftar di sekolah itu. Dia juga mendapatkan beberapa pasang seragam sekolah untuk Divana dan Davina.
Sekitar pukul sebelas menjelang siang, Dafa sudah tiba di pabrik dan mulai bekerja seperti biasa. Sejak menjadi manager pabrik, dia memang tidak terikat seperti dulu lagi. Dia bahkan mampu mengembangkan pabrik roti itu dengan kelihaiannya di bidang produksi. Sekarang roti bermerek Inti Sari itu sudah merebak hingga ke luar kota. Semua itu berkat kerja keras Dafa yang sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya.
Sekitar pukul dua siang, Dafa keluar dari ruangannya. Hari ini dia akan bertemu dengan pemilik pabrik yang sudah tiba sejak satu jam yang lalu.
"Aku menginginkan pria itu dipecat dari jabatannya. Dia tidak akan mampu menjadi seorang manager, dia tidak memiliki pengalaman di bidang itu."
"Kenapa? Apa dia membuat masalah denganmu? Selama ini kinerjanya sangat bagus, aku tidak mungkin memecatnya tanpa alasan yang jelas."
"Tidak usah tau apa masalahku dengannya, intinya aku ingin dia dikeluarkan dari pabrik ini!"
"Tapi-"
"Sekali lagi aku minta maaf, jaman sekarang sangat sulit mencari seseorang yang bertanggung jawab seperti dia. Aku tidak bisa memecatnya hanya karena masalah pribadi diantara kalian berdua. Itu tidak ada hubungannya denganku, jadi tolong mengertilah!"
Dari balik pintu yang ternganga sedikit, Dafa mendengar obrolan dua pria paruh baya itu dengan sangat jelas. Seketika dia tersenyum getir, segitu bencinya Dirgantara padanya sehingga mengintimidasi pemilik pabrik untuk mengeluarkannya dari pekerjaan yang sudah lima tahun dia geluti.
Dafa benar-benar tidak menyangka bahwa Dirgantara bisa sampai selicik ini. Bukankah seharusnya tidak perlu mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan? Rasanya akan sangat sulit bagi Dafa mendapatkan restu dari pria keras kepala itu.
Padahal Dafa baru saja berpikir untuk membawa Dilara dan kedua putrinya mengunjungi kediaman Dirgantara, namun setelah mendengar ini dia pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Dafa pun meninggalkan pintu ruangan itu dan memilih menunggu di parkiran. Dia ingin berbicara empat mata dengan Dirgantara sekali lagi. Sudah cukup dia bersabar dan mengalah demi kebaikan anak dan istrinya. Kini Dafa tidak bisa menunggu lagi.
Selang beberapa menit saja, Dirgantara sudah tiba di parkiran. Keduanya langsung bertatap muka, Dafa pun menghampirinya dengan senyum seribu arti.
"Siang Tuan Dirgantara yang terhormat," sapa Dafa dengan suara baritonnya yang tebal, garis bibirnya sedikit melengkung membentuk senyuman tipis. "Bagaimana? Apa rencana Anda berhasil untuk menyingkirkan aku dari pabrik ini?" Dafa mengatakan itu dengan penuh penekanan. Jika saja Dirgantara bukan mertuanya, entah apa yang akan terjadi dengan pria itu saat ini.
Mendengar cara bicara Dafa yang sedikit angkuh, sontak Dirgantara menatapnya dengan tajam. Berani sekali menantunya itu menentangnya setelah apa yang terjadi diantara mereka.
"Aku sempat berpikir untuk membawa anak dan istriku pulang ke rumahmu, aku ingin meminta maaf dan meminta restu darimu. Sayang, aku tidak akan pernah melakukan itu setelah tau bagaimana sifat aslimu yang sebenarnya, aku tidak habis pikir dengan manusia egois sepertimu." tegas Dafa dengan tangan mengepal. Beruntung otaknya masih waras sehingga masih bisa berpikir dengan jernih.
Dirgantara yang mendengar itu sontak mendekat dan mencengkeram kerah kemeja Dafa. "Bajingan, dimana kamu menyembunyikan putri dan kedua cucuku?" berang Dirgantara meninggikan suara.
"Aku tidak pernah menyembunyikan mereka dari siapapun. Aku suaminya, kami sudah rujuk dan akulah yang lebih berhak atas mereka." Dafa mengukir senyum miring sembari menyingkirkan tangan Dirgantara dari lehernya.
"Ingat Tuan, aku sudah berulang kali meminta maaf pada Anda, tapi Anda sendiri yang memilih jalan ini. Maka jangan salahkan aku jika benar-benar melarang mereka bertemu dengan Anda. Lagian tanpa kehadiran Anda pun, hidup kami sudah sangat bahagia. Kami tidak butuh orang egois seperti Anda!" tukas Dafa, lalu meninggalkan Dirgantara setelah mengatakan itu.
Dafa kembali masuk ke dalam pabrik dengan langkah besar, dia benar-benar marah karena Dirgantara masih saja berkukuh dengan pendiriannya. Dafa takut kehilangan kendali hingga memutuskan pergi dari hadapan mertuanya itu.
Sedangkan Dirgantara yang tinggal sendirian nampak terpaku di tempatnya berdiri. Dia tidak menyangka bahwa Dafa akan seberani itu menentangnya.
Setelah bergeming cukup lama, Dirgantara lekas masuk ke dalam mobil dan menghubungi seseorang. Dia menugaskan orang itu untuk membuntuti Dafa kemanapun dia pergi, lalu meminta Wahyu mengantarnya pulang.
Sementara Dafa sendiri sudah tiba di ruangan bos tempatnya bekerja dan berbicara banyak tentang pertumbuhan pabrik yang Dafa kelola sejak beberapa tahun terakhir ini.
__ADS_1