Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
49. Permintaan Maaf Dafa


__ADS_3

Setelah Dilara menghilang dari pandangannya, Dafa memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Enak saja Dilara mengusirnya, dia tidak akan terjebak lagi dalam keegoisan istrinya itu.


Setengah jam berlalu, Dafa meraih handuk setelah menyelesaikan ritual mandinya. Setelah membalutnya di pinggang, dia berjalan ke dekat wastafel dan menggosok gigi di sana.


Tengah asik membersihkan sela-sela giginya, mata Dafa tak sengaja mengarah pada tong sampah yang sudah hampir penuh. Keningnya mengernyit mendapati sesuatu yang aneh di dalam sana.


Segera Dafa berkumur-kumur dan berjongkok di bawah sana.


"Deg..."


Dafa terperanjat dengan mata membulat sempurna, kakinya tiba-tiba bergetar hingga bokongnya terhenyak di lantai. Aliran darahnya berpacu dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang.


Tanpa terasa, bening kristal di sudut matanya menggenang dan jatuh begitu saja. Dafa kemudian mengusap dada dan menyeka wajah dengan kasar.


Usai mengenakan pakaian dan menyisir rambut, Dafa meninggalkan kamar dan masuk ke dapur. Setelah menuang air ke dalam gelas, dia menyeruputnya sampai tandas.


Lalu Dafa meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar si kembar.


"Daddy..." sapa Davina dan Divana ketika menangkap penampakan Dafa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Sssttt..." Dafa menaruh jari telunjuknya di bibir. Dia tidak ingin mengganggu Dilara yang tengah tertidur pulas di atas ranjang. Kedua bocah itupun menutup mulut dengan cepat lalu menyusul Dafa ke pintu.


"Kasihan Mommy Dad, dua hari ini badan Mommy tidak enakan. Mommy suka mual dan muntah tanpa sebab yang jelas. Kita bawa Mommy ke rumah sakit yuk, Dad!" ucap Divana dengan polos.


"Iya Dad, Mommy bahkan sudah dua hari tidak makan. Kami tidak mau Mommy kenapa-kenapa, kalau Mommy meninggal kami sama siapa?" sambung Davina menitikkan air mata.


Seketika tulang belulang Dafa terasa lepas dari sendinya saat mendengar ucapan kedua buah hatinya itu. Bisa-bisanya dia bertindak bodoh meninggalkan mereka bertiga hanya karena permasalahan sepele yang tidak seharusnya terjadi.


Dengan tangan gemetaran, Dafa memeluk kedua putrinya itu dengan perasaan pilu, air matanya ikut mengalir seiring penyesalan yang teramat dalam di lubuk hatinya.


Dua kali.


Ya, dua kali sudah Dafa membuat kesalahan yang sama dengan menelantarkan istri yang tengah mengandung darah dagingnya. Hatinya semakin teriris mengingat kebobrokannya yang hakiki.


"Maafin Daddy ya Nak, semua ini salah Daddy." desis Dafa dengan air mata dan ingus yang mengalir bersamaan di wajahnya.

__ADS_1


"Makanya Daddy tidak usah pergi ke luar kota lagi, Mommy sedih terus kalau tidak ada Daddy." ucap Divana gamblang.


"Hmm... Daddy tidak akan pergi lagi, Daddy janji." angguk Dafa menahan isaknya yang tak lagi dapat dibendung.


"Ya sudah, kami mau main dulu. Tolong jagain Mommy, jangan buat Mommy menangis lagi!" ucap Davina dengan sedikit penekanan.


"Iya, Daddy janji." angguk Dafa lagi.


Setelah kedua bocah itu menjauh dari pandangannya, Dafa menutup pintu dan berjalan dengan langkah sempoyongan. Dia mematut Dilara yang kini masih tertidur dengan pulas dan memilih berbaring di sampingnya.


Kemudian Dafa merentangkan sebelah tangan dan mengangkat kepala Dilara. Dia menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk istrinya dan mendekapnya dengan erat sambil sesekali mengecup pucuk kepalanya.


Dilara yang masih tertidur sontak memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di ketiak Dafa.


"Maafin Mas sayang, Mas memang bodoh." gumam Dafa berurai air mata. Hancur hatinya melihat pengorbanan Dilara yang begitu besar memperjuangkan buah hati mereka, dia saja yang tidak tau diri sebagai seorang suami.


Sekitar setengah jam berlalu, Dilara terbangun dari tidurnya. Setelah kesadarannya kembali dengan sempurna, dia menyipitkan mata mendapati Dafa yang begitu dekat dengan dirinya, bahkan tanpa jarak.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Dilara tersenyum getir.


"Tidak usah pegang-pegang!" Dilara menyingkirkan tangan Dafa dari pipinya dengan kasar.


"Jangan ngambek gitu dong sayang, nanti cantiknya hilang!" seloroh Dafa mencairkan suasana.


"Biarkan saja! Untuk apa jadi orang cantik kalau ujung-ujungnya hanya untuk ditinggalkan?" ketus Dilara dengan tatapan masam.


"Hehe... Tidak ada yang akan meninggalkan kamu. Mulai hari ini Mas tidak akan jauh-jauh dari kamu, kemanapun Mas pergi, Mas akan membawa kamu, bahkan ke toilet sekalipun." seloroh Dafa tertawa kecil.


"Ngapain ke toilet? Emangnya aku tisu?" geram Dilara dengan bibir mengerucut.


"Hehehe... Bisa saja kamu," kembali Dafa terkekeh dan mengecup kening Dilara dengan sayang.


"Sudah cukup, sekarang lepaskan aku! Aku mau pergi dari sini," Dilara mencoba menggeliat sambil mendorong dada Dafa. Namun semakin Dilara mencoba menghindar, semakin kuat pula Dafa membelit tubuhnya.


"Bukankah sudah Mas bilang, Mas tidak akan jauh-jauh dari kamu." jelas Dafa.

__ADS_1


"Ngomong mah gampang, tapi kenyataannya apa? Kamu tetap saja meninggalkan aku," lirih Dilara yang akhirnya menangis dalam pelukan Dafa.


"Maafin Mas ya, Mas ngaku salah. Tapi pada kenyataannya Mas tidak pernah meninggalkan kamu. Setiap hari Mas ada di sini bersama kalian. Mulai jam tiga sore sepulang dari pabrik Mas sudah standby di depan, terus paginya Mas baru pergi lagi untuk bekerja, pulangnya Mas kembali lagi ke sini, begitu setiap harinya." ungkap Dafa.


"Jahat kamu Mas," Dilara memukuli dada Dafa dengan membabi buta, dia marah karena Dafa tidak menemuinya selama ini.


"Kamu benar, Mas memang jahat. Mas siap dihukum atas kesalahan yang sudah Mas lakukan, kamu boleh melakukan apa saja sama Mas." desis Dafa yang sudah siap menerima konsekuensi atas kebodohannya.


"Aku ingin mencincang kamu Mas, lalu aku masak dan aku makan sampai habis." geram Dilara dengan gigi bergemeletuk.


"Boleh, Mas tidak keberatan. Tapi sebelum itu Mas boleh kan meminta sesuatu?" ucap Dafa gamblang.


"Apa?" Dilara menautkan alis bingung.


"Mas mau memakan kamu terlebih dahulu, Mas rindu kamu sayang." jawab Dafa dengan suara berat dan nafas tak beraturan.


"Tidak boleh," geleng Dilara dengan bibir mencebik.


"Dila, sekali saja sayang. Setelah itu Mas akan pergi dengan tenang, kamu boleh melanjutkan hidup kamu dengan pria yang jauh lebih baik dari Mas. Mas ikhlas, kamu pasti akan bahagia setelah ini." lirih Dafa dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar itu, hati Dilara terasa perih bak dihujam beribu pedang. Mana mungkin dia akan bahagia tanpa Dafa, dia juga tidak akan sanggup melanjutkan hidup tanpa pria yang sangat dicintainya itu.


"Tapi aku tidak mau pria lain, aku ingin kamu Mas. Aku hanya ingin bersama kamu," Dilara menitikkan air mata dan memeluk Dafa dengan erat.


"Tolong jangan pergi lagi, aku tidak bisa menjalani hidup ini tanpa kamu. Aku bisa gila," isak Dilara di dada Dafa.


"Mas juga tidak bisa hidup tanpa kamu, Mas sangat mencintai kamu. Mas bisa mati tanpa kamu," sahut Dafa mengencangkan pelukannya.


"Hiks..." Dilara terisak sesenggukan.


"Sekali lagi Mas minta maaf, Mas janji tidak akan menjadi suami bodoh lagi. Mas akan tetap di samping kamu apapun yang terjadi." ucap Dafa penuh keyakinan.


"Janji?" Dilara mencoba memastikan, dia mendongak mematut wajah Dafa.


"Iya sayang, Mas janji." angguk Dafa, lalu mendaratkan ciuman ciuman kecil di wajah Dilara dan berakhir di bibirnya. Dafa melu*matnya dengan penuh kelembutan hingga Dilara hanya bisa pasrah menikmatinya.

__ADS_1


__ADS_2