Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
26. Kelakuan Si Kembar


__ADS_3

"Divana, kamu jangan bikin aku bingung dong. Bukankah kata Daddy akan menjemput kita besok? Kalau begitu tunggu saja!" ucap Davina kepada saudara kembarnya itu. Kini keduanya tengah duduk di pojokan taman samping rumah. Davina pun melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut.


"Kalau begitu tunggu saja sampai besok, aku maunya sekarang!" cetus Divana membuang muka, pipinya menggembung dengan netra memerah menitikkan air mata.


"Tapi Daddy bilangnya besok, Divana. Percuma juga ditunggu sekarang, Daddy tidak akan datang," jelas Davina.


"Itu karena Daddy takut sama Mommy, makanya Daddy pergi begitu cepat. Apa kamu tidak lihat bagaimana Daddy melihat Mommy tadi? Daddy itu sayang sama Mommy, Daddy juga sayang sama kita, tapi Mommy-nya saja yang cuek." keluh Divana.


"Itu bukan urusan kita Divana, itu masalah orang dewasa. Tidak boleh ikut campur," kata Davina.


"Kalau kita tidak ikut campur, mereka tidak akan pernah baikan. Kamu mau seperti Aila, dioper sana sini sama kedua orang tuanya." tegas Divana.


"Tidak," geleng Davina lemah.


"Makanya, sekarang bantu aku biar Daddy tidak menjauh dari kita!" tekan Divana.


"Caranya bagaimana?" tanya Davina bingung.


"Sini!" Divana menarik tangan Davina dan membawanya duduk di kursi panjang kemudian berbisik di telinga saudara kembarnya itu.


Sekitar lima menit kemudian, keduanya mengulas senyum licik dan menautkan jari kelingking.


"Ayo masuk!" ajak Divana, lalu tangan mungil itu saling bergandengan dan berjalan memasuki rumah.


...****************...


Pukul tujuh malam, Divana sengaja berendam menggunakan air dingin sampai tubuhnya pucat pasi. Tidak lama kemudian, dia menyalakan AC dengan suhu terdingin.


"Cukup, tolong kecilkan ACnya!" kata Divana yang benar-benar sudah menggigil kedinginan.


Davina pun lekas menurunkan suhu AC tersebut. "Lalu bagaimana?" tanya bocah itu.


"Sekarang panggil Mommy, katakan saja aku demam!" ucap Divana.


"Baiklah," Davina pun berlari meninggalkan kamar dan bergegas mencari keberadaan Dilara.


Saat kaki Davina menginjak lantai satu, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar pembicaraan Dilara dan Dirgantara yang menyebut-nyebut nama Daddy-nya. Davina diam sejenak dan menguping pembicaraan tersebut.


Cukup lama Davina terdiam hingga akhirnya dia pun menampakkan diri di hadapan Dilara dan Dirgantara. "Mom, Divana demam, dia menggigil sedari tadi." ucap Davina lesu.


Dia tidak menyangka Dirgantara akan menyuruh Dilara menyelesaikan kasus perceraian yang sempat tertunda. Apa itu artinya dia dan Divana akan kehilangan Daddy mereka? Tidak, Davina tidak mau hal itu sampai terjadi.


Setelah Dilara meninggalkan ruang tengah, Davina mematut Dirgantara dengan tatapan dingin. Jelas dia tidak suka melihat pria paruh baya itu.


"Kalau Grandpa membenci Daddy, itu artinya Grandpa juga benci sama kami. Lihat saja, Davina dan Divana akan pergi dari rumah ini! Kami akan tinggal bersama Daddy," ancam bocah itu, lalu melengos pergi begitu saja.


Dirgantara yang mendengar itu langsung tertegun tanpa kata. Apa maksud bocah itu? Apa Davina mendengar pembicaraannya dengan Dilara tadi? Kalau begini, agak sulit baginya untuk menjauhkan putri dan cucunya dari Dafa.

__ADS_1


Di atas sana, Dilara menghampiri Divana yang tengah bergulung di dalam selimut. Wajahnya nampak pucat, sekujur tubuhnya gemetaran.


"Divana, kamu kenapa sayang?" tanya Dilara panik.


"Daddy, tolong jangan pergi, jangan tinggalin Divana, Dad!" igau bocah itu dengan mata tertutup rapat.


"Divana, bangun sayang! Ini Mommy," ucap Dilara seraya menepuk-nepuk pipi gembul bocah itu.


"Dad, jangan pergi!" pekik Divana hingga menggema memenuhi seisi kamar. "Dad..." Divana membuka mata seiring teriakannya yang memecah gendang telinga.


"Mom, Daddy Mom, Daddy..." lirih Divana menitikkan air mata. Dilara pun terenyuh mendengar itu, lalu membawa putrinya itu ke dalam dekapannya.


"Itu cuma mimpi sayang, Daddy tidak apa-apa." ucap Dilara menenangkan Divana.


"Tidak Mom, itu bukan mimpi. Daddy pergi Mom, Daddy ninggalin kita. Ayo Mom, kita ke rumah Daddy sekarang!" ajak Divana.


"Sayang, kamu demam. Tubuh kamu pucat sekali, tunggu sehat dulu ya. Sekarang minum obat dulu!" bujuk Dilara.


"Tidak Mom, Divana mau ketemu Daddy sekarang. Divana mau Daddy, huu..." bocah itu meraung sejadi-jadinya, Dilara yang melihat itu mulai kelimpungan dan hilang akal.


Bagaimana caranya mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini? Dirgantara tidak akan mengizinkan Dafa masuk ke rumahnya. Dia juga tidak mungkin membawa Divana ke rumah Dafa, dia tidak mau kehadirannya merusak rumah tangga Dafa dan Mega untuk yang kedua kalinya.


"Huu... Daddy..." teriak Divana lantang seiring tangisan yang sulit dihentikan.


"Iya, iya, kita ke rumah Daddy ya." mau tidak mau, Dilara terpaksa menuruti keinginan Divana. Bocah itu sontak tersenyum saat Dilara mengalihkan pandangannya.


"Iya," angguk Dilara cepat.


...****************...


Sekitar pukul delapan malam, mobil yang dikendarai Dilara tiba di halaman rumah Dafa. Kebetulan pria itu tengah termenung di teras rumah, dia hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan, membiarkan tubuhnya diterpa angin begitu saja.


"Daddy..." sorak Divana dan Davina berbarengan. Mereka turun lebih dulu sebelum Dilara sempat membukakan pintu.


Dafa yang tadinya termangu, langsung tersadar saat mendengar suara lantang kedua putrinya.


"Divana... Davina..." gumam Dafa dengan mata terbelalak, lalu menepuk pipinya untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi.


Ya, ini bukan mimpi, pipi Dafa terasa kebas seketika itu juga.


Melihat kedua bocah gembul yang tengah berlarian ke arahnya, Dafa pun berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan mereka.


"Daddy," lirih keduanya saat tiba di pelukan Dafa.


"Sayang, kenapa malam-malam ke sini?" tanya Dafa seraya mendekap keduanya dengan erat.


"Kami kangen Daddy, kami mau tinggal di sini saja sama Daddy." Divana mengungkapkan keinginannya tanpa ragu.

__ADS_1


"Loh, kalau kalian di sini, Mommy bagaimana?" tanya Dafa bingung.


"Biarin saja, Mommy sama Grandpa itu jahat." Davina ikut menimpali.


"Tidak sayang, Mommy sama Grandpa tidak jahat, mereka sangat menyayangi kalian." jelas Dafa.


"Dad, kami sudah bersusah payah agar bisa sampai di rumah ini. Kalau Daddy tidak suka dengan kedatangan kami, lebih baik kami pergi!" ketus Divana.


"Tidak sayang, jangan pergi! Daddy senang kalian datang," kata Dafa dengan cepat, dia tidak ingin kedua putrinya pergi lagi.


Mendengar ucapan Dafa, kedua bocah nakal itu seketika melempar senyum dari balik punggung sang daddy lalu melepaskan pelukan mereka.


"Kami masuk dulu ya, Dad. Noh, lihat dulu Mommy di mobil!" ucap Divana menunjuk mobil yang masih menyala, kemudian keduanya berlarian memasuki rumah kecil itu.


Setelah kedua putrinya menghilang, Dafa bangkit dari jongkoknya dan berjalan menghampiri mobil. Tanpa pikir, dia pun membuka pintu depan, seketika manik matanya bertemu dengan manik Dilara yang sudah berbinar sejak tadi.


"Kenapa bengong di sini? Ayo, turun dulu!" ajak Dafa, lalu mengulurkan tangannya.


"Tidak, aku di sini saja." tolak Dilara menggeleng lemah.


"Kenapa? Kamu malu menginjakkan kaki di rumah kecil ini?" Dafa mengerutkan dahi.


"Tidak, untuk apa malu? Aku bahkan pernah tinggal di rumah ini," jawab Dilara dengan mata berkaca.


"Lalu kenapa?" tanya Dafa lagi.


"Aku tidak ingin Mbak Mega salah paham. Mas masuk saja, aku akan menunggu mereka di sini!" sahut Dilara.


Seketika Dafa pun terkekeh mendengar itu, dia melangkah maju dan sedikit membungkukkan punggung. "Kenapa, kamu cemburu?" tanya Dafa dengan tatapan tak biasa.


"T-tidak, siapa yang cemburu?" sanggah Dilara tergagap dengan jantung bergemuruh kencang. Semakin Dafa mendekat semakin gelisah pula Dilara dibuatnya, apalagi sekarang wajah Dafa kian dekat dengan bibirnya.


"M-Mas... Mmphh..." Dafa menangkup tangan di pipi Dilara dan mengesap bibir basah itu dengan penuh kelembutan. Sejenak Dilara membatu menikmati rasa yang entah, dia menyukai cara Dafa yang membuat jantungnya ingin copot dari tempatnya.


"Daddy..." pekik Divana dan Davina bersamaan, Dafa yang terkejut segera melepaskan bibir Dilara dan-


"Bug..." kepala Dafa tak sengaja membentur sisi mobil.


"Aww..." lirih Dafa mengusap kepalanya yang terasa cenat cenut.


"Hehe... Makanya jangan mesum jadi orang!" Dilara tertawa kecil dan lekas menutup mulutnya.


"Tertawa saja terus, nanti aku buat menangis baru tau rasa!" geram Dafa dengan gigi bergemeletuk.


"Coba saja kalau berani," tantang Dilara.


"Oke, siapa takut?" ucap Dafa menerima tantangan itu dengan senang hati, dia pastikan malam ini Dilara akan kembali menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2