Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
44. Luluhnya Hati Seorang Ayah


__ADS_3

"Dad, apa ini sekolah kami yang baru?" tanya Davina dan Divana bersamaan sesaat setelah mobil yang dikendarai Dafa berhenti di depan gerbang sekolah.


Ya, selepas sarapan tadi keduanya langsung bersiap-siap ke sekolah. Dafa membantu kedua putrinya berpakaian sedangkan Dilara menyiapkan bekal untuk keduanya. Dilara sendiri ikut mengantarkan mereka ke sekolah untuk pertama kali.


Setelah Dafa membukakan pintu mobil, Dilara bergegas turun dan disusul oleh kedua putrinya melewati pintu belakang. Kedua bocah itu tersenyum sumringah dan berlarian menuju gerbang.


"Divana, Davina, tunggu sayang!" seru Dilara menyusul keduanya. Dafa pun berlari kecil mengejar mereka.


Sesampainya di dalam, Dafa membawa mereka ke ruangan guru terlebih dahulu. Setelah berinteraksi dengan beberapa orang tenaga pengajar, barulah kedua putrinya dibawa ke kelas mereka.


"Daddy, Mommy, kami masuk dulu ya. Kalian pulang saja, jemput kami saat jam pulang sekolah tiba!" ucap kedua bocah gembul itu.


"Ya baiklah, tapi kalian janji dulu harus belajar yang rajin dan yang paling penting tidak boleh nakal sama temen-temen!" pesan Dilara pada kedua putrinya.


"Iya Mom, kami janji." angguk keduanya.


Setelah Divana dan Davina masuk ke kelas dan mengambil tempat duduk, Dafa menggenggam tangan Dilara dan membawanya ke mobil.


"Mau pulang atau ikut Mas ke pabrik?" tanya Dafa setelah keduanya duduk di dalam mobil.


"Pulang saja, masa' ikut ke pabrik. Tidak enak sama yang lain," jawab Dilara.


"Hmm... Padahal Mas maunya kamu ikut biar tidak kesepian di rumah," lirih Dafa dengan bibir manyun lalu menginjak pedal gas meninggalkan lingkungan sekolah putrinya.


Tidak lama berselang, mobil Dafa berhenti tepat di halaman kontrakan. Siapa sangka ternyata sudah ada Dirgantara yang menunggu di teras dengan tiga orang pria bertubuh tinggi besar.


Ya, ternyata orang suruhan Dirgantara berhasil membuntuti Dafa saat pulang sore kemarin. Dirgantara pun tidak menyiakan kesempatan itu dan lekas mendatangi kontrakan selepas sarapan tadi.


"Papa, Mas." gumam Dilara setelah turun dari mobil, raut wajahnya tiba-tiba memucat, dia pun mendekati Dafa dan memeluk lengannya dengan kuat. "Mas, kita pergi saja ya! Aku tidak mau-"


"Sssttt... Kamu tenang dulu ya!" Dafa berusaha menenangkan Dilara dan mengusap pucuk kepalanya.


"Tapi Mas-"


"Sayang, dia itu Papa kamu. Dia tidak mungkin menyakiti putrinya sendiri." Dafa mencoba meyakinkan Dilara, tidak ada yang perlu ditakutkan dari pria itu.

__ADS_1


Lalu keduanya melangkah menuju teras dan berdiri di hadapan Dirgantara. Dilara sendiri tidak berani menatap wajah sang papa dan memilih bersembunyi di punggung Dafa sembari mencengkeram lengannya.


Dirgantara yang melihat itu tiba-tiba tersenyum getir, dia pikir Dilara akan melihatnya dan memeluknya karena sudah beberapa hari tidak bertemu tapi ternyata dugaannya salah, Dilara bahkan tidak mau menatapnya.


"Lepaskan dia, Dila! Ayo, ikut pulang sama Papa!" titah Dirgantara dengan tatapan tajam.


"Maaf Tuan Dirgantara yang terhormat. Putrimu ini adalah istriku, jadi akulah yang lebih berhak atas dirinya. Dia tanggung jawabku, Tuan tidak berhak lagi atas dirinya." tukas Dafa dengan tatapan tak kalah tajam.


"Diam, aku bicara dengan Dilara bukan pecundang sepertimu." kesal Dirgantara menunjuk Dafa dengan tangan kidal.


"Cukup Pa, aku mohon pergilah! Tinggalkan aku bersama Mas Dafa, aku tidak akan kemana-mana tanpa suamiku." selang Dilara menegaskan pada Dirgantara bahwa dia hanya ingin bersama Dafa.


"Kamu mengusir Papa?" Dirgantara termundur sembari geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka Dilara berani berkata seperti itu padanya. Raut wajahnya mendadak datar tanpa ekspresi.


"Maaf Pa, aku tidak bermaksud menentang Papa. Aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku bersama pria yang sangat aku cintai. Kalau Papa tidak mau merestui kami, maka lebih baik Papa pergi. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mas Dafa, hanya maut lah yang bisa memisahkan kami." terang Dilara dengan penuh keyakinan.


"Jangan bodoh Dila! Apa yang kamu harapkan dari pecundang seperti dia? Dia hanya akan menyakiti kamu, Nak." lirih Dirgantara.


"Papa salah, Mas Dafa tidak pernah menyakiti aku. Papa lupa siapa yang paling bersalah di sini? Aku Pa, aku yang memaksakan diri untuk masuk ke dalam kehidupan Mas Dafa. Jadi jika Papa ingin marah, marahi saja aku! Aku tidak bisa jauh-jauh dari Mas Dafa, aku bisa gila."


"Dila, apa yang kamu katakan?" sergah Dirgantara tersulut emosi, dia tidak suka mendengar itu.


"Aku serius Pa, aku akan mati jika berpisah dengan Mas Dafa. Kalian tidak akan pernah melihatku lagi."


Setelah mengatakan itu, Dilara berlari memasuki rumah dan dengan cepat mengunci pintu.


"Dila..." sorak Dirgantara.


"Sayang..." teriak Dafa.


Kedua pria itu berusaha mendorong pintu sembari menggedornya, tapi sayang pintu sudah tak bisa lagi dibuka.


"Sayang, tolong dengar Mas! Buka pintunya! Kita tidak akan pernah berpisah, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu." seru Dafa dengan raut panik.


"Dila, buka pintunya Nak! Jangan bertindak bodoh!" sambung Dirgantara.

__ADS_1


"Aku memang bodoh, aku terlalu mencintai suamiku. Jika kami tidak boleh bersama, maka biarkan aku membawa cinta ini pergi bersamaku. Aku titip anak-anak, tolong jaga mereka dengan baik!"


Dilara meninggalkan pintu dan berlari ke dapur.


"Dila, sayang. Kamu jangan seperti ini, Mas juga akan mati jika kamu mati." ungkap Dafa ketakutan. Mau tidak mau, dia terpaksa mendobrak pintu karena tak mendengar suara Dilara lagi.


"Apa yang kalian lihat? Bantu Dafa mendobrak pintunya!" titah Dirgantara pada ketiga pria yang datang bersamanya. Dia juga sangat panik, takut Dilara nekat mengakhiri hidupnya.


Ketiga pria itu lekas mengangguk dan dengan cepat membantu Dafa. Hanya beberapa kali hantaman, pintu itu langsung terbuka dengan paksa.


Dafa pun berhamburan memasuki rumah dan berteriak histeris saat kakinya menginjak dapur.


"Plaak..."


Dafa menepuk tangan Dilara yang nyaris saja melakukan hal gila, kemudian memeluknya erat bercucuran air mata.


"Apa yang kamu lakukan, sayang? Kenapa kamu jadi bodoh seperti ini? Apa kamu pikir aku akan tenang jika kamu pergi? Tidak Dila, aku juga akan mati jika kamu meninggalkan aku." lirih Dafa membelit tubuh Dilara dengan erat.


"M-Mas, a-aku..."


Dilara terisak sesenggukan, untuk berucap sepatah dua patah kata saja dia tidak sanggup.


"Kalau begitu kita akan mati sama-sama. Sini, ikut Mas!" Dafa menggenggam tangan Dilara dan menariknya ke luar.


Saat berpapasan dengan Dirgantara, Dafa menghentikan langkahnya sejenak dan menatapnya tajam. Berbeda dengan Dilara yang hanya menunduk lesu berderai air mata.


"Karena Dilara ingin meninggalkan dunia ini, maka aku juga akan ikut bersamanya. Tolong jaga kedua putri kami dengan baik dan tolong sayangi mereka berdua!" ucap Dafa berlinangan air mata.


"Sudah, cukup!" lirih Dirgantara menepuk pundak Dafa, lalu memeluk Dilara dengan erat.


"Papa tidak akan menghalangi kalian lagi, Papa merestui kalian." desis Dirgantara.


Setelah mengatakan semua itu, Dirgantara melepaskan Dilara dan menjauh dari mereka berdua bersama ketiga pria yang dia bawa.


Dia masuk ke mobil dan memerintahkan salah satu pria yang dia bawa untuk mengantarnya pulang. Dia merasa malu karena terlalu angkuh tanpa memikirkan perasaan putrinya. Dia tau Dilara sangat mencintai Dafa.

__ADS_1


__ADS_2