Pesona Istri Kedua Yang Disiakan

Pesona Istri Kedua Yang Disiakan
39. Kebahagiaan Sesungguhnya


__ADS_3

Sekitar pukul dua dini hari Dafa terbangun dari tidurnya dan membuka mata perlahan. Setelah netra-nya terbuka sempurna, Dafa terkejut saat mendapati raganya yang masih berada di kamar si kembar.


Ya, saat menidurkan kedua buah hatinya tadi, tanpa sadar Dafa ikut terlelap bersama keduanya. Dia kemudian beringsut dan turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, dia takut membangunkan kedua putrinya yang tengah menikmati mimpi indah.


Setelah keluar dari kamar putrinya, Dafa menutup pintu pelan-pelan lalu berjalan menuju kamarnya.


Setibanya di kamar, Dafa bergegas menutup pintu dan menguncinya. Seketika sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis saat mendapati Dilara yang tengah tertidur dengan pulas. Dafa pun mendekati ranjang dan berbaring di samping wanita cantik itu.


Baru saja Dafa merebahkan diri di kasur, Dilara langsung mendekat dan memeluknya dengan erat. Dafa sempat menyipitkan mata dan mematut Dilara dengan intim, dia pikir Dilara tidak tidur tapi ternyata wanita itu malah mendengkur di atas dadanya.


Ingin sekali Dafa memencet hidung Dilara saking gemasnya, namun hal itu urung dia lakukan karena tidak tega mengusik tidur istrinya.


Dafa kemudian membalas pelukan Dilara seraya mengecup pucuk kepalanya dengan sayang, setelah itu memejamkan mata perlahan.


...****************...


Malam sudah pergi, pagi datang menjelang seiring sinar matahari yang mulai naik menjajal langit.


Sepasang suami istri itu terbangun saat bias-bias sinar mentari memasuki kamar melalui celah-celah jendela kaca.


Dilara menggeliat, mulutnya tiba-tiba menganga ketika menguap. Rasanya malam terlalu cepat berlalu, matanya masih saja mengantuk meski sudah cukup tidur semalaman.


Dafa yang melihat itu tiba-tiba terkekeh dan menutup mulut Dilara dengan tangan. "Lebar banget sih, nanti dimasukin cicak baru tau rasa." selorohnya.


"Mmm... Apaan sih, Mas? Namanya juga menguap," keluh Dilara setelah menyingkirkan tangan Dafa dari mulutnya, lalu memeluk dada suaminya itu dengan erat.


"Perasaan sejak Mas pindah ke sini, dipeluk terus sama kamu. Kenapa? Takut ya suaminya hilang?" goda Dafa mengulum senyum.

__ADS_1


"Idih, kepedean banget sih jadi orang. Siapa juga yang takut?" Dilara kemudian menjauhkan tangannya dari tubuh Dafa dan beringsut memberi jarak. Air mukanya mendadak berubah masam.


"Loh, kenapa dilepas?" Dafa mengerutkan kening seketika.


"Malas," ketus Dilara dengan tatapan kesal, lalu memilih turun dari ranjang dan berjalan memasuki kamar mandi.


Dafa yang melihat itu tiba-tiba mendengus dan menepuk mulutnya dengan kasar, dia marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia harus bicara seperti tadi pada Dilara? Pasti istrinya itu tengah merutuki-nya di kamar mandi sana.


Takut Dilara benar-benar marah padanya, Dafa langsung melompat dari kasur dan bergegas menyusul istrinya itu ke kamar mandi. Beruntung pintu tidak dikunci, Dafa pun bisa masuk dengan leluasa.


"Mas..." pekik Dilara dengan raut panik, pipinya seketika memerah bak tomat. Dia terkejut melihat sosok Dafa yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Dilara yang baru saja melucuti pakaian, dengan cepat meraih handuk dan menutupi area sensitifnya.


Dafa yang melihat itu sontak terkekeh dan lekas melingkarkan tangannya di perut Dilara. "Kenapa mukanya jadi seperti kepiting goreng begitu?" bisik Dafa tepat di telinga Dilara, dia sengaja menggoda sang istri dengan meniup kupingnya.


Dilara yang merasakan hangatnya hembusan nafas Dafa, tiba-tiba menggeliat seraya menggerakkan bahu. Sekujur tubuhnya merinding seperti kulit ayam.


"Belum sayang, kan belum diapa-apain." desis Dafa dengan nafas tersengal. Bulu kuduknya meremang seiring detak jantung yang berdegup semakin kencang. Senjata miliknya tiba-tiba mengeras, bahkan celana yang dia kenakan mendadak terasa sempit.


Dilara bisa merasakan pergerakan itu. Bokongnya seperti disundul sesuatu yang dia sendiri sudah tau benda apa itu. "Mas..." de*sah Dilara saat Dafa semakin menekannya, apalagi saat jemari Dafa meremas dua gundukan kenyal miliknya dan memainkan ujungnya.


"Mas ingin," desis Dafa dengan suara yang nyaris tak terdengar, lalu menyibakkan rambut Dilara ke depan dan mengecup tengkuk istrinya dengan ciuman ciuman lembut tanpa melepaskan dua benda kenyal yang masih dalam penguasaannya.


Tanpa menjawab, Dilara lantas berbalik dengan cepat sehingga jemari Dafa terlepas dari dadanya. Dia mengalungkan tangannya di tengkuk Dafa dan memagut bibir suaminya dengan nafas terengah.


Ya, jujur Dilara paling tidak bisa menahan diri jika mendapatkan rangsangan terus menerus seperti tadi. Entah kenapa dia selalu ingin dan ingin lagi jika Dafa sudah melakukan hal demikian padanya.


Dafa lantas mengukir senyum saat bibirnya dilahap habis oleh Dilara. Dia yang sudah diburu nafsu, mendesak Dilara hingga termundur ke belakang dan tersandar di dinding.

__ADS_1


Perlahan handuk yang melingkar di dada Dilara melorot ke bawah, Dafa yang melihat pemandangan indah itu langsung mengerjap dan meneguk ludah dengan susah payah.


Ya, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Tanpa pikir dia langsung saja melahap habis puncak menara gunung kembar Dilara seperti bayi yang tengah kehausan. Kedua benda itu tak luput dari keberingasan Dafa yang sudah seperti binatang buas. Dilara sendiri tak henti mende*sah sambil meremas rambut Dafa.


Pada akhirnya, kedua insan manusia itu larut dalam penyatuan diri yang membuat kamar mandi bergema dengan suara-suara lenguhan kecil. Sesekali Dilara menjerit saat menikmati pelepasan yang dihadiahkan Dafa untuknya.


Bagaimana tidak, Dilara sudah sejak lama menginginkan kehangatan seperti ini. Meski terlambat tapi dia cukup bahagia karena bisa memiliki Dafa seutuhnya, merasakan kasih sayang dan perhatian-perhatian kecil yang membuatnya lupa akan semua yang pernah terjadi diantara mereka.


Setelah berhasil mencapai puncak kenikmatan, keduanya bergegas membersihkan diri dan mengenakan pakaian. Dilara meninggalkan kamar lebih dulu dan masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Dafa menyusul setelahnya dan masuk ke kamar si kembar.


"Daddy..." pekik Divana dan Davina bersamaan. Keduanya berhamburan dari kasur dan memanjat tubuh Dafa yang tengah berjongkok di ambang pintu.


"Ternyata putri kesayangan Daddy sudah bangun, Daddy pikir masih tidur." seloroh Dafa tertawa kecil, lalu mencium pipi gembul kedua bocah itu bergiliran.


"Sudah dari tadi, Dad. Kami juga sudah menggedor kamar Daddy dan Mommy, tapi pintunya malah dikunci. Sebab itu kami berdua kembali berbaring menunggu kalian bangun," jelas Divana dengan polos.


Dafa yang mendengar itu sontak terdiam beberapa saat. Saking semangatnya menikmati kebersamaan dengan Dilara, dia sempat lupa bahwa masih ada kedua buah hatinya yang membutuhkan mereka pagi-pagi begini.


"Maafin Daddy sama Mommy ya. Tadi kami berdua ketiduran," alibi Dafa yang tidak tau harus menjawab apa.


"Tidak apa-apa Dad, tapi lain kali pintunya tidak usah dikunci lagi ya. Kami kan mau nyempil di tengah-tengah Daddy sama Mommy." ucap Davina.


"Hehehe... Iya, iya, lain kali tidak akan Daddy kunci. Sekarang mandi dulu ya, biar wangi." sahut Dafa mengukir senyum.


"Oke, tapi mandinya sama Daddy ya." pinta keduanya dengan air muka memelas.


"Hmm... Oke, boleh." gumam Dafa seraya mengacak rambut kedua bocah itu gemas.

__ADS_1


Setelah menyetujui permintaan kedua putrinya, Dafa pun menggendong mereka memasuki kamar mandi. Seperti seorang ayah yang sudah berpengalaman, Dafa pun membukakan pakaian mereka dan memandikannya dengan telaten.


__ADS_2