Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
SAKIT


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


☘️


Sepi? Aku di mana?


Aku langkahkan kakiku menelusuri lorong-lorong panjang yang seperti nya tak berujung. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, aura mencekam membuat merinding bulu kudukku berdiri.


Terus berjalan ke depan, dengan sesekali melirik ke kanan dan ke kiri. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada manusia yang berseliweran di sini.


"Huffh!" Aku menghela nafas berat.


Semakin masuk ke dalam lorong panjang yang sepi, semakin keluar rasa ketakutanku. Pencahayaan pun semakin redup.


Segera aku meraih benda pipih dalam tas selempang, mengusap layarnya dengan gerakan cepat dan buru-buru aku mengklik aplikasi berwarna hijau itu. Dan menekan no kontak yang tertera nama MAMA.


Berulang kali aku menekan no kontak MAMA, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Tuuut.. Tuuutt.. Tuuuuutt..


Hingga panggilan berikutnya, Mama tak pernah menjawabnya. Hatiku mulai was-was, rasa cemas seketika menyelimuti perasaan yang semakin kalut, gelisah tak menentu. Keringat dingin mengucur sudah di kening dan di tubuhku.


"Please angkat telponnya, Ma. Jangan buat Lili ketakutan seperti ini."


Aku memutuskan untuk berlari sekencangnya, agar segera mencapai pintu keluar lorong ini.


Menit berikutnya, aku telah menemukan satu pintu. Buru-buru aku mendorong pintu berat yang telah berkarat dihandle pintunya.


DEVAJU


Roll film itu seperti berputar dalam otakku, memacu kerja jantung dengan tempo yang tak beraturan. Aku bergegas masuk ke dalam ruangan itu. Seakan tersengat listrik yang bertegangan tinggi, mengenai tubuhku.


Segera aku nyala lampu senter dari ponselku untuk menambah penerangan dalam ruangan itu.


"Akhirnya kau datang juga, Easter Lily!"


Seorang wanita dengan angkuhnya sedang duduk di sofa dengan tangan yang berlumuran darah. Tatapannya tajam ke arah netra coklat ku, seperti ingin memangsaku hidup-hidup.


Ku edarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu, mencari sosok Papa dan Mama. Tangan dan kakiku terasa dingin, gemetar melihat orang yang aku sayang telah terkapar di lantai bersimbah darah.


Bau anyir semakin menyeruak bercampur dengan oksigen yang aku hirup dalam ruangan itu.


"Mama..!" pekikku sambil memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


Isak tangisku pun pecah memenuhi Keheningan malam yang berkabut sepi, tak perduli darah Mama yang menempel di kaos putih dan celana jeans yang aku pakai.


"Cengeng! Anak manja! Diam! Sakit telingaku mendengar tangisanmu yang tak berguna itu!" ucap wanita itu, menambah rasa sakit yang dalam di hatiku.


"Mama bangun, jangan tinggalkan Lili sendirian." Aku terus memeluk dan sesekali mengoyangkan tubuh Mama, agar mau menjawab ucapanku.


"Diam!" pekiknya lagi.


"Papa.. Tolong Lili dan Mama." teriakku kencang untuk meminta bantuan pada Papa.


"Hahahaha.. Teruslah berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan pada Papamu yang telah membusuk menjadi mayat!" ujarnya dengan tawa yang menggelegar.


Aku masih menatap wanita itu dengan mata yang sedikit buram, akibat terlalu menangis. Namun, tiba-tiba wanita itu menyeretku ke sebuah ruangan yang lembab dan bau anyir semakin melekat.


"Kenapa kau membawaku ke sini?"

__ADS_1


"Kamu ingin bertemu dengan Papa kesayanganmu itu kan!"


"Di mana, Papa?"


"Papamu pergi ke Neraka!"


"Apa maksudmu!"


Wanita itu semakin menatapku tajam dengan kekehan yang menyakitkan telingaku. Dengan terus menarikku dengan paksa.


"Lepas! Sakit!"


"Lambat!"


Aku terus meronta berusaha melepaskan genggaman tangannya yang menyakiti pergelangan tangan kananku.


"Tunggu sebentar lagi, kalian akan berkumpul lagi!"


Wanita itu berhenti dan membuka selimut putih yang menutupi tubuh seseorang yang terbujur kaku.


"Lihat!" pekiknya.


"Siapa dia?" tanyaku yang hampir tidak mengenali wajah Papaku. Wajah yang penuh lebam dan bercampur darah.


"Apa kau tidak mengenalinya!"


"Papa?"


"Ya, dia adalah Papamu!"


"Tidaaaak..!" teriakku kencang dan bercampur isak tangis yang menyesakkan dada.


"Kenapa kau tega membunuh Papa dan Mamaku!"


"Penghalang? Apa maksudmu?"


"Karena dia menghalangi jalanku!"


"Jalan apa?"


"Jalan untuk menjadi pewaris tunggal Keluarga Adhitama!"


Kedua netra Lili kembali menatap mayat Papanya. "Kenapa harus Papa dan Mama yang menerima ini! Aku tak akan tinggal diam!" lugas Lili.


"Hahaha.. Sebelum kau membalas padaku! Kau yang akan kubunuh terlebih dulu!" suara wanita itu, kembali menggetarkan hatiku.


DEG


Ngeri! Ngiluh!


Sedetik kemudian, wanita itu mengayuhkan pisau tajamnya ke arahku. Namun, dengan gerak cepat. Ada seseorang yang melempar benda ke arah wanita itu, hingga lempar jatuh ke lantai pisau tajam itu.


Di saat lengah itulah, tanganku ditarik seseorang dan mencari tempat persembunyian yang aman dari pengelihatan wanita gila itu.


BRAAKK


Terdengar suara benda di jatuhkan ke lantai oleh seseorang, dengan ekspresi marah yang amat sangat.


"Easter Lily, keluarlah! Atau aku akan mencabik-cabik tubuhmu!"


Kuusap keringat dingin yang melewati dahiku. Jantungku berdegup kencang. "Aku tidak mau mati konyol ditangan wanita itu!"


TAP

__ADS_1


TAP


TAP


Langkah kaki itu terdengar seperti menjauh dari persembunyian kita. Namun, aku dan seseorang yang telah menyelamatkan ku tidak mau gegabah dan keluar dari persembunyian.


Tiba-tiba terdengar teriakan yang keras dan menggelegar memanggil namaku.


"Easter Liiiiiillllyyyyy..!"


"Kau harus mati!"


DEG


"Ya Alloh, selamatkan aku dan orang yang telah menolongku. Hanya pada Mu lah, aku meminta pertolongan dan perlindungan. Berikan aku kesempatan hidup untuk menegakkan keadilan atas kematian Papa dan Mamaku."


Perasaanku saat ini bercampur aduk antara kesal, marah, takut dan kasian. Iya, kasihan melihat orang yang sudah tega membunuh Papa dan Mamaku, hanya demi harta dunia yang telah menggelapkan kedua mata dan hatinya. Harta yang tidak selalu bisa membuat bahagia seseorang dan akan menjerumuskannya ke dalam siksaan api Neraka. Karena harta dia menjadi orang yang serakah, arogan, tamak dan juga kufur nikmat.


"Aku sudah menunggu ini dari bertahun-tahun hingga laki-laki tua itu mati. Tapi kenapa semua hartanya, malah diwariskan pada Papa dan Mamamu! Aku hanya diberikan secuil dari begitu banyaknya perusahaan yang dimiliki Keluarga Adhitama! Aku yang merawat laki-laki tua itu semenjak dia sakit-sakitan. Tapi kenapa hanya karena aku tidak bisa memberikan keturunan pada dia! Aku hanya mendapatkan harta itu seperempatnya!"


Hening..


Namun, tiba-tiba...


BRUUAAKKKKK


"Papa.."


"Mama.."


"Tolong Lili.." teriak kencang Lili.


"Sayang.. Bangun." Giordan mengusap-usap lembut pipi Lili.


"Papa.."


"Mama.."


Lili masih saja berteriak memanggil Kedua orang tuanya.


Sedangkan Giordan bingung harus membangunkan Lili dari mimpi nya dengan cara bagaimana lagi.


Menggoyangkan badannya sudah! Mengusap punggungnya, sudah!


Tik


Tuk


Tik


Tuk


Akhirnya Giordan menemukan ide berlian untuk membangunkan Lili dari mimpi buruknya.


Giordan mendekatkan wajahnya ke wajah Lili yang masih terpejam rapat, dan perlahan dia menempelkan bibirnya ke bibir merah merona milik Lili dengan sedikit mengigit bibir bawahnya yang telah basah karenanya.


"Aww.. Sakit!"


PLAAAK


🌟🌟🌟🌟🌟


Bersambung...

__ADS_1


Wkkwkwkwk 😂😂 Dasar Giordan masih saja mencari celah, mengambil kesempatan dalam kepanikan.. 🤣🤣🤣


__ADS_2