
Happy reading...
☘️
☘️
☘️
...Arsenal vs Real Madrid.....
...Terlihat jelas di atas kertas, kemenangan ada di pihak Real Madrid.....
...Tapi bola itu bundar. Kita tidak bisa menentukan kemenangan seseorang hanya dari kepintaran dan kekuatan saja. Karena tak tik dan strategi yang yang rapi dan tepat akan membuahkan hasil yang maksimal.....
...Dan jangan pernah lupakan sepinter dan sekaya apapun dirimu.. Rencana dan kehendak Alloh yang jadi penentunya...
...🌷🌷🌷...
Tidak butuh waktu yang lama bagi Ardo untuk mengetahui di mana Jayden menyekap Lili. Ardo melacak keberadaan Lili dari anting-anting yang digunakan oleh Lili di acara resepsi pernikahannya yang telah dipasang Ardo secara diam-diam. Dia telah mengantisipasi terlebih dulu, jika terjadi hal yang terburuk pada Tuan dan Nyonya nya itu.
Langit belum berganti warna terang masih diselimuti kegelapan malam. Ardo melajukan mobil sport warna biru hadiah dari Bos Giordan atas keberhasilannya menemukan Lili setelah lima tahun penantian Giordan pada Gadis uniknya itu. Kini masalah baru datang kembali untuk menguji cinta di antara Giordan dan Lili.
Ardo terus memikirkan strategi apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan istri Bos nya itu. Tak terasa kini, Ardo sudah berada di parkiran apartemen Bos Giordan. Dengan tetap siaga Ardo mempercepat langkahnya memasuki lorong-lorong apartemen yang masih terlihat sepi dalam keheningan malam. Tatapannya selalu waspada pada sekelilingnya dan terus berjalan menuju satu ruangan yang dihuni oleh Bos nya.
Tepat pukul 03.00 pagi, Ardo masuk ke apartemen Bos Giordan. Dengan sangat pelan ia membuka pintu dan memperlambat langkahnya agar tidak mengganggu istirahat Bos nya. Tapi disaat dia akan menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Ardo dikagetkan dengan suara bariton yang sangat familiar digelapnya pencahayaan lampu dalam ruangan itu.
"Sudah kau temukan keberadaan istriku!"
Jantung Ardo berdetak kencang dikala dia dikagetkan suara yang menggelegar itu. Dia langsung terperanjat dari posisinya yang setengah hendak mendudukkan bokongnya ke sofa.
Tatapan Giordan yang dingin, kini terlihat jelas oleh Ardo. Berbarengan dengan cahaya lampu ruangan yang dinyalakan Giordan.
Ardo tidak jadi mendaratkan bokongnya ke sofa, dia berbalik fokus dengan pertanyaan Giordan, "Sudah, Bos."
***
Sedangkan ditempat penyekapan Lili.
Keadaan Lili yang sedang tidak baik-baik saja, sekarang ini. Kepalanya tiba-tiba berdenyut pusing, perutnya yang sedari tadi tidak mendapatkan asupan gizi, malah sekarang dia ingin memuntahkan cairan di dalam perutnya.
Lili buru-buru berlari ke arah kamar mandi. "Uheek.. Uheekk," ia memuntahkan cairan yang terasa pahit di bibirnya.
"Apa Nona masih ingin muntah lagi? Saya oleskan minyak kayu putih di tubuh, Nona?" Wanita paruh baya itu menawarkannya pada Lili untuk mengoleskan minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuh Lili. Sambil terus memijit tengkuk belakang leher Lili.
__ADS_1
"Bik, kenapa tubuhku terasa meriang begini? Kepalaku juga pusing banyak bintangnya. Padahal bintangkan lebih indah kalau menghiasi malam, kenapa ini malah ada di kepalaku, Bik." lirih Lili.
Bibi Hanum memapah tubuh Lili duduk di sofa kamar, "Nona Lili dari tadi belum makan. Tapi malah muntah terus, jadi lemeskan badannya."
"Tak enak Bik, rasanya hambar makanannya. Pinginnya yang asem-asem aja," Lili bersandar sambil diberikan batal pada punggung belakangnya oleh Bibi Hanum.
"Tapi, kalau Nona Lili tidak makan sama sekali. Nanti Tuan Jayden akan marah besar pada Bibi, dikiranya gak bisa ngurus Non Lili," tutur Bik Hanum dengan wajah yang mendung.
"Maafkan Lili, Bik. Tapi ini beneran perut Lili terasa tak enak banget, nget.. nget.."
"Iya Non, Bibi juga pernah mengalami seperti itu. Hamil muda rasanya gak enak ngapa-ngapain, namun itulah seninya menjadi calon ibu. Kita akan mempunyai kenangan yang indah dalam menjalani fase-fase menuju menjadi Istri yang sempurna buat suami kita." ucapan Bibi Hanum yang dianguki kepala oleh Lili, tanda setuju akan apa yang barusan didengarnya.
"Apalagi ada Mas Giordan, bersama aku. Bik. Pasti sungguh indah hari-hari menjalaninya," mata Lili berkaca-kaca, dikala mengucapkan nama suaminya.
Jayden berjalan menuju kamar yang ditempati Lili. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, kebetulan pintu kamar sedikit terbuka.
"Gimana kondisi kesehatan kamu hari ini, sayang?" tanya Jayden mendekati Lili yang sedang duduk di sofa.
Lili memasang senyumnya yang terpaksa di sudut bibirnya dan cukup kaget dengan kedatangan Jayden. "Emm.. Sudah baikan," bohongnya.
"Bik Hanum, apa Lili sudah mau makan tadi?" mata Jayden mengintimidasi bola mata Bibi Hanum.
Yang ditanya seperti itu dengan tatapan tajam pulah. Jadi bingung Bibi Hanum menjawabnya.
"Benar, Bik?" tanya Jayden lagi mencari kebenaran ucapan Lili.
"Tapi sedikit," balas Lili cepat dengan menggerakkan tangannya seolah ikut menjawab pertanyaan Jayden.
"Itu namanya, bohong."
"Tak bohong, beneran sudah makan. Ta-tapi..." Lili takut meneruskan kata-katanya.
"Muntah lagi dan kosong lagi perutnya?"
Jayden duduk di samping Lili, sambil mengusap lembut rambutnya. "Jangan biarkan perutmu kosong, gak baik buat penghuni di dalamnya.'
"Aku baik-baik saja, cuma sedikit lemas." protes Lili.
"Sama saja." kekeh Jayden.
Lili beranjak dari duduknya, ingin memperlihatkan kondisi tubuhnya kepada Jayden. Namun tiba-tiba kepalanya berdenyut kembali dihinggapi banyak bintang dan akhirnya tubuh Lili tumbang hendak jatuh ke lantai. Dengan sigap Jayden menangkap tubuh ramping Lili dengan tangan kokohnya.
"Bibi.. Cepat panggil Dokter Dara!" suara yang menggelegar bagaikan petir itu terdengar menggema di kamar hunian Lili.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Bibi Hanum langsung lari keluar kamar untuk meminta bantuan kepada Jhonatan.
Setelah sadar dari pingsannya, Lili masih muntah-muntah terus hingga lemas badannya. Karena perut yang kosong tidak terisi makanan. Akhirnya Dokter Dara memasang selang infus ke lengan Lili, juga memberikan vitamin untuk kekuatan tubuhnya.
Dokter Dara merasa kasihan melihat keadaan Lili yang terlihat pucat.
'Apa yang sedang direncanakan Tuan Jayden pada wanita ini? Aku harus bisa membantunya untuk keluar dari penjara ini. Kasihan melihatnya, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Pasti dia ingin sekali dimanjakan suaminya.'
***
Di ruang kerja pribadi Jayden.
Jhonatan hanya bisa menunduk dengan wajah paniknya, setelah memberikan informasi kepada Jayden tentang kekacauan di perusahaan Prayoga Group, tadi pagi.
"Aku akan membalasmu, Giordan!" pekik Jayden sambil berdiri dari kursi kebesarannya.
Tanpa banyak kata, Jayden keluar dari ruang kerja pribadinya menuju kamar hunian Lili.
"Tuan Jayden."
Dokter Dara berdiri dari duduknya.
"Kalau sudah selesai tugasmu, kau boleh pergi dari sini!" ucap Jayden tanpa memandang ke arah Dokter Dara. "Siapa yang menyuruh memberikan infus kepada Lili?" sentak Jayden.
Dokter Dara memberanikan diri menjawab pertanyaan Jayden. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman dengan tindakan yang diambilnya.
"Saya yang memberikan infus kepada Nona Lili, Tuan Jayden."
"Aku tidak ingin mendengarkan kata-kata itu! Yang kuinginkan, segera kau persiapkan alat-alat untuk meng4b0rs1 janin yang ada dalam kandungan Lili!" titah Jayden tanpa menoleh ke arah Dokter Dara.
"Ma-maksudnya Tuan Jayden?" tanya Dokter Dara untuk memastikan perintah Jayden padanya.
"Gugurkan kandungannya!"
"Apa?" Dokter Dara membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Jayden barusan.
"Apa kau tuli! Gugurkan kandungannya! Aku ingin janin itu dikeluarkan dari rahim Lili, sekarang juga!"
Samar-samar Lili yang mendengar perintah Jayden kepada Dokter Dara hanya bisa meneteskan air matanya.
'Bae cepat datang. Jemput aku dan anak kita.'
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Jayden minta dipites.. Enak aja kalau ngomong! 😒