
Happy reading..
☘️
☘️
☘️
Aarrgghh!
Giordan menghela nafas panjang, lalu memejamkan mata sambil menyenderkan punggung.
Ternyata cinta bisa membuat laki-laki jadi lemah! Sekuat apa dia? Sehebat apa dia? Segarang apa dia? Tetap akan melemah dan tunduk, jika sudah berhadapan dengan istri yang lagi ngidam. Bukannya takut pada istri, melainkan rasa cinta nya yang begitu besar pada sang istri dan calon buah hatinya. Keinginan dan kemauan apa pun akan berusaha diturutin dan direalisasikan agar membuat keduanya bahagia.
Walaupun setumpuk dokumen di atas meja sudah mengantri untuk segera di selesaikan. Jadwal meeting dengan klien sudah tertata rapi, semua tak akan bisa terfokus bila mandat sang ibu hamil sudah bertitah untuk segera diatasi dan terselesaikan.
"Ternyata di sini lah seni menjadi seorang suami, Do," ucap Giordan meraup kasar wajahnya dan melepaskan dasi yang sedari pagi bertengger di lehernya.
Ardo mengangguk. "Yang sabar, Bos. Menghadapi mood istri yang lagi ngidam. Kalau tidak dituruti bisa puasa empat puluh hari," ujar Ardo seolah-olah dia sudah berpengalaman menjinakkan istri yang lagi ngidam.
"Kamu tau dari mana, Do? Apa diam-diam kamu sudah nikah, tanpa memberitahu padaku?" selidik Giordan.
"Eh, jangan salah persepsi, Bos. Jaman gadget itu tidak ada yang susah, Bos. Semua bisa terpecahkan dengan satu klik. Ketik pertanyaan, tunggu beberapa detik, sederet jawaban akan tersusun rapi."
"Kenapa semenjak menikah dengan Lili, kebucinanku menutupi kecerdasan otakku, Do?"spontan pandangan Giordan terfokus pada wajah si Ardo sang assisten pribadi nya.
"Kecerdasan Bos bukan tertutupi kebucinan. Namun, harap dimaklumi Bos. Logika seorang suami ingin memberikan kenyamanan dan kebahagiaan pada pasangan itu wajar, Bos. Tapi, masih dalam taraf kewajaran bukan berlebihan yang menjadikan boomerang pada diri sendiri," lagi-lagi Ardo mengeluarkan kalimat-kalimat bijaknya seolah menjadi motivasi bagi seorang Giordan Adhitama yang lagi blank otak nya tertutup oleh cinta tulus Lili.
__ADS_1
****
Sudah satu jam lebih Giordan dan Ardo berkeliling mencari pesanan Lili yaitu sop buah segar. Namun, hingga pukul 2 pagi dini hari. Mereka belum menemukan juga penjual nya.
"Do, di mana lagi kita mencarinya? Ini sudah jam 2 pagi, semua orang pada terlelap. Kita masih berkeliaran seperti kelelawar," Giordan meremas rambutnya frustasi.
Sedangkan Ardo hanya bisa memandang miris ke arah Bos nya. 'Di kantor titah Bos Giordan yang dipatuhi dan sangat ditakuti puluhan karyawannya. Tapi, saat ini terbalik dratis. Dunia Bos Giordan sedang dijungkir balikan oleh titah Sang Dewi Cinta Lili. Amukannya mengalahkan boom perang dunia bukan boom orange sekali lempar langsung limit," gumam Ardo yang juga merasakan pening menghadapi ngidam Nyonya besar nya.
"Ardo!" pekik Giordan melotot ke arah Ardo.
"Apa, Bos," jawab santai Ardo tak bersalah.
"Kita harus cari di mana lagi, Do?" tanya Giordan semakin pusing seraya menyenderkan kepalanya ke sandaran jok mobil.
Putus asa? Rasa yang ada di hati Giordan? Tentu tidak!
Ardo memejamkan mata nya sesaat sambil mengetuk-ngetuk keningnya mencari solusi. "Ah, saya ada ide Bos," suara Ardo mengagetkan Giordan yang tertidur sesaat.
"Hehehe.. Masih hampirkan, Bos? Belum loncat keluar beneran," cengir Ardo.
"Gundulmu! Seneng kalau loncat beneran? Sudah bosan jadi assisten pribadiku? Mau cari Bos baru? Puas!" kesal Giordan.
"Bu-bukan begitu, Bos. Maksud saya mau kasih tahu ide saya buat Nyonya Lili," ucap Ardo terbata-bata.
"Ide apa?"
"Bagaimana kalau kita beli buah segarnya di pasar saja, terus lanjut kita buat sop buah segar nya di rumah?" usul Ardo.
__ADS_1
"Yang ada istriku semakin merajuk ke aku, Do. Kalau tahu sop buah nya buat sendiri."
"Kita minta bantuan Lia saja, Bos," usul Ardo lagi.
"Lia, sahabat nya istriku?"
"Iya, Bos."
"Hmm.. Sudah sedekat apa kamu, hingga berani minta bantuan kepada Lia? Semakin ke sini, semakin mencurigakan aja kamu, Do!" selidik Giordan.
"Nggak dekat-dekat amat, Bos. Kan Lia juga sahabat Nyonya Lili. Mungkin bisa membantu juga," Ardo berusaha ngeles dari kecurigaan Bos nya.
"Ya udah terserah kamu. Hanya kamu dan Lia yang tahu skenario selanjutnya."
"Maksudnya, Bos?"
"Oh, iya. Sama Alloh yang lebih tahu segalanya perjalanan sejarah edukasi tercipta nya bangunan kokoh yang sedang berkembang," ujar absurd Giordan yang sudah mulai oleng akibat memikirkan sop buah keinginan istrinya yang ngidam tengah malam.
"Bos.. Masih aman kan?" tanya Ardo melongo ke arah Giordan yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Jalan aja, Do! Pusing kepalaku! Rasanya mual perutku!"
"Siap, Bos. Kita meluncur dulu ke pasar, kemudian baru ke apartemen Lia."
"Terserah apa kata roda berputar, Do!" racau Giordan lagi.
'Astaga, Bos. Menghadapi istri lagi ngidam sudah seperti berjuta-juta boom molotov. Dimana ketangguhan dan kegaranganmu, Bos Giordan Adhitama yang gagah perkasa," gumam Ardo menggelengkan kepalanya tak percaya melihat kondisi terkini seorang Giordan Adhitama.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
Baru sekali ngidamnya Bos. Sudah loyo ajj 🤭🙈🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃