Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Janji Apa?


__ADS_3

Happy reading...


☘️


☘️


☘️


"Sayang.." panggil Lili dengan suara manja, merengek melingkarkan tangannya ke lengan Giordan yang baru datang di kantor keamanan mall.


Giordan bergeming. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan di saku celana kain nya.


"Aku tidak bersalah, Bae. Dia yang merebut tas pilihanku," ucapnya dengan wajah menunduk tidak berani menatap suaminya.


"Apa yang terjadi? Jelaskan pada Mas, siapa yang mulai duluan?" suara bariton khas Giordan yang mengandung amarah tertahan.


Lili belum membuka bibirnya untuk menjawab pertanyaan suaminya. Tapi sudah terdengar suara wanita yang tak terima dengan kejadian itu. "Dia yang mulai! Dia yang merebut tas aku! Dan dia juga yang menjambak rambutku duluan!" teriak wanita yang berdiri di dekat meja petugas keamanan mall.


Lili mendongak untuk melihat ke arah wanita yang berteriak berapi-api seolah memuntahkan semua isi dalam otaknya.


"Benar begitu, Sayang?" todong Giordan menatap tajam ke dalam manik kecoklatan milik Lili.


"Tidak benar, Bae. Dia dulu yang mendorong aku, hingga tersungkur," Lili menjelaskan pada Giordan kronologinya.


"Enak saja! Kamu bilang aku yang mendorong kamu hingga jatuh tersungkur!' teriak wanita itu lagi sambil berjalan mendekat ke arah Lili.


"Ardo!' pekik Giordan.


Ardo yang berdiri tidak jauh dari Bos nya, langsung mendekat saat namanya dipanggil.


"Iya Bos."


"Cek CCTV!" titah Giordan tanpa bisa dibantah lagi.


"Siap, Bos," dengan sigap Ardo melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh sang Bos.


"Jika yang salah adalah My Angel! Bersiaplah untuk mendapatkan hukuman dari suamimu ini! Tapi jika, My Angel tidak bersalah! Sang suami akan memberikan sebuah kejutan yang manis buat My Queen!" bisik Giordan ke runggu Lili.


Lili tertegun menatap netra Giordan sang penguasa hatinya. Otaknya langsung bekerja keras untuk mencari cara agar suami tercintanya tidak salah faham dan mengamuk.


Sedangkan reaksi wanita yang sedari tadi ingin mencakar muka Lili itu, duduk tidak tenang. Ia terus melakukan panggilan dari ponselnya untuk mengabari seseorang.


Hingga hampir lima belas menit berlalu.

__ADS_1


Setelah melihat CCTV dan terlihat jelas kronologis nya. Ardo segera melaporkan hasilnya pada sang Bos yang telah menunggunya.


Dari luar pintu kantor keamanan, nampak seorang laki-laki dengan perut buncit memasuki ruangan tergopoh-gopoh.


"Daddy.." panggil wanita itu menghampiri pria buncit yang baru masuk ke dalam ruangan. Menggelayut manja di lengan besar sang pria dan melirik Lili tajam.


"Ada apa?" tanya pria itu bingung.


"Wanita itu kurang ajar, Daddy. Dia sudah berani menjambak rambutku dan mendorong tubuhku, hingga terjungkal ke lantai," wanita itu membual. Mengarang cerita.


Mendengar ucapan dari wanita yang beberapa jam lalu telah beradu mulut hingga berakhir dengan adu kekuatan dengan Lili. Membuat tangan Lili mengepal kuat dan amarahnya pun meluap.


"Benar-benar tak tau mau kamu! Enak saja kamu bilang aku yang duluan! Minta ditambah lagi apa skill dua plus combo biar langsung jadi dadar guling! Kamu yang mere--" kalimatnya tertahan. Tangan Lili segera digenggam erat oleh Giordan.


Giordan menghela nafas. "Sayang.. Sudah jangan ladeni dia," bisik Giordan.


"Daddy," panggil wanita itu lagi. Dengan suara merengek seperti anak kecil yang meminta permen.


Pria itu tersentak dari lamunannya, ketika mendengar suara wanita yang memanggilnya Daddy dengan menarik tangannya untuk segera memberikan hukuman pada Lili.


"Sudah cukup jangan dilanjutkan lagi berantemnya," ucap pria itu di telinga wanitanya.


"Kenapa? Aku belum puas, Daddy. Aku masih ingin mencabik-cabik mukanya. Menjambak rambutnya hingga rontok," ucap wanita itu.


"Kurang ajar! Nantang kamu!" teriak Lili tak terima.


"Lepaskan, Bae! Aku ingin mencincangnya!" Lili menghempaskan tangan Giordan.


"Stop, Sayang! Selangkah lagi kamu ke depan, jangan berbalik dan jangan harap bertemu aku lagi!" ancam Giordan pada Lili.


Seketika hening, tidak ada jawaban ataupun pergerakan.


Lili bergeming. Ia tidak bergerak sedikit pun, setelah mendengar suara bariton suaminya yang mengancam dirinya.


"Ardo!" pekik Giordan.


"Iya, Bos," jawab cepat Ardo.


"Urus semuanya!" titah Giordan dengan mimik wajah yang serius. "Dan kamu, Yudha! Jam berapa ini? Masih keluyuran!" ucap Giordan tanpa melihat ke lawan bicaranya.


"Maafkan saya, Bos," pria yang disebut namanya berjalan mendekat ke arah Giordan berdiri dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan hanya bisa makan gaji buta!" ucap Giordan lagi dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Bola mata Lili membulat. Saat melihat suaminya berjalan meninggalkan dirinya.


"Bae.." panggil Lili berlari mengejar Giordan.


****


Sampai di parkiran mobil. Wajah Lili cemberut sambil menghentakkan kakinya. Mata membulat dengan nafas memburu menahan kesal, greget, gemes, kecewa dan marah semarah-marahnya.


"Bae.. Dengarkan penjelasanku dulu," ucap Lili dengan nafas tersengal-sengal dan masuk ke dalam mobil, yang telah duduk dengan tenang sang suami.


Giordan bergeming. Matanya terpejam, duduk bersandar di jok mobil. Menutup rapat bibirnya seolah-olah enggan berkomunikasi dengan istrinya.


Lili tersenyum getir, memandang suaminya yang tidak mau berbicara dengan nya.


"Bae..." suara Lili mendayu memanggil suaminya.


"Jalan, Ton! Tutup!" titah Giordan tanpa membuka netranya.


Toni sang supir pun langsung menjalankan perintah Bos nya. Segera dia tutup sekat antara duduk kemudi dengan jok penumpang belakang. Dan melajukan mobil sedan hitam itu membaur ke jalan raya meninggalkan pelataran parkir mall.


"Bae.." rengek Lili yang sedari tadi belum berhasil merayu suaminya.


Lili menunggu pergerakan dari suaminya. Sedetik, dua detik hingga berganti menit. Giordan tetap bergeming.


Secepat mungkin Lili memutar otak untuk mencari cara bagaimana dia harus berhasil meluluhkan hati suaminya dan mendapatkan maafnya.


Tiba-tiba Lili berganti posisi duduknya dengan naik ke atas pangkuan suaminya dan mengalungkan kedua tangan nya ke leher kokoh suaminya.


Cup!


Lili mendaratkan ciuman ke bibir Giordan.


Giordan membuka perlahan kedua netranya. Dan langsung membuang pandangannya ke luar jendela. Menatap lalu lalang kendaraan dan gedung-gedung pencakar langit yang dilalui.


"Sayang.. Iihhh.. Sudah dong merajuknya," suara manja Lili dengan bibir yang mengerucut. "Bae, tak pantas merajuk. Yang cocok merajuk cuma aku! ucapnya lagi sembari memejamkan mata dan semakin mengerucut bibirnya. Giordan yang melirik pose lucu istrinya itu, harus bersusah payah menahan tawa.


Wajah cantik dengan bibir yang mengerucut lancip seperti itu, semakin menggoda imron Giordan yang sedari tadi akan runtuh.


"Bae.. Maafin aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Lili berkata pelan dengan kedua netra yang sudah berembun, sekali kedip langsung terjun bebas air matanya.


"Janji?"


Lili terbelalak. Ia kaget mendengar suara suaminya. "Janji, Bae," ucap Lili dengan menangkup wajah Giordan dengan kedua tangan nya dan menempel kan hidungnya ke hidung mancung Giordan.

__ADS_1


"Janji apa?" tanya Giordan tersenyum manis, namun sarat makna.


☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2