Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Giordan Kecil


__ADS_3

Happy reading...


☘️


☘️


☘️


"Aahhh.. Bodoh! Kalian tidak bisa diandalkan!" Ayra membanting semua barang-barang yang ada di meja riasnya setelah mengetahui preman-preman suruhannya tertangkap Giordan.


"Kenapa tidak becus! Hanya mengancam perempuan saja, tidak berhasil! Dasar preman bod0h! Tampangnya saja yang sangar! Otaknya bego!" teriak Ayra membuat bising kamarnya.


"Wanita itu harus mati!" Ayra menatap tajam cermin yang ada di depan nya. Dengan matanya yang merah karena amarah sekaligus menangis meratapi semuanya.


Namun, tiba-tiba di saat gundah gulana, perut Ayra terasa mual. Ia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan isi dalam perutnya.


"Hueek.. Hueek.." tidak ada yang keluar dari mulut Ayra. Hanya cairan kuning yang terasa pahit di lidahnya.


Apa aku salah makan, ya? Atau masuk angin? Sedari tadi aku belum makan apa-apa?


Ia melirik kalender yang bertengger di dinding dekat posisinya berdiri.


Nggak salahkah angka kalender itu? Atau sudah burem mataku? Nggak mungkin hamilkan aku?


Ayra menatap angka yang tertulis di kalender itu. Sudah beberapa Minggu ini ia mengalami siklus haid yang tak beraturan.


*****


Setelah menina bobokan istrinya, Giordan segera berangkat ditemani Ardo menuju tempat penyekapan.


Ardo melajukan mobil sport merah milik Bos nya dengan kecepatan tinggi menuju tempat penyekapan dua preman yang telah melecehkan Lili.


Hentakan sepatu yang terdengar mengerikan itu, kini berhenti di depan pintu ruangan yang tertutup. Bau lembab dan anyir menyeruak ke hidung.


Giordan melangkah mendekati dua preman yang terikat tangan dan kakinya, duduk lemas di lantai yang dingin.


Di wajahnya sudah ada bekas bogeman yang di sudut kanan kiri bibirnya berlumuran darah yang hampir mengering.


"Ohh, ini rupanya tikus-tikus yang berani bermain-main dengan Giordan!"


"Lepaskan ikatan tangan dan kakinya! Aku ingin tau seberapa kuat dia melawan aku! Karena istriku bukan tandingan yang tepat untuk dia!" perintah Giordan pada Ardo.


Jangan dikira dengan dilepaskan ikatan tangan dan kakinya adalah suatu kebebasannya, namun malaikat maut telah menunggu kematiannya.


"Dengan tangan yang mana kamu melukai dan menyentuh tubuh istriku!" bentak Giordan dengan membuka jas yang dipakainya dan membuka dua kancing kemeja teratas serta menggulung lengannya hingga siku.


Ardo tersenyum sekaligus menatap miris ke arah preman-preman itu. Mereka salah menerima job untuk melukai orang. Tanpa mencari informasi terlebih dulu, orang yang akan dilukainya. Asal terima gaji buta info.

__ADS_1


Bug.. Bug..


Pukulan keras dan menyakitkan pada rahang preman itu telah mendarat dari kepalan tangan Giordan, dengan membayangkan betah sakit hatinya. Melihat orang yang begitu ia cintai disentuh oleh preman jalanan.


"Ampuni saya, Tuan. Saya minta maaf Tuan, tolong kasihani saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi, Tuan," Lelaki itu memohon dengan suara bergetar, wajah dan rambutnya terlihat berantakan. Wajah dan tubuhnya banyak memar. Darah segar mengalir dari hidung, telinga dan juga mulutnya.


"Siapa yang menyuruhmu menyakiti istriku!" bentak Giordan geram. Ia membayangkan betapa sakit istrinya menerima siksaan dari tikus-tikus pengganggu itu.


Laki-laki itu hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Pria tampan yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam siap memangsa korbannya.


"Saya salah, Tuan. Saya minta maaf," laki-laki bertubuh kekar dan banyak tato di tubuhnya bersujud di kaki Giordan.


"Dibayar berapa kamu, hingga dengan beraninya menyentuh wanitaku! Belum tau siapa Giordan! Berani mengusik ketenanganku, berarti kamu harus menerima akibatnya! Kamu harus faham bagaimana saya menghukum orang yang berani melecehkan istriku!" nada suara Giordan terdengar tegas ditambah lagi dengan wajah yang dingin tanpa senyum di bibirnya.


"Saya tidak tau itu istri, Tuan. Tolong ampuni saya, Tuan. Bagaimana nanti istri dan anak saya, Tuan," Ia terus memohon hingga suaranya melemah, demi berharap nyawanya bisa diampuni oleh orang yang istrinya telah disakiti. Bahkan ia rela mencium ujung sepatu yang Giordan pakai.


"Siapa yang membayarmu!" sentak Giordan mengepalkan tangannya hendak mendaratkan bogem di wajah mangsanya.


Bagai disambar petir, mendengar suara yang menggelegar itu. Tubuhnya merasakan gemetaran, tungkai kakinya tidak kuat menahan tubuhnya yang semakin melemah, kedua matanya berkaca-kaca, nafasnya juga terasa berat.


"Tidak ada yang boleh menyentuh My Angel!"


Ardo masih berdiri di dekat Giordan, menunggu perintah Bosnya.


"Berani mengusik ketenangan Giordan! Bersiaplah memilih kelanjutan hidupmu, tikus-tikus pengganggu! Hidup dan mati ada di tanganmu sendiri! Kamu pilih sendiri pistol, pedang, pisau atau racun? Kamu yang mengeksekusi dirimu sendiri atau aku yang bertindak!" suara bariton Giordan terdengar semakin menakutkan laki-laki bertubuh gempal itu.


"Katakan sekarang, siapa yang membayarmu!" sorot mata tajam itu, kini menatap lurus ke arah mata laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan kaki gemetaran.


"Non-Nona Ayra." ucapnya lirih.


"Hmm.. Wanita tak berguna itu! Sepertinya kamu sudah bosan hidup di dunia ini!" teriak Giordan mendekat dengan menempelkan ujung pistol ke kening laki-laki itu.


"Motivasi hidupku adalah apa yang telah menjadi milikku, selamanya tetap akan menjadi milikku. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Apalagi menyakiti wanitaku!"


Dag.. Dig.. Dug...


Suara jantung laki-laki bertato itu semakin berirama tak beraturan, saat Giordan mengucapkan sebuah kalimat yang menyeramkan baginya. Dengan kedua bola mata yang menatap tajam padanya. "Berdoa lah sebelum ajal menjemputmu!'


Laki-laki yang terlihat sangar di hadapan Lili beberapa jam yang lalu. Kini hilang sudah semua nyalinya di depan Giordan dengan aura sadisnya.


Doorr..


Suara tembakan itu akhirnya terdengar juga di ruangan yang gelap minim pencahayaan dan lembab.


Dia sangat kejam dan tak punya hati, jika ada yang mengusik miliknya. Dia tidak akan segan untuk menghabisi nyawa musuhnya.


Tubuh gempal itu seketika roboh setelah tiga butir timah panas menembus kepalanya. Genangan cairan berwarna merah itu, kini membanjiri lantai ruangan, tempat tereksekusinya laki-laki yang berani melecehkan wanita Giordan Adhitama.

__ADS_1


"Buang mayatnya!" titahnya pada ke empat bodyguard yang berseragam gelap dan bertubuh tegap.


"Siap Bos. Laksanakan,"


Suara kompak dan patuh atas tugasnya itu adalah jawaban serentak dari mereka.


"Ardo, amankan Ayra jangan sampai mengacaukan acara resepsi pernikahanku dengan Lili!" titahnya kemudian pada Ardo sang assiten pribadinya.


"Baik Bos."


Giordan menyerahkan pistol itu ke arah Ardo dan meninggalkan tempat yang kini mengeluarkan bau amis darah dari tubuh yang tidak bernyawa itu.


Menyesalkan? Atau sedih?


Bagi Giordan menghilangkan nyawa orang lain adalah pekerjaan yang sudah biasa dia jalani. Semenjak kematian kakak perempuannya yang tidak wajar itu, telah merubah jiwanya.


Slogannya adalah Aku harus kuat jika ingin tetap hidup. Tetapi jika aku lemah maka aku akan mati hari ini.


Saat umurnya 7 tahun, anak-anak seumurannya mengenyam bangku sekolah dan menghabiskan waktu bermain. Tidak untuk Giordan.


Dia harus banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri dan kakak perempuannya yang mengalami depresi berat.


Setelah Giordan kecil melihat sekelompok laki-laki bertubuh kekar itu membakar rumahnya dan melukai kedua orang tua nya dengan sadis. Yang lebih kejam dan tak beradab sekaligus penderitaan itu mengubah jiwa Giordan kecil menjadi seorang monster yang bengis, tebal hati.


Kakak perempuan satu-satunya diperkosa di depan matanya, digilir 5 preman yang telah membakar rumah dan menghabisi nyawa kedua orang tuanya.


Gadis yang mulai tubuh menjadi remaja itu, telah hancur masa depannya oleh kebejatan para preman. "Pergi dari sini, Giordan!" teriak gadis yang tak berdaya itu.


Giordan berlari kencang untuk mencari pertolongan dan melaporkan ke kantor polisi atas kelakuan biadab para preman yang telah membunuh kedua orang tuanya dan memperkosa kakak perempuannya itu. Namun, bukan keadilan yang diterima bocah kecil itu. Ia harus rela laporannya tidak didengar dan ditanggapi. Ia hanya orang kecil yang dipandang sepele, bahkan dianggap sampah masyarakat. Menuh-menuhin tempat di dunia ini.


"Tidak akan pernah ada keadilan di dunia ini bagi kaum miskin. Jika kau ingin hidup layak, kamu harus menjadi kuat dan bisa membuat keadilan bagi dirimu sendiri," itu lah kata-kata terakhir kakak perempuannya sebelum ia menutup mata dengan cara menggantung diri.


Giordan kecil yang kini hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya dan juga kakak perempuan satu-satunya. Ia harus bisa mencari keadilan dengan caranya sendiri.


Hidupnya semakin hari semakin keras. Ia menjadi sebatang kara harus berjuang sendiri demi bisa terisi perutnya dan tidur di tempat seadanya, asalkan bisa terpejam matanya untuk beberapa jam saja.


Bahkan ia harus merasakan dinginnya lantai penjara hanya gara-gara ia mencuri makanan. Walaupun ia dibebaskan karena pertimbangan masih di bawah umur, itu semua tak membuat jerah bagi Giordan kecil. Malah sebaliknya pengalaman itu dijadikan Giordan kecil sebagai cambukan untuk menjadi lebih kuat lagi.


Hingga suatu hari ada kejadian yang mengakibatkan teman Giordan kecil harus merenggang nyawa karena preman-preman bayaran itu mengambil ginjal temannya tanpa perasaan. Hanya dengan berbekal bius dan pisau tajam itu ditancapkan pada pinggang teman Giordan dan merobeknya lalu mengambil ginjalnya.


Giordan kecil langsung menyelamatkan diri, ia berlari kencang hingga tak sadar di depannya ada mobil sedan mewah terparkir ditabraknya. Sebuah keberuntungan bagi Giordan kecil yang diselamatkan oleh pemilik mobil sedan mewah itu dari kejaran preman-preman yang biadab itu.


🌟🌟🌟🌟🌟


Selamat hari Rabu...


Ditunggu taburan bunganya yang harum untuk GILI dan secangkir kopi manis 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2