
Happy reading..
☘️
☘️
☘️
Mobil mewah yang ditumpangi Jayden melaju dengan kecepatan sedang menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di dalam mobilnya, ia terus menyunggingkan senyuman sambil menatap foto Gadis manis yang telah berhasil membuat dunianya jungkir balik selama ini.
Dia sangat puas dengan hasil jepretan yang dikirimkan oleh mata-matanya. "Aku atau kamu yang bisa mendapatkan Gadis manis itu, Giordan Adhitama!"
Beberapa detik saja foto-foto itu telah terkirim ke nomer ponsel yang dituju. "Bagaimana rasanya jika kamu ditinggalkan orang yang begitu kamu cintai, temanku?"
Sedangkan Lili dan Lia telah memasuki hotel mewah yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan Giordan Adhitama dengan Lili.
Hotel yang berfasilitas super mewah itu, menjadi pilihan Giordan untuk merayakan hari bersejarahnya dengan Gadis unik yang telah lama dinantinya. Semua keperluannya telah dipersiapkan jauh hari dengan Lili yang menjadi WO nya sendiri.
Lili tidak pernah tau dengan rencana Giordan waktu itu. Mulai dari pemesanan cincin kawin berlian dengan inisial GA, karena dalam pikiran Lili. GA adalah insial G dari nama pengantin pria yaitu Giordan dan insial A untuk Ayra, nama pengantin perempuan. Namun nyatanya cincin kawin dengan insial GA adalah diperuntukkan dirinya dan Giordan yang kini telah menjadi suami halalnya.
Kedua wanita itu terus berjalan menuju ballroom yang sudah di reservasi oleh Lili atas permintaan Giordan. Ruangan yang sangat besar dan bisa menampung para tamu dengan jumlah lebih dari 1000 undangan di acara tersebut.
"Spektakuler!" pekik Lili terkagum-kagum dengan pemandangan di hadapannya saat ini.
"Ndeso!" sahut Lia.
"Biarin! Ngiri, Bos? Aku nganan aja biar beda tujuan!" balas Lili seraya menjulurkan lidahnya ke arah Lia yang sedang berkacak pinggang.
"Kalau aku yang nikah, beda lagi dekorasinya." ucap Lia yang mendapatkan ejekan dari Lili.
"Ada calon?"
Gelengan kepala Lia yang menjawab pertanyaan Lili dengan senyumnya yang miris.
"Sombong!" balas Lia.
"Siapa?"
"Ya kamu, Ijah! Emang siapa lagi!" jawab Lia dengan melotot.
"Dari mananya sombong? Katakan dengan jelas! Atau aku telponkan---!" ucap Lili seraya menscroll kontak di ponselnya.
"Haiss.. Mau hubungi siapa kamu?" Lia menelisik ke layar ponsel Lili.
"No.. No..!"
Lili segera menyembunyikan ponselnya dibelakang punggungnya.
"Dilarang kepo, Bu Bos!" seru Lili menjauh dari Lia.
Lia mengembuskan napas panjang dengan kedua netranya tertutup rapat.
"Ya, Gusti. Sadarkan sahabat hamba, agar tidak terjerumus di kubangan kesombongan yang merubah pribadi baiknya. Aamiin!" Do'a Lia yang terdengar oleh Lili.
Netra coklatnya seketika terbelalak, dengan mulut yang menganga lebar.
"Coba-coba ulang lagi kalimat barusan! Aku buka telinga lebar-lebar biar terdengar hingga ke ujung dunia." sentak Lili yang membuat Lia mengerjapkan matanya.
"Bu.. Bukan begitu, Lili. Maksud aku." Lia berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Tatapan tajam dari kedua mata Lili yang menembus ke dalam pupil Lia, membuat dia menelan salivanya dengan kasar.
"Jangan marah, istri Tuan Giordan. Maafkan aku, bukan maksud hati bilang begitu." ucap Lia meminta maaf kepada Lili yang membuang muka dari hadapan sahabatnya itu.
"Hahaha.. Takut juga, Bu Bos sama Tuan Giordan!" seloroh Lili sambil terkikik.
"Dasar bocah gemblung! Aku sudah gemetaran kamu menelpon Tuan Giordan!" muka Lia dicemberutin.
__ADS_1
"Jelek!"
"Dari sononya." sahut Lia.
"Aku cantik!"
"NARSIS!" teriak Lia.
"Nyata bukan hoax!" jawab Lili mengedipkan matanya.
"Begitu sulit melupakan Giordan! Karena dia, aku jadi istri Sultan Angkara!" Lili bernyanyi mendayu-dayu di telinga Lia.
"Panas.. Panas!" pekik Lia sambil menutup telinganya.
"Sialan! Kau kira aku setan! Buatmu kepanasan!" Lili menjitak kepala Lia, namun Lia bisa menghindar dari Lili.
"Eitss, tidak kena!"
Di saat Lili mengejar Lia, langkahnya terhenti ketika ponsel yang ada digenggamannya berbunyi. Sambungan video call dari seseorang terhubung di ponselnya.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." sapa Lili dengan mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Kamu di mana, Sayang?" tanya seseorang di sebrang telepon.
"Di hatimu, Mas." balas Lili dengan senyuman yang meruntuhkan tembok besar di hati Giordan.
Adem banget rasanya mendengar sebutan Mas dari orang yang dicintai Giordan Adhitama.
Jiwa jomblo Lia meronta-ronta, terpental jauh keluar aplikasi dengan susah payah harus keluar masuk berkali-kali seperti perut yang mules melilit melihat sahabatnya menjadi Sang Penggoda Sultan Giordan Adhitama.
"Perubahanmu dari London sangat nyata di depan mata, Lili! Oleh-oleh yang sangat mantap top markotop bisa menaklukkan orang nomor satu di GA GROUP! Hingga menyingkirkan rival terberatmu seorang aktris ternama di Bumi Pertiwi ini!" ujar Lia menggelengkan kepalanya tak percaya melihat sahabatnya yang sudah ahli membuat Giordan terkena serangan jantung mendadak.
Lili mengkode Lia agar diam tak mengganggunya dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Sayang." panggil Giordan.
"Iya, Mas."
"Aku hanya dengan Lia. Sedang melihat hotel untuk acara resepsi pernikahan kita, Mas." jawab Lili dengan sejujurnya.
"Tidak ada laki-laki bersamamu kan, Sayang?" tanya Giordan lagi.
"Tak ada, Mas. Memangnya ada apa?" Lili menjadi penasaran kenapa suaminya bertanya seperti itu.
"Enggak ada apa-apa, Sayang. Aku hanya menghawatirkan kamu saja." balas Giordan.
"Aku baik-baik saja, Mas."
"Ya sudah lanjut lagi aja. Habis ini aku ke sana untuk menjemputmu."
"Apa pekerjaan di kantor sudah selesai?" tanya Lili.
"Pekerjaan di kantor bisa dihandle Ardo. Hari ini aku ingin menemanimu seharian. Maafkan tadi sempat terganggu dengan wanita kalajengkong." ujar Giordan meminta maaf pada Lili dengan tatapan sendu.
"Iya nggak apa-apa, Mas. Tapi, Mas sudah menyelesaikan urusannya dengan Mbak Ayra kan?" serius Lili.
"Sudah, Sayang. Aku sudah lama putus dengan dia. Tapi, Ayra nya saja yang tidak bisa menerima dengan lapang dada." terang Giordan.
"Lalu, buat siapa semua persiapan acara pernikahan itu?"
"Buat kita, Sayang."
"Iya kah?" Lili hampir pingsan di tempat, mendengar penuturan Giordan barusan. Ia menyelidik ke dalam kedua bola mata suaminya untuk mencari kebenarannya.
"Iya, Sayang. Semua itu, aku persembahkan untuk Gadis Unik ku. Yang telah lama aku nantikan kehadirannya."
Seketika mata Lili berkaca-kaca. "Terimakasih, Mas untuk segalanya. Jadilah Imam dalam rumah tangga kita yang bertanggung jawab dan membawaku dalam Surganya Alloh, beserta keturunan kita yang Sholeh Sholehah. Aamiin."
__ADS_1
"Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Robballalamin."
"Tunggu aku di sana ya, Sayang."
"Iya, Mas."
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Sambungan video call telah terputus.
Lili memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berpamitan kepada Lia untuk ke toilet.
"Lia, aku mau ke kamar mandi sebentar." pamit Lili.
"Okay, hati-hati. Ya."
Sepeninggal Lili. Lia melanjutkan kembali aktivitas nya dengan mengecek satu persatu meja juga aksesoris yang ada di ruangan itu.
****
Lili baru saja merapikan dandanannya yang sedikit kusam. Dan juga baru melangkah keluar dari toilet.
Namun, ada seseorang yang tiba-tiba menarik rambutnya ke belakang. Spontan kepala Lili tersentak kebelakang dengan tubuh yang berdiri tak seimbang.
"Aww.. Sakit." pekik Lili berusaha menggapai tangan seseorang yang menarik rambutnya.
"Kamu Lili kan?" tanya pria yang memakai masker menutupi separuh wajahnya.
"Tolong lepaskan dulu. Sakit banget ini." teriak Lili berusaha melepaskan diri dari cengkeraman seseorang. Namun, pria itu menarik kembali rambut Lili hingga rasa panas dan nyeri menjalar di permukaan kepala Lili.
"Saya peringatkan untuk yang pertama dan terakhir. Jauhi Tuan Giordan Adhitama! Jika kamu masih sayang nyawamu!" ucap laki-laki itu mengancam Lili.
"Siapa kalian?"
Bruakk..
Lili merasakan kepalanya terayun kebelakang dan tiba-tiba terlepas begitu saja hingga terbentur dinding toilet.
Rasa sakit, perih, ngilu bercampur rasa dingin di keningnya. Ditambah telinganya berdengin kencang.
"Dengar baik-baik dan ingat perkataan saya! Jauhi Tuan Giordan Adhitama! Mengerti!" ancamnya lagi.
Nafas Lili tercekat, tubuhnya terasa diguncang. Pria yang berdiri di hadapannya memiliki badan yang kekar dengan rambut sedikit gondrong diikat. Menarik kembali rambut Lili.
"Sakit." pekik Lili merintih.
Laki-laki itu menyeringai dan memandang Lili penuh nafsu dari ujung rambut ke ujung kaki dan berhenti di dua gunung kembar Lili yang membusung. Matanya tak berkedip.
"Boleh juga kita bermain-main sebentar." ucapnya yang membuat Lili menelan kasar salivanya, rasa takut menyergapnya melihat tatapan kesetanan laki-laki mengerikan di hadapannya saat ini.
"Ya, Alloh. Tolong aku, kirim seseorang untuk menyelamatkan aku dari setan berbentuk manusia laknat ini. Aku tidak mau jadi korban perkosaannya dengan sia-sia yang membuat hancur semuanya." Lili terus merapalkan doa-doa dalam hati nya.
Ketika tangan laki-laki itu hendak mengusap pipi Lili yang mulus tanpa celah itu. Dengan gerak cepat Lili menangkis nya.
"Melawan kamu!" ucap laki-laki itu sambil mendorong tubuh Lili hingga tertelungkup di lantai.
Brakk..
"Hai, hentikan" teriak Lia dari jauh berlari kencang untuk menyelamatkan sahabat nya sambil melemparkan sepatunya ke kepala pria itu.
Klotak..
"Bos Giordan, Lili pingsan!" teriak Lia ketika sambungan telepon diangkat seseorang.
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Bersambung...