Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Enggak Dua-duanya


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


☘️


Satu minggu kemudian.


Lili telah diperbolehkan pulang dengan kondisi yang membaik. Usai berkemas-kemas Lili duduk di pinggir ranjang sambil menunggu suaminya yang masih sibuk menerima telpon dari kliennya.


Hampir lima belas menit menunggu membuat mood Lili menjadi jelek. Dia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Namun, saat melewati sang suami. Lili Sengaja mengencangkan suaranya. "Percuma ada di sini! Seperti tak terlihat!" sembari mengerucutkan bibirnya. Raut wajah yang terlihat menyeramkan. Kemudian Lili memalingkan wajahnya dari pandangan Giordan.


'Astaga.. Ya Tuhan. Bencana apalagi setelah ini! Ekspresi istriku lebih menyeramkan rumah hantu yang gelap dan penuh suara misteri.'


Kali ini Giordan harus benar-benar menjaga mood istrinya yang lagi naik turun bak roll coaster di wahana wisata.


"Sayang, mau kemana?" tanya Giordan setelah menyudahi perbincangannya di sambungan selulernya.


"Masih nanya?" sahut Lili kesel dan tetap tidak memberhentikan langkahnya.


Giordan langsung memeluk Lili dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Lili. Giordan tahu apa yang diinginkan istrinya. "Sayang, yuk kita pulang. Maafkan Papa ya, baby harus menunggu Papa menyelesaikan urusan dengan klien," lirih Giordan di rungu Lili sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Lili mengangguk tanda setuju untuk segera pulang dari rumah sakit. "Mas, sudah selesai?" menoleh kebelakang saling berpandangan dengan suaminya.


"Sudah, Sayang," kata Giordan lembut dan mengecup kening Lili. "Jangan nakal ya Baby. Kasihan Mama," ucap Giordan mencium perut rata Lili seolah mengajaknya berbicara dengan si calon buah hatinya di dalam sana.


"Aku juga sudah selesai berkemas-kemas. Bosan harus tinggal di sini terus, tiap hari bau obat-obatan dan harus makan bubur," keluh Lili pada Giordan dengan manjanya.


Dokter Rena pun telah selesai memeriksa Lili pagi hari tadi dan juga telah membolehkan istri Giordan itu untuk pulang ke rumah tapi tetap harus menjaga pola makan yang bergizi dan meminum vitamin. Dan juga harus mematuhi beberapa pesan yang telah ditulis oleh Dokter Rena untuk Lili.


"Akhirnya pulang juga ke rumah yang telah aku rindukan," ucap Lili yang didengar oleh Giordan. "Hanya rindu rumah saja tidak dengan orang yang berdiri di sini?" protes Giordan yang mendapatkan jawaban dengan ekspresi yang tidak mengerti seolah-olah merindukan siapa? Karena tepat pada saat Giordan mengeluarkan protesnya, tiba-tiba masuk dua cowok tampan yang gagah ke ruangan VVIP Lili.


"Sudah sehat Nona Lili?" tanya Dokter Bayu sok akrab dengan Lili.


"Tentu sehat, Dokter Bayu," jawab Lili dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


"Hmmm..," suara Giordan mewakili kata-kata jangan genit dengan Dokter Bayu.


"Kenapa? Mau nyanyi atau giginya lagi sakit, Mas?" balas Lili menatap manik hitam milik Giordan.


"Enggak dua-duanya," sewot Giordan.


"Pilih salah satu, Mas. Jangan diborong semuanya," tambah lagi keabsurdan Lili.


"Dikata diskonan mau borong," semakin kesal saja Giordan oleh keisengan Lili.


Kedua cowok tampan yang berdiri tak jauh dari posisi Giordan hanya menahan tawanya.


"Kamu Ardo jangan ketawa! Itu kau bawa ke mobil!" titahnya menunjuk koper yang telah rapi siap dibawa ke mobil.


"Baik Bos," jawab singkat Ardo tanpa berani membantah perintah Giordan.


"Kamu juga Bayu! Jangan berani-berani menggoda istriku! Atau aku---," belum selesai Giordan menuntaskan kalimatnya, namun Dokter Bayu telah menyambar duluan. "Mau aku tutup Rumah Sakit ini!"


"Kamu nantang!" suara bariton Giordan menggelegar.


"Ampun DJ! Uppsstt.. Salah. Ampun Bos Giordan!" kekeh Bayu sambil menjauh dari jangkauan Giordan sebelum terkena bogem mentahnya.


"Iya sayang. Kita pulang sekarang, jangan dengerin para kurcaci itu," kata Giordan mengandeng erat tangan Lili.


"Gandeng terus! Jangan sampai lepas!" goda Dokter Bayu yang mendapatkan pelototan dari sang penguasa hati Lili.


***


"Sayang, yuk turun," guncangan pelan di bahu Lili belum juga membangunkan dari tidur lelapnya.


Ardo yang telah turun terlebih dulu dan membawa masuk koper ke dalam rumah. Meninggalkan dua orang yang saling merindu di jok belakang mobil mercedes hitam milik Giordan.


"Sayang, bangun yuk. Kita sudah sampai di rumah," suara Giordan mendayu-dayu di rungu Lili tuk sekian kalinya.


Perlahan Lili membuka kedua matanya, berusaha menetralkan retina nya. Mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang melayang sesaat dalam lelap tidurnya.


kedua tangan Giordan menangkup wajah Lili. Hembusan nafasnya yang hangat menyapu wajah wanita cantik yang ada di hadapannya, kini. Wangi mint yang keluar dari bibir Giordan seakan merongrong rasa rindu yang telah menggunung dalam jiwa raga Lili. Bibir yang menjadi candunya seolah-olah memanggil Lili tuk mendekat dan segera memanjakan indera perasa nya.

__ADS_1


Jujur hati Lili tak ingin menolaknya, namun penolakan keras itu ditunjukkan oleh sang jabang bayi. Berbeda dengan keadaan Giordan saat ini. Sorot mata nya mengartikan sesuatu. Dan Lili pun sudah bisa langsung menebaknya bak seorang paranormal profesional yang berhadapan dengan pasiennya.


Giordan mendaratkan benda kenyal miliknya tepat dengan pendaratan yang sempurna di bibir ranum Lili sebagai candunya. Bersama deru nafas yang saling membara.


Namun hanya beberapa detik pendaratan, akhirnya terdengar suara yang mengagetkan sang pilot untuk menekan rem anti selip nya, tanpa aba-aba terlebih dulu.


"Uhuuekk.."


"Ya Tuhan. Ujian atau ulangan ini?" ucap absurd Giordan yang spontan membuat Lili langsung membungkam bibirnya.


"Aku ini Papa mu, Baby! Kenapa kamu menghukum Papa seperti ini? Papa merindukan Mama dan kamu. Tapi izinkan sebentar saja Papa merasakan sensasi lidah pedas manis gurih milik Mama kamu, Baby."


Kalimat demi kalimat keabsurdan Giordan yang telah terkontaminasi oleh Lili. Kini telah berkembang biak dengan pesat di otak orang nomer satu di GA GROUP.


Lili bergeming. Ia masih saja tercekat dengan keabsurdan suaminya dengan wajah yang tak berdosa seolah frustasi akibat kejahilan Giordan junior yang kini menguasai rahim Lili.


"Maafkan aku, Bae. Bukan aku berniat untuk menghindari ini semua, tapi penolakan sang junior lebih kuat mengalahkan segalanya."


Jleeb!


Rasanya ingin berteriak dan melompat keluar dari mobil untuk mengapresiasikan kejengkelannya. Tapi Giordan masih memiliki kewarasan. Jangan sampai kulit mulusnya bisa lecet dan tangannya patah akibat kecerobohannya.


Cemburu?


Haruskah dia cemburu dengan sang Baby?


Hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Bisa-bisa dunia mentertawakan kekonyolannya. Bersaing dengan darah dagingnya sendiri. Hasil karya yang tercipta oleh adonan dan taburan biji terong penyet yang tersangkut dalam jaring istrinya. Dengan bibit unggul dia tebarkan dalam setiap kegiatan olahraga yang mengeluarkan keringat sehat untuk tubuhnya.


"Mas, marah?"


Giordan menggelengkan kepalanya, tanda sebagai jawaban tidak marah.


"Tapi, apakah hal yang sama itu bisa terjadi jika Jayden Prayoga yang melakukannya?" pertanyaan yang membuat spot jantung Lili hingga bola matanya mau terlempar keluar.


"Apa?" tanya kembali Lili dengan membulatkan sempurna matanya.


"Ampun sayang..." pekik Giordan langsung memeluk istrinya.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2