
Happy reading..
☘️
☘️
☘️
...Jangan pernah menyesal telah mengenal CINTA.....
...Dan jangan menyalahkan gravitasi tuk menguji kekuatan CINTA.....
...Karena sesungguhnya kelemahan pasangan kita akan berubah menjadi kelebihan dalam CINTA SEJATI tuk mengukir cinta yang indah saling menyayangi dan mengasihi.....
...🌷🌷🌷...
Seorang pria yang bertelanjang dada berdiri di depan cermin besarnya di dalam kamar mandi pribadinya. Dia adalah Jayden Prayoga, yang masih menyimpan rasa dendam dan amarah untuk rival beratnya. Yaitu Giordan Adhitama. Tidak ada pikiran lain di otaknya sekarang ini, selain untuk melampiaskan semua rasa dendamnya itu pada wanita yang sangat dicintai Giordan.
Matanya menatap tajam ke dalam cermin yang menampilkan bayangan dirinya berdiri tegap. Bibirnya tersenyum getir, rasa bahagia seketika berubah menjadi rasa kecewa. Bahagia yang Jayden rasakan adalah dia bisa menemukan gadis yang selama ini dia cari. Namun, rasa kecewa seketika muncul dipermukaan, disaat dia mengetahui bahwa gadis itu telah menjadi milik rivalnya.
"Aarrgghh! Aku akan membawa wanitamu pergi jauh dari hidupmu, Giordan!" teriak Jayden sambil melempar cermin besar itu dengan benda yang ada di hadapannya, hingga hancur berkeping-keping.
PYARRR..
***
"Apa Bos Jayden ada di dalam kamar?"
Seorang pria bertubuh tegap dengan stelan jas berwarna hitam melangkah dengan tergesa-gesa menuju kamar yang tertutup rapat pintunya.
"Tuan Jayden, ada di dalam kamar. Sejak tadi sudah menunggu kedatangan anda," jawab salah satu bodyguard yang berjaga di depan kamar Jayden.
Jhonatan memperlambat durasi langkah kakinya, ketika memasuki kamar Tuannya. "Tuan, semuanya sudah siap," pandangan mata Jhonatan tertuju ke arah wajah Jayden yang berwarna merah karena menahan amarah yang sebentar lagi meledak.
"Apakah kamu telah menyiapkan semua dengan baik? Aku tidak ingin Giordan dapat menemukan kembali wanitanya!"
"Sudah, Tuan. Saya yakin siapapun tidak akan bisa menemukan tempat itu. Tuan akan terbang ke pulau pribadi yang baru selesai pembangunannya. Dan Tuan bisa berbulan madu di sana," terang Jhonatan dengan keyakinannya.
"Kali ini, aku tak ingin gagal lagi Jhonatan!" teriak Jayden dengan genggaman tangannya yang erat. Misinya kali ini harus bisa mengalahkan musuh bebuyutan nya.
Di kamar yang berbeda.
__ADS_1
Buliran air mata terus menetes dari sudut-sudut kelopak mata yang indah milik Lili.
'Ya Alloh, kenapa ujian hidupku belum usai juga. Di saat hari bahagiaku berubah menjadi bencana yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun dalam otakku. Hari-hari bahagia yang seharusnya aku lalui dengan suamiku, kini hanya tinggal rencana saja. Mampu kah aku bertahan dengan semua ini? Kebahagiaan yang baru kudapat, kini telah lenyap begitu saja.'
Cahaya matahari pagi yang menyinari bumi dengan udara yang masih segar. Kicauan burung yang terbang bebas terdengar sangat bahagia. Tidak dengan hati Lili, sekarang ini.
Dia hanya duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga di atas dada. Ia merasa bosan di dalam kamar itu, hatinya merasa rindu kepada suaminya yang tidak kunjung datang untuk menjemputnya.
Lili menghela nafas panjang dan memalingkan pandangan matanya ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka oleh dorongan seseorang dari luar.
Jayden berjalan mendekati Lili yang duduk di atas ranjang. Dengan kasar Jayden menarik selimut yang menutupi tubuh Lili.
Jantungnya berdebar kencang, Lili menatap wajah garang Jayden dengan rasa panik dan takut. Ia berusaha menghindar dengan bergeser menjauh dari hadapan Jayden. Namun, dengan gerakan cepat Jayden menarik tangan Lili dengan paksa.
"Jangan berpikir kau bisa lari dari aku! Karena kamu miliki, hanya untukku!" Jayden mengusap pipi Lili yang mulus tanpa cacat.
"Lepaskan aku! Jangan mendekat!" ucap Lili setengah berteriak.
Teriakan Lili semakin memacu adrenalin Jayden untuk memilikinya. Jayden melempar kaos putihnya ke sembarang tempat yang telah dibukanya. Pikiran Lili saat ini hanyalah, bagaimana caranya dia harus bisa memberhentikan perbuatan Jayden padanya.
Jayden semakin maju ke arah wajah Lili dengan paksa dia mencium bibir Lili yang mendapatkan penolakan kasar dari Lili.
Namun apa daya kekuatan Lili melawan Jayden yang sedang kalap tidak bisa mengalahkannya. Semakin melawan, semakin habis tenaga yang ia miliki. Dia hanya bisa berdo'a dan berharap ada seseorang yang menolongnya. Disaat dia memikirkan hal itu, tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah.
"Tidak ada satu orang pun yang berani membantah kemauan seorang Jayden! Termasuk kamu!" bentak Jayden membuat nyali Lili seketika menciut.
Tatapan mata Jayden menghunus ke dalam mata Lili. Tangannya mencoba meraih kembali wajah Lili. Namun hal yang tidak diduga oleh Jayden. Disaat dia akan mencium kembali bibir merah Lili, tiba-tiba terdengar suara orang muntah-muntah.
Uheek.. Uheek..
Lili memuntahkan cairan dari dalam mulutnya ke dada Jayden yang tidak memakai sehelai kain.
"Stop! Menjijikan!" Jayden menatap wajah Lili dengan marah.
"Aku sudah bilang dari tadi, ingin muntah! Jadi jangan salahkan aku!" jawab Lili dengan perasaan bercampur aduk.
Uheek.. Uheek..
Kembali Lili memuntahkan cairan dari perutnya sambil berlari ke arah kamar mandi.
***
__ADS_1
'Dasar gadis bodoh! Berani-beraninya dia muntah di dadaku!' gerutu Jayden.
Setelah menunggu hampir setengah jam. Seseorang mengetuk pintu kamar yang di dalam nya ada Jayden dan Lili yang duduk di atas ranjang dengan wajah yang pucat.
"Masuk."
Jhonatan masuk ke dalam kamar dengan seorang wanita yang memakai jas putih.
"Ada apa dengan Nona Lili, Tuan Jayden? Wajahnya sangat pucat?" tanya Jhonatan menyelidik.
"Suruh Dokter Dara memeriksa keadaan Lili! Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba dia muntah-muntah sedari tadi!" titah Jayden, sambil berpindah posisi duduk menjauh dari Lili.
Segera Dokter Dara memeriksa tubuh Lili yang terlihat pucat di wajahnya.
"Apakah anda belum makan tadi pagi, Nona?" tanya wanita yang sedang memeriksa Lili.
Lili hanya menggelengkan kepalanya.
"Dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan, Nona ini lagi hamil muda, Tuan." ungkap Dokter Dara.
"Apa?" kompak Lili dan Jayden dengan mulut menganga tak percaya.
Jayden yang duduk di sofa langsung berdiri dan mendekati Lili.
"Ha.. hamil? Jangan bercanda kamu!" marah Jayden pada Dokter Dara.
"Begitulah hasil pemeriksaannya, Tuan." jawab wanita berjas putih itu.
"Aarrgghh..! Masalah apalagi ini!" teriak Jayden memecahkan telinga orang yang mendengar teriakannya.
Beda dengan Lili yang masih tak percaya kalau dirinya sekarang telah berbadan dua.
"Sungguh? Aku hamil?"
"Iya, Nona. Nona bisa melakukan tes urin di pagi hari untuk lebih akuratnya lagi." jawab Dokter Dara.
"Giordan...!" teriak frustasi Jayden.
'Ya Alloh, terimakasih Engkau telah mengirim janin ini untuk menyelamatkan ku dari Pria gila yang sangat memuakkan. Terimakasih sayang, kamu telah menolong Mommy dari orang-orang terkutuk itu'
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Yuk.. Yuk.. Komen yang banyak ya..