Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
ARTI CINTA SEJATI


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


☘️


Flashback bab 41.


Giordan menanyakan keselamatan orang-orang terdekatnya, "Oma Rathi dengan siapa? Lia?"


"Oma Rathi sudah kembali ke Mansion Utama dengan Dokter Bayu, Bos." jawaban Ardo kepada Bos nya.


"Lia?"


"Saya belum menemukan nya."


"Cepat cari!" perintah Giordan pada Ardo.


"Siap, Bos."


Ardo segera berlari kembali ke area hotel untuk mencari Lia.


Iring-iringan mobil BMW hitam itu pun segera melaju kencang meninggalkan Hotel Mentari, setelah Brandon mendapat perintah dari Giordan.


Sementara Lia duduk bersembunyi di bawah kolong meja melipat kedua lututnya dan membungkam rapat mulut agar tidak mengeluarkan suara.


Tubuhnya menggigil keringat dingin yang sedari tadi membasahi. Detak jantung yang berdebar, rasa cemas takut semuanya bercampur jadi satu.


'Lia kau di mana? Jangan buat aku semakin merasa bersalah atas keselamatan kamu. Maafkan aku yang teledor dengan keamanan di sini.' Ardo terus mencari keberadaan Lia, sambil mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan yang telah hancur berserakan.


Lia terus mengucapkan do'a dalam hatinya, untuk dikirimkan seorang Hero padanya. Matanya terpejam, khayalannya terbang bebas. 'Ya Tuhan, kirimkan aku seorang Hero Fighter Aldous, dengan damage yang sangat sakit ketika late game. Juga dengan skill contract, soul stealnya. Dia bisa membunuh musuh hanya dengan satu kali pukulan saja. Atau si Yin, Hero Fighter yang terbaik dalam pertarungan duel dengan skill pasifnya yang dapat meningkatkan damage. Dia lebih suka bertarung satu lawan satu.


Tak terasa Lia yang duduk bersandar di kaki meja untuk persembunyiannya, Tiba-tiba terjatuh kesamping tubuhnya menindih sepatu seorang pria yang sedang melintas.


Langkah Ardo terhenti, kepalanya menunduk dengan kedua pupilnya memandang ke arah sesuatu yang menimpa kaki nya.


"Lia?"

__ADS_1


Kedua mata Ardo membulat sempurna melihat pemandangan yang menyita penglihatannya, saat ini.


Terkejut Lia ketika mengangkat sepasang matanya. Dia melihat orang yang diharapkan sebagai Pangeran untuk menyelamatkannya sedang berdiri di hadapannya.


Ardo pun membantu Lia berdiri dan Lia langsung memeluk pria yang tersenyum manis di depannya itu. Dia menangis dalam pelukan Ardo.


Ardo membalas pelukan Lia dengan mengusap lembut punggungnya untuk menenangkan Lia.


"Tenanglah, kita sudah aman. Ayo kita pulang" Ardo menepuk lembut punggung wanita yang ada dalam pelukannya.


Lia mengusap air mata yang masih tersisa di kedua pipinya setelah menganggukkan kepalanya.


Kemudian keduanya berjalan meninggalkan ruangan hotel yang telah porak-poranda akibat kejadian yang tidak diinginkan.


"Ayo, Lia. Apa yang kau pikirkan." Ardo meraih jemari Lia acuh, lalu menggandeng wanita yang telah mendebarkan hatinya itu menuju parkiran mobil.


Sepasang mata Lia menoleh pada Ardo dan menyunggingkan senyum di bibir ranumnya. Genggaman tangan Ardo membuat kerja jantung Lia bergerak cepat. Namun terasa hangat dan nyaman.


Lia menghela nafas panjang. Dia masih tertegun melihat perlakuan lembut Ardo padanya. Baru kali ini Lia merasakan diperlakukan spesial oleh yang namanya laki-laki. Ia pun terharu dan kembali cairan bening di sudut matanya terjatuh merembes di pipinya.


Ardo melirik sekilas wanita yang berjalan disamping nya dan memberhentikan langkahnya. Lia menoleh ke arah Ardo. "Ada apa?"


"Wanita cantik seperti kamu tidak pantas untuk menangis."


Lia menatap bingung ke bola mata Ardo yang hitam. "Kenapa?"


"Aku tidak ingin air mata itu melunturkan senyum manis bidadariku" ucap Ardo dengan senyuman yang membuat Lia terbang tanpa memakai sayap.


Lia tersenyum malu, wajahnya seketika memerah. Dia memalingkan wajahnya dari wajah Ardo. Angannya melambung tinggi karena perhatian Ardo yang manis padanya.


Detak jantungnya semakin terpompa cepat. Seakan berasa di arena balap motoGP dengan pembalap Marq Marquez yang mengendalikan kuda besi itu melaju dengan kecepatan tinggi walaupun di tikungan tajam pun tidak berkurang kecepatannya.


'Ya Alloh, perasaan aneh apa ini? Atau aku yang terlalu berharap lebih pada Ardo?'


"Jangan melamun! Nanti kesambet," Ardo agak memiringkan wajahnya pada telinga Lia dari belakangnya.


Nafasnya berhembus membelai tengkuk leher Lia. Merinding dengan bulu tipis yang seketika berdiri dibarengi debaran jantung yang kian amburadul dibuatnya.


Sementara Ardo hampir terjatuh tersungkur akibat harum segar dari rambut Lia yang membius kesadaran nya.

__ADS_1


Bibir Lia mengulas senyum sembari memandangi punggung Ardo yang berjalan di depannya. 'Ya Alloh, jangan bilang ini perasaan cinta. Apakah aku telah jatuh cinta pada laki-laki tampan, assisten pribadi dari Bos Giordan Adhitama? No. Ini tidak mungkin! Terlalu cepat untuk dikatakan aku jatuh cinta!'


Disaat Lia bingung mengartikan perasaannya, tiba-tiba terdengar sayup-sayup di telinganya. "Jangan mencari jawabannya sendiri! Langsung saja minta kepastian pada orangnya!"


Lia tertawa lepas mendengar ucapan Ardo barusan. Memukul kecil pada lengan Ardo adalah jalan untuk menghilangkan kegugupan nya.


Ardo pun segera meraih pipi Lia yang telah memerah walaupun tak tersapu pemerah pipi. Dan mendaratkan kecupan mesra. "Jadilah pemilik hatiku yang masih kosong melompong."


Lia hanya tersenyum jengah melihatnya. Tak percaya itulah yang dirasakan Lia, sekarang ini.


Sesampainya mereka di parkiran mobil. Ardo membukakan pintu mobil untuk Lia.


"Silakan, Nona cantik."


"Terimakasih, ganteng." ucap Lia, diam-diam dia terus melirik pria tampan yang telah membukakan pintu mobil untuk nya itu. Jantungnya terasa berdebar-debar tak karuan.


Sementara Ardo segera menutup pintunya dan berlari kecil melingkari mobilnya.


Ardo memasangkan seat belt pada Lia saat keduanya sudah duduk dalam mobil.


Mobil pun segera melaju menuju apartemen Lia, meninggalkan pelataran parkir Hotel Mentari.


...🌷🌷🌷...


Sementara di tengah perjalanan menuju apartemennya, ponsel Giordan bergetar menandakan ada panggilan telepon yang masuk ke nomor telepon nya.


Panggilan video yang terpampang di layar ponselnya dengan nama PRIA LICIK.


segera Giordan mengusap tombol hijau untuk menjawab panggilan Jayden.


"Hahaha.. Bagaimana rasanya jika wanitamu tidur di pelukanku," ejek Jayden dengan memperlihatkan layar ponselnya pada Giordan Adhitama dengan posisi Lili yang pingsan oleh obat bius yang telah diberikan Jayden. Dan seolah-olah Lili memeluk tubuh Jayden atas keinginannya sendiri.


"Orang pencundang sepertimu tetap akan menjadi pencundang! Tidak akan pernah menjadi pahlawan kesiangan bagi seorang wanita yang dicintainya," jawab santai Giordan tanpa memperlihatkan emosi yang sedang menyelimuti perasaannya.


"Sebegitu lemahkah keamanan seorang Giordan Adhitama hanya karena seorang wanita yang akan menghancurkan masa depannya." ejek Jayden lagi.


"Otakmu sudah terbalik! Kukatakan sekali lagi, seorang pencundang tetaplah pencundang tidak akan pernah berubah menjadi pencinta wanita dengan kesetiannya pada satu wanita yang telah menjadi pemilik hatinya! Dan aku tidak lemah hanya karena satu wanita tapi seorang My Angel itu sangat spesial! Sekuat dan sehebat apapun laki-laki, dia akan menjadi lemah jika dengan kelembutan wanita yang sangat dicintainya! Karena kamu tidak pernah mengerti ARTI CINTA SEJATI!" camkan itu.


🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Maaf karena molor up.. 🙏🏻🥺 Karena menulis karya yang terbaik membutuhkan hati yang tenang.. Semoga karya recehku bisa menghibur para Readers di manapun berada.. Terimakasih 🙏🏻🥰


__ADS_2