Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Angka 9


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


☘️


"Lia, bangun yuk. Kita sudah sampai nih," Ardo mengguncang pelan bahu Lia yang masih memejamkan matanya.


Lia membuka pelan kedua matanya dari tidurnya selama perjalanan pulang dari Hotel Mentari. Dia mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya.


'Aku berada di mana?' Lia kebingungan dengan keadaan sekitarnya.


Lia mencari seseorang yang membawanya ke tempat asing yang belum pernah dia kunjungi.


Lia menoleh ke arah pria yang duduk di belakang kemudi "Aku di mana?"


"Sudah bangun! Yuk turun," ajak Ardo melepaskan seat belt yang melingkar di tubuhnya, kemudian meraih seat belt yang masih terpasang di tubuh Lia.


"Sepertinya ini bukan basement apartemenku?" Lia melirik kanan kiri dari dalam mobil.


Ardo yang faham dengan kebingungan Lia langsung memberikan jawaban atas kebingungannya.


"Maaf, aku membawamu pulang ke apartemenku untuk keamananmu."


"Ohh.." singkat Lia.


Bibirnya yang mengeluarkan kata O membuat Ardo gemas melihatnya.


'Andaikan bibir itu telah menjadi milikku! Aku pasti tidak akan membiarkan kering tanpa siraman air cinta.' gumam Ardo menelan salivanya kasar.


"Bagaimana keadaan Lili?" tanya Lia tiba-tiba dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, Nona Lili belum berhasil ditemukan sampai detik ini," jawab Ardo lesu, mengepalkan tangannya.


"Semoga Lili segera bisa ditemukan kembali dan dapat berkumpul bersama kita lagi di sini," harap Lia yang telah berlinang air mata.


"Iya, semoga semuanya baik-baik saja. Aku segera melacak keberadaan Nona Lili. Sekali lagi maafkan atas keteledoranku." kata Ardo seolah-olah dia telah bersalah atas kecerobohan yang di buatnya.

__ADS_1


"Iya, tapi ini kan bukan kesalahan kamu semuanya. Bodyguard-bodyguard itu saja yang tidak mengawasi musuh dengan teliti."


"Ya sudah, lebih baik kamu segera beristirahat. Pasti kamu kecapekan untuk hari ini."


Lili turun dari mobil BMW yang dikemudikan Ardo setelah pintu mobilnya dibuka oleh Ardo. Dan dia mengikuti langkah kaki Ardo untuk memasuki lift yang langsung terhubung dari area parkir.


Setelah keduanya masuk ke dalam lift. Ardo menekan angka 9 dan pintu lift segera tertutup.


Berdiri berdua di dalam lift dengan posisi yang sangat berdekatan membuat Lia salah tingkah.


'Baru pertama kali ini bisa menatap wajah seorang pria yang rupawan dan tegas. Walaupun tubuhnya telah bercampur keringat, namun wangi maskulin masih saja melekat di tubuhnya. Dengan pergerakannya yang sangat elegan, hampir sama dengan Tuan Giordan Adhitama. Walaupun brangkasnya belum sesultan Tuan Giordan Adhitama, tapi dia juga pria idaman kaum hawa.' lamunan Lia yang membuatnya senyum-senyum sendiri. Dipergoki oleh Ardo.


"Hayo ngelamunin aku, ya?" tebak Ardo yang tepat sekali.


Lia tetap bergeming dalam posisi bersandar di dinding lift. Di gibas-gibaskan jemari Ardo di depan wajah Lia yang sedang tersenyum sendiri. Dia terbuai oleh lamunan panjangnya hingga bahunya ditekan oleh Ardo untuk menyadarkan kembali.


"Lia, tak baik sering melamun! Kalau mau mengisi kekosongan hati aku, silakan aja. Dengan senang hati aku menerimanya." ucap Ardo di telinga Lia.


Debaran jantungnya terpompa cepat hingga terasa ingin melompat keluar dari tempatnya yang nyaman. Sosok laki-laki yang sedang Lia lamunkan telah berdiri di hadapannya dengan senyum yang begitu manis, tersungging tanpa dosa di bibirnya.


Pandangannya sedikit buram. Antara malu dan canggung berbaur menjadi satu. Lia membuang muka untuk menghilangkan rasa deg degan nya.


"Tidak," jawab Lia dengan suara yang hampir tak terdengar dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Jika kau belum menemukan tempat untuk menitipkan rindumu! Aku bersedia untuk kau jadikan tempat penampungan rindumu itu!" kata Ardo yang semakin membuat wajah Lia bak kepiting rebus yang bercampur saus pedas. Ingin rasanya Ardo segera melahapnya.


Lia segera berlari keluar dari dalam lift, ketika pintu lift terbuka lebar. Rasa gugup dengan keringat dingin yang mengalir di tubuhnya. Dan tiba-tiba berhenti menunggu Ardo membuka pintu apartemennya dengan sebuah kartu ajaib. Pintu itu terbuka, lalu Ardo mendorong pelan daun pintunya.


"Ayo masuk," kata Ardo.


Betapa terkejutnya Lia, ketika pintu apartemen itu terbuka lebar. Ia membelalakkan matanya tak percaya. Apartemen seorang assisten pribadi dari Tuan Giordan Adhitama, benar-benar berkelas. Apartemen yang beda dengan yang dimiliki.


Desainnya yang sangat manly. Ruangan yang luas dan mewah dengan dekorasi yang sangat indah. Perpaduan pencahayaan lampu dan juga warna cat tembok. Serta perabot yang digunakan untuk menghiasi ruangan itu disesuaikan sekali. Mirip banget dengan apartemen yang ada di drama-drama Korea, yang biasa Lia tonton.


"Masuklah, Lia! Kenapa bengong di depan pintu?" Ardo meraih tangan Lia.


"Hmm.." Lia menghirup bau wangi bunga yang menyeruak di indera penciumannya. 'Benar-benar bersih terawat dan rapi.'


"Istirahatlah di kamar itu!" Ardo menunjuk sebuah kamar untuk Lia. "Nanti aku beristirahat di kamar ini." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Lia berhenti di depan kamar yang ditunjuk oleh Ardo untuk dirinya beristirahat.


Kamar yang sangat luas dengan ranjang king size bergaya minimalis, bersprei biru. Tepat di tengah ruangan yang sisi kanannya di isi dengan sofa berwarna merah dan lemari berukir 3 pintu berasa di sisi kiri. Dilengkapi juga dengan meja rias yang unik di sebelah lemari. Keseluruhan mebel yang ada di ruangan itu memiliki desain yang seragam.


Hampir 5 menit aku hanya berdiri untuk mengagumi kamar yang diperuntukkan aku beristirahat. Kemudian aku segera berlari menuju ranjang yang berukuran besar itu dan melempar tubuh ini di atas ranjang yang empuk dengan posisi yang terlentang. Dengan bantal guling di sisi kiri kanan tertata rapi.


Baru kali ini Aku melihat kamar cowok yang tertata rapi dan bau harum. Kupeluk guling lalu menciumi bau harum nya menempel di sarung bantal guling.


'Sungguh pria idaman wanita! Yang mendapatkan nilai 100!' ucap Lia yang meracau absurd.


Tok.. Tok..


Lia tersentak dari lamunannya kembali. Ketika pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar.


"Sudah mandi?"


"Eehh, belum," jawabnya terbata-bata malu dengan kelakuannya yang norak barusan.


"Mandi dengan air hangat, biar rileks tubuhmu," saran dari Ardo.


"Iya, habis ini aku mandi."


"Segera beristirahatlah. Karena besok aku harus segera melanjutkan kembali pencarian Nona Lili dan menyusun strategi," tambah Ardo.


"Kamu sendiri belum mandi?"


"Aku baru selesai berbincang di telepon dengan Bos Giordan," jawab Ardo, dengan menutup kembali pintu kamar Lia.


Sebelum melangkahkan kakinya pergi dari kamar Lia. Ardo mengucapkan kata pengantar tidur untuk Lia. "Sweet dream ibu dari anak-anakku kelak."


"Haah," Lia tercengang mendengar kata-kata Ardo Sebastian barusan.


Jungkir balik dunia Lia malam ini.


Akankah gayung bersambut di antara Lia dan Ardo.. Atau kah gayungnya hanyut terbawa derasnya air hujan..


Kepoin terus yuk..


Jangan lupa like komen nya biar menambah semangat up tiap hari.. Terimakasih 🙏🏻🥰

__ADS_1


__ADS_2