
Happy reading...
☘️
☘️
☘️
...Lelah? Bosan? Jenuh? Kesal? Kecewa? Ikhlas?...
...Diam.. Memilih mengalah.. Tak perlu meminta orang lain tuk memahami keadaan kita.. Dan jangan pernah menyalahkan orang lain.....
...Biarkan hidup berjalan seperti air mengalir.. Tanpa banyak protes dan banyak kata tuk bicara.....
...Tetap menjadi diri sendiri untuk menikmati hidup yang bahagia kan terlihat baik-baik saja.. Tanpa harus menyakiti dan mengecewakan orang lain.....
...Di situ lah cara Alloh untuk mengangkat derajat hamba Nya.. Hanya dengan kesabaran dan keikhlasan hati.....
...☘️☘️☘️...
Di tempat lain.
Setelah mendapatkan informasi dari bodyguard yang menjaga Lili atas kecurigaannya. Terlihat jelas perubahan di wajah Jayden yang mulai frustasi.
"Aarrgghh!"
Teriakan Jayden menggema di ruangan yang hanya ada 2 orang penghuninya. Dia dan Jhonatan sang assisten.
"Aktifkan segera cctv di Vila!" perintah Jayden pada Jhonatan seraya mengepalkan tangannya.
Dengan cekatan Jhonatan membuka laptop di atas meja kerja Jayden dan mengaktifkannya. Setelah tersambung dengan cctv yang ada di Vila.
Jayden mengamati pergerakan yang ada di layar laptop. Nampak baik-baik saja, tidak ada yang mencurigakan. Namun, informasi dari salah satu bodyguard yang menjaga Lili ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dokter Dara.
Tidak ingin membuang waktunya, Jayden segera bertolak kembali ke Villa tempat penyekapan Lili.
Jhonatan yang mengemudikan mobil Jayden dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai ke tujuannya.
Raut wajah Jayden yang menjadi suram, gelisah sekaligus geram. Rasanya ia ingin membunuh orang yang berkhianat padanya.
__ADS_1
***
"Layani aku seperti suamimu! Dan aku akan membebaskanmu!"
"Tidak! Hentikan!"
Dara yang menyamar sebagai Lili menangis begitu lirih, saat seorang pria yang tak memiliki hati dan terlihat bengis. Seperti melihat mangsanya dalam genggaman. Ia terus menghentakkan tubuhnya di atas tubuh gadis yang malang itu.
Dara terus berusaha mendorong tubuh atletis pria yang mengungkungnya. Namun, kekuatan nya sudah semakin melemah. Tubuhnya lemas tak berdaya. Tenaganya terkuras habis untuk melawan pria yang sudah dikuasai ga1rah membara. Kini ia hanya bisa menangis perih merasakan sesuatu di bawah sana ada yang merobeknya dengan paksa. Kehormatannya direnggut secara keji dan menyakitkan oleh Jayden. Pria yang sangat dicintainya. Namun, tidak dengan cara kasar seperti itu yang diinginkan oleh Dara. Dia ingin menyerahkan kehormatannya kepada orang yang dicintai dan mencintainya. Bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti sekarang ini.
"Lepaskan aku! Kau pria yang tak berperasaan!"seru Dara sambil memukuli tubuh Jayden. Namun pria itu tetap melanjutkan perbuatannya pada Dara, seolah perlawanan Dara tidak berarti di hadapannya.
"Jangan bertingkah sok suci! Seperti perawan saja!"
"Sakit! Berhenti!" ringis Dara sambil berurai air mata.
"Hentikan tangisanmu! Jangan berakting di depanku! Kau terbiasa melayani suamimu! Kenapa masih merasakan sakit! Dasar pembohong!"
"Cukup! Hentikan! Ini sakit sekali!" rintih Dara untuk sekian kali.
Namun Jayden Prayoga hanya menyeringai sambil mencemooh.
"Puaskan aku!"
Tawa Jayden menggelegar. "Kebohongan apalagi yang kau mainkan, sayang!"
Manik hitam milik Jayden terus menatap tubuh polos yang indah dalam kungkungan nya. Rasa yang sudah tak bisa terbendung lagi, akhirnya tersalurkan juga.
Percuma saja Dara terus berteriak dan memberontak untuk mohon ampunan dan ada yang menolongnya. Namun hasilnya nihil. Di dalam kamar dengan hawa dingin yang begitu menusuk sampai membuat tubuh Dara gemetar ketakutan.
***
Jayden mendorong kepalan tangannya ke bawah. Tubuhnya segera berbalik. Ia berlari menghampiri wanita yang ada dalam bathtub. Tangan kokohnya langsung meraih tubuh yang tak bergerak lagi.
"Sial!" Pria itu terus mengumpat.
Tak berpikir lagi, ia mengangkat tubuh wanita itu hingga dibaringkan di atas ranjang dengan perasaan cemas. Jayden bergegas memberikan pertolongan pada wanita itu. Pasti dia belum mati, karena itu hanya beberapa menit saja. Wanita itu masih bernafas.
Setelah beberapa menit Jayden memberikan pertolongan pada Dara, terdengar suara orang terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Uhukkk.."
Air keluar dari mulut dan hidung lumayan banyak. Dan Dara masih terus terbatuk, ia menepuk-nepuk dadanya dengan kuat. Kerongkongannya terasa tersekat, oksigen seolah terhenti. Kepalanya pusing, perut terasa mual hingga dadanya sangat sesak. Berdiri pun dia tak mampu, lututnya begitu lemas. Bibirnya tertutup rapat karena dia terlalu lemah untuk bersuara.
Sakit? Tentu!
Dara bergeming. Manik mata berwarna coklat itu masih tampak memerah menatap pria yang duduk di sampingnya.
Malas? Diam?
Itu lebih baik dipilih oleh Dara, daripada ia harus merasakan sakit hati kembali dengan luka penyiksaan Jayden yang tiada habis.
"Sungguh keterlaluan kau, Jayden! Kenapa tak langsung saja membunuhku dengan senjata api milikmu!" Dara menggeleng, mengalihkan pandangannya.
Wanita itu terdiam kembali. Ia tak sanggup meneruskan kalimatnya, bibirnya yang pucat itu bergetar. Butiran kristal mulai luruh dari telaga beningnya.
Bersalah?
Jayden membalas kalimat Dara dengan gelak tawa yang semakin membuat hati wanita itu teriris sembilu. Ucapan Dara tidak berpengaruh pada diri seorang Jayden Prayoga. Bahkan dia tidak merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang sudah diperbuat pada Dara.
Jayden menarik nafas kasar lalu membuangnya. Ia menatap Dara dengan ekspresi mengejek yang meratapi nasib buruknya.
"Sudah aku bilang berapa kali, jangan pernah ikut campur dalam urusanku! Aku benci pada orang yang tidak menjaga sikap!" ucap Jayden ke arah Dara yang sedang memeluk tubuhnya sendiri, menggigil kedinginan.
"Aku berusaha menjadi yang sempurna di matamu, Jayden!" hardik Dara. Suaranya meninggi.
"Tapi kau bukan yang aku inginkan, Dara! Aku hanya menginginkan Lili! Hanya Lili bukan kamu!" bentak Jayden.
"Apa keistimewaan dia, hingga kau sangat memujanya?"
"Jangan tanya kan keistimewaannya! Karena hanya aku yang bisa merasakan itu! Tidak orang lain!" ucapnya lagi dengan mata yang memerah memancarkan amarah kebencian.
Dara hanya bisa menangis dalam bathin nya. Ia membayangkan hidupnya sudah hancur seperti ini. Andaikan waktu bisa terulang kembali, sungguh ia tidak ingin melakukan kesalahannya. Tapi semua telah berubah, waktu tak akan kembali berputar seperti sedia kala.
Dia hanya ingin menyelamatkan wanita yang disekap oleh Jayden. Sesama wanita yang memiliki perasaan yang lembut. Bahkan sampai detik ini, pikiran Dara belum bisa bekerja normal kembali. Rasanya begitu menyakitkan, seluruh tubuhnya sakit dan perih. Namun, mendadak ada rasa lain yang muncul ke dasar hatinya yang lebih pedih. Yaitu mendengar ucapan pria yang telah merenggut kehormatan nya dengan paksa dan sekaligus orang yang sangat dicintainya.
Namun ia tak pernah menyangka, jika pada akhirnya pengorbanan nya tiada arti di hadapan Jayden Prayoga.
Tangisan Dara pun meluncur kembali semakin terdengar memilukan.
__ADS_1
"Dasar kau pria brengsek! Aku bersumpah demi apa pun! Kau tak akan pernah merasakan Jatuh Cinta karena hatimu telah mati rasa!"
⭐⭐⭐⭐⭐