
Happy reading...
☘️
☘️
☘️
...Kalau cinta kenapa harus ragu! Tapi sebagian hatiku menanyakan kebenaran nya? Namun sebagian hatiku berteriak lantang pada dunia bahwa kau milikku tak mungkin kau berkhianat! Karena ku yakin kau tetap setia menjaga cinta suci kita....
...💖💖...
Dokter Rena Ayunda meraih stetoskop yang menggantung di lehernya dan mulai mengarahkan stetoskop ke perut Lili yang masih rata. "Permisi, saya periksa dulu." Lili menatap ke arah Dokter mengangguk memberikan izin.
"Dari tadi istriku mual-mual. Tapi nggak ada yang dimuntahkan hanya cairan kuning saja. Istriku juga mengeluh banyak bintang di kepalanya," ujar Giordan.
Lili memutar pandangannya jengah ke arah suaminya yang sangat berisik itu.
Dokter Rena belum bertanya pada Lili, namun Giordan telah mengutarakan keluhan yang dirasakan istrinya sejak tadi.
Wanita berusia tiga puluh tahun itu kembali menatap Lili. "Kapan terakhir kali Nyonya Giordan, haid?"
"Sayang, masih ingatkah kamu?" lagi-lagi Giordan membuka suaranya.
Dahi Lili mengernyit. Dia dibuat terkejut saat mendengar Giordan nyerocos terus. "Mas.. Aku yang ditanya Dokter Rena. Kenapa kamu yang lancar menjawabnya?" sambil terus mengingat sedikit memaksa otaknya bekerja keras kapan dia terakhir kali datang bulan. Dan menggerakkan bola mata nya menatap lurus ke mata Giordan.
Giordan tersenyum nyengir. "Sayang, tatapanmu seakan menembus jantungku."
Tampak lipatan di kening Dokter Rena ketika melihat tingkah lucu pasangan pengantin baru itu.
"Nyonya Giordan. Sudah mengingatnya?"
"Eh, ah, iya. Mmm.. Ak- aku lupa-lupa ingat, Dokter."
"Lupa.. Lupa-lupa lagi tanggal nya," sahut Giordan spontan.
Lili hanya bisa menahan tawanya mendengar kekonyolan suaminya.
"Tidak apa-apa, jika Nyonya Giordan belum bisa mengingat nya. Kita bisa melakukan tes USG untuk memastikan usia kandungan, biar lebih akurat lagi hasilnya,"
Lili mengulum senyum pada Dokter Rena fans berat suaminya semasa di kampus dulu.
USG (ultrasonography) adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan gambar bagian dalam tubuh, sehingga bisa mengetahui kondisi dan tumbuh kembang janin dalam kandungan.
Sebelum melakukan scan, Lili di minta minum air putih terlebih dulu, untuk mengisi penuh kandung kemih. Agar mendorong uterus Lili ke depan sehingga menghasilkan gambar yang jelas.
Dokter Rena mulai mengoleskan jeli ke perut Lili, kemudian sebuah alat kecil bernama transducer digerakan di atas kulit perut yang sudah di olesi jeli. Sebagai proses mengirimkan gambar janin dalam rahim ke layar monitor. Scan ini hanya berlangsung sekitar 10 menit.
__ADS_1
"Selamat ya Tuan dan Nyonya Giordan," ucap Dokter Rena memberikan selamat pada pasangan yang tengah harap-harap cemas menunggu hasilnya.
"Maksudnya apa ya?" Giordan yang belum mengerti apa yang diucapkan wanita yang memakai jas putih itu.
"Selamat Tuan Giordan atas kehamilan nya Nyonya Lili. Usia kandungannya kini memasuki 5 minggu.
DEG
Seketika seperkian detik detak jantung Giordan seperti berhenti. Antara terkejut dan bahagia bercampur aduk menjadi satu.
Sedangkan Lili masih mengulum senyum manis nya. Tatapan matanya tertuju ke bola mata Giordan yang tengah berkaca-kaca. "My Angel.. Selamat ya sayang. Kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku," kata Giordan sembari memeluk tubuh Lili. Saking bahagianya Giordan sampai tak bisa mengucapkan kegembiraan nya saat ini. Hanya ekspresi yang sangat kentara dari raut wajahnya yang menggambarkan betapa bahagianya ia sekarang ini.
Setelah melakukan pemeriksaan dengan kandungan Lili. Mereka berdua kembali lagi ke ruang rawat inap VVIP yang ditempati Lili.
Giordan yang lagi mendorong kursi roda menuju ke kamar inap. Tiba-tiba dikejutkan notif yang berbunyi dari ponsel disaku celananya.
BIP!
Sebuah pesan tiba-tiba masuk di aplikasi hijau milik Giordan. Ia pun memberhentikan langkah nya dan membuka ponsel. Pemilik nomor tercantum di kontak Giordan. Orang yang paling dibenci Giordan.
"Ngapain lagi nih orang?"
Jayden mengirimi sebuah video berdurasi tidak sampai 1 menit.
SH IT! BAJINGAN! GILA BANGET!
Raut wajah Giordan seketika berubah menjadi merah padam saat mulai membuka video yang dikirim oleh musuh bebuyutan nya itu.
Ternyata sebuah video yang tak senonoh. Video yang tak panas dilihat, apalagi jika video itu tersebar luas di publik bisa hancur kerajaan bisnis seorang Giordan Adhitama.
'Huft.. Untung tadi aku tak mengencangkan suaranya,' gumam Giordan frustasi.
"Mas.. Siapa yang kirim pesan?" tanya Lili menoleh ke belakang menatap ke arah suaminya.
Buru-buru Giordan mematikan benda persegi panjang itu. "Bukan pesan yang penting, sayang. Lanjut lagi yuk," Giordan mendorong kembali kursi roda Lili, masih dalam keadaan jantung yang berdag dig dug atas kejadian yang sangat memalukan barusan.
***
Setelah membeli makanan dan minuman, Lia segera kembali masuk ke dalam ruang rawat inap VVIP yang di tempati oleh sahabatnya.
Lia membuka pintu kamar VVIP sambil celingak celinguk melihat ke dalam kamar. Namun, kamar itu tidak berpenghuni. 'Pada ke mana semua penghuninya?'
Baru beberapa langkah Lia dikagetkan dengan seseorang yang baru keluar dari kamar mandi. "Astagfirullahalazim, bikin kaget aja."
Ardo langsung terkekeh memperlihatkan barisan gigi putihnya. "Terkejut?"
"Enggak," jawab Lia sewot. "Iya pasti terkejut. Tapi untung saja jantungku kuat."
__ADS_1
"Ya maaf, enggak sengaja," balas Ardo sambil melihat pada tas kresek yang dibawa Lia. "Beli apa kamu?"
"Oh, ini ada burger, kebab kentang juga kopi panas biar melek mata kamu."
"Banyak bener belinya?"
"Enggak apa-apa, Bos Giordan kan juga belum makan. Kita bisa rame-rame makan nya. Mungkin Dokter Bayu juga lapar."
"Eheemm.. Ingat juga sama Dokter Bayu!" suara Ardo sedikit ada penekanan pada waktu mengatakan Dokter Bayu.
"Cemburu?"
"Siapa?"
"Kamu! Masa iya kang parkir rumah sakit!" jawab Lia ngasal.
"Aku cemburu? Enggak ada dalam kamus Ardo kata cemburu, cembukor atau jeles tak jelas."
"Beneran?"
"Biar kamu suka sama Dokter Bayu kek! Kang parkir kek! Kang Supir kek!"
"Monyet kek!" sahut Lia kesel.
Di saat Ardo ingin membalas perkataan Lia. Pintu kamar inap VVIP itu di dorong seseorang dari luar.
"Assalamualaikum," salam Lili dari luar kamar.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab kompak Ardo dan Lia.
"Gimana hasilnya, Li?" kekepoan Lia dimulai. "Apa calon keponakan aku sudah menghuni dalam hotel mewah bintang lima itu?" pertanyaan absurd Lia mengundang tanda tanya di kepala kedua pria tampan yang saling adu pandang.
"Lia, yang jelas kalau bicara. Ingat bukan hanya ada kita berdua di sini yang bisa mengartikan bahasa planet kamu," kekeh Lili.
"Hahahaha.. Maaf," Lia malah tertawa renyah.
"Alhamdulillah dari adu nafas, aduk kekuatan, adu mekanik sudah ada hasil positif nya di sini," balas Lili penuh keabsurdan sambil mengelus perut rata nya.
Giordan yang tak fokus dengan perbincangan istri dan sahabat nya itu. Menjauh memberi jarak agar bisa melihat video itu kembali.
Dengan tangan yang gemetar, Giordan membuka video itu. Dari kualitas gambarnya sangat jelas sekali, kalau rekaman itu diambil dari kamera canggih dan benar-benar sudah direncanakan dengan matang.
"Bos.. Are you okay?" tanya Ardo yang cepat tanggap dengan apa yang sedang terjadi pada Bos nya.
"Okay."
"Sungguh?" tanya Ardo tidak yakin dengan keadaan Giordan saat ini.
__ADS_1
"Pusing!" singkat Giordan meraup wajahnya frustasi.
⭐⭐⭐⭐