Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Baby, siapa?


__ADS_3

Happy reading...


☘️


☘️


☘️


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Namun tanda-tanda kedatangan Giordan belum ada. Semenjak Lili dinyatakan positif garis dua, perutnya selalu merasakan keroncongan di jam-jam orang mulai terlelap.


Wanita yang kini berbadan dua itu tengah duduk di hadapan cermin meja rias, memaku menatap lekat kembarannya. Di kedua sudut bibirnya tersemat untaian senyum yang menggantung indah. Degup jantungnya yang memacu kuat di dalam rongga dadanya.


Bayangan awal berjumpa dengan sang pencinta yang di luar skenario percintaan nya dan juga sedikit ekstrim, bahkan tidak terdeteksi sama sekali. Benih-benih cinta akan tumbuh di sana. Namun, takdir Tuhan berkata lain. Ternyata, jatuh cinta tidak sendiri itu sangat lah indah. Cinta milik kita berdua, rasa yang tumbuh di hati keduanya. Saling berjuang dan mempertahankannya.


Jari jemari yang mengelus perut rata dan kembali senyum manis tersungging. Ya, ini lah yang disebut CINTA. Rasa yang ada di hati berbeda, namun dipertemukan dengan debaran jantung bergetar hebat, ketika kedua netra saling memandang dengan tujuan yang sama ingin menggapai sebuah rasa kedamaian dan kebahagiaan yang telah terukir indah dalam skenario Tuhan. Karena rasa kita adalah benar-benar sebuah Cinta yang abadi.


Krookk.. Krookk..


Suara misteri itu terdengar kembali disaat pikiran Lili sedang mengembara mengenang masa transisi yang membuat dirinya harus bersembunyi dari rasa ketakutan yang memenjarakan kebebasan nya.


Netranya melirik sekilas benda bundar yang terus bergerak detik demi detik berganti menit , hingga merubah letak jarum jam ke angka 23.00 malam. 'Hmm.. Sudah malam begini, kenapa Papa belum pulang juga ya, Baby?' gumam Lili yang terus mengusap perut ratanya naik turun.


Beberapa jam yang lalu, Lili sudah disiapkan makan malam oleh Bik Narti. Tapi, dia enggan menyentuhnya. Walaupun makanan yang dihidangkan sangat terlihat lezat. Entah mengapa hari ini dirinya ingin sekali bermanja-manja pada suaminya. Makan ingin disuapin oleh Giordan. Bawaan si Baby atau kah dirinya yang mulai terjangkit virus wafer berlapis-lapis. Padahal air liur Lili sudah hampir menetes melihat penampakan dari bebek rica-rica super pedas olahan Bik Narti, segera dia menghindar memalingkan wajahnya agar tidak tergoda dengan aroma yang menyeruak menusuk indera penciuman nya. Hanya gegara ingin disuapin suami, Lili rela menahan lapar nya, hingga tengah malam.


'Sabar ya, sayang. Baby kuat! Habis ini Papa pasti pulang. Nanti kita minta belikan sop buah yang segar, biar kapok, Papa,' seringai Lili.


****


Lili duduk di depan meja pantri, setelah menghabiskan satu gelas air mineral. Ia merasa haus dan lapar. Hatinya dibuat kesal oleh Giordan, malam ini yang tak kunjung pulang.


'Lihat saja kalau aku sudah mogok makan,' decaknya kesal.


Seringai jahat muncul di otak Lili. Ia menggembungkan pipinya, sambil memutar bola matanya searah jarum jam, membayangkan ekspresi wajah suaminya yang dikerjain. "Hahaha.. Kamu pasti tidak bisa menolaknya, Bae," ucap Lili seraya menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Ceklek..


Suara pintu dibuka seseorang. Rumah nampak sepi dan gelap. hanya lampu bercahaya redup yang dibiarkan menyala.


Pukul setengah dua belas malam, Giordan baru pulang. Ia tidak sengaja pulang selarut itu. Hanya untuk mengurusi video gila yang di kirim oleh Jayden, ia harus mengirim seseorang untuk menyelidikinya.


Giordan melangkahkan kakinya ke arah dapur. Dia penasaran karena lampu dapur yang masih menyala terang. 'Siapa yang ada di dapur malam-malam begini? Nggak mungkin Bik Narti masak semalam ini?' gumamnya sambil terus melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Pandangannya tertuju di meja pantri. Giordan mengerutkan dahinya. 'Siapa yang lagi tertidur dengan kepala tertelungkup di atas meja pantri? Istriku? Mengapa?'


Semakin dekat dengan meja pantri, ia tidak sengaja melihat sebuah nampan yang masih berisi makanan yang tak tersentuh di atas meja makan.


'Apakah istriku belum makan? Kenapa? Apa Lili tidak cocok dengan masakan Bik Narti?'


Giordan yang masih bingung mencari jawabannya, tiba-tiba seseorang mengagetkannya.


"Bae..!" panggil Lili sambil bertolak pinggang.


"Sayang.."


"Darimana saja! Jam segini baru pulang?"


Giordan bergeming. Ia hanya menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bae..!" panggilnya lagi, sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Eh, iya, sayang. Ada apa ini" tanyanya sambil menghampiri Lili yang cemberut.


Sedari tadi Lili menahan agar tidak lolos air bening yang terkumpul di sudut netranya. Namun, pertahanannya malam ini tidak setebal kaca pelindung anti peluru. Pertahanannya sangat tipis setipis kulit Ari, hingga mudah robek dan luluh lantang.


"Apa susahnya sih, bilang kalau pulang telat! Sudah tak ingat lagi, kalau punya istri dan baby yang nungguin di rumah!" sindirnya sambil terisak.


"Iya, sayang.. Mas minta maaf, ya. Tadi ada meeting mendadak," Giordan minta maaf pada Lili.


"Pasti klien nya cewek cantik," sahut Lili ketus.


"Enggak sayang, tadi Mas meeting dengan klien cowok. Kalau nggak percaya tanya saja Ardo," jawab Giordan mendekap tubuh Lili.


"Bohong!' sahut cepat Lili yang masih cemberut.


"Beneran, sayang," Giordan masih berusaha menyakinkan hati Lili. "Ardo! Cepat sini!"


Ardo yang berjalan masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas kerja Giordan, berjalan tergesa-gesa ke arah Tuannya.


"Iya, Bos," jawab Ardo.


"Tadi kita meeting dengan klien cowokkan!" ucap Giordan dengan memberikan kode lewat tatapan matanya. Ardo yang sudah hafal betul dengan isyarat Bos nya itu, dia harus cepat mengambil inisiatif sendiri jawaban yang akan diucapkan nya.


"Iya, Bos. Tadi kita meeting dengan Bapak Deddy dari PT. Lintindo."

__ADS_1


"Tuh, Ardo bilang apa,"


"Iya, percayain aja," ucap Lili melepaskan dekapan Giordan.


"Sayang, itu makanan siapa?" tunjuk Giordan ke arah nampan yang masih berisi makanan.


"Aku" jawab Lili sambil menunjuk dirinya.


"Kenapa nggak dimakan?"


"Tidak berselera," jawab Lili asal.


"Mau sesuatu, sayang?" tanya Giordan.


Tuwing...


Ide gila Lili, mulai muncul kembali. Ide yang sedari tadi sudah disiapkan untuk mengerjai suaminya karena tidak menghubungi dan pulang telat. Dan sebagai hukumannya Giordan harus menuruti ala-ala ngidamnya Lili.


"Aku mau sop buah dengan buah yang segar," ucap Lili menatap ke netra Giordan.


Membulat sempurna kedua bola mata Giordan mendengar ucapan Lili barusan. "Enggak salah ucap, sayang? Mana ada yang jual tengah malam begini?"


"Ada!" ketusnya.


"Jam berapa ini, sayang?"


"Sapa suruh pulang malam!" kesal Lili.


Waduh, Bos. Pakai sabuk pengaman yang kuat, roller coaster akan siap meluncur. Tatapan Ardo ke arah Giordan seakan memberikan isyarat, Ibu hamil moodnya naik turun.


"Siap-siap, sayang. Mas akan belikan," ujarnya. Dan langsung memberikan titah pada Ardo sang assisten pribadi. "Do, cepat beli sop buah dengan buah yang segar."


"Siap, Bos."


"Bae..!" pekik Lili


"Iya, sayang."


"Baby siapa!"


"Baby, Mas. My Angel."

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2