
Happy reading...
☘️
☘️
☘️
Sudah hampir tiga puluh menit Giordan memejamkan matanya. Ia memikirkan keadaan istri tercintanya. 'Ya Tuhan lindungi istriku di mana pun dia berada. Jauhkan dia dari orang-orang yang ingin mencelakainya. Aku memang bukan orang yang hebat dan kuat, Ya Tuhan. Tapi ijinkan aku untuk mencintai dan menyayangi nya lebih lama lagi. Jika Engkau berikan hamba ini kesempatan kedua untuk bisa berkumpul kembali bersama Bidadari Surgaku di Dunia ini. Hamba tidak ingin menyia-yiakan waktu sedikit pun untuk membahagiakan nya. Hamba kan selalu menjaga dan melindunginya, membimbing ke jalan Surga Mu, Ya Tuhan. Walaupun hamba bukan cinta pertama nya, hamba tidak akan pernah cemburu dengan pahlawan hidupnya. Hamba kan memanggil nama nya dan bertutur kata lemah lembut sebagaimana cinta pertama nya dengan begitu lemah lembut bertutur kata dan sangat halus, manis mengusap pucuk kepalanya sambil memanjatkan doa kepadaMu, Ya Tuhan. Dan hamba tidak ingin membuat dirinya bersedih dikemudian hari karena hamba telah menyakitinya. Dan hamba berjanji mulai detik ini akan hamba serahkan jiwa dan raga ini untuk selalu mencintai, melindungi membahagiakan istri hamba dan semoga pernikahan kita hingga ke SurgaMu, Ya Tuhan. Selalu bersama.'.
Pintu bercat coklat itu dibuka seseorang dari luar tanpa sepengetahuan Giordan.
Seorang wanita memasuki ruang kerja pribadi milik Giordan dengan berjalan mengendap-ngendap mendekati Giordan yang masih memejamkan matanya. Memakai dress tanpa lengan dengan belahan yang menampilkan kesegaran buah semangka miliknya. Serta rok bagian bawah yang juga terbelah hingga memperlihatkan paha mulusnya. Ditambah dengan lipstik merah menyala yang menghiasi bibir seksinya. Sang menggoda sekali penampilannya saat ini. Seolah-olah hidangan yang sangat nikmat untuk dicicipi oleh kaum Adam yang memandangnya.
Sudut bibir wanita itu terangkat. Ia semakin mencondongkan tubuhnya ke wajah Giordan yang sedang terpejam. Ia sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya di hadapan Sang Pujaan hati nya yang telah memutuskan sepihak tanpa adanya persetujuan dari dirinya. Dada dan bokong yang sintal, pasti akan menggiurkan lawan jenis yang berada di depannya.
Kini, wanita itu memulai aksinya dengan jemari lentiknya bergerilya berjalan pelan dan lembut di pundak pria tampan yang sedang membayangkan wajah istrinya penuh kerinduan.
Wanita itu melanjutkan aksinya mengusap pundak pria yang duduk bersandar di kursi kebesarannya. Terlihat jelas di wajah wanita itu penuh gairah, berharap godaannya kali ini akan ada desa han panjang yang keluar dari bibir sensual yang sedang tertutup rapat itu.
Kini, bibir Giordan terangkat sudutnya membentuk lengkungan yang sangat manis. Ia membayangkan wajah seseorang nan jauh di sana, yang sangat dirindukan nya. Namun, beda dengan pemikiran wanita seksi yang sedang menggoda Giordan. Wanita penggoda itu terus melancarkan jurus-jurus andalannya. Giordan meraih tangan wanita penggoda itu yang bergerilya liar di bagian atas tubuhnya. Mengendus, menciumi punggung tangan wanita itu dengan hidung mancungnya, seolah-olah tangan itu adalah milik Lili Sang istri tercinta.
Hingga membuat wanita penggoda itu mendesis panjang, hanya mendengar deru nafas Giordan saja sudah mampu membuat otak wanita itu berfantasi liar. Sesuatu primitif benda keramat milik wanita itu meletup-letup. Seperti air mendidih yang sedang di masak di atas bara api.
"My Angel...," gumam Giordan tanpa sadar. Panggilan yang tak pernah terdengar oleh pendengaran wanita itu. Seketika lantas membuat fokus wanita itu ambyar dan dengan spontan wanita itu menarik tangannya kasar dari genggaman Giordan.
Sontak mengagetkan Giordan yang sedang memejamkan matanya. Ia membuka kedua matanya perlahan dan mengernyit saat menatap wajah siapa yang kini berada tepat di depan wajahnya. Reflex Giordan berdiri dari posisi duduknya dan menjauh dari wanita penggoda itu. Dahi milik Giordan mengerut sambil menatap tajam wanita yang berdiri di hadapan nya dengan tatapan tidak suka akan kehadiran nya di ruangan itu.
Berbeda dengan wanita itu, ia kembali memasang senyum nakalnya setelah beberapa detik yang lalu ekspresi wajahnya berubah asem. Wanita itu mengikis jarak di antara keduanya, ia mencoba melancarkan aksinya kembali. Namun, pengharapan nya berbeda dengan pemikiran Giordan.
"Stop Ayra!" sentak Giordan.
Giordan mengusap wajahnya kasar sembari menarik nafas panjang lalu membuangnya cepat. Ia benar-benar merindukan bidadari hatinya sekarang juga. Namun, wanita kalajengking lah yang berada di hadapan nya, kini. Ia harus dapat menekan rasa yang ada di dalam tubuhnya. Dia tidak ingin menghianati kepercayaan dan kesetiaan istrinya.
__ADS_1
"Honey..," panggil Ayra dengan nada manja dan genit. Melangkahkan kakinya menghampiri Giordan yang berdiri tak jauh darinya.
"Stop Ayra! Jangan membuat aku berbuat kasar padamu!" sahut Giordan dengan nada penuh penekanan.
Ayra diam membisu tak berkutik. Wanita penggoda itu memalingkan wajah sambil membuang nafas jengkel. 'Aku harus bisa menjebak Giordan, agar mau menikahiku.'
"Cepat pergi dari sini! Sebelum bodyguard ku melemparmu jauh!" suara bariton Giordan terdengar menyakitkan di indera pendengarannya.
Wanita bertubuh sintal itu mendengus kesal. Dia tidak langsung menjawab ucapan yang ditujukan padanya dari bibir pria yang pernah menjalin cinta dengannya. Walaupun status itu hanya kepura-puraan saja.
"Ayra! Apa kau tuli!" bentak Giordan lagi.
Namun, kali ini Ayra masih terselamatkan oleh dering yang menjerit dari benda persegi panjang milik Giordan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Giordan segera meraih ponsel berwarna merah metalik miliknya. Mengusap layar ponsel yang tertera nama Ardo di sana.
"Bos," sapa Ardo lebih dahulu. Suara di sebrang sana terdengar begitu panik. Reflex Giordan menajamkan rungunya dan memberi isyarat jari telunjuk di bibirnya, agar Ayra tidak mengeluarkan suaranya, mengganggu fokus Giordan.
Giordan dapat membaca dari gerak gerik wanita kalajengking itu masih ingin menggoda nya, memasukan dirinya ke dalam jebakan yang telah direncanakan Ayra.
Ayra terpaksa harus menelan saliva nya dengan susah payah. Menyeka bibirnya yang di poles lipstik merah merona itu. Pesona Sang Devil Giordan Adhitama semakin mematikan saat ia terlihat serius. Ayra membayangkan benda primitif Giordan yang padat dan sekokoh pentungan patung Rojo pentung itu, sanggup membawanya terbang hingga ke nirwana. Tak terasa hanya membayangkan saja sudah membuat mulut Ayra ngecas.
"Ada apa, Ardo? Apa kau sudah menemukan keberadaan istriku, sekarang ini?" Giordan memberondong pertanyaan pada Ardo sang asisten pribadi nya.
"Iya, Bos," jawab Ardo tanpa basa-basi lagi.
"Benarkah?" pekik Giordan dengan bibir yang menganga.
Melihat posisi seperti itu, ingin rasanya Ayra segera menerjang tubuh atletis Giordan yang mengunggah gairahnya. Andai saja Giordan tahu seberapa ingin dan siap Ayra sekarang ini untuk beradu kekuatan.
"Di mana posisi istriku sekarang?" tanya Giordan lagi.
"Saat ini, Nyonya Lili berada di Rumah Sakit Pelita Bunda di Daerah XX," ujar Ardo memberikan kabar tentang Lili pada Bos nya. "Tapi, saya belum yakin seratus persen itu Nyonya Lili, Bos."
"Apa maksudmu, Ardo! Kenapa kau belum yakin kalau itu istriku! Apa kau tidak mengenalinya!" hardik Giordan sembari mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Ma-maksudnya, wanita itu memakai anting-anting milik Nyonya Lili yang saya pasang alat pendeteksi keberadaan Nyonya Lili, waktu itu. Namun, wajahnya beda dengan Nyonya Lili."
"Sial!" pekik Giordan. Ia berdecak lalu melepas kepalan tangan ke udara.
"Segera pindahkan ke Rumah Sakit milik Bayu!" titah Giordan.
"Baik, Bos."
"Arghhh!" Giordan berteriak. Mengagetkan Ayra yang sedang berfantasi liar dengan Giordan, pria tampan nan gagah itu.
"Bod0h! Aarrgghh!" Giordan melempar benda persegi panjang itu. Ia mengeram sambil meremas rambutnya frustasi dengan kedua tangan.
Ayra yang melihat keadaan Giordan frustasi, berdiri dari tempat duduk nya. Ingin mengambil simpati sang pemilik GA Group. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Giordan yang terus memaki dirinya sendiri.
"Ada apa lagi dengan pelakor kampungan itu?" sindir pedas Ayra.
Mendengar kalimat yang mengganggu rungunya. Giordan memutar tubuhnya lambat-lambat menghadap wanita yang paling memuakkan itu. Manik indah milik Giordan itu, kini berubah menjadi gelap dengan tatapan menghunus ingin membunuh lawan.
Dengan nada berat dan raut wajah geram, gigi saling menghantam. Alis sebelah terangkat. Giordan memajukan langkahnya menghampiri Ayra. "Apa katamu, barusan!" sorot mata yang membakar menajam mengintimidasi. Membuat nyali Ayra menciut dan bergidik ngeri.
"Ulang lagi perkataanmu! Aku belum jelas!" titah Giordan, sekaligus menuntut jawaban dari bibir Ayra.
Ayra menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Giordan. Ia merutuki dirinya sendiri.
"Jawab! Apa kamu tidak punya mulut!" ucap Giordan dengan mencengkram rahang Ayra kuat sambil memaksa wanita itu untuk mendongak menatap wajahnya. Hingga membuat Ayra kesulitan bernafas.
"Lili adalah istri sah ku, Nyonya dari Giordan Adithama. Bukan pelakor kampungan seperti yang kau sebutkan barusan! Sedangkan ka--!" Giordan menjeda ucapannya. Tangannya berpindah mencengkram dagu milik Ayra yang didongakkan tepat di wajahnya.
"Sedangkan kamu hanya seorang wanita liar yang bebas berhubungan dengan laki-laki satu ke laki-laki lainnya! Tidak dengan istriku! Lili adalah wanita terhormat yang berkelas. Dia sanggup menjaga kehormatannya!"
"Ta-tapi dia pelakor kampungan yang merebut kamu dari aku," Ayra masih berani mengeluarkan suaranya tanpa menatap ke arah Giordan.
"Lili tidak merebut aku dari kamu! Tapi aku yang memilihnya untuk menjadi pasangan halalku. Karena dia layak menjadi pendamping hidup seorang Giordan Adithama! Camkan itu! Kamu tidak berhak memaki nya bahkan menyebut dia pelakor kampungan!" nada suara Giordan sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar. Namun, suara berat Giordan itu sanggup memecahkan gendang rungu Ayra.
__ADS_1
"Sekarang keluar kamu dari ruanganku! Dan jangan memperlihatkan mukamu yang seperti badut itu di hadapan ku, lagi!" titah Giordan yang membuat meringis Ayra dan bergidik ngeri.
Ayra segera keluar dari ruangan terkutuk itu. Sambil terus memegang rahangnya yang masih terasa ngilu dan nyeri.