
Happy reading...
☘️
☘️
☘️
...Bukankah Alloh yang Maha menggenggam hati manusia? Membolak-balikan hati hamba Nya? Haruskah istriku tahu cintaku? Bagaimana perasaanku padanya? Ya.. Karena saat inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku selama ini! Menahan gemuruh yang sesakkan dada! Begitu berat memikul rasa ini! Menghilangkan bias antara cinta dan nafsu! Mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam dada pada pasangan halalku! Jodohku yang telah kuperjuangkan dalam ikatan janji suci dengan tarikan satu nafas yang disaksikan banyak pasangan mata dan para malaikat pun menjadi saksi dalam keheningan!...
...🍒🍒🍒...
Pagi yang terasa dingin. Cahaya mendung masuk dengan lembut menembus tirai-tirai putih yang tipis menggantung di jendela. Pancaran langit yang meredup itu membaur satu dengan cahaya lampu tidur di ruangan yang bernuansa klasik.
Rasa dingin menyebar dalam kamar. Di luar masih turun hujan, Giordan yang sedang terbaring di ranjang. Bergulung selimut tebal untuk menyelamatkan tubuh atletis nya dari kedinginan.
Lili yang sudah terbangun dari tadi mulai menyusuri wajah tampan, pria yang masih terlelap di samping nya. Jari jemari lentiknya membelai kedua mata, turun ke hidung mancungnya dan berhenti di dagu yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Hingga berlanjut turun ke rahang tegas milik Giordan Adhitama.
Giordan yang tidak merasa terganggu tidurnya, semakin membuat gemas Lili. Ia menusuk-nusukan jari telunjuk nya ke pipi Giordan. Hingga membuat terusik seseorang yang masih dalam alam mimpinya.
Giordan memicingkan sebelah matanya. "Ada apa, Yang?" namun tidak merubah posisi tidurnya.
"Bae.. Bangun, aku pingin---" bisik Lili di runggu Giordan, seraya mengecup dagu Giordan.
Giordan yang mendengar bisikan mesra istrinya yang belum selesai, langsung merangkum wajah Lili dan mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Lili penuh h4srat.
"Mmpphh.." Lili hanya bisa menuruti suaminya, hingga Giordan melepaskan ciumannya untuk sama-sama meraup oksigen.
"Bae.." lirih Lili semakin menenggelamkan diri dalam kehangatan dada bidang sang suami.
Dikecupnya pucuk kepala Lili, "Apa, Sayang?"
"Lapar," manja Lili sambil melukis absurd di dada Giordan dengan jarinya.
"Jangan bilang ngidam lagi sebagai kata andalan bumil," protes Giordan yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah biasa, Bae. Bumil itu ngidam. Nggak suka? Nggak mau nuruti kemauan si baby!" sewot Lili, yang langsung merubah posisi dari baring nya.
"Tau bumil terkadang ada yang ngidam ada yang enggak," jawab Giordan menatap netra Lili.
Lili bersandar di kepala ranjang dengan bibir yang mengerucut.
__ADS_1
"Sekali-kali itu ngidamnya jangan makanan aja," protes Giordan.
"Terus?"
"Ngidam bercocok tanam! Menggali sumur! Membajak sawah! Mendaki gunung! Atau naik delman!" usul Giordan.
"Emang ada ngidam kayak gitu, Bae?" tanya Lili polos.
"Ada!" jawab singkat Giordan.
"Baru dengar."
"Mas, yang memprakarsai!" balas Giordan dengan senyum menyeringai.
"Hmmm.. Ada ebi dibalik rempeyek ini namanya!"
"Apalagi ngidamnya tiap malam memakai gaun dinas koleksi kamu, Sayang. Aku siap melakukan kewajibanku padamu, My Angel!" ujar Giordan mengedipkan sebelah mata, yang membuat kedua mata Lili membelalak sempurna.
"Ahli profesi, Bae?"
"Sini!" titah Giordan pada Lili tanpa merubah posisi. Sang Raja masih membaringkan kepalanya di atas bantal empuk tepat di samping tubuh sang Queen.
Tanpa membantah perintah. Lili pun langsung mematuhi titah sang suami.
Lili mengangguk.
"Apa ada muka Mas, yang aneh? Atau memang Mas, pantas jadi petani? Pendaki gunung? Atau jadi pak kusir penarik delman?" tanya Giordan kemudian.
Hanya sebuah gelengan kepala yang menjadi jawaban Lili, atas serangan pertanyaan Giordan padanya.
"Bingung? Atau bahagia, Mas jadi seperti itu? Puas!"
"Nggak ada, Bae," jawab Lili mengangkat sudut bibirnya menjadi satu lengkungan ke atas.
"Kalau nggak ada, terus tadi kenapa bilang Mas berubah profesi? Apa, My Angel nggak paham keinginan suaminya hingga memberikan kode-kode khusus terlebih dulu!" Giordan menjelaskan.
Lili manggut-manggut sambil menahan senyumnya.
"Kenapa malah jadi senyum-senyum gitu?" tanya Giordan seraya menyipitkan matanya.
"Nggak ada apa-apa," jawab Lili mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Jangan ngeledek! Jangan berpura-pura mengalihkan pembahasan!" sinis Giordan.
Lili semakin tak tahan untuk tidak terkekeh melihat ekspresi yang ada pada wajah suaminya.
****
Dilain tempat..
Patrish sudah berhasil masuk ke villa milik Jayden Prayoga dengan penyamaran nya sebagai pelayan pengganti untuk sementara waktu sampai pelayan itu kembali bertugas.
Dengan segala upaya Patrish memutar otaknya, agar bisa masuk ke dalam villa itu tanpa harus dicurigai penghuni nya, apalagi sang pemilik villa tersebut.
Dan sudah beberapa hari Patrish bekerja di villa yang berada jauh dari keramaian kota. Dia harus mematuhi peraturan yang ada di villa itu. Patrish hanya mengambil poin-poinnya karena malas harus membaca setumpuk kertas yang menuliskan aturan-aturan kerja barunya. Dan yang lebih parahnya lagi dia dilarang untuk menggunakan ponsel. Tapi karena kecerdasannya dan tak tik seorang Patrish, dia tidak ketahuan kalau membawa alat komunikasi lewat udara itu.
Namun, jika Patrish sampai ketahuan melanggar peraturan kontra kerja yang telah ditandatangani, maka hukuman mati sudah pasti menantinya.
Dan kini, Patrish berada di kamar. Ada satu ranjang yang berukuran sedang dan lemari pakaian. Di pojok kamar ada meja rias yang tidak terlalu besar. Untuk sehari-hari nya Patrish harus memakai seragam pelayan yang telah disediakan.
Di dalam kamar dia beristirahat membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamar yang bercat putih itu. Sambil mengaktifkan ponselnya yang sudah beberapa hari di off kan.
"Dengarkan aku Joice! Sekali ini saja! Jangan tanyakan aku ada dimana! Dan jangan menghubungiku hingga aku menyelesaikan tugas penting ku ini! Tolong, jangan khawatir aku. Tapi tetap doakan untuk keselamatanku. Agar aku bisa kembali pulang tidak hanya tinggal nama saja!"
Patrish menutup ponsel nya kemudian mencari nomor kontak orang penting yang akan dihubungi segera untuk menyampaikan laporannya.
Patrish menekan nomor kontak seseorang.
Truuut.. Truuutt..
Nada sambung berdering terdengar di indera pendengarannya, namun belum terangkat juga.
Di sebuah ruangan yang semakin terasa panas, padahal suhu pendingin ruangan masih terlihat on.
Tiba-tiba fokus kedua insan yang berlainan jenis itu seketika buyar oleh suara dering ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang berukuran king size.
Dengan rasa dongkol level tertinggi di ubun-ubun, pria itu meraih benda pipih. Dan setelah melihat siapa yang sedang menghubungi nya, terlihat jelas perubahan warna yang merona di wajah tampannya itu. Memperlihatkan bahwa dia benar-benar marah.
Rahang kokohnya menegang. Sedetik kemudian terdengar suara bariton khas Giordan Adithama yang menggema di dalam hunian klasik itu.
"PATRISH..!!!! KENAPA KAU HUBUNGI AKU! MENGGANGGU PENDAKIANKU!"
☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Hanya tanggung jawab akak Patrish na 🙈🤭😂😂😂🏃🏃🏃