Pesona Sang Devil

Pesona Sang Devil
Semu


__ADS_3

Happy reading...


☘️


☘️


☘️


Ruangan kembali hening, semua fokus pada seseorang yang sedang memberikan penjelasan di depan layar proyektor, hingga sepuluh menit berlalu.


Giordan yang duduk di bagian sentral meja rapat dengan sejuta pesona, terlihat wajahnya tenang dengan sorot matanya yang teduh. Namun, bisa berubah secepat kilat menjadi tatapan yang mengintimidasi pada sang lawan.


Disaat konsentrasinya masih terfokus pada rapat yang dipimpin nya. Benda persegi empat yang semula terdiam di atas meja kayu jati itu, tiba-tiba menyala layar ponselnya dan bergetar berulang-ulang kali. Hingga mengeluarkan suara berderit mengganggu fokus semua orang yang berada dalam ruangan rapat.


Segera Giordan meraih ponsel canggihnya dan mematikan tombol off, agar tidak bersuara kembali. Giordan terpaksa memasukkan ponselnya ke saku celana dan kembali fokus ke rapat penting hari ini.


Giordan menyudahi aktivitas di depan layar komputer lipatnya, setelah mendapatkan laporan dari Ardo, sang assisten pribadi nya. Baru saja sang assisten berbisik mengabari Giordan yang duduk di sampingnya. Bahwa hari ini istrinya berulah lagi di Mall.


Semenjak kehamilan Lili. Kepala Giordan sering merasakan pusing berdenyut, efek ngidam aneh sang istri. Terkadang bagaikan sebuah roller coaster yang berputar cepat, namun tiba-tiba berhenti mendadak. Dan terombang-ambing kembali seolah berada di tengah lautan dengan sebuah perahu kecil yang ditelan ombak besar.


"Ada apa lagi dengan istriku, Do?" tanya Giordan pelan. Menatap Ardo yang serius dengan perkataannya.


"Nyonya Lili berantem dengan wanita pengunjung mall yang lain, Bos"


"Bisa gitu?" bisik Giordan tak percaya dengan yang diperbuat istrinya. Kemudian membayangkan keadaan istrinya yang adu mulut hingga adegan jambak menjambak rambutnya. Kebiasaan kaum hawa jika berduel.


Giordan meraup wajahnya kasar. 'Ya Tuhan, bagaimana dengan kondisi si baby sekarang ini?' gumam Giordan.


"Do, minta Hanum untuk melanjutkan rapat hari ini. Kita pergi ke mall sekarang!" bisik Giordan pada Ardo, tanpa mengganggu yang lain.


"Siap, Bos."


***


Beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Lia!" seru Lili, menepuk punggung sahabatnya dari belakang, yang sedari tadi serius menatap gadget di tangannya.


"Apa?" balas Lia tanpa menoleh ke arah Lili.


Lili menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Lia, sambil meletakkan tas tangannya di atas meja.


Suasana restoran siap saji itu tidak terlalu ramai karena telihat belum waktunya jam makan bagi karyawan kantor yang biasanya makan di restoran itu, hanya ada beberapa pengunjung sedang menikmati makanannya.


Hampir setengah jam menunggu, hingga rasa bosan melanda Lili. Sedangkan Lia masih fokus dengan gadget nya.


"Mana klienmu? Lama bener datangnya!" tanya Lili, mengerutkan dahi. "Katanya sebentar lagi! Sebentar lagi kok sudah lebih dari setengah jam! Emang mereka terbang dari Hongkong, ya!" omel Lili.


"Sabar, Lili. Biasa saja. Ya begini ini, kalau menunggu ya butuh kesabaran extra," lagi lagi Lia membalas ucapan Lili tanpa menoleh ke arahnya. Lia lagi serius dengan sesuatu yang ada di layar ponselnya.


"Ini namanya tidak profesional, Lia! Buang-buang waktu dan tenaga! Harusnya bekerja itu seefisien mungkin! Tidak seperti sekarang ini, janji molor. Kayak koloran si ijo, di jemuran!" cerocos Lili semakin ngejos.


"Woi, Lia! Dengar aku nggak sih? Hellooooo.. Ini orang bukan patung yang berdiri di depan kaca butik baju!" Lili berdiri dan langsung merebut ponsel dari genggaman Lia, saking kesalnya Lili.


Sahabat kampret!


"Astaga Lia! Tega banget kamu cuekin aku, hanya gara-gara game ini!" kesel Lili.


"Maaf.. Sini balikin dulu!" Lia merebut kembali ponsel yang ada di tangan Lili.


Ia kembali serius mengarahkan pandangannya pada layar ponselnya. Tidak ingin kalah dalam permainan game yang dari tadi dimainkannya. "Bentar Lili, sebentar lagi ini selesai kok. Tinggal sedikit lagi sudah selesai."


"Tau, ah. Malas lihat kamu! Aku pergi belanja aja, kalau gitu! Daripada bengo!"


"Mau kemana?" tanya Lia.


"Ke neraka!"


"Haah? Jangan ngambek," Lia meraih tangan Lili.


"Malas!" Lili menghempaskan tangan Lia.

__ADS_1


Melihat kelakuan Lia yang menjengkelkan. Akhirnya Lili memilih untuk meninggalkan Lia. Namun, sebelum dia pergi dari tempat itu. Lili dikejutkan dengan hadirnya seseorang di hadapan nya, saat ini.


Suasana restoran yang tampak lenggang dengan deretan meja dan kursi yang masih kosong, membuat pandangan Lili terfokus dengan seseorang yang berjalan ke arahnya.


Deg!!


'Adam?'


Lili bergeming. 'Mau apa dia ke sini?'


Pandangannya lurus pada seseorang pria yang sangat dikenalnya, bahkan seseorang yang pernah menjadi terspesial di hatinya.


"Siapa?" tanya Lia pada Lili yang berdiri menutupi pandangan Lia.


Pasangan yang bergandengan tangan begitu mesra dengan memamerkan senyum bahagia di wajah itu, sedang berjalan ke arah Lia dan Lili.


"Adam," jawab Lili mengucapkan nama sang mantan.


"Adam, siapa?" tanya Lia, mengangkat pandangannya.


"Itu dia, Lia!" ucap Lili lagi seraya meraih tangan Lia untuk dibuat pegangan.


"Astaga, Adam! Tidak mungkin ini."


Klien yang ditunggu Lia sudah datang dan langsung membuat kejutan pada duo L. Adam sang mantan Lili adalah calon suami dari klien Lia yang akan mengunakan WO nya, untuk acara resepsi pernikahannya satu bulan lagi.


Lili berusaha menguatkan diri dengan apa yang terjadi saat ini. Dia tidak boleh terlihat rapuh di hadapan Adam. Dia sudah move on dan telah memiliki kebahagiaannya sendiri bersama Giordan Adhitama, sang suami yang mencintainya.


"Hai, kalian sudah lama?" tanya wanita yang berdiri di samping Adam dengan suara yang manja. Menyapa Lia dan Lili.


"Eh, iya. Silakan," ujar Lia mempersilahkan kliennya menempati bangku kosong di hadapan mereka.


Lili tertegun menatap pasangan sejoli yang sedang dimabuk cinta. Otaknya blank seketika. Mengapa nasib buruk menghampirinya saat ini. Dari sekian banyak nya mall, kenapa dia harus bertemu dengan manusia yang bernama mantan di situasi seperti ini. Apa Tuhan sedang menguji kesabaranku? Ataukah Tuhan sedang marah padaku? Dan tidak mungkin Tuhan, tidak mempunyai sebuah rencana untuk mempertemukanku dengan dia. Ya, ini bukan suatu kebetulan. Tapi sesuatu yang sudah direncanakan oleh Tuhan. Kesempatan dalam kenangan masa lalu yang belum selesai. Kesempatan untuk berselingkuh dari pasangan halal? Oh, itu hanya pikiran kotor yang semu! Kamuflase saja! Namun, tidak sedikit juga bagi orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan masa lalunya, bahkan dengan hal tak terduga dalam hidup. Akan tetapi ada sedikit orang yang menyalah gunakan kepercayaan pasangannya di luaran sana. Dengan mudahnya mereka mengingkari janji yang telah terucap dari bibirnya untuk saling menjaga kesetiaan dalam satu hubungan di dalam rumah tangga.


☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2